
"Bawa apa, Mi?" Ibu Sekar menatap goodie bag yang ditenteng Ami, usai si bungsu yang baru pulang sekolah mencium tangannya.
"Ini paket, Bu. Aku ke atas dulu ya mau mandi." Ami takut Ibu memberi pertanyaan susulan sehingga buru-buru menaiki tangga. Ia sendiri belum tahu apa isinya dan sudah sangat penasaran ingin membukanya.
Pintu dikunci, tas ransel dijatuhkan di sofa. Tak lupa salim dulu sama Panda yang terduduk di ranjang. Lalu beralih duduk di kursi putar dan menyimpan paket di meja belajar. Perlahan dan sangat hati-hati, kertas kado warna krem polkadot itu dibuka sesuai jalur perekat. Ternyata dalam kotak besar itu berisi dua kotak dengan ukuran berbeda dengan nama brand di bagian tutupnya. Membuat Ami deg degan dan menahan nafas saat akan membuka kotak persegi panjang terlebih dahulu.
"Masyaa Allah bagus sekali." Gumam Ami dengan pandangan takjub sambil menilik-nilik sepasang high heels tinggi 7 cm warna krem dengan asesoris bunga kecil di bagian atasnya. Ia mencobanya dan pas.
Kok Kak Akbar bisa tau ukuran sepatuku.
Ami mengerutkan kening dan berpikir. Tapi itu tak lama. Segera membuka lagi kotak satunya lagi. Dan sebuah gaun pesta yang nampak elegan paduan warna hitam dan krem. Indah dipandang mata. Ia pun mencoba gaun pesta itu yang sudah satu set dengan jilbabnya. Berlenggak lenggok di depan cermin diiringi mengumbar senyum.
Aduh, gara-gara becanda sepatu Cinderella, jadinya Kak Akbar ngirimimin ini kan.
Ami merogoh ponselnya yang masih di dalam tas. Mengetikkan pesan dengan cepat.
[Kak baju dan sepatunya cantik banget. Pas juga aku pake]
[Makasih untuk hadiahnya ya, Kak 🙃]
[Btw, tau ukuranku dari mana?]
Ami kembali mematut diri di depan cermin usai mengirimkan pesan. Ia sangat puas dengan gaun dan sepatunya. Tinggal merias wajah, maka akan semakin sempurna penampilannya. Tak berselang lama nada dering terdengar.
"VC ya, Cutie. Aku pengen liat." Ucap Akbar usai menjawab salam Ami.
"Gak mau ah. Nanti aja liatnya di wedding Kak Iko. Eh hadiah ini untuk nanti, kan?" Ami sampai lupa mengkonfirmasi.
"Iya, Cutie. Karena Cinderella kehilangan sepatu kaca, jadi aku kirim aja yang baru sama gaunnya. Jangan sampai gak jadi datang."
"Kak, joke aku kenapa dianggap serius melulu sih? Insyaallah aku akan datang kok sama Ibu."
"Semua joke Ami udah otomatis masuk ke hati. Satu persatu aku realisasikan. Next... jas sama kayu ya, Cutie." Akbar terdengar terkekeh.
"Ish ish...." Ami kehilangan kata untuk menjawab. Hanya rona wajah di pipi gambaran dada yang berdesir dan salah tingkah.
"Oh ya gimana Kakak bisa tau ukuranku? Baju dan sepatu bisa pas gini." Ami mengalihkan pembahasan.
"Namanya juga sayang. Pasti ada usaha buat nyari tau tentang ayangnya."
"Aihhh, Kak Akbar bikin aku MCK deh."
"Artinya apa, sayang?"
__ADS_1
"Makin Cinta Kamu." Ami meraba dada yang berdegup kencang karena dipanggil sayang. Wajahnya pun memanas.
Terdengar Akbar tertawa renyah. Kentara bahagia.
Obrolan tak berlangsung lama karena Akbar akan bersiap meeting. Usai Ami mengucapkan terima kasih lagi, sambungan telepon pun berakhir.
