
Ami menghampiri keluarganya yang kini berkumpul di tepi arena. Bahagia, kikuk, heran, kaget, bercampur jadi satu karena keberadaan seseorang yang sebelumnya ia tolak kehadirannya. Namun kini berdiri di samping Zaky dan kompak tersenyum lebar serta bertepuk tangan menyambut kedatangannya.
"Ibu..." Ami lebih dulu berpelukan dengan Ibu Sekar. Lalu Ibu mencium keningnya. Ia beralih berpelukan dengan Aul, lalu menerima uluran tangan Panji yang memberi ucapan selamat. Karena dengan Puput dan Zaky sudah berpelukan lebih dulu saat kemenangan tadi, maka yang terakhir ia berhadapan dengan Akbar.
"Selamat ya, Ami." Akbar mengulurkan tangannya. "Kebetulan lagi meeting di daerah sini. Pas banget liat Aul lagi live. Buru-buru deh datang ke sini buat nonton langsung. KEREN!" Akbar mengacungkan jempolnya usai Ami menjabat tangannya.
"Hehe. Makasih, Kak." Pernyataan Akbar sudah mewakili rasa herannya. Namun belum percaya sepenuhnya dengan alasan tersebut. Biar nanti akan ditanyakan lain waktu saat situasi dan kondisi pas. Saat ini ia meminta Zaky untuk memfotonya dengan gaya menggigit medali serta beberapa gaya lain. Akan diposting nanti di akun media sosialnya. Ia kesampingkan rasa malu dimana Akbar memperhatikannya selama sesi foto itu.
"Hai, Rahmi. Boleh minta foto ya!"
Sekelompok pemuda yang diperkirakan berusia SMA dan mahasiswa tahu-tahu datang dan menghampiri. Bergiliran satu persatu meminta foto bersama yang tidak bisa ditolak oleh Ami. Berakhir dengan menjabat tangan Ami sambil mengucapkan selamat.
"Apa sebaiknya kita keluar sekarang ya, Bu? Kasian Ami cape." Akbar berharap Bu Sekar mengikuti sarannya. Hati tak rela melihat Ami dikerubuti kaum pria meski ada Zaky yang mengatur ketertiban yang minta berswafoto. Apa daya hanya bisa jadi penonton saja. Rasanya ingin menarik tangan si Cutie, menjadi bodyguardnya, keluar meninggalkan gelanggang olahraga itu.
Ibu Sekar mengangguk setuju. Toh sebagian orang pun sudah membubarkan diri.
.
.
Semua orang berada di restoran. Ini usul dari Akbar yang sengaja mentraktir sebelum pulang ke Jakarta. Dengan alasan turut berbahagia atas prestasi Ami. Sehingga Ibu Sekar pun menerima yang awalnya menolak dengan sopan karena merasa tidak enak hati.
Ami dan Puput sudah berganti baju sekalian sholat di mushola restoran. Paling akhir bergabung di meja makan dimana yang lain pun sudah bergiliran sholat Duhur. Dua jawara itu nampak segar dan ceria. Acara makan pun dimulai dalam suasana santai. Kang Aris ikut serta duduk di samping Zaky.
"Mi, ini yang traktir Kak Akbar lho. Katanya bangga Ami jadi juara." Ibu Sekar menyampaikan pembicaraan saat berjalan meninggalkan gelanggang. Ami tidak tahu karena berjalan paling depan dengan Puput.
"Iyakah? Kak Akbar baik banget. Makasih egen, Kak." Ami melebarkan mata karena benar-benar tidak menyangka. Saat hendak memasuki mobil di parkiran gelanggang, sempat saling tatap dan bicara dengan isyarat mata seolah meminta agar bisa duduk satu mobil. Namun ia menggeleng. Akhirnya menuju restoran dengan mobil masing-masing.
"Sama-sama, Ami." Akbar yang duduk di sebrang meja tersenyum tenang. Hingga acara makan selesai dan Ami permisi ke toilet. Sebuah kesempatan.
"Moga aja Kak Akbar nyusul." Ami masuk ke area toilet wanita hanya untuk cuci tangan dan mengoreksi penampilannya. Ingin sekali bertanya banyak hal pada orangnya langsung. Senyumnya mengembang saat keluar dari toilet, orang yang diharapkan sedang bersandar di tembok.
