Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
52. Undangan


__ADS_3

Ami dan Zaky mulai menikmati nasi goreng seafood yang diantar asistennya Pak Idrus. Wangi harumnya menggoda lidah untuk terus mengunyah ditemani kerupuk serta acar mentimun serta dua gelas minuman jeruk panas.


"Gimana-gimana, enak gak?" Ami menoleh ke samping. Menatap Zaky yang menyantap dengan lahap.


"He em, enak." Cukup tanggapan singkat. Zaky memilih fokus melanjutkan makannya.


"Itu Kia datang." Ami tersenyum semringah melihat motor metik yang baru saja naik ke trotoar dan kemudian terparkir di pinggir toko tempatnya makan sambil lesehan.


Zaky mengikuti arah pandang Ami. Benar saja. Saat helm dibuka, wajah Kia nampak segar dan berseri serta penuh semangat. Berjalan menenteng sebuah keranjang dengan kepala menunduk dan siap lewat di depannya.


"Teh, awas di atas ada pesawat!"


Ami sengaja menjahili Kia sampai temannya itu spontan mendongak ke atas. Kemudian barulah menolehkan wajah.


"Ih Ami, A Zaky?!" Kia terkejut dengan mata melebar. "Kenapa gak ngabarin dulu kalo mau kesini " Ia menghampiri dan duduk di samping Ami. Mengulang lagi ucapan selamat secara langsung dan cipika cipiki. Meski sebelumnya sudah mengucapkan selamat di grup chat kelas IPA 3 juga di akun media sosial saat kemarin Ami memposting foto kemenangan.


"Sengaja kan biar surprise. Ini Aa pengen nyobain dulu nasgor 'Kabita' soalnya besok berangkat lagi ke Singapura."


Kia menatap Zaky usai mendapat penjelasan Ami. Yang ditatap nampak menganggukkan kepala sebagai jawaban karena sedang mengunyah. "Soal rasa, ada kritik dan saran, A Zaky?"


"Rasa apa?" Zaky menatap Kia dengan otak yang mendadak nge lag.


"Rasa sayange sama Kia." Sambar Ami dengan ekspresi santai. Meski mendapat hadiah cubitan dari Kia di lengannya.


"Rasa nasi gorengnya, A. Kan kesini untuk mencoba nasgor." Kia mengulum senyum melihat Zaky yang meringiskan wajah.


"Maaf, konsentrasi 100% lagi ngebayangin di Singapura nanti kalau pengen nasgor kan mesti buat sendiri. Pengen rasa yang seenak ini. Lagi merasai bumbu-bumbunya apa aja nih."


"Hidup jangan dipersulit. Nih tanya aja sama orangnya langsung. Gitu aja kok repot."


"Kia mana mungkin ngasih bocoran, Marimar. Kan rahasia dapur. Kecuali bayar dulu sebagai royalti."


Kia terkekeh melihat adu argumen kakak beradik itu. Ia sudah biasa melihat jika ikut numpang pulang di mobil mereka. Berantem yang menyenangkan dan menghibur.


"Kalau untuk pribadi boleh kok. Aku akan kasih bocorannya. Tapi kalau A Zaky mau pakai buat bisnis kuliner di Singapura, nah itu harus bayar."


"Buat pribadi kok. Kalau kangen masakan rumah, aku suka masak sendiri. Makasih ya, Kia."


"Yeee, jangan dulu makasih. Aa aja belum minta nomer kontak Kia. Gimana mau dapet resepnya."


"Ya itu tugasmu, Mi. Adik sekaligus asisten yang harus tanggap. Jangan tulalit. Masa gitu aja mesti disuruh. Katanya imut and smart dari orok."


Kia mentertawakan adik kakak yang saling memelototkan mata. Sebenarnya masih betah duduk bersama. Namun calon pembeli mulai berdatangan memarkirkan motor-motor di bahu jalan.


"Santai aja dulu ya Ami, A Zaky. Aku mau bantuin dulu Bapak." Kia berdiri dari duduknya usai mendapat jawaban mereka berdua.


"Aduh jangan sampai free deh. Mana kita pesan 4 porsi lagi." Ami menghela nafas panjang. Sama sekali tidak merasa senang jika makannya digratiskan. Orang tua Kia harus bekerja keras untuk biaya sekolah ketiga anaknya.


"Tenang aja. Udah Aa bayar duluan." Piring Zaky sudah licin. Keringat nampak berembun di keningnya karena memilih nasi goreng pedas. Membuat Ami tersenyum lega.


Zaky menyaksikan pembeli nasi goreng terus berdatangan dan rela mengantri. Bahkan sebagian kaum Adam itu mengarahkan kamera ponsel pada Kia yang murah senyum dalam melayani serta cekatan selama menyiapkan bahan-bahan nasi goreng yang akan dieksekusi bapaknya. Rasa penasarannya sudah terbayar. Mengingat ada pesanan nasi goreng punya Ibu, ia pun mengajak Ami pulang.

