Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
36. Sweet Seventeen


__ADS_3

POV Ami


Di rumah sepulang sekolah, Teh Aul orang pertama yang lihat postingan aku, langsung mengintrogasi. A Zaky dan Ibu pun jadi kepo. Sampai bertanya siapa itu yang motoin. Aku jawab Padma.


"Mi, itu captionnya apa Kak Akbar gak marah? Gimana kalau pacarnya salah paham, cemburu?" Teh Aul menatapku dengan raut cemas.


"Aman, Teh. Sebelumnya kan aku udah konfirmasi. Dan Kak Akbar ngebolehin. Ini kan just for fun. Itu Ifa, Sonya, malah pada mosting duluan sambil nge tag orangnya." Aku pun memperlihatkan akunnya Ifa dan Sonya untuk lebih meyakinkan.


"Jadi selebgram aja sekalian, Mi. Aktingmu totalitas, fotogenic lagi. Siapa tau Kak Akbar ngasih endorse juga buat iklan web traveler nya itu." A Zaky memuji sambil tetap menatap akun medsosku.


"Why not. Emang sih, anaknya Bu Sekar yang bungsu ini multi talent. Shining like a star. Paling banyak fans nya..." Dan tanpa diduga A Zaky menyumpal mulutku yang lagi menganga dengan donat madu. Aku gak tinggal diam mengejarnya sampai naik tangga. Baiklah, kali ini dia selamat. Keburu menutup pintu kamar dan menguncinya. Kedengaran sampai keluar, si A Zaky tertawa puas sekali.


Tiga hari kemudian, Kak Akbar transfer uang untuk nambahin buat beli epon impian. Padahal aku sudah bilang, kurangnya 30% dari harga hape itu. Tapi Kak Akbar malah transfer lebih besar. Aku complain lewat chat setelah isya, dia malah ngajak VC. Untung sudah antisipasi pakai jilbab sama touch up dulu.


"Cutie, tanggal 1 Agustus aku akan terbang ke London bersama Leo. Ada meeting bisnis. Pulang ke Jakarta tanggal 5. Jadi gak bisa nemenin yang sweet seventeen. Maaf ya. Makanya aku dahulukan transfer buat beli hape. Terus, tolong traktir Padma karena udah bikin foto kita sangat keren. Nah nanti pas hari H, traktir ya teman sekelas Ami. Terserah Ami mau traktir di kantin sekolah atau di luar. Uangnya kurang gak?" Penjelasan panjang Kak Akbar bikin aku melongo.


Aku gak masalah jika saat ultah Kak Akbar tidak ke Ciamis. Apalagi dia kan orang sibuk. Toh keluargaku juga gak pernah membiasakan merayakan pesta ultah. Paling Ibu selalu membuatkan nasi tumpeng dan kue ultah saja. Dimakan bersama sekeluarga. Segitu juga udah bahagia. Tapi yang membuatku speechless karena Kak Akbar sangat perhatian sampai ngeluarin uang banyak.


"Kak, dipakai traktir juga masih banyak lebihnya. Misal teman sekelas aku traktir bakso 25 ribuan, paling habis satu jutaan. Masih ada sisa tiga jutaan lagi. Oh ya, untuk traktir Padma harus berapa?" Aku menatap serius wajah Kak Akbar yang kelihatannya masih di ruang kantor.


"Padma traktir senilai 500 aja ya, Cutie. Jangan ngasih uangnya tapi harus dibelanjain. Sisanya buat uang jajanmu." Kak Akbar tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.


Ya Salam. Aku selalu sakit jantung kalau Kak Akbar udah kedipin mata. Aku suka malu dan salah tingkah. Jadi bingung mau ngomong apa. Mendadak jadi gagu.


"Oh satu lagi, Cutie. Nanti kado boneka Panda nya nunggu aku pulang, gak papa?" Sorot mata Kak Akbar meminta pengertian.


Aku mengangguk. "Gak masalah, Kak. Jangan dipikirin. Kak Akbar udah sangat perhatian sama aku. Thank you so much. Aku harus balas kebaikan Kakak dengan cara apa?" Aku menatapnya lagi dengan senyum malu.


"Namanya udah KTP. Jadi apapun akan kuberikan agar Ami bahagia." Kak Akbar so sweet banget deh. Asli, jantungku dag dig dug kayak disko.


"Udahan dulu ya. Aku mau pulang." Kak Akbar melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


"Oke, Kak. Take care!" Aku melambaikan tangan dan memberi senyum manis.

__ADS_1


"Belum. Kasih gombalan dulu baru dadah."


"Ish." Aku meringiskan wajah. Kenapa Kak Akbar jadi ketagihan dikasih gombalan. Jadinya aku garuk-garuk pelipis dulu sambil mikir.


"Kak, tau gak kenapa kalau menghafal, aku suka melotot lihat tembok?" Aku kasih tebak-tebakan deh.


"Hm, biar fokus kan?" Jawaban Kak Akbar seolah tidak yakin.


Aku menggelengkan kepala. "Bukan. Karena kalau merem, jadinya malah terbayang wajahmu." Aku menutup wajah dengan boneka Cutie karena malu. Sementara Kak Akbar tertawa dengan renyahnya. Senang sekali dia.


