Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
44. Sarapan Pagi Kita


__ADS_3

Setelah Akbar melesat cepat menyusul Ami, Leo meninggalkan ruangan menuju kamarnya. Dengan kemeja yang dipakai asal tanpa dikancingkan serta jas yang tersampir di lengan. Toh akan berganti baju, pikirnya.


Tasya membukakan pintu dan berdiri menghalangi jalan masuk sambil senyum-senyum. "Hai, mbak Lea. Abis mangkal dimana? Abis diapain? Sampe berantakan gini. Ck ck."


Leo memutar bola matanya. "Sebel deh." Ujarnya dengan suara sengau sambil menyentil kening Tasya. Ia sampai menutup mulut karena terkaget sendiri mendengar suaranya jadi ngondek.


Sementara Tasya tertawa terbahak-bahak sampai terguncang-guncang bahunya. "Mas jangan dulu masuk! Mana kostum Lea nya? Aku mau liat kamu jadi Lea lagi. Tadi udah dikirimin foto sama Mas Akbar, jadi pengen liat langsung."


"Si Akbar kurang asem." Leo meremas rambutnya sebagai pelampiasan rasa geram terhadap Akbar. "Sayang, aku mau masuk. Malu kalo diliat orang, ini penampilanku berantakan." Ia melihat ke kiri dan kanan deretan room kamar yang full booked. Untung saja tidak ada orang lalu lalang. Sementara Tasya hanya membuka pintu selebar badannya saja dan menutupi jalan masuk.


"Ini permintaan anak kita, sayang. Pingin liat papanya cosplay jadi Miss Lea, please!" Tasya merayu dengan sorot mata memohon.


"Sya, tadi aku udah amit-amit jabang bayi. Ini kamu malah sengaja. Nggak mau - gak mau!" Keukeuh Leo sambil mencolek pinggang bumil agar menyingkir memberi jalan.


"Ya udah. Jangan masuk!" Pintu ditutup Tasya dengan keras yang otomatis terkunci.


Leo terjengit kaget. "Sya! Tasya sayang! Oke-oke aku turutin. Buka dong pintunya!" Teriaknya yang akhirnya pasrah. Pintu pun terbuka lagi.


"Costumnya mana?" Tasya menaikkan satu alisnya.


Leo menghela nafas kasar. "Bentar aku ambil dulu." Jas yang dipegangnya disampirkan di kepala Tasya hingga menutupi wajah sang istri yang nampak kegirangan itu. Ia kembali ke ruangan tadi mengambil paper bag dengan terpaksa.


"Kok celananya gak dibuka, sayang?" Tasya mengamati Leo yang sudah memakai dress dan wig rambut pirang. Mengulum senyum.


"Tadi emang gini doang, Sya. Kan yang dibutuhin cuma keliatan bahu sama rambut." Leo berkilah. Wajahnya memberengut. "Udah ya, Sya!" Pintanya memelas. Ibarat anak kecil yang memaksa meminta jajan.


"Tanggung ah. Harus totalitas dong." Tasya mendekat. Membuka gesper dan melorotkan celana kain yang dipakai Leo yang terpaksa patuh. Merapihkan dress selutut berwarna merah itu.


"Hihihi, Miss Lea cantik tapi berbulu. I love you, Miss." Tasya sangat menikmati penampilan Leo kini, meskipun dengan wajah natural tanpa sapuan make up. Wajah suaminya yang klimis tanpa jambang dan kumis, bisa menipu jikalau dikeremangan malam. Cantik.


"Sya, udah ah. Usap perutmu dan bilang amit-amit. Kamu kok jadi ketularan gesreknya si Akbar. Dia mah pantes, lagi bucin sama gadis ting ting. Kamu tuh lagi hamil. Jangan aneh-aneh deh." Leo masih saja mode sewot dan menggerutu.


"Selfie dulu, sayang. Baru udahan. Nyenengin istri itu pahala. Ingat itu, sayang!" Ultimatum Tasya membuat Leo tak berkutik. Pasrah diajak selfie. Manut saat harus berpose senyum.


"Udah cukup. Thank you, Mase. Kamu udah menghiburku." Tasya mencium bibir Leo untuk meredakan kekesalan suaminya itu. "Sekarang kamu bersih-bersih gih. Aku akan manjain kamu tonight."


Leo langsung tersenyum semringah usai saling memagut. "Yes!" Ia mengacungkan tinju ke udara sambil melempar wig sembarang arah. Dress nya dibuka dengan kasar hingga terdengar suara robekan. Tak peduli. Ia melenggang ala Tarsan ke arah kamar mandi. Rasa kesalnya menguap berganti keriaan karena sang istri akan memanjakan dengan servis plus plus.


