
Padma baru saja membaca pesan dari Ami yang mengatakan jika Akbar sedang dalam perjalanan menuju rumah Enin. Sehingga ia bergegas keluar dari kamarnya menuju depan rumah. Dimana di teras ada Enin dan Bunda Ratih sedang bersantai. Sementara Ayah Anjar sudah berangkat memancing bersama dua rekannya.
"Mang Yaya, tolong bukain pintu! Mau ada mobil yang masuk bentar lagi." Ucap Padma yang menghampiri penjaga sekaligus sopir keluarga yang sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan.
"Siapa yang mau datang, nak?" Bunda Ratih menodong tanya begitu Padma berjalan menghampiri.
"Kak Akbar mau kesini, Bunda. Palingan tujuh menit lagi sampai." Padma duduk di samping Bunda Ratih. Ponsel tak lepas dari genggaman barangkali ada kabar terbaru dari Ami. Karena bestinya itu bilang jika Akbar belum mendapatkan jawaban dari Ibu.
"Padma tau dari siapa Kak Akbar mau kesini?" Bunda Ratih mengerutkan kening.
"Dari Ami. Katanya Kak Akbar bertamu ke rumahnya. Terus udah pulang dan sekarang otewe ke sini."
Bunda Ratih manggut-manggut. Enin yang menjadi pendengar pun ikutan manggut-manggut. Dan tak berselang lama mobil yang dimaksud Padma perlahan memasuki pekarangan rumah.
"Kok sendirian, Bar. Gantungan kunci gak ikut?" Ucap Enin usai menjawab salam Akbar yang lalu mencium tangannya dengan takzim.
Akbar terkekeh. Enin masih saja tidak berubah memberi gelar Leo sebagai gantungan kunci. "Akbar datang sendiri tadi malam karena ada urusan pribadi di Ciamis, Enin." Ia pun berlanjut menyalami Bunda Ratih dan Padma.
"Wah-wah, curiga kecantol mojang Ciamis. Bener gak tebakan Enin?"
"Bener banget, Enin." Akbar tersenyum mesem.
"Bu, ngobrolnya mending pindah di dalam. Kasian Akbar cuma berdiri gak kebagian kursi." Bunda Ratih beranjak bangun dari duduknya. Ia membantu memegang tangan Enin yang akan bangun dari kursi goyang.
Akbar diajak duduk di sofa ruang tengah. Enin dan Bunda Ratih menemani. Sementara Padma memilih tak kembali bergabung usai ke dapur menyuruh bibik membuat minuman untuk tamu. Ia menyingkir duduk di ruang makan tanpa sekat. Sehingga masih bisa menguping obrolan yang berlangsung di ruang tengah.
"Jadi semua cucu Enin dapat jodoh orang Ciamis dong ya. Siapa itu perempuannya, Bar?" Enin melanjutkan tanya yang terjeda.
"Satu besan sama Tante Ratih, Nin." Ucap Akbar santai sambil melihat reaksi Enin dan Bunda Ratih yang kini saling pandang dengan kening mengkerut.
"Tunggu-tunggu, besan tante kan Bu Sekar. Ami maksudnya, Bar?" Bunda Ratih masih ragu untuk percaya.
__ADS_1
Dijawab Akbar dengan mengangguk dan tersenyum. Membuat Bunda Ratih melebarkan mata.
"Yang bener, Akbar?" Giliran Enin yang terkaget dan menatap serius pemuda tampan keponakannya Krisna itu.
"Benar Enin, Tante. Akbar sengaja datang ke rumah Ibu Sekar untuk meminta restu mau melamar Ami sebagai calon istri. Secara pribadi, Ami udah menerima Akbar dan mau diajak nikah setelah lulus SMA. Tapi tadi reaksi Ibu Sekar dan Pak Bagja sama seperti Enin dan Tante. Malah aku dan Ami sempat disidang dulu. Dan endingnya Akbar Ibu Sekar gak ngasih jawaban. Akbar disuruh nunggu."
Tangan Padma memang scrolling ponselnya. Namun kedua telinga tegak berdiri seperti antena. Ia ingin tahu respon Enin dan Bunda kemudian.
