Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
102. Menjelang Pulang


__ADS_3

Akbar berjalan terhuyung dan tersungkur di samping pak Bagja. Usai memporsir tenaga semaksimal mungkin untuk mengejar ketertinggalan langkah lari di belakang penantangnya itu. Pada akhirnya oleng begitu melewati garis finish. Terduduk dengan kedua lutut menumpu pada aspal lintasan. Nafas tersengal-sengal. Keringat bercucuran deras.


Pak Bagja menoleh dan tersenyum tipis. Jika Akbar nampak kepayahan, ia malah sudah selesai mengolah nafas memburunya. Tak lagi ngos ngosan. Detak jantung mulai teratur. "Duduk, luruskan kakinya. Rilekskan badan. Tarik buang nafas. Lakukan berulang sampai dadamu gak sesak."


Akbar menurut tanpa menyahut. Ia menerima uluran botol air mineral dari seorang pria berpakaian serba hitam. Tidak tahu kapan datangnya karena tadi hanya ada petugas kebersihan. Jika ditilik dari penampilan, pria bertubuh tegap dan berotot itu sepertinya asisten atau ajudan atau mungkin bodyguard pak Bagja.


Akbar merasa lebih baik usai mengikuti saran pak Bagja. Ditambah tegukan air yang membasahi tenggorokan, membuat badan lebih segar.


"Usia muda, tenaga perkasa, bisa dikalahkan oleh orang tua yang kamu anggap sepele kemampuannya. Menganggap enteng. Padahal fisik yang lebih kuat bisa dikalahkan oleh teknik yang tepat." Pak Bagja berdiri usai merasa cukup beristirahat. Menepuk-nepuk bokong sekilas untuk membuang rumput kering yang menempel. Kemudian melakukan peregangan tangan.


"Tebakan bapak benar. Maafin Akbar, Pak. Udah anggap sepele lawan. Terus terang, tergiur iming-iming hadiah. Jadinya ambisius. Melawan hanya mengandalkan semangat dan kekuatan fisik tanpa strategi." Akbar dengan jujur mengakui kecerobohamnya diiringi senyum menyeringai.


Pak Bagja terkekeh. "Ini bukan sembarang lomba lari. Ada makna tersirat. Apa kamu bisa menangkap maknanya atau perlu penjelasan?"


"Akbar mengerti, pak. Ini berkaitan dengan restu kan?"


Pak Bagja tidak menjawab. Mulai berjalan santai yang lalu diikuti Akbar berjalan di sampingnya. Lintasan yang tadi dipakai lomba lari kini beralih digunakan dengan untuk berjoging.


"Perempuan mengandalkan perasaan dalam bertindak, dalam membuat keputusan. Ibunya Ami curhat pada saya. Berat rasanya kalau harus melepas Ami setelah lulus SMA. Terlalu dini. Masih ingin panjang kebersamaan. Karena Ami anak bungsu yang masih dianggapnya anak-anak."


"Maaf, pak. Meskipun tidak dulu menikah, bukankah Ami akan tetap meninggalkan rumah untuk kuliah?" Akbar menyampaikan argumen sambil menoleh. Tak ada yang berubah dengan ekspresi pak Bagja. Tetap tenang dan datar.


"Itu benar. Tapi statusnya kan beda. Saya dan ibunya Ami udah buat perencanaan. Ami kalau kuliah di Jakarta akan tinggal di rumah saya. Kami bisa datang kapan pun ke Jakarta buat nengok. Atau Ami akan pulang ke rumah Ciamis tiap libur kuliah. Sesimpel itu pemikiran seorang ibu yang masih menganggap anak bungsunya sebagai anak kecilnya. Jadi beri waktu pada ibu agar bisa berdamai dengan nalurinya."


"Apakah ini artinya Akbar gak boleh dulu berkunjung ke rumah Ami, pak?" Akbar mengikuti ritme langkah panjang Pak Bagja sehingga tak ketinggalan, tetap sejajar. Tak terasa berjalan sambil berbincang, setengah lintasan sudah dilalui.


"Bukan begitu kesimpulannya. Tugasmu adalah bergerak memakai teknik. Selamat berpikir cerdas, coach." Pak Bagja menoleh lalu menepuk-nepuk bahu Akbar diiringi senyum simpul.


Hangat sinar mentari mengikuti tiap langkah lebar dua pria beda usia yang mengitari lintasan lari selama dua putaran. Selesai itu, keduanya keluar dari stadion. Sebuah motor Harley datang menghampiri Pak Bagja yang sedang berdiri di bersama Akbar.


