
Gita menarik kursi di samping Akbar. Bergabung duduk meski tanpa dipinta. "Aku baru pulang dari Pangandaran, Mas. Kemarin dipaksa teman-teman harus ikut liburan. Sekarang mereka check in disini karna mau lanjut jalan-jalan di Tasik. Mereka pulangnya besok. Jadi aku ikut pulang bareng kamu ya, Mas." Jelas Gita dengan wajah semringah.
"Gita, maaf. Kita gak bisa pulang bareng. Aku masih ada urusan disini. Pulangnya malam." Akbar beralasan.
"Gak papa aku nunggu aja. Yang penting pulang hari kan. Besok kita kan sama-sama masuk kantor." Gita menatap Akbar dengan sorot penuh harap.
"Maaf kepo nih. Mbak ini siapanya Mas Akbar ya?" Panji tak sungkan bertanya daripada menduga-duga.
Gita menoleh menatap Panji. "Aku...."
"Sekretaris aku. Namanya Gita." Dengan cepat Akbar menyela. Jangan sampai Panji menduga yang tidak-tidak.
Gita pun mengulurkan tangan terhadap Panji. Memperkenalkan nama dengan gestur gemulai sambil mengumbar senyum lebar. Perkenalannya disambut Panji dengan tersenyum simpul.
"Oke deh, Mas. Aku balik dulu ya. Obrolan tadi udah clear. Hadapi PR mu, Mas. Jangan sampai aku cabut dukungan." Panji menatap penuh arti saat berjabat tangan dengan Akbar.
"Ok, Nji. Salam sama istrimu ya." Akbar berpelukan dengan Panji. Menatap sejenak punggung kakak iparnya Ami itu yang melangkah lebar menuju pintu keluar masuk coffee shop.
Akbar duduk lagi di kursinya. Meraih ponsel dan menghubungi nomer Tommy. Tak butuh menunggu lama, GM Seruni itu menyahut.
"Tom, dimana posisi?"
"Baru sampe hotel, pak."
"Bagus. Aku tunggu di Coffee Shop!"
"Oke, pak." Tommy yang berada di parkiran basemen, menghela nafas panjang usai panggilan berakhir. Menggaruk-garuk kepala dengan wajah meringis. "Kenapa jadi sering ke Tasik sih bos. Kan hari liburku jadi keganggu dah," gerutunya sebelum membuka pintu mobil. Meskipun Akbar menyuruhnya gak usah ditemani, tetap aja merasa tak enak hati. Ia menyambut pas sang bos datang. Dan sekarang ia datang untuk melepas sang bos yang akan pulang.
Masuk ke dalam Coffee Shop, Tommy sedikit terkejut melihat kehadiran Gita sedang berbincang dengan Akbar. Ia menyapa sekretaris cantik itu, barulah duduk.
"Tommy, tolong bantu kepulangan Gita ke Jakarta. Ia terpisah sendiri karena teman-temannya masih liburan sampai besok." Akbar melirik jam tangannya. Sudah waktunya check out dari hotel menuju rumah Ami.
"Mas, aku kan mau nunggu Mas Akbar. Gak papa pulang malam juga." Gita terkaget. Tak menyangka Akbar memberi instruksi seperti itu pada Tommy.
"Sorry, Gita. Aku kesini pakai si kuning. Jadi gak bisa bawa penumpang cewek selain Mama, adikku dan pacarku. Kamu tau rule tak tertulis itu, kan? Aku gak jelasin tadi karena ada Panji.
"Tapi kamu belum punya pacar kan, Mas?" Todong Gita yang keukeuh berharap bisa pulang bareng. Ia rela ikut teman-temannya liburan ke Pangandaran dengan ekspektasi pulangnya bisa satu mobil dengan Akbar.
"Udah. Dan sekarang mau jalan-jalan bareng dia. Aku tinggal dulu ya. Tommy yang akan bantu kamu, Git." Tanpa menunggu jawaban, Akbar bergegas bangkit dari duduknya. Dengan langkah tergesa meninggalkan Coffee Shop untuj menuju kamarnya.
"Dulu kukira mbak Gita jadi pacarnya Pak Akbar. Eh ternyata pacarnya si bos orang Ciamis ya." Ucapan Tommy memalingkan perhatian Gita yang menatap kecewa kepergian Akbar.
"Jadi beneran Mas Akbar udah punya pacar?" Gita masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dan anggukkan Tommy membuat hatinya terasa perih.
"Pak Tom udah pernah ketemu cewek itu?"
"Sudah."