Akbar mengajak Ami ke area belakang restoran yang sudah disurveynya sekilas. Ternyata ada tempat makan untuk smoking area.
"Cutie, aku sengaja ke Bandung untuk nonton live. Maaf ya udah melanggar. Soalnya mana mungkin bisa fokus kerja disaat orang yang aku sayang lagi berjuang." Akbar menatap lekat wajah Ami yang duduk di hadapannya. Menyampaikan alasan sebenarnya.
Wajah Ami merona seketika. "Beneran surprise deh, Kak. Makanya tadi aku ragu sama alasan meeting kakak. Makasih ya udah jadi bagian dari support system. Makasih juga tidak muncul dari awal karena aku bisa grogi kalau tau ada Kakak. Hehehe."
Akbar pun terkekeh. "Aku nonton dari penyisihan pakai masker. Baru dibuka pas kamu jadi juara. Baru deh menghampiri Ibu."
__ADS_1
"Kakak pulang lagi ke Jakarta kapan?"
"Keluar dari resto langsung pulang ke Jakarta. Cutie gimana?"
"Aku juga langsung pulang ke Ciamis. Sekarang baru kerasa capenya."
"Iya keliatan capenya. Tapi tetep cantik." Akbar mengedipkan sebelah mata.
"Hufttt." Ami menarik nafas dengan helaan berat. "Kak, jangan sampe aku gubrak disini dong."
Akbar tertawa melihat Ami yang memegang dada dengan kepala terkulai ke samping kanan. "Kenapa harus gubrak, Cutie?"
"Kedipanmu itu, Kak. Mana tahan. Bikin jantung kelojotan dan mereog." Ami berkata jujur sambil mengerucutkan bibirnya.
Akbar tertawa lagi. Bahkan tangannya gatal ingin sekali menjawil bibir ranum yang mengerucut itu. Gemas.
"Kak, aku duluan masuk ya. Udah kelamaan takut ketauan." Dalam hati sebenarnya masih nyaman berbincang dengan Akbar. Namun Ami tak ingin keluarganya curiga.
"Makanya jangan ngajak backstreet. Aku terus terang aja ya sama Ibu. Nanti aku sengaja datang ke Ciamis."
"Eh jangan dulu, Kak. Sabar nunggu nanti kelas 12. Kita kan udah deal." Ami punya kekhawatiran tersendiri. Takut tidak direstui.
Ami memalingkan wajah pura-pura melihat kolam ikan koi. Padahal menyelamatkan jantung. Tidak kuat ditatap lama-lama. Dadanya berdesir. "Hadiah pepaya aja, Kak." Ujarnya santai.
"Serius, Cutie." Akbar tersenyum mesem karena Ami pasti akan menggombal.
"Seratus rius, Panda. Cukup hadiah pepaya aja. Penantian lama yang berakhir bahagia. Hihihi."
"Kamu ya." Akbar menggeram gemas melihat Ami yang bergaya memasang wajah imut.
"Gak usah ngasih hadiah, Kak. Uang jajan kemarin aja masih banyak. Mana Kak Akbar bilang mau ngasih tiap akhir bulan." Kali ini Ami bicara serius.
"Cutie pakai aja sebebasnya, semaunya. Seusia kamu kan lagi senang-senangnya mencoba ngikutin trend fashion, trend asesoris."
Ami menggeleng. "Aku terkecuali ya. Ibu selalu ngajarin jangan boros. Beli sesuai kebutuhan jangan sesuai keinginan. Apalagi berakhir jadi sampah. Mubazir."
Akbar menatap kagum dengan prinsip Ami. Sungguh hasil didikan yang bermutu. Semakin cinta kan jadinya.
"Udah ya, Kak. Aku duluan." Ami bergegas masuk ke dalam restoran sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Bisa-bisa obrolan tak akan berhenti jika masih duduk.
__ADS_1
Akbar menatap punggung Ami yang kemudian menghilang karena berbelok ke kiri. Senyumnya masih menghiasi wajah. Meski quality time yang singkat, namun bisa mengobati rindu. "Don't worry sayang, aku akan perjuangkan restu sampai pepaya. Penantian lama berakhir bahagia," ujarnya berjanji dalam hati penuh keyakinan. Ia pun berdiri menyusul masuk usai berselang lima menit.
