Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
67. Masih Suasana Lebaran


__ADS_3

Akbar menjawab salam Ami diiringi senyum manis. Dua raga saling bertatapan secara virtual. Ia melihat si cantik yang memakai gaun warna moka, senyum-senyum dengan kedua pipi merona. Si Cutie selalu saja begitu jika memulai video call. Seperti putri malu yang mengerutkan daunnya. Menggemaskan. Kelihatan sekali groginya. Tapi tak berselang lama akan berubah riang dan berbicara lancar juga percaya diri.


"Kak, minal aidin wal Faidzin. Maaf lahir batin ya. Salimnya udah diwakilin sama boneka Panda. Tadi aku sungkem padanya. Terus cipika cipiki deh. Hihihi."


Akbar tertawa. Ada saja ide absurd Ami. "Aku gak akan jawab sekarang kata maafnya. Nanti aja kalau ketemu. Harus dipraktekkan langsung persis salaman kayak sama boneka tadi itu ya."


"Ish, itu sih Mang Momo pergi ke Kudus. Alias modus. Belum waktunya praktek ke Panda hidup." Ami menggoyangkan telunjuk di depan wajahnya.


Akbar tertawa renyah. Meski keinginannya ditolak, namun hatinya sangat terhibur. Ibaratnya, Ami memang jinak-jinak merpati. Dan beraninya menggoda saja.


"Kak Akbar bagus deh bajunya. Tapi kayaknya ini sih efek dari orang yang memakainya handsome. Jadi pakai baju apapun selalu keren."


"Bisa aja deh Cutie bikin hidungku pengen terbang." Akbar tersenyum mesem. "Cutie, baju yang dari Mama mau dipakai kapan?"


"Nanti aja buat tanggal 4, Kak. Biar keliatan sama Mama. Biar Mama senang baju pemberiannya aku pakai."


"Wow, benar-benar calon mantu BNI." Akbar mengacungkan satu jempolnya diiringi kedipan mata.


"Ah, gubrak. Aku pingsan dulu."


"Hei, Cutie. Jangan ngilang ih! Hahaha." Akbar memanggil Ami yang hilang dari layar diiringi tawa lepas. "Sayang, udahan dong pingsannya." Ia memanggil ulang dengan mengusap perut yang sakit karena tertawa-tawa.


Ami yang menjatuhkan diri ke bawah sofa, kembali muncul di layar. Dengan santai memperbaiki kerudungnya dulu yang sedikit miring.


"Kak, jangan sering keluarin kedipan maut ya. Nanti aku jatuhnya bisa berkali-kali. Berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama. It's you." Ami membuat simbol hati dengan kedua tangannya.


"Ehmm. Speechless deh sama gombalanmu, Cutie." Akbar menatap Ami yang sedang senyum-senyum memperlihatkan lesung pipi. Manis sekali.


"Itu bukan gombal, Kak. Tapi murni suara hati."


"Aku harus cek gula nih. Rasa-rasanya ada gejala diabetes. Lebaran memang banyak godaan jamuan ya. Tadi udah ketupat sama opor ayam. Disambung sekarang dapat yang manis-manis." Akbar memasang wajah mengeluh sambil mengurut dada. Membuat Ami tertawa cekikikan.


"Eh, Kak. Besok keluarga Pak Bagja mau datang silaturahmi. Menurut Kakak, apa mungkin Pak Bagja mau nembak Ibu? Soalnya mau datang paket komplit bawa anak cucu."


"Hm, kalau bicara kemungkinan menurutku ada dua. Pertama, murni silaturahmi demi menjalin hubungan keluarga agar lebih akrab. Kedua, Pak Bagja ada maksud mau minta izin pada anak-anak Ibu mumpung kumpul lengkap. Kan seperti yang pernah Cutie bilang kalau Ibu keliatan welcome sama beliau. Jadi giliran beliau mau ambil hati anak-anaknya Ibu. Gitu sih menurutku."


"Ya...ya. Bisa jadi sih. Besok aku kabarin deh update beritanya."


Obrolan tatap muka jarak jauh itu terus berlanjut dalam suasana santai penuh canda tawa. Hingga terdengar gagang pintu kamar Ami diputar kasar seperti ada yang memaksa ingin masuk.


"Ate...."


