Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
80. Happy Birthday To You


__ADS_3

"Kok sepi, Mi? Puput mana?" Mama Mila mengedarkan pandangan di ruang tamu usai cipika cipiki dengan Ami. Ia baru saja tiba di rumah Puput dengan diantar sopir.


"Teteh sama Rasya tadi pergi ke rumah Mami. Katanya ada undangan khitanan cucunya teman Mami."


"Tapi Ami udah izin mau ke rumah Mama, kan? Eh tapi Mama juga tadi malam udah telpon Puput kok. Biar Ami diizinin pergi."


"Udah izin, Ma. Mama mau minum apa?"


"Gak usah, Mi. Mending kita berangkat sekarang aja yuk! Biar Ami di rumah mamanya lama." Mama Mila begitu bersemangat ingin membawa calon mantunya itu ke rumah.


Ami mengangguk. "Bentar ya, Ma. Aku ambil tas dulu di kamar."


"Iya, sayang." Mama Mila senyam-senyum. Gambaran suasana hati yang riang gembira. Melihat Ami yang anggun mengenakan rok warna abu tua dan blouse warna coklat susu senada pashmina, tidak terlihat seperti anak SMA. Lain kalau sedang memakai seragam sekolah, kelihatan kinyisnya. "Cucok ini sih. Beneran jodoh. Aamiin." Ia membatin dengan riang. Karena apa? Karena warna baju Ami senada yang dipakai Akbar. Bedanya, warnanya saja yang terbalik. Akbar memakai kemeja slimfit abu tua dan celana panjang coklat susu. Rasanya ingin joget saking senangnya, tapi ingat umur.


"Mama udah beli bahan masakan request aku?" Ami membuka percakapan begitu mobil sudah melaju meninggalkan komplek perumahan.


"Sudah komplit plit, pokoknya. Semua ada di kulkas. Mama gak sabar pengen liat Ami masak. Bukan apa-apa, anak SMA bisa masak zaman now itu jarang ada kayaknya. Mau heran tapi Mama langsung inget. Ami kan anak Bu Sekar. Kata Mamanya Rama, anak-anak Bu Sekar itu selain cantik juga jago masak. Pokoknya mantu idaman. Teh Ratna sih promosi melulu, jadinya Mama sempet iri. Eh gak nyangka kebagian juga stok terakhir anak gadisnya Bu Sekar. Rejeki Mama soleha ini."


Ami tertawa kecil mendengar cerocosan Mama Mila yang tanpa jeda itu. "Mama jangan berlebihan muji aku ya. Nanti kalau gak sesuai ekspektasi gimana? Soalnya aku baru belajar masak. Belum punya jam terbang."


"Mama suka gayamu. Gadis yang rendah hati. Ami jangan sungkan sama Mama. Jangan kaget juga sama sifat Mama yang kata Papa nya Akbar tuh spesies langka yang harus dilestarikan. Dih, nyebelin ya Mi dengernya. Tapi ya begitulah caranya si Papa mengekspresikan rasa sayangnya. Bukan dengan ngasih bunga atau coklat. Tapi dibuktikan dengan sikap. Eh, ini judulnya apa sih? Kenapa malah belok bahas kisah cinta Mama."


Ami terkikik. "Gak apa-apa, Ma. Kan aku jadi belajar dari pengalaman Mama."


Tak terasa, mobil sudah sampai di pekarangan rumah Mama Mila. Pengalaman pertama untuk Ami masuk ke komplek perumahan elit dan menginjakkan kaki di rumah mewah bergaya minimalis modern milik keluarga Akbar.


"Assalamu'alaikum." Ucap Ami begitu pintu utama berukuran besar dibuka dari dalam.


"Bik, ini nih calon istrinya Mas Akbar." Dengan bangga Mama Mila memperkenalkan Ami pada asisten rumah tangannya itu yang baru saja menjawab salam.


"Masyaa Allah, cantik sekali. Duh Mas Akbar pinter sekali milih calon istri. Kenalin non, Bik Darni."


"Aku Ami, Bik." Ami dengan ramah menerima uluran tangan Bik Darni.


Mama Mila menggandeng lengan Ami mengajak masuk ke ruang tengah dengan interior yang didominasi warna hitam dan gold.


"Mama, ini Kak Akbar ya?!" Ami tertarik melihat susunan foto yang berada di partisi di samping sofa. Matanya terpaku pada figura besar bentuk heksagonal. Berupa susunan foto transformasi dari bayi hingga remaja. Ada dua figura. Satu lagi tentunya milik Aiko.