"Saya juga pulang pakai motor." Ucap Pak Bagja yang baru saja menerima uluran helm dan kunci motor dari driver yang tak lain adalah asistennya.


"Motornya keren pak. Dimodif ya ini?" Akbar tulus memuji penampilan motor besar yang nampak terawat itu.

__ADS_1


"Iya. Dulu kalau lagi jenuh dan suntuk, hiburannya ya otak atik ini motor. Sekarang ada istri, ya hiburannya dengan istri." Pak Bagja tersenyum penuh arti.


Akbar hanya tersenyum simpul. Ia menawarkan pak Bagja untuk sarapan bubur ayam atau ngopi. Namun ditolak, memilih pulang. Ia pun naik ke motornya. Mengikuti motor sang purnawirawan yang melaju lebih dulu. Kawasan Ciamis memiliki jalanan lurus dan lebar serta lengang. Sehingga leluasa memacu motor sejajar dengan motor bapak sambungnya Ami itu. Begitu tiba di persimpangan, ia membunyikan klakson karena harus berbelok arah menuju Tasik.


Tiba di hotel Seruni, Akbar merenung ulang percakapan selama di stadion Galuh tadi. Salah satunya bisa menarik kesimpulan tentang karakter sang purnawirawan. Ternyata dibalik sikap tegas dan dingin, ada sisi lain yaitu bijak dan humoris. Sangat menyenangkan berbicara dengan orang berlatar belakang dunia militer. Banyak filosofisnya dalam memaknai kehidupan.


***


Ami baru pulang dari Padepokan usai didaulat menjadi asisten pelatih oleh Aris, sang ketua Padepokan. Ini minggu pertama ia menjadi asisten pelatih untuk pemula yaitu anak-anak usia dini dengan range usia 5 sampai 9 tahun. Jiwanya yang senang berbaur dengan anak-anak, membuatnya melatih diselingi permainan. Agar mereka berlatih serius tapi santai tanpa tegang.


Ami menarik satu kursi makan dimana ada Ibu dan Papa sedang makan siang. Ia meneguk segelas air yang baru diambilnya di dapur. "Bu, waktu di Padepokan, Mama Mila telpon nitip beliin galendo, saroja, sama sale pisang. Nanti titipin ke Kak Akbar kalau pulang."


Ibu mengangguk. "Udah belinya?"


"Belum. Pakai motor mah bawa saroja nya takut pada pecah. Soalnya pesannya 5 bungkus. Mau ishoma dulu, nanti beli ke tokonya pakai mobil."


"Uangnya dari Ibu aja. Jangan laporan total belanjanya ke Akbar atau ke Mama Mila."


"Mama Mila udah transfer duluan, Bu. Ngasih 700. Padahal belanjanya paling abis 300 an. Itu sisanya buat jajan aku katanya. Aku gak minta lho Bu. Kalau dikasih kan harus diterima. Ya kan, Pa?" Ami menaik turunkan alisnya. Menatap silih berganti Ibu dan Papa.


"Hm, itu mah moto Ami sejak SD. Dulu waktu Rama gencar-gencarnya deketin Puput. Ini anak yang kenyang dapat sogokan donat madu, pizza, uang jajan. Banyak pokoknya. Disambung sogokan Panji yang pedekate sama Aul."


Ami tertawa renyah. "Ih ibu mah malah buka kartu. Itu misi rahasia . Gak boleh dipublikasi."


"Ibu kenapa dulu gak lapor ke KPK. Ami bisa kena pasal gratifikasi." Pak Bagja menutup makan dengan minum segelas air putih hangat.


"Kalau Ami kena OTT, rumah bakal sepi. Jadi milih diem-diem bae lah."


Ami berubah terkikik mendengar candaan orangtuanya itu. Meski diucapkan dengan ekspresi serius, tapi ia tak kuasa menahan geli karena ucapan bermakna sentilan halus.


"Aku mau mandi dulu ah, sholat, makan, cus ke toko oleh-oleh." Ami beranjak dari duduknya sambil menyambar satu buah apel merah.


Ibu Sekar dan Pak Bagja saling tatap sekepergian Ami. Ibu Sekar menuruti nasihat suaminya itu untuk memberi kebebasan pada Ami. Bebas dalam pengawasan dan penilaian. Ia juga sudah mendengar cerita lomba lari dengan Akbar yang dimenangkan sang suami. Namun tidak sepenuhnya tahu tentang percakapan selama olahraga pagi itu.