__ADS_1
"Cantik mana dia sama aku?"
Tommy menaikkan satu alisnya. "Setiap pria akan punya sudut pandang yang berbeda, mbak Git. Kalau aku yang disuruh menilai, ya cantikan istriku."
"Aku tanya, cantik mana cewek itu sama aku?"
Tommy menarik sudut bibir. Sebagai pria ia pun kini bisa menilai karakter Gita. Pantas saja Akbar tak tertarik meski perempuan di hadapannya itu cantik. "Kamu dan cewek itu sama-sama cantik secara visual. Tapi gadis itu punya poin plus-plus. Wajar kalau seorang Akbar Pahlevi Bachtiar ngejar terus. Sampai rela pulang pergi Jakarta Tasik."
"Namanya siapa? tau medsosnya gak?"
"Soal itu, tanyakan sendiri sama Pak Akbar. Karna itu privasinya. By the way, jadi pulang gak nih? Aku mau siapin mobilnya. Aku harus segera kembali ke rumah, mbak Git. Mau ngajak anak istri jalan-jalan."
Gita menghembuskan nafas kasar lalu mengangguk. Kecewa amat sangat yang dirasakannya kini. Sekian lama menunggu dan berharap, haruskah penantian itu berakhir sampai disini? Ia menggeleng samar menjawab suara hatinya itu.
***
Akbar tiba di rumah Ibu Sekar terlambat setengah jam dari janji awal. Itu karena terhambat oleh kedatangan Gita. Dimana ia belum packing barang-barang di dalam kamarnya. Tapi untungnya keterlambatannya itu sudah dikonfirmasi ke Ami.
"Masuk, Kak." Senyum manis Ami menyambut kedatangan Akbar yang berdiri di depan pintu usai menekan bel dan mengucap salam.
"Ibu sama Papa kemana, Cutie?" Akbar duduk sambil mengedarkan pandangan karena suasana rumah terasa sepi.
"Ada di belakang. Oh ya kak, tadi kan Mama Mila telpon nitip beliin oleh-oleh. Suruh titipin sama Kak Akbar kalau pulang. Mama Mila bilang juga gak sama kakak?"
"Nggak tuh. Berapa totalnya, Cutie? Aku transfer sekarang."
Akbar mengangguk. "Cutie, kira-kira ibu sama Papa ngizinin nggak ya. Pengen ngajak kamu jalan-jalan dulu sebelum pulang ke Jakarta." Ia coba mengadu peruntungan karena masih belum kenyang kebersamaan dengan ayangnya itu.
"Hm, aku sih gak nolak. Tapi bentar ya aku panggil dulu Ibu." Ami beranjak pergi dengan harap-harap cemas. Berharap diperbolehkan jalan-jalan naik si kuning.
Di teras belakang, Ibu Sekar menemani Pak Bagja yang sedang membuat kursi. Memanfaatkan batang pohon jambu air yang kemarin ditebang karena sudah lama tak berbuah. Sekadar mengisi waktu luang. Karena tak betah hanya duduk diam.
"Bu, ada tamu." Ami duduk di samping Ibu. Di bangku panjang hasil karya papanya itu yang baru beres satu.
"Tamu siapa?" Bukan hanya Ibu Sekar yang menoleh. Pak Bagja juga.
"Calon mantu Ibu." Ami tersenyum miring sambil menaik turunkan alisnya.
Ibu duduk di hadapan Akbar mendengarkan dengan tenang keinginan pemuda tampan yang meminta izin mengajak Ami jalan-jalan.
"Maaf ya, Mas Akbar. Ibu gak bisa izinin. Ngobrol di rumah aja. Ibu gak akan larang. Ami juga tadi udah masak tuh. Katanya spesial pengen suguhin dulu makan sebelum Mas Akbar pulang ke Jakarta."
"Ish, Ibu. Kenapa dibocorin aku yang masak. Kan jadi malu." Ami menutup wajah dengan telapak tangan yang direnggangkan.
"Mana ada Ami pemalu. Biasanya juga malu-maluin, kan?" Ibu mengerling sambil tersenyum mesem.
"Ya Salam, Bu. Ngejatuhin wibawa anakmu, Bu." Ami menutup wajah dengan bantal sofa.
__ADS_1
Candaan ibu dan anak yang membuat Akbar terkekeh. Ia memaklumi larangan Ibu Sekar. Toh memang sudah terprediksi.
"Kak, makan aja yuk. Mumpung masih hangat."