"Iya. Itu Papa lho yang bikinnya. Mama kalah kreatif dibanding Papa. Papa juga yang beli figuranya waktu liburan di Belanda."


Ami lantas duduk di sofa usai melihat foto yang membuatnya makin kagum kepada Akbar. Ia tidak mau bersikap tidak sopan kalau melihat-lihat pajangan lainnya. "Ma, aku mau masak sekarang aja."


"Ish, nanti dulu baru juga nyampe. Kita santai dulu. Ami mau duduk di sini atau di teras belakang?"


"Hm, kalau boleh sih pengen ketemu dulu John dan Lucy. Kak Akbar pernah cerita punya anabul lucu-lucu. Boleh liat gak, Ma?"


"Boleh banget. Cus kita pindah ke belakang duduknya." Mama Mila kembali menggandeng Ami. Tak lupa berteriak dulu memanggil Bik Darni agar membawakan minuman dan cemilan.

__ADS_1


Sepasang kucing kesayangan Akbar itu punya rumah sendiri seukuran kamar tidur yang bersih terawat. Di dalamnya ada wahana bermain dan juga kasur. Ami melihat John dan Lucy dari kaca jendela. Kucing jenis British Short Hair itu langsung mendekati kaca begitu Ami memanggil namanya. Mama Mila pun membukakan pintu agar anabul itu bisa keluar.


"Si John tau aja sama yang bening. Langsung nyosor deh." Mama Mila mengabadikan Ami yang menggendong si John sambil tertawa geli karena kucing berwarna abu itu mengendus-endus pipi Ami.


Ami berganti menyapa si Lucy yang berputar-putar di kakinya seolah menunggu giliran disentuh. Terlihat kucing berwarna putih bersih itu perutnya membuncit besar. Sehingga tak berani menggendongnya. Hanya berjongkok dan mengusap-usapnya. Membuat si Lucy merem melek. "Lucu-lucu deh kalian. Jadi gemes pengen ngusap pipi Kak Akbar. Eh otakku...." Untung ucapan absurdnya itu di dalam hati. Bahaya jika terdengar Mama Mila.


Setengah jam lamanya Ami dan Mama Mila duduk santai di sofa keluarga sambil berbincang membahas hal random. Meski ruang terbuka yang hanya dinaungi atap, namun tetap teduh karena banyaknya tanaman hijau di sekitarnya. Tempat yang nyaman untuk belajar atau membaca buku, begitu penilaian Ami di dalam hatinya.


"Ma, udah jam setengah sebelas. Aku mau masak sekarang biar gak telat nanti." Ucap Ami usai melihat jam tangannya.


"Eh, gak terasa ya waktu. Ayo deh kita ke dapur!"


***


Akbar keluar dari ruang rapat lebih dulu diikuti Leo. Barulah peserta rapat lainnya membubarkan diri. Sementara Gita dibantu satu orang staf masih membereskan lembaran berkas yang ada di meja.


Masuk ke dalam ruang kerjanya, Akbar menghempaskan bo kong dengan keras di sofa. Raut wibawanya berganti suasana hati yang sebenarnya. Gelisah, galau, merana.


"Yang ultah harusnya happy bukan bete gitu." Leo menyusul duduk dengan membawa dua kaleng soft drink dingin dan menyimpannya di meja.


"Udah tiga hari Ami gak bisa diajak telponan apalagi vc. Chat juga balesnya delay." Akbar mende sah kasar. Ia lalu menggulung lengan panjangnya hingga ke sikut. Suasana hatinya sedang buruk. Karena diabaikan oleh sumber mood booster.


Saat tadi tiba di kantor, Akbar disambut surprise dua kue ulang tahun serta nyanyian 'Happy Birthday' dipimpin oleh Gita yang bertepuk tangan dengan semangat. Ia hargai dengan memperlihatkan wajah bahagia karena semua wajah karyawan yang menyambutnya nampak semringah. Ia pun memberikan hadiah makan siang gratis menu Bento untuk hari ini, untuk seluruh karyawan.


"Coach bisa galau juga. Eits, bukan galau sih tapi kacau. Pemirsa, seorang Akbar Pahlevi Bachtiar menderita gegana karena virus gadis remaja telah melemahkan saraf kewarasan otaknya. Hahaha...." Leo dengan puas meledek Akbar dengan tertawa lepas. Tak peduli bossnya itu berubah bersungut-sungut dan melemparkan bantal sofa ke mukanya. Toh berhasil ditangkap lebih dulu.