"Berarti Akbar dengan Ami sebelumnya udah dekat dong. Gak mungkin kan tiba-tiba datang tanpa rencana ke rumah Ibu Sekar." Bunda Ratih masih diselimuti rasa tidak percaya meski fakta berkata iya. Sebagai seorang ibu, ia bisa memaklumi jika besannya itu syok. Masalahnya yang dilamar adalah Ami. Yang semua keluarga tahu bagaimana kelakuannya selain masih muda juga belum dewasa. Dan usianya dengan Akbar pasti terpaut jauh.
"Tante benar. Aku udah dekat selama setahun dengan Ami. Memang kami rahasiakan dulu. Tapi Mama sama Papa, Iko, udah tahu kok. Mereka support Akbar. Sekarang Akbar harus berjuang untuk meyakinkan keluarga Ami agar mau ngasih restu."
"Kalau Ami memang udah nerima lamaran Akbar, Enin juga setuju. Pasti seru nikah sama Ami mah tiap hari hiburan terus. Tenanglah nanti Enin bantu kamu, Bar. Rama sama Panji juga dulu merengek-rengek minta solusi sama Enin karena susah ngedeketin Puput dan Aul yang jinak merpati. Kalau masalah Akbar mah, Ami nya oke, Ibunya dan kakak-kakaknya yang harus ditaklukkan. Kamu hanya butuh sabar. Maju terus pantang mundur, Bar!"
Akbar terkekeh dengan semangat Enin yang berapi-api. Di satu sisi merasa lega karena dukungan untuknya kini bertambah. "Makasih banyak, Enin. Akbar akan sabar. Masih panjang waktu sambil menunggu Ami tamat SMA."
***
"Mi, ceritain sama Ibu gimana awalnya sampai Ami bisa punya hubungan spesial sama Akbar. Kita kan biasa suka curhat. Tapi kenapa untuk hal sepenting ini Ami merahasiakan dari Ibu." Ibu Sekar tetap berkata lembut meski hati diisi tumpukan kecewa.
"Dulu waktu kelas10 aku pernah cerita sama Ibu kalau ada Kak Akbar ke sekolah diundang komite. Kak Akbar jadi motivator. Terus kan besoknya main kesini. Silaturahmi kesini dan ke rumah Enin ditemenin sama Kak Leo. Karena katanya udah lama sekali gak ke Ciamis. Ibu ingat gak?"
"Iya, Ibu ingat."
"Nah setelah hari itu, kita tukeran nomer hape. Komunikasi biasa aja gak ada yang spesial. Paling aku suka gombalin Kak Akbar kalau chatingan. Aku kan biasa begitu sama Kak Akbar sama Kak Panji juga. Tapi seiring waktu timbul rasa nyaman karena Kak Akbar baik, perhatian. Waktu ujian semester dua, selama seminggu ngirim go food tiap hari. Itu waktu Ibu di Jakarta pas nengok Teh Puput yang lahiran Baby Rayyan."
"Pas kelas 11 waktu aku sweet seventeen, Kak Akbar ngirim kado boneka ini ke sekolah. Orangnya gak datang, Bu. Lagi di London waktu itu. Baru ketemu pas nikahan teh Aul. Jadi intinya dengan komunikasi jarak jauh itu bikin aku jatuh cinta sama Kak Akbar."
"Nah, waktu malam resepsi Teh Aul, Kak Akbar nembak aku. Aku jawab yes, Bu." Pungkas Ami yang men skip bagian prank Akbar saat terciduk sedang bermesraan dengan cewek jadi-jadian bernama Lea."
"Ami seharusnya cerita ini dari dulu sama Ibu."
__ADS_1
Ami menggelengkan kepala. "Bakalan lain ceritanya kalau dulu aku cerita. Karna beberapa kali aku ngasih clue pengen nikah umur 19, reaksi Teh Puput sama Teh Aul udah jelas gak setuju. Terusnya A Zaky juga ultimatum jangan pacaran saat sekolah."
"Apa bedanya dengan sekarang. Kakak-kakak Ami pasti kaget dan mungkin gak setuju dengan keinginan Ami." Ibu Sekar terus menggali isi hati dan pemikiran anak bungsunya itu.