__ADS_1


Selesai makan, Ami bergegas meminta izin membawa mobil ke toko oleh-oleh khas Ciamis. Mengingat satu jam lagi Akbar akan datang untuk berpamitan pulang ke Jakarta. Satu hal yang membuatnya tenang karena Ibu tidak mempermasalahkan Akbar datang berkunjung ke rumah meskipun restu masih menggantung.


Sementara di hotel Seruni, Akbar memasuki Coffee Shop untuk menemui Panji yang sudah menunggunya. Pertemuan spontan karena Panji mengabari sedang ada di hotel tersebut usai menghadiri undangan pernikahan di ballroom.


"Kemana Aul nya, Nji?" Tanya Akbar usai adu tos dan berpelukan dengan Panji yang mengenakan kemeja batik lengang panjang. Khas setelan kondangan.


"Nggak ikut, Mas. Aul udah tinggal menghitung hari lahiran. Udah males ke tempat yang rame-rame katanya. Sekarang di rumah lagi ada tamu teman-temannya."


"Congrats, Nji. Bakal jadi ayah. Baby boy or girl nih?" Akbar menepuk-nepuk bahu Panji. Kemudian mengajak duduk.


Panji tersenyum dan mengangguk. "InsyaAllah, boy."


Akbar menjentikkan jari. Seorang waiter segera datang menghampiri dengan anggukkan sopan. Dua jenis minuman hot coffee pun dipesan.


"Mas, aku pengen denger langsung darimu soal melamar Ami. Aku jadi ingat obrolan kita waktu di nikahan Ibu. Ternyata... kamu suka sama anak SMA itu fakta." Panji menoyor bahu Akbar diiringi geleng-geleng kepala. Jika waktu itu Aul syok mendengar cerita Ibu tentang jika Ami dan Akbar sudah berhubungan dekat selama setahun, ia hanya merespon kaget tapi tak lama. Sementara memilih bersikap netral. Apalagi Bunda Ratih dan Enin pun bercerita jika ada Akbar ke rumah. Bukankah cinta tak memandang usia. Namun argumen itu tak diucapkan di hadapan Aul. Karena istrinya itu kurang setuju jika Ami nikah setelah lulus SMA. Terlalu dini katanya.


Akbar terkekeh. "Apa yang kamu dengar dari Ibu ya begitulah. Sekarang posisiku lagi nunggu restu yang masih digantung. Aku sih akan sabar nunggu kepastian restu keluarga Ami. Kalau perlu, aku juga akan ke Singapura nemuin Zaky. Tapi satu-satu dulu deh nunggu jawaban Ibu Sekar dulu."


"Oke, kesampingkan pertalian keluarga. Kita ngobrol sebagai sama-sama cowok ya."


"Oke." Akbar menatap Panji yang mulai memasang ekspresi serius.


"Mas Akbar milih Ami tentu udah selidiki gimana sifat dan sikapnya. Ya kan? Aku juga kenal Ami dari usianya SD. Anaknya baik dengan karakter yang beda sendiri dari ketiga kakaknya. So, kalau sungguh-sungguh, Mas jangan sekali-kali merayu keluarga Ami dengan ngasih hadiah-hadiah. Justru bakalan bikin mereka ilfeel sama kamu, Mas. Aku sengaja nguping vc grup antara Aul, Teh Puput, dan Ibu."


"Aku sengaja nih ngasih bocoran biar Mas gak salah strategi. Karena aku yakin niatmu lurus. Bukan untuk mempermainkan Ami yang masih polos urusan asmara." Pungkas Panji.


"Thank you, bro. Alhamdulillah, supporter bertambah. Aku beneran serius ingin menikahi Ami. Percayalah, nggak ada darah player di tubuhku. Aku bisa digantung di Monas sama Om Krisna kalau aku mencoreng nama baik keluarga besar Adyatama."


Panji tertawa melihat Akbar memegang leher. Bertemu langsung dan berbicara empat mata, membuatnya yakin dalam menilai kesungguhan Akbar.


"Mas Akbar!"


Akbar dan Panji bersamaan menoleh ke asal suara. Seorang perempuan cantik dalam balutan denim dress dengan panjang selutut, tersenyum lebar sambil melangkah menghampiri meja.

__ADS_1


"Gita, kok bisa ada disini?" Akbar menatap heran dengan kening mengkerut.


__ADS_2