"Nyonya Akbar. Hmm....gimana gitu ya." Ami senyum-senyum membayangkan status baru nanti. Mendadak merinding bulu roma. "Apa aku beneran siap nikah muda?" Ia bergumam sendiri sambil menatap boneka Panda yang selalu dipeluk saat tidur. Yang selalu diajak salim setiap berangkat dan pulang sekolah. Yang selalu diajak bicara meski menjadi saksi bisu ungkapan perasaannya pada si pemberi boneka itu.
Usai mandi, Ami memperlihatkan baju kepada Ibu dengan alasan membeli online. Tidak memperlihatkan sepatunya karena kentara brand ternama yang akan ketahuan berapa harganya dan pasti akan menjadi pertanyaan. Untung panjang gaunnya bakal menutupi high heels.
"Bagus banget bajunya. Berapaan, Mi?" Ibu menyentuh permukaan gaun yang kainnya lembut dan adem.
"Ada deh. Pokoknya ramah dengan saldo rekening." Ami terkikik melihat Ibu mencebikkan bibir karena diajak teka teki.
***
Bugh.
Ami terkejut saat merasakan benda keras menimpa punggung. Sontak membuka mata yang masih berat karena masih mengantuk. Usai sholat subuh kembali tidur karena berangkat ke Jakarta jumat malam jam delapan dan sampai jam dua dini hari. Ia yang tidur miring memeluk guling, menggeliat karena terdengar suara cekikikan.
"Aa Ucul jangan ganggu ih! Ate masih ngantuk." Protes Ami dengan suara serak sambil menjawil pipi gembul Rasya.
"Aa Lasya. LA SYA!" Rasya mengoreksi dengan berbicara mendekatkan bibir ke telinga kiri Ami.
Ami tak bisa menahan tawa karena Rasya beralih menggelitik pinggangnya. Aksi protes bocah menggemaskan itu masih berlanjut dan itu menjadi hal yang dirindukannya setiap kali bertemu. Hilang sudah rasa ngantuk.
"Ate itu ilelan...." Tunjuk Rasya mengarah pada sudut bibir Ami.
Ami sontak meraba dan mengusapnya meski tidak percaya.
"Tapi bo ong. Ihihihi...." Rasya memeletkan lidah diiringi cekikikan.
"Grrr, kamu ya! Jahilnya mirip siapa?" Ami menggelitik perut Rasya dengan gemas. Hingga sang bocah tertawa-tawa.
Usai cuci muka, Ami menuju ruang makan bersama Rasya yang terus menempel. Kentara kangen. Nampak Ibu, Puput, dan Rama baru selesai sarapan.
"Ate, Rasya belum makan. Tadi katanya pengen sama Ate makannya makanya nyusul ke kamar." Adu Puput.
Ami mengangguk. "Aa mau makan sendiri atau disuapin?"
"Disuapin Ate." Mode manja Rasya keluar. Duduk pun ingin dekat dengan Ami sehingga Ibu Sekar mengalah berpindah kursi.
"Ibu dan Ami mau ikut hadir di akad nikah gak?" Tanya Rama yang sudah memakai batik lengan panjang membungkus tubuh tegapnya. Setengah jam lagi bersiap menuju hotel tempat akad dan resepsi Iko.
__ADS_1
"Ami gimana?" Ibu Sekar menatap Ami meminta pendapat.
"Nanti malam resepsi aja, Bu. Sekarang gak pede masih muka bantal. Ibu juga keliatan masih cape."
Ucapan Ami disetujui Ibu. Jadilah jam delapan pagi ini Rama dan Puput berangkat untuk menghadiri akad nikah tanpa membawa anak-anak. Dititipkan pada Ibu dan Ami bersama seorang baby sitter. Papi Krisna dan Mami Ratna sudah lebih dulu tiba di hotel begitu dihubungi.
Waktu merambat berganti petang. Adzan magrib baru selesai berkumandang. Ami bergegas sholat dan berlanjut merias wajah. Mengulum senyum sambil menatap pantulan wajah di cermin membayangkan menit-menit menuju pertemuan dengan Akbar. Pria yang sejak semalam hingga tadi siang terus menerus memantau kabar. "Ah, kenapa selalu deg degan sih," keluhnya dalam hati. Meski sudah biasa berkomunikasi, tetap saja momen pertemuan langsung selalu membuat kerja jantung berdegup tidak normal.