***


Padma sangat kegirangan saat aku kasih tau dapat traktiran 500 ribu sebagai bonus jadi fotografer. Jadilah sabtu siang diantar A Zaky pergi ke mall untuk menghabiskan waktu di gerai buku. Padma membeli dua buku badan terakhir makan-makan bertiga di gerai fast food.


Waktu tidak terasa sudah tanggal 1 Agustus saja. Dua hari lagi ultahku. Dan dua minggu lagi nikahannya Teh Aul. Di rumah udah sibuk dengan persiapan berbagai hal untuk nanti acara siraman dan wedding.


Aku berangkat sekolah seperti biasa diantar A Zaky. Saat jam istirahat kedua, aku cek hape. Ada pesan dari Kak Akbar jika sudah sampai di London. Dia mengabari memakai nomer luar negeri. Hati rasanya lega dan happy dapat kabar baik dari Pandaku itu. Aku langsung balas dengan ucap alhamdulillah dan emoji menari.


"Cie, yang mau sweet seventeen. Aku ngado apa ya? Minder deh." Kia menunjuk hape baru aku. Epon impian yang aku pesan dari Kak Cia di Jakarta. Sudah lapor dulu kepada Ibu dengan mengatakan tabungan sudah cukup untuk membelinya.


"Gak usah repot-repot, Kia. Aku gak ngarepin kado. Kita syukuran aja dengan makan bakso." Pembahasan pun berhenti karena bel masuk berbunyi.


***


POV Author


"Ayah, liat nih si bungsu sekarang udah dewasa." Ibu Sekar berbicara pada foto yang terbingkai di dinding. Dimana potret keluarga lengkap dengan bergaya senyum bahagia. Ami saat itu baru berusia sembilan tahun.


Ami menggelayut di lengan Ibu. Ikut menatap family potret dengan senyum penuh haru. Saat membuka pintu kamar untuk berangkat sekolah, ia mendapat kejutan kue ulang tahun dari Aul dan Zaky yang berdiri di depan pintu. Dan usai doa bersama serta sarapan nasi tumpeng, ia diajak Ibu mendekati potret keluarganya itu.


"Cie yang bakal punya KTP." Zaky menjitak kepala Ami. Sengaja bersikap menyebalkan agar keluar dari suasana melankolis.


"Aku udah punya KTP duluan kok." Sahut Ami diiringi senyum penuh arti.

__ADS_1


"Gak mungkin. Kecuali nyogok. DOSA!" Zaky menatap Ami dengan tatapan memicing.


"Tapi boong " Ami memeletkan lidah. Ia segera pamit kepada Ibu dan Aul. Sudah waktunya berangkat ke sekolah.


Mobil yang dikemudikan Zaky tiba di depan trotoar sekolah. "Eh Mi, kapan ya Aa pengen nyobain makan nasgor bapaknya Kia." Ia menahan sang adik yang sudah membuka pintu mobil.


"Nanti deh malam sabtu or malam mingguan. Aku udah pernah nyoba tiga kali. Rasanya enak lho. Cuma saja aku jadi males kesana lagi soalnya suka digratisin. Bapaknya Kia udah tau kalau aku teman sebangkunya Kia." Jelas Ami.


"Nanti datangnya nyamar aja pakai cadar." Zaky menaik turunkan alisnya.


"Hais. Gampanglah bisa diatur." Ami pun turun usai mencium tangan Zaky.


Di selasar kelas, terdengar suara Almond memanggil nama Ami sambil mengejarnya.


"Mi, happy birthday to you." Almond mengulurkan tangan. Usai berjabat tangan, ia mengeluarkan kado dari dalam tasnya. "For you." Ia menyerahkan kado kecil itu ke tangan Ami.


"Mon, kenapa repot-repot sih. Aku kan gak ngadain birthday party." Ami masih sungkan menerima kado dari Almond.


"Gak papa gak party juga. Aku ikhlas ngasih kado. Kamu juga kan ngasih ini buat aku. Kita kan best friend." Almond menunjuk jam tangan yang merupakan kado dari Ami dengan wajah berbinar.


"Oke deh. Makasih ya, Mon." Ami memasukkan kotak kado kecil ke dalam tas. Belum ketebak apa isinya. "Oh ya, Mon. Pulang sekolah aku mau traktir teman sekelas ngebakso. Kamu mau ikutan?" Tawarnya dengan sungguh-sungguh.


"Of course. Asal ada Ami, aku mau gabung." Almond tersenyum semringah.


"Hilih. Awas ya jangan judes. Harus smile sama semua orang. Janji!" Ami menatap galak.


"Iya deh iya. Smile." Almond memberi senyum lebar bersamaan dengan harus berpisah arah ke kelas yang berada.


Ami menatap pintu kelasnya yang tertutup rapat. Tumben. Padahal jam masuk belum terdengar. Ia pun bergeges menarik gagang pintu sambil berucap salam.


...****************...


Bestie, terima kasih sudah bersabar menunggu up date BAJC. Dilanjut besok ya karena sudah ngantuk berat 🙏

__ADS_1


__ADS_2