__ADS_1


"Eh, Neng Ami. Kenapa datang gak nyapa Bapak. Tunggu ya jangan dulu pulang. Bungkus dulu buat yang di rumah." Pak Idrus terkaget saat Ami mendekat dan pamit. Baru tahu jika pemuda yang tadi pesan adalah kakaknya Ami.


"Gak usah, Pak. Ini udah ada. Pulang dulu ya, Pak." Ami bergegas pergi sebelum bapaknya Kia itu menahannya lagi.


Kia pun tidak bisa membujuk. Ia mengantar Ami dan Zaky sampai di depan motor Ninja. "Ami makasih ya. A Zaky, selamat jalan ke negeri Singa. Semoga berkah menuntut ilmunya." Ia tersenyum simpul.


"Aamiin. Do'a yang sama untuk Kia. Kita pulang dulu ya." Zaky tersenyum dan mengangguk. Ia pun memakai helm full face nya.


"See you next monday at school, Kia." Ami melambaikan tangan seiring motor mulai melaju turun dari trotoar. Yang dibalas Kia dengan lambaian tangan juga.


***


Hari berganti pagi. Zaky sudah berpakaian rapih menunggu datangnya mobil travel yang akan menjemput di jam enam. Sekitar sepuluh menit lagi. Pembicaraan waktu itu dengan Panji, jika sang kakak ipar yang akan membayar tiket pesawat serta memberi uang saku. Dan langsung ditransfer saat itu juga. Ia ke Jakarta dulu untuk mampir ke rumah Puput karena permintaan kakaknya itu. Lalu mendatangi kantor Adyatama Group untuk pamit ke Papi Krisna. Orang tua yang konsisten membiayai pendidikannya hingga sekarang. Barulah nanti terbang dengan pesawat malam.


"Mi, fokus belajar yang bener ya. Jangan dulu pacaran." Zaky menatap Ami yang menemaninya di ruang tamu bersama Ibu, sambil menunggu mobil datang. Ia memantau akun media sosial sang adik yang terpantau bertambah follower sejak menjadi juara Provop.


"Iya." Ami memeluk bantal sofa untuk menyembunyikan sebagian wajahnya. Kekhawatirannya sudah terbukti jika keluarga tidak akan ada yang setuju jika punya pacar dari sekarang.


Maafkan diriku yang udah terlanjur jatuh cinta sama Kak Akbar.


Ami memperhatikan Zaky dan Ibu yang kini sedang berbincang. Dalam hati meminta maaf karena tidak jujur. Belum waktunya.


Suara klakson mobil menghentikan perbincangan. Mobil travel sudah datang menjemput. Waktunya perpisahan untuk waktu yang cukup lama.


Rumah terasa lengang usai Zaky pergi. Hanya ada Ibu dan Ami. Semalam Panji dan Aul datang untuk bertemu Zaky yang akan pergi. Hingga mengobrol sampai jam sembilan.


"Bu, apa sebaiknya aku pindah ke kamar Teh Aul aja gitu? Biar deket sama Ibu." Ami berguling di kasur ibunya yang sedang merapihkan pakaian di lemari. Malam minggu ini absen ber video call karena Akbar ikut acara keluarga. Yaitu makan malam sekaligus pertemuan dengan keluarga calon suaminya Iko.


"Udah aja tetep di atas. Kalau sama-sama di kamar bawah, nanti lantai atas jadi jarang diinjak."


"Boleh." Ibu Sekar baru selesai merapihkan susunan pakaiannya di dalam lemari.


"Bu, suka ada kabar dari Pak Happy?" Ami bangun dari tidurannya saat Ibu duduk di tepi ranjang.


"Pernah ngabarin waktu udah sampai Jerman. Terus minggu lalu ngirim foto musim gugur di Berlin Botanical Garden. Sangat indah. Mau liat?"


Ami mengangguk penuh antusias atas tawaran ibunya itu. Ia melihat di galeri foto saat Ibu menyodorkan ponselnya. "Masyaa Allah, beneran beautiful jadi pengen liburan ke Jerman. Ini Pak Happy berfotonya sama Teh Gina terus. Gak ada yang sama bule."


"Karna Pak Bagja tipe ayah yang tegas tapi lembut, mengayomi, sayang keluarga." Ibu menyimpan lagi ponselnya di nakas.


"Apakah termasuk sayang sama Ibu juga?" Ami menaik turunkan alisnya diiringi senyum usil.


"Ish, apaan nih bocah." Ibu memencet hidung Ami dengan gemas. Merasa pertanyaan jebakan.


"Eciee, kalau B aja kenapa harus merah wajahnya." Ami makin sengaja meledek Ibu.


"Sudah-sudah, tidur!" Ibu mendorong bahu Ami hingga terjengkang telentang sambil cekikikan. Ia pun menata bantal dan memposisikan rebah di sebelah kiri. Merasa kangen juga tidur berdua dengan si bungsu yang dulu biasa tidur seranjang dengannya.


***


Waktu bergulir, hari terus berganti. Hingga tak terasa waktu seminggu lagi menuju pernikahan Aiko Bachtiar, adiknya Akbar. Di ruang kantor hotel Seruni Tasik, GM Tommy sedang menerima telepon dari CEO Akbar. Wajahnya nampak serius kala menerima pengarahan.