Tawaran Ami tak lagi ditolak. Takut diultimatum lagi. Ditambah ia juga melewatkan makan siang karena asyik ngobrol dengan Panji kemudian disambung kedatangan Gita. Ia mengangguk dan berdiri. Bersiap mengikuti Ami. "Sama Ibu dan Bapak juga sekalian?" tanyanya sambil menatap Ibu Sekar.
"Udah tadi makannya. Ibu tinggal dulu ke belakang ya. Lagi nemenin bapak bikin kursi kayu."
Lagi, Akbar mendapat kesempatan berduaan dengan Ami di meja makan. Jaga sikap dengan memilih duduk bersebrangan daripada duduk bersisian kursi. Takut hilap colak colek.
"Nasinya segimana, Kak?" Ami sudah memegang piring.
"Aku ambil sendiri aja, Mi. Belum wajib melayani. Nanti aja kalau udah nikah ya." Akbar tersenyum simpul. Bukan tak ingin dilayani. Tapi ada cctv yang membuatnya merasa diawasi.
"Hehe. Oke deh." Ami mempersilakan Akbar mengambil nasi lebih dulu. "Apa bedanya nasi sama kak Akbar?" Ia mengamati Panda nya itu sambil menopang dagu.
"Hm, apa ya. Nyerah deh." Akbar tersenyum lebar dengan mata berbinar karena Ami mode on gombal. Ia menunggu jawaban sambil beralih menyendok udang asam manis yang ukurannya besar-besar dan menggugah selera.
"Kalau nasi mengisi perut yang kosong. Kalau kak Akbar mengisi hatiku yang kosong."
Akbar tertawa renyah. Untung duduk bersebrangan. Bisa-bisa tangan ingin menguyel-nguyel kepala Ami. "Gak jadi makannya ah. Langsung kenyang nih."
Ami terkikik. "Mana ada perut kenyang dengan gombalan. Yuk ah makan. Bismillah..."
***
Akbar tiba di rumahnya di Jakarta jam sepuluh malam. Karena berada di rumah Ami lebih lama dari sebelumnya. Usai makan tak langsung pulang. Tapi berlanjut ngobrol santai di ruang tamu. Lebih tepatnya membantu langsung Ami membuat mind map dalam kertas. Progres belajar selama kelas 12 disusun untuk mempertahankan nilai. Berharap lulus dengan nilai maksimal.
Perjalanan Jakarta Ciamis bukan waktu yang sebentar. Tapi enam jam waktu normal. Demi berjuang mendapatkan restu, ia rela berkorban waktu, tenaga, dan uang. Pesawat komersil tujuan Tasikmalaya tidak beroperasi tiap hari. Maka itu harus ditempuh dengan perjalanan darat. Dan ia merencanakan akan ke Ciamis lagi dua minggu yang akan datang dan seterusnya sampai tiket restu diraihnya. Berjuang dan berdoa.
Sembilan hari berlalu. Malam ini Puput mendapat kabar bahagia dari grup keluarga. Aul telah melahirkan bayi laki-laki dengan persalinan normal. Panji memposting video bayi merah berselimut biru, yang matanya mengerjap-ngerjap. Lucu dan imut.
Puput berucap syukur dan tersenyum lebar. Rasya yang kepo sejak tadi masih anteng menatap video baby boy itu.
"Papa, kapan kita akan ke Ciamis?" Puput menatap Rama yang berbaring dengan berbantalkan pahanya. Tak sabar ingin pulang kampung sekalian momen bicara empat mata dengan Ami.
"Aa diajak kan, Umma?" Rasya menyambar. Takut ketinggalan. Ponsel disimpan dan ia naik ke sofa ikut berdesakan berbaring di samping Papa Rama.
Rama terkekeh karena Rasya mendesaknya agar bergeser. "Umma sama Aa dan adek mau duluan berangkat besok juga gak apa-apa. Nanti Papa nyusul malam sabtu."
"Papa awas jangan nangis ditinggalin Umma ya! Halus jadi anak soleh." Rasya mengusap-usap bahu papanya itu.
Rama tergelak. Anak pertamanya itu sangat menggemaskan memang. Sok dewasa yang malah lucu dan jadi hiburan. "Iya, Aa. Pap gak akan nangis. Kan nanti bisa vc an sama Umma. Titip adek ya. Aa harus ajak main adek."
"Asiaappp. Aa bakal main sama adek. Tapi Aa bobonya mau sama Ate Kunti."
Puput yang sedari tadi mendengar sambil mesem-mesem, kini lepas tawa karena julukan nama baru Ami tak juga lepas. Rasya begitu nyaman mengucapkannya.
__ADS_1
"