***


Ami hanya menyapukan bedak dan memoles bibir dengan lip cream dengan cepat, usai cuci muka. Yang penting tidak pucat. Disamping risih karena Akbar menunggunya di luar. Apa nanti kata orang jika tahu owner hotel Seruni rela menunggu seorang Ami. Ia menghampiri Akbar yang berdiri di ujung koridor di dekat kaca. "Maaf, Kak. Lama nunggu ya."


Akbar menatap wajah Ami yang kini segar dan berseri. "Gak berasa nunggu kok. Barusan beres nerima telpon dari teman di Jakarta. Kita ke ballroom sekarang, Cutie?"

__ADS_1


Ami mengangguk. Berjalan bersisian menuju lift dengan rasa sedikit canggung usai kata jadian. Untung saja di dalam lift ada dua orang yang sama-sama menuju lantai dua. Membuat Ami merasa nyaman tanpa bersuara.


Akbar menghentikan langkah sebelum memasuki ballroom. Ada panggilan masuk dari Papa Darwis. Ia menerimanya dengan singkat. Kemudian menghampiri Ami yang menunggunya di samping pintu masuk. "Cutie, maaf aku gak jadi masuk. Papa nyuruh aku ke kamarnya. Gak papa sendirian? Aku gak akan balik lagi ke pesta. Kan satu jam lagi juga udahan ya." Ia menatap jam tangannya.


"Gak papa, Kak. Makasih ya untuk malam ini. Untuk prank dan itunya...." Ami tak melanjutkan kata. Berganti tersenyum malu.


Akbar tersenyum simpul. "Sampe ketemu besok pagi. Kita breakfast bersama ya."


"Maksudnya breakfast berdua?!" Ami merasa deg degan membayangkannya.


"Dua keluarga. Katanya ngajak backstreet." Akbar mengulum senyum.


Ami meringiskan wajah. "Makanya pengen mastiin. Kalau breakfast berduaan aku gak mau. Eh, tapi Ibu sama A Zaky gak akan nginep. Teh Puput sama A Rama juga. Beres acara mau pulang. Yang nginep cuma aku dan Padma sama Ayah Anjar dan Bunda Ratih."


"Ya udah berarti yang ada aja, oke?" Akbar tidak mengabsen pengantin baru. Mungkin saja Panji dan Aul memilih sarapan pagi di kamar.


Ami mengangguk setuju. Obrolan pun berakhir dengan perpisahan. Akbar kembali ke lift. Sementara Ami memasuki venue. Alunan musik terdengar begitu membuka pintu ruangan yang kedap suara itu. Kebetulan yang sedang bernyanyi adalah Panji dan Aul.


Padma menghampiri Ami yang sedang merekam penampilan sepasang pengantin di panggung musik. Setelah selesai merekam, barulah ia bertanya. "Mi, darimana aja? Lama ih."


"Tadi nganter Kak Tasya ke kamarnya karena Kak Leo nganter Enin sampai lobi. Terusnya aku penasaran naik ke rooftop. Nyari angin lah." Ami beralasan sejujurnya meski ada beberapa bagian yang di skip. Kemudian mengajak Padma duduk di meja semula usai mengambil minum dingin.


"Ami gak kesambet jin di rooftop? Datang-datang jadi senyum-senyum sendiri gitu." Padma meraba kening Ami dengan raut heran.


"Lewat mana?" Padma menggigit martabak tipker yang masih hangat.


"Lewat sawah." Jawaban asal Ami membuatnya dan Padma kompak cekikikan.


Tak terasa pesta telah usai di jam sepuluh malam. Panji dan Aul memasuki kamar pengantin dan berganti baju. Usai membersihkan diri dan sholat isya serta sholat sunah pengantin baru, keduanya merebahkan badan di ranjang empuk berhiaskan dua angsa putih yang disatukan membentuk simbol love.


"Kaki aku pegal-pegal. Malam ini kita tidur aja ya? Cape nih." Aul melirik Panji yang telentang di sampingnya dengan mata memejam.


Panji membuka mata dan merubah posisi menjadi miring dengan satu kaki menyilang di paha Aul. "Tenang, Ayang. Aku siap pijitin. Lalu kita begadang sampe subuh." Ia tersenyum penuh arti. Tangannya mulai mengusap-usap pipi istrinya itu.