***
Tempat parkir restoran menjadi tempat perpisahan usai makan siang bersama. Puput dan Akbar pulang ke Jakarta dengan mobil masing-masing. Begitu juga dua mobil rombongan keluarga Ami kembali ke Ciamis.
Bandung menjadi titik tengah, kurang lebih menjadi jarak yang sama antara ke Jakarta dan ke Ciamis. Hingga menjelang magrib, semuanya berkabar sudah tiba di rumah masing-masing.
Hari berganti jum'at. Sisa waktu dispensasi yang dipergunakan Ami untuk beristirahat di rumah. Ia pun membantu persiapan Zaky yang akan berangkat ke Jakarta besok pagi untuk kemudian terbang ke Singapura. Packing beberapa jenis camilan khas Ciamis yang disiapkan Ibu sebagai oleh-oleh untuk teman Zaky di asrama kampus.
"Mi, nanti malam jadiin nyobain nasgor Kia." Zaky sudah selesai menutup satu koper besarnya. Dua kali batal untuk datang ke lapak nasi goreng orang tuanya Kia karena ada halangan. Kali ini ia ingi menuntaskan rasa penasarannya sebelum pergi lagi ke Negeri Singa.
"Asiap. Pokoknya rasanya delicious. Dijamin bakal ngangenin deh." Ami duduk di sofa yang sama dengan Zaky. Ia menawarkan camilan yang baru saja selesai dibuatnya di dapur. Pisang crispy isi keju mozarella.
"Enak, Mi. Pinter juga masaknya." Zaky memberi acungan jempol saat mengunyah pisang crispy yang kejunya lumer di mulut.
"Gak usah muji. Kayak baru tau aja kalau Ami multi talent. Anak perempuan Bu Sekar itu wajib bisa masak. Biar jadi mantu idaman dan kesayangan mertua." Ami menggigit pisang miliknya yang masih hangat. Memasang wajah bangga.
"Ah lupa malah muji." Zaky mendecak melihat sang adik menepuk dada.
Ibu Sekar yang melihat canda tawa kakak beradik itu tersenyum mesem dari arah meja makan. Besok, tingkah usil mereka tidak akan lagi terlihat. Rumah akan berubah sepi.
Selepas magrib, Zaky menggeber motor ninja nya dengan membonceng Ami. Tujuannya ke tempat nasi goreng Kabita yang mulai gelar tenda sejak jam lima sore sampai jam sebelas malam.
"Aa aja yang pesen ya. Aku nunggu di sini." Ami sengaja tidak memasuki tenda karena pasti akan dikenali Pak Idrus, bapaknya Kia. Memilih duduk santai di teras toko yang sudah tutup dan digelar tikar khusus pembeli nasi goreng.
Zaky masuk ke dalam tenda masih menggunakan helm. Ia memesan dua porsi nasi goreng seafood untuk dimakan di tempat, juga membungkus dua porsi nasi goreng spesial . Untuk Ibu dan Bi Ela. Ada satu pemuda yang membantu Pak Idrus dalam menyajikan nasi goreng.
"Pak, saya nunggu di lesehan ya." Zaky menyaksikan Pak Idrus yang cekatan meracik nasi goreng dalam wajan yang cukup besar.
"Siap, Aa. Nanti dianterin ya." Sang penjual nasi goreng itu tersenyum ramah.
[Aku lagi kulineran jajan nasgor di Tasik sama A Zaky]
Ami membalas chat Panda yang menanyakan lagi apa.
Zaky menghampiri Ami yang sedang bermain ponsel. Duduk di sampingnya menghadap jalan raya. "Kia suka datang bantuin, Mi?"
Ami menutup aplikasi chat nya. "Harusnya malam ini datang. Biasanya malam sabtu dan malam minggu suka bantuin. Karena libur skul. Aa, Kia kan cantik. Mungkin secara tidak langsung jadi daya tarik juga buat pembeli sampe antri. Makanya tiap weekend pembelinya bisa lima kali lipat. Dan rata-rata cowok." Ia bercerita dengan antusias.
__ADS_1
"Jadi penasaran segimana ramenya. Kita santai dulu disini ya!" Permintaan Zaky disetujui oleh Ami.