"Itu udah aku prediksi, Bu. Jika waktu kelas 11 semua keluarga tahu aku pacaran sama Kak Akbar dan ditentang, imbasnya prestasiku akan anjlok karena aku akan mogok belajar. Bedanya sekarang mentalku udah terlatih karena selama ini punya Coach yang membimbing. Aku akan hadapi kemarahan Ibu atau siapapun dengan kepala dingin. Ibuuuu, percayalah anak bungsumu ini udah dewasa. Plis kasih restu ya Bu, ya!" Ami menyatukan kedua telapak tangan di depan dada dengan sorot memelas.
Ibu menghela nafas panjang. Telunjuknya menekan-nekan lalu mengurut pelipis yang mendadak berdenyut. Bibirnya masih mengatup. Tidak mau gegabah membuat keputusan. Hingga saat hening puluhan detik, barulah berucap."
"Ami denger, nak. Nikah itu tidak cukup modal cinta. Apalagi ini pengalaman pertama Ami menyukai laki-laki. Itu bisa aja cintanya anak sekolah alias cinta monyet. Dimana yang dibayangkannya hanya hal-hal manis aja. Mungkin Ami suka sama Akbar karena dia CEO, kaya, mobilnya keren, royal sama Ami."
"Ibuuu, denger ya Bu. Ibu salah menilai aku. Aku suka sama Kak Akbar karena segalanya ada di Kak Akbar. Maksudku dia bisa multi peran. Bisa jadi sahabat, kakak, pacar, sekaligus ayah. Setiap nasihatnya selalu ngena di hati. Dan aku tahu kalau modal nikah gak cukup cinta. Terutama harus siap mental kan, Bu. InsyaAllah aku siap." Jelas Ami dengan lugas.
"Usia Ami dan Akbar beda berapa?"
"16 tahun."
"Akbar dewasa. Dan Ami bukan hanya masih muda, tapi masih kekanak-kanakan. Ibu takut Ami gak bisa ngimbangin kedewasaan Akbar karena pola pikir usia belasan dan usia 30 an itu beda banget. Ibu takut Ami gagal di tengah jalan." Ibu Sekar mengemukakan kekhawatirannya.
"Bu, kan aku udah bilang. Aku siap mental. Apa ibu gak menilai kalau aku jadi semangat belajar masak, belajar bikin kue. Itu untuk persiapan menjadi istri yang baik. Aku juga belajar dari buku psikologi tentang apa aja persiapan sebelum memutuskan menikah." Ami beranjak turun dari kasur. Membuka laci meja rias dan mengeluarkan sebuah buku.
Ibu Sekar membaca judul buku yang disodorkan Ami. Membuka lembaran awal untuk melihat judul-judul bab.
"Ibuuu, yang aku butuhkan pertama adalah restu Ibu dulu. Aku akan ringan menghadapi introgasi Teh Puput, Teh Aul. Sedikit butuh teknik menghadapi A Zaky. Mungkin harus pakai proposal kalau ke A Zaky mah." Ami beralih duduk di samping Ibu yang kentara tersenyum samar usai mendengar kalimat terakhirnya.
"Asal Ibu tau, aku bisa memberi restu Ibu nikah sama Papa karena nasihat Kak Akbar. Aku gak boleh egois. Karena aku gak selamanya bisa menemani Ibu. Akan dibawa pergi sama suaminya seperti halnya Teh Puput dan Teh Aul. Aku awalnya gak nyampai ke pemikiran bahwa Ibu pun butuh teman bicara dan sandaran yang tidak bisa didapat dari anak-anak. Penjelasan itu aku dapat dari Kak Akbar. Percayalah, pemikiranku udah dewasa, Bu." Untuk kesekian kalinya Ami berusaha meyakinkan Ibu.
Ibu Sekar tidak menjawab. Entah sudah berapa kali menghembuskan nafas panjang. Ia mendengar dan mencermati kata demi kata yang diucapkan oleh si bungsu yang penuh keseriusan itu. Hingga tujuh menit lamanya kamar itu sepi tanpa ada yang berucap. Karena Ami pun diam menunggu.
"Jadi jawaban Ibu gimana, Bu?" Ami menatap Ibu yang sedari tadi merenung dengan kening mengkerut dalam.
Ibu Sekar balas menatap Ami. Obrolan empat mata ini telah menjawab kekeliruan tentang sifat Ami. Tak lagi kekanak-kanakan. Ternyata bungsunya itu sudah dewasa. "Ibu......"
__ADS_1
Tbc