"Masih ada hari esok dan seterusnya kan, sayang? Gak mesti malam ini." Giliran Aul yang memberi sentuhan usapan di rahang Panji. Status halal membuatnya berani mengekspresikan perasaan cinta dan sayangnya terhadap suaminya itu.


"Tapi malam pertama hanya ada satu kali. Malam ini." Panji mendekatkan bibirnya ke telinga Aul. Mulai memberi kecupan-kecupan lembut diselingi gigitan kecil yang lambat laun membuat sang istri mengeluarkan suara-suara pembangkit hasrat.


Dalam keremangan lampu tidur, keheningan kamar yang kedap suara, serta wewangian aromaterapi, sang pengantin pria sedang memulai petualangan. Meniti malam panjang dengan menjelajahi hutan perawan dari hulu ke hilir sambil meninggalkan jejak kepemilikan. Hingga sampai pada puncak pendakian. Berakhir saling memberi dan menerima nikmatnya surga dunia.


***


Ami keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang terbungkus handuk. Pagi ini harus bersiap-siap karena akan sarapan pagi bersama keluarga Akbar. "Ugh, makan sama camer. Hihihi. Aku harus tenang, harus biasa aja," ucapnya dalam hati sambil berkaca mengaplikasikan sun screen di seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Giliran Padma mandi ya!" Padma meregangkan tangan dan kakinya usai nyaman mengulet sejak bangun subuh. Ia menguap panjang.


"Iya buruan mandi. Setengah jam lagi kita ke resto." Ami mengingatkan sambil membuka koper kecilnya untuk mengambil hair dryer.


"Asiap." Padma membawa baju gantinya ke kamar mandi. Mengikuti Ami mandi keramas biar lebih segar.


Ami melihat ponsel Padma berdering dengan nama pemanggil 'Bunda'. Ia berinisiatif menjawab. Mengatakan jika Padma sedang mandi.


"Ami sama Padma, Bunda tunggu di resto jam tujuh ya. Kita sarapan bareng ya, nak."


"Iya, Bunda." Ami menyimpan ponsel Padma usai panggilan berakhir. Menjadi bingung dan berpikir. Membatalkan ajakan Akbar atau menolak ajakan Bunda Ratih. Bisa jadi Padma memilih makan bareng ayah bundanya.


[Kak, Bunda Ratih ngajak breakfast bareng]


[Sepertinya kita harus cancel. Aku dan Padma mau ngikut Bunda]


Ami menyimpan ponselnya usai mengirimkan dua pesan. Rambutnya sudah kering. Waktunya pakai jilbab. Padma pun sudah keluar dari kamar mandi. Ia sampaikan telepon dari Bunda Ratih barusan.


"Berarti kita harus cancel makan sama keluarga Kak Akbar dong ya." Padma bersiap mengeringkan rambutnya.


"Iya. Udah aku chat barusan. Tapi belum dibalas." Ami mendengar bunyi notif dari ponselnya. Bergegas membukanya.


[Tetap jadi, Cutie]


[Kita jadi satu meja sama Tante Ratih]


[Barusan udah aku telpon]


"Yeay. Good solution." Ami memekik girang dalam hati. Waktunya bersiap menuju restoran usai membalas pesan Akbar.


Ami dan Padma memasuki restoran. Ada sebuah meja panjang yang sudah terisi orang tua Akbar dan orang tua Padma yang duduk sebaris. Di sebrang meja baru terisi Iko. Akbar belum terlihat batang hidungnya.


"Padma sama Ami, sini duduknya sama Iko." Iko yang duduk di ujung kanan, menepuk kursi di sampingnya.


"Jadi Mbak Mila mau pulang ke Jakarta kapan?" Bunda Ratih melanjutkan obrolan santai yang terjeda karena kedatangan Ami dan Padma yang kini sudah duduk.


"Nanti siang. Akbar ngajak dulu makan siang di Dapoer Ibu, baru deh pulang." Mama Mila menyesap teh nya sambil menunggu hidangan sarapan pagi datang.


Ami menoleh saat hidungnya mencium aroma parfum yang sama saat semalam memakai jas. Ternyata Akbar datang sambil mengulas senyum manis.


Oh, jantungku!


Ami mengeluhkan penyakit kambuhannya karena terpanah senyum yang menawan. Padahal Akbar cuma memakai kaos putih dan celana jeans biru. Namun bagi Ami sungguh mempesona dan menyegarkan mata. Ditambah Panda nya itu duduk di sisa kursi yang ada di sisi kiri. Semakin terciumlah aroma maskulin karena duduk berdekatan.

__ADS_1


__ADS_2