"Masyaa Allah si Ate Ami bajunya bagus sekali. Makin cantik deh." Puput memuji dengan tulus saat bertemu dengan Ami di ruang tengah. "Ibu yang beliin?"
"Bukan. Ami yang beli sendiri dari olshop. Asal Teteh tau ya, si bungsu sekarang udah pinter dandan. Udah gak tomboy lagi, gak cuek lagi. Dikit-dikit ngaca, dikit-dikit ngaca." Ibu mengerling pada Ami yang kentara mesem-mesem. Selama ini ia selalu memperhatikan namun tidak protes karena masih di batas kewajaran. Serta memaklumi usia Ami yang beranjak dewasa.
"Ish, Ibu. Ternyata diam-diam jadi CCTV." Seloroh Ami membuat Puput dan Rama tertawa.
Waktunya berangkat. Kali ini Rasya ikut serta mengenakan outfit jas hitam dan dasi kupu-kupu, couple dengan Papa Rama.
***
Resepsi pernikahan Aiko dan Galih sedang berlangsung. Kentara aura bahagia di wajah sepasang pengantin yant terus menerus mengumbar senyum. Tamu yang hadir mengular di karpet merah menuju pelaminan untuk memberi ucapan selamat.
Gelak tawa terdengar dari sekumpulan pria berjas hitam yang berdiri membentuk lingkaran. Mereka adalah Akbar dengan teman serta relasi yang sedang berbincang santai.
"Silakan bersantai dulu dan nikmati hidangannya. Aku tinggal dulu ya." Akbar melangkah keluar dari kerumunan. Merogoh ponsel di saku jas bagian dalam. Ternyata belum ada kabar dari Ami.
"Mas Akbar, mau aku ambilin minum?" Gita datang mendekat. Senyum manis menghiasi wajah cantiknya dengan tampilan rambut yang disanggul ke atas. Tampil anggun dalam balutan gaun hitam yang mencetak tubuh rampingnya.
"Mas Akbar, aku pengen foto sama kamu, Mas." Diva temannya Iko, mendekat dengan ucap merajuk. Tak kalah seksi dengan gaun pesta yang memperlihatkan bahu putihnya.
"Mbak Gita, tolong fotoin ya!"
Akbar tak bisa menolak untuk foto bersama dengan Diva. Gita terpaksa menurut meski hati dongkol melihat gaya Diva yang menurutnya over acting.
Leo datang menghampiri dan membisikkan kata di telinga Akbar. Kabar yang membuat si boss tersenyum samar dengan mata berbinar.
Jika tamu yang lain harus sabar mengantri menuju pelaminan, lain halnya rombongan Rama yang mendapat akses jalur cepat dikawal seorang kru WO mendekati pelaminan. Diperintah secara khusus oleh Leo.
Sudah ada Akbar yang berdiri tegap menyambut kedatangan rombongan Rama. Dengan rambut belah pinggir yang nampak segar oleh sentuhan pomade. Dan pandangan pun terkunci pada sosok Ami yang berjalan anggun sambil menggandeng lengan Ibu Sekar. Sang gadis yang membalas tatap nampak tersenyum malu-malu.
"Ibu, makasih banyak sudah hadir." Akbar menyalami Ibu Sekar diiringi senyum semringah serta anggukkan sopan.
"Sama-sama, Mas Akbar. Alhamdulillah Ibu bisa ikut merasakan kebahagiaan keluarga Mas Akbar." Ibu Sekar mengusap-usap bahu Akbar. Rasanya lebih nyaman memanggil dengan embel-embel 'Mas'. Karena menghargai serta sudah bisa menilai bagaimana sikap low profile yang ditunjukkan pengusaha muda yang sedang naik daun itu.
"Hai, Ami. Makasih ya udah datang." Akbar pun menyalami Ami diiringi senyum manis dan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Ami hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan. Jadi bingung mau bilang apa. Dalam hati sudah ingin memuji penampilan Panda nya itu. Namun situasi tidak memungkinkan. Ia sedikit menajamkan tatapan begitu telunjuk Akbar iseng mencolek-colek telapak tangannya.
Tak lama kru WO yang bertugas mengatur ketertiban tamu yang akan naik ke pelaminan, mempersilakan rombongan Rama untuk naik.