__ADS_1


"Iya, Pak. Sudah sampai tadi jam sepuluh."


"Baik, Pak. Saya akan segera meluncur."


Tommy menyimpan ponselnya di meja setelah panggilan masuk berakhir. Beralih menatap kartu undangan hard cover berwarna abu kombinasi silver yang elegan. Sebuah kartu yang dipaketkan dari Jakarta. Tertulis nama penerima, Ibu Sekar Sari dan Keluarga.


Si boss ada-ada aja. Nganterin undangan harus sama GM.


Tommy mengusap wajah dengan kasar diiringi geleng-geleng kepala. Share loc rumah makan Dapoer Ibu baru saja ia terima. Dan harus berangkat saat ini juga. Tugas negara.


"Saya Tommy, GM hotel Seruni, Bu. Kesini karena disuruh Pak Akbar." Tommy menunjuk tanda pengenal yang tersemat di dada kanannya saat Bu Sekar menatap dengan kening mengernyit.


"Oh iya. Silakan masuk." Meski tidak kenal dengan tamu yang datang, namun begitu nama Akbar disebut, ia tidak ragu mempersilakan sang tamu duduk.


Tommy mengulurkan sebuah kartu undangan yang dikeluarkan dari dalam tas. "Saya kesini untuk menyampaikan undangan, Bu. Pak Akbar sangat menantikan kehadiran Ibu dan keluarga di pernikahannya mbak Aiko." Ujar pria berpenampilan perlente itu dengan sopan.


Ibu Sekar meraih kartu undangan dan membaca sekilas bagian luar. "Insyaa Allah, Pak Tommy. Terima kasih udah repot-repot mengantarkan sendiri kesini."


"Tak apa, Bu. Karena Ibu dan keluarga adalah tamu kehormatan Pak Akbar." Tommy pun tak berlama-lama. Tugas negara sudah selesai. Ia pun pamit.


Sore hari. Ami pulang dari sekolah dengan mengendarai motor. Sejak Zaky pergi, ia memulai senin dengan berangkat memakai motor matic milik Aul yang diwariskan padanya. Pandangannya terantuk pada sebuah kartu undangan yang ada di meja makan saat ia hendak minum.


"Bu, siapa yang nganter undangan?" Ami menekan rasa senangnya usai membaca isi undangan. Artinya bakal bertemu muka lagi dengan Akbar. Karena sejak pertandingan di Bandung, hanya komunikasi via telepon dan video call saja yang terus terjalin.


"Pak Tommy, GM nya hotel Seruni tadi siang. Sengaja nganterin karena kita katanya tamu kehormatan. Ibu jadi merasa tersanjung deh."


Aku malah deg degan Bu. Mau ketemu camer. Hihihi.


Ami hanya bersuara dalam hati. "Kita akan datang kan, Bu?" Ia ingin memastikan. Mengingat Aul dan Panji kemungkinan tidak akan hadir karena dengar-dengar kamis besok akan berangkat honeymoon ke Italia.


"Insyaa Allah. Soalnya hanya kita berdua aja yang mewakili. Teh Aul jadi ke Italia kamis."


Ami naik ke kamarnya. Sebelum mandi, mengirimkan dulu pesan dengan melampirkan foto kartu undangan.


[Kak, aku udah nerima undangan]


Ami urung masuk ke kamar mandi karena ponselnya berdering. Nama Panda tampil di layar. Padahal bukan video call, namun rasanya tidak percaya diri kalau tidak ngaca dulu. Ia menjawab dengan berucap salam.


"Bisa datang kan, Cutie?" Tanya Akbar usai menjawab salam Ami.


"Hm, belum tau ya. Soalnya Cinderella kehilangan sepatu kaca sebelah kiri. Nanti kalau udah ketemu, baru bisa datang."


Akbar tertawa lepas. Candaan sore hari yang membuat penat kepala karena kesibukan kerja menjadi melumer.


"Biar nanti Pangeran yang kirim gaun dan sepatu baru. Pangeran gak mau Cinderella nya sampai gak datang. Cause missing you so much."


Ami menggigit bibir. Fokus pada kalimat terakhir Akbar yang terdengar tulus dari hati yang paling dalam. Karena sampai ke hatinya yang spontan menimbulkan desiran.


"Insyaa Allah, Kak. Paling aku sama Ibu aja yang datang. Soalnya Teh Aul sama Kak Panji kamis besok berangkat ke Italia. Honeymoon seminggu. Katanya voucher ke Lombok paling nanti buat November."


"Oh, oke. Nanti aku suruh mobil hotel yang antar jemput ke Jakarta. Mau gak, Cutie?"

__ADS_1


"Gak usah, Kak. Ada sopir Mang Kirman kok. See you at saturday night in Jekardah. Aku mau mandi dulu ya."


Panggilan pun berakhir karena Akbar pun tidak bisa berlama-lama. Sudah kedatangan tamu di kantornya.


__ADS_2