"Ate oh Ate!"

__ADS_1


Yaahhh si Ucul.


Ami mendecak kecewa. Bisa dipastikan kalau itu suara Rasya yang kini berlanjut menggedor-gedor pintu dan meminta dibuka.


"Ada siapa, Cutie?" Akbar mendengar samar suara gaduh di tempat Ami.


"Ada Rasya anaknya Teh Puput. Kalau gak dibuka bakalan terus rusuh. Kayaknya vc nya harus udahan dulu ya, Kak."


"Ajakin gabung aja. Rasya udah kenal kok sama aku. Manggilnya Om Akbal." Akbar terkekeh mengingat sering bertemu Rasya jika diajak Rama ke kantor.


"Jangan ah bahaya. Rasya bisa bocor. Mana apa-apa selalu cerita sama Umma nya. Maaf ya udahan dulu, Kak."


"Oke deh. Tapi jawab dulu tebakanku baru udahan."


"Asiap. Siapa takut." Ami mengabaikan dulu Rasya yang terus memanggilnya. Ia membenahi duduk menjadi tegak dan fokus menatap Akbar.


"Apa bedanya Cutie sama tempat angker? Ayo tebak." Akbar tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Hm, kalau tempat angker menakutkan. Kalau aku menyenangkan. Betul apa benar? Hehehe."


"Salah. Kalau tempat angker menguji nyaliku. Kalau Cutie menguji imanku. Yes, 1 - 0. Hahaha."


"Hais, tunggu besok ya pembalasanku. Ami Selimut tidak boleh kalah. Sekarang terpaksa udahan dulu. Ini Rasya berisik gedor-gedor pintu. Bye Ayang Panda....."


Senyum masih menghiasi wajah Akbar saat Ami mengakhiri video call dengan berucap salam diiringi memberi finger heart. Semakin ada kemajuan mengekspresikan perasaan.


Akbar menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara ketukan. Ia bangun dari duduknya. Berjalan menuju pintu karena mendengar suara Iko memanggilnya.


"Mas, ada mbak Gita sama ortunya tuh nanyain Mas Akbar." Ucap Iko begitu pintu terbuka.


"Mama sama Papa ada, kan?" Akbar merasa malas untuk turun. Tapi ini lebaran. Momen silaturahm.


"Itu juga lagi ditemani Mama Papa dan Mas Galih. Tinggal kamu Mas yang belum keliatan wajahnya."


"Iya nanti turun. Mau ashar dulu." Akbar menutupkan lagi pintu kamarnya.


Mama Mila menerima tamunya di ruang tengah agar lebih santai dengan jumlah sofa lebih banyak. Sebuah parsel cantik yang dibawa Gita tersimpan di meja. Obrolan di hari lebaran tak jauh-jauh dari pembahasan silaturahmi sudah kemana saja dan liburan lebaran.


"Mas Akbar nya mana, Iko?" Tanya Gita yang melihat Iko turun tangga sendirian.


"Mau ashar dulu katanya." Iko menyampaikan sesuai apa yang diucapkan sang kakak.


"Mila, masih ada gak ketupatnya?" Tanya Bu Desri yang merupakan ibunya Gita.

__ADS_1


"Ada, Des. Ayo kita pindah ke ruang makan aja. Paksu kalau sudah ngobrol soal hobi mancing di laut suka asyik." Mama Mila juga mengajak Gita dan Iko sekalian. Meninggalkan tiga pria ngobrol dunia mereka. Karena menantunya pun punya hobi yang sama dengan Papa Darwis.


"Ini ketupat sama opornya aku gak buat tapi pesan. Aku cuma buat capcay dan beef teriyaki kesukaan Akbar. Repot lah kalau segala masak sendiri. Si bibik kan mudik. Ayo dicicipi Desri, Gita, kebetulan baru aja dihangatkan." Mama Mila menyuruh Iko membawa gelas dari lemari kitchen set.


"Aku malah gak masak apa-apa, Mila. Karena tau sendiri aku gak bisa masak, selalu gagal. Jadi semuanya order aja." Sahut Bu Desri diiringi kekehan.


"Oh ya, Iko udah isi belum?"