Akbar mengacak-acak rambutnya diiringi helaan nafas panjang. Hanya pada Leo saja ia memperlihatkan suasana hati yang sebenarnya. Ia bangkit mengambil ponsel yang ditinggalkan di laci meja kerja selama rapat tadi.


"Gue harus ke Ciamis sore ini." Ucap Akbar sambil duduk lagi di tempat semula.


"Mau apa? Gak ada agenda ke luar kota selama seminggu ini. Nggak bisa-nggak bisa. Disini lagi repot butuh tanda tangan Pak CEO." Leo menegakkan duduknya. Suara desisan soda saat kaleng minuman dibuka terdengar jelas.


"Ami gak balas chat gue dari pagi. Sekarang udah jam 11 lebih belum juga diread. Gue gak mau hubungan jadi renggang. Kalau ada masalah harusnya dibicarakan. Gue gak suka didiemin."


"Terus lo mau ke rumah Bu Sekar gitu? Mau apa alasannya?" Leo menaikkan satu alisnya.


Akbar terdiam. Nampak merenung. Apa yang dikatakan Leo memang benar. "Gue percepat aja jujur dan minta restu sama Bu Sekar."


"Pikir-pikir lagi dah. Mungkin Ami lagi sibuk kegiatan. Gue denger dari Tasya katanya Ami sekarang punya job ngemsi."


"Itu gue tau. Dia selalu cerita kegiatannya. Alasan tiga hari ini Ami bilang ada sepupu yang menginap. Jadi gak bisa telponan and vc an. Soalnya sepupunya nempel terus."


"Nah itu lo tau alasannya. Terus kenapa malah gegana. Itu sama aja lo gak percaya sama Ami. Itulah resiko backstreet, Bro. Tunggu aman dulu."


"Ya masa sehari 24 jam gak ada waktu luang barang 5 menit aja misal. Mana udah 3 hari. Kan ada saatnya sepupunya itu mandi, gak nempelin terus Ami." Akbar keukeuh membela opininya. Merasa alasan Ami dibuat-buat. Membuat sikapnya menjadi uring-uringan.


Obrolan terjeda karena Gita masuk usai mengetuk pintu. Sang sekretaris menyimpan setumpuk berkas di meja dan lalu bergabung duduk di sofa.

__ADS_1


"Mas, mau special lunch dimana? Aku akan reservasi sekarang." Gita menatap Akbar diiringi senyum manis dan mata berbinar. Akbar tak pernah mengadakan birthday party. Selalu lempeng-lempeng saja. Maka ia berencana memberi surprise kecip saat makan siang bertiga dengan Leo nanti.


"Akbar gak akan makan di luar, Git. Mau di kantor aja samaan dengan karyawan. Paket Bento." Leo mewakili menjawab melihat Akbar sedang meneguk minumannya.


Gita mengerutkan kening. "Jangan dong. Boss harus beda. Apalagi ini hari spesial."


"Jawabanku udah diwakilin Leo. Kamu kalau udah selesai, boleh keluar. Aku lagi discuss penting sama Leo."


Gita tersenyum masam sekilas. Rencana mau memberi kejutan pupus sudah. Ia mengangguk dan beranjak pergi.


"Gue udah order menu spesial buat makan siang lo disini. Datangnya jam satu. Gak usah keluar ruangan." Ucap Leo usai melihat Gita menutup pintu.


Akbar menatap malas. "Menu spesial apa? Gue lagi gak mood. Bagikan lagi aja atau lo makan sendiri. Makanan hotel bintang lima pun untuk saat ini gak ada yang enak di lidah. Cukup Ami ngingetin gue makan, baru deh berselera meskipun cuma makan mie rebus."


"Hahaha, bucin sih bucin tapi kalau perut lapar ya harus makan. Biar otak tetap waras. Noted ya. Gue akan sikat kalau menu itu datang." Leo terus meledek dan memasang wajah songong, merasa di atas angin. "Sebentar. Gue keluar dulu."


"Jangan lama! Gue lagi butuh teman curhat."


Leo yang berjalan memunggungi Akbar, tertawa tanpa suara sebelum membuka handle pintu. Tak pernah melihat Akbar sekusut ini. Tunggu perubahan satu jam kedepan.


"Kenapa sama aku? Kan bisa tugasin Pak Edo. Aku lagi nyusun hasil rapat barusan." Gita terlihat enggan mendapat tugas dari Leo. Apalagi sebentar lagi jam istirahat. Mobil delivery Bento sudah datang mengantar 200 kotak lunch. Sedang didistribusikan ke setiap divisi oleh staf yang ditugaskan.


"Minimal jabatan sekretaris yang boleh jadi utusan ke perusahaan itu. Kamu tau sendiri kan Pak Jimmy orangnya gimana. Mesti disanjung terus. Kamu cuma ngasih dokumen ini. Kamu juga bebas makan siang di restoran mana karna spesial birthday si boss. Bill nya tinggal laporin ke kantor. Semangat ya, Git." Leo tersenyum penuh arti sambil menyerahkan map berwarna biru.


"Oke deh." Gita pun bersiap-siap pergi. Perjalanan ke kantor Pak Jimmy cukup jauh, satu jam lamanya.


***


"Gue sholat dulu!" Akbar berjalan sedikit lesu menuju kamar pribadinya yang pintunya tersamarkan oleh dinding. Ia masih bersama Leo memeriksa berkas-berkas diselingi berbincang hal pribadi.


"Gue juga. Nanti balik lagi bawa menu yang gue pesen." Leo pun beranjak dari duduknya karena sudah jam istirahat.


Akbar tidak merespon. Sudah jelas tadi menolak menu pesanan Leo itu. Yang ia butuhkan sekarang adalah komunikasi dengan Ami. Sudah menggulung celana sampai ke betis, ia penasaran mengecek dulu ponselnya daripada terbayang saat sedang sholat. "Cutie, plis jangan buat aku tersiksa gini," lirihnya begitu melihat chat masih belum dibaca. Dicoba ditelepon tapi tidak aktif.


Usai sholat, Akbar masih betah rebahan di ruang pribadinya. Kalau saja tak mendengar suara ketukan di pintu, ia tidak akan dulu bangun dari ranjang. Namun serumit apapun urusan pribadi, ia tetap profesional. Apalagi jam empat sore nanti ada meeting penting. Bergegas mengenakan lagi kemeja yang tadi dibukanya agar tidak kusut. Menyisir rambut dan mengusap muka agar terlihat fresh.


"Iya sebentar!" Sahut Akbar saat mendengar lagi pintu kamarnya diketuk. Meski yang mengetuk tak bersuara, ia yakin itu Leo. Hanya Leo yang bebas keluar masuk ruang kerjanya. Ia pun membuka pintu kamar.


"Happy birthday to you....Happy birthday to you." Suara nyanyian dan tepuk tangan kecil menyapa indera penglihatan dan pendengaran Akbar.


"Hei....!" Suara Akbar tercekat di tenggorokan melihat wujud wanita cantik yang sedang tersenyum manis menampilkan lesung pipi. Ia sampai mengucek-ngucek matanya. Percaya tidak percaya.


"Cutie! Ini beneran kamu?" Akbar tersenyum lebar. Hendak menangkup kedua pipi Ami yang terlihat merona. Namun terdengar suara deheman. Jadinya urung.


"Mama?!" Akbar melihat Mama Mila dan Leo muncul dari balik tembok sebelah kanan kamarnya. "Mama yang bawa Ami kesini ya?!" Ia masih tidak percaya dengan fakta di hadapannya itu. Bahagianya tak bisa dituliskan dengan kata-kata.


"Iya. Awas ya jangan pegang-pegang anak bungsu Mama!" Hardik Mama Mila dengan tatapan galak.

__ADS_1


"Ampun, Ma. Gak akan pegang-pegang tapi mau peluk aja." Akbar membuka kedua tangan dan menatap Ami dengan hangat dan berbinar. Namun Ami menghindar dan bersembunyi di balik punggung Mama Mila sambil cekikikan. Ia pun terkekeh. Sudah bisa menduga bakal ditolak. Padahal hasrat rindu yang menggebu jika disalurkan lewat pelukan, pasti nikmat rasanya. Begitu kata nafsu.


"Sayang, kamu udah bohong. Katanya di rumah lagi ada tamu sepupu. Ceritain kapan ke Jakarta? Kamu sekongkol sama Mama dan Leo ya?" Akbar tanpa sungkan menatap mesra Ami di hadapan Mama Mila dan Leo. Ekspresi bahagia luar biasa berbanding terbalik dengan raut wajah Ami yang merona karena dipanggil sayang.


__ADS_2