"Belum, Tante." Iko tersenyum. Ini pertanyaan kelima kalinya dari orang-orang yang ia ingat sepanjang hari ini. Berganti judul dengan tahun kemarin yang ditanya kapan nikah.


"Gak apa-apa. Toh masih pengantin baru. Nikmati dulu honeymoon. Traveling tiap bulan ke berbagai negara. Ya kan, Iko?"


"Aku dan Mas Galih baru ke New Zealand aja. Gak bisa ninggalin kantor seenaknya. Traveling ada waktu tertentu, Tante." Iko masih menanggapi dengan santai sambil mengupas jeruk.


"Ah, anak-anak Mila memang keren. Gak mentang-mentang kerja di perusahaan orang tua jadi bisa seenaknya. Tapi tetap profesional." Bu Desri memberi acungan jempol.


"Akbar malahan merintis usaha sendiri dari nol. Dia ingin seperti papanya dulu ngerasain perjuangan dari bawah itu gimana." Sahut Mama Mila dengan nada kebanggaan sebagai seorang ibu.


"Memang Akbar itu menantu idaman banget. Makanya aku ngarep dari lama. Mila sih gak juga mau jodoh-jodohin anak kita." Bu Desri mengelap dagunya yang kecipratan kuah opor.


"Aku sih terserah Akbar. Itu anak gak akan mau dijodohin, Des. Pokoknya siapapun pilihan dia, aku pasti setuju." Mama Mila sebenarnya merasa gregetan ingin memberi tahu jika Akbar sudah punya calon istri. Namun si sulung meminta jangan dulu publikasi. Maka pada saat Gita mendesak lagi menanyakan identitas pacarnya Akbar seperti yang disebutkan Leo, ia beralasan belum tahu karena Akbar belum mengenalkannya.


Gita beralih fokus dari mendengarkan perbincangan dua teman karib itu. Tersenyum lebar melihat Akbar yang muncul. Ia beranjak keluar dari kursinya hendak menyambut pria tampan yang mengenakan kaos putih dan nampak segar itu.


"Mas, minal aidin wal faidzin. Maaf lahir batin ya." Gita dengan berbinar meraih tangan Akbar. Namun saat hendak cipika cipiki, bahunya ditahan oleh sang CEO Pulangpergi.


"Sama-sama, Gita." Akbar menarik tangan kanan yang dipegang Gita. Ia bersikap biasa saja melihat Gita yang malu. Malah mengajak bergabung lagi di meja makan.


"Narang ketemu malah makin ganteng aja ini anak Mas Darwis. Maafin Tante juga ya." Bu Desri menepuk-nepuk bahu Akbar yang mencium tangannya.


Akbar merespon dengan tersenyum. "Maaf ya aku gak gabung. Si John sama Lucy belum makan." Ia berlalu pergi menuju halaman belakang. John dan Lucy adalah sepasang kucing ras BSH yang memiliki rumah sendiri di dekat kolam renang. Menjadi hiburan tersendiri bermain dengan anabul yang lucu dan sehat terawat itu.


"John...Lucy." Akbar memanggil dari jauh mula pada sepasang kucing montok yang sedang rebahan di ujung teras.


Seolah sudah kenal dengan suara majikannya, sepasang kucing ras warna abu dan putih itu terperanjat dan berlomba lari mendekati Akbar. Lalu berguling-guling menunggu mendapat usapan.


Akbar yang baru berjongkok, tertawa saat si putih Lucy merangsek berdiri dan ingin mengendus-endus wajahnya dengan agresif. Geli rasanya.


"Mas, tumben tahun ini gak ada schedule liburan lebaran?" Gita yang menyusul ke belakang, ikut berjongkok di samping Akbar yang sedang memberi makan kucing. Ia biasanya ditugaskan menyiapkan jadwal liburan luar negeri bossnya itu setiap tahunnya.


"Karena ada acara keluarga ke Tasik, Git." Akbar tetap fokus memperhatikan dua kucingnya yang makan dengan rakus sambil memberi usapan di kepala anabulnya itu.


"Kapan, Mas?"

__ADS_1


"Besok."


"Boleh aku ikut, Mas? Aku juga gak liburan. Aku gak akan ganggu acaranya Mas Akbar. Kangen aja sama hotel Seruni. Aku kan baru sekali kunjungan kesana." Gita meminta dengan antusias.


__ADS_2