
Panji dan Aul sudah pulang di jam tujuh pagi karena masih harus ke kantor sebelum nanti cuti bersama. Sebelumnya, Ami lebih dulu berangkat ke sekolah mengendarai motor. Hari ini terakhir sekolah. Ibu Sekar yang mengantar anak dan menantunya hingga teras, memutar badan hendak masuk ke dalam rumah yang kembali lengang. Ia pun akan ke pasar untuk membeli bahan kue sesuai permintaan Ami. Awalnya tidak akan membuat kue lebaran karena Puput melarangnya biar tidak capek. Akan dibawakan dari Jakarta.
"Tapi bu, bikin nastar aja. Aku pengen nastar buatan sendiri. Nanti Ibu harus ajarin gimana resepnya. Biasanya kan aku cuma bagian ngebantu ngebulat-bulatnya. Sekarang mah pengen dari nol. Pengen 100 persen buatan Ami."
Ibu Sekar tersenyum mesem mengingat ucapan Ami subuh tadi. Ia akan menuruti keinginan si bungsu yang dari bulan lalu sudah mulai punya inisiatif sendiri ingin bisa masak. Dan sekarang ingin membuat kue lebaran. Katanya tidak mau kalah dari Teh Puput dan Teh Aul.
Ting tong.
"Bi Ela, tolong bukain pintu. Ada siapa itu." Ibu Sekar terlanjur sudah nyaman duduk di kursi makan sambil mencatat kebutuhan yang akan dibeli.
Bi Ela sigap menyandarkan dulu sapu injuk dimana ia sedang menyapu ruang tengah. Bergegas menuju pintu utama begitu bunyi bel kedua kali terdengar. Pintu pun dibuka.
"Bu, ada tamu Neng Gina." Lapor Bi Ela yang kembali menghadap Bu Sekar.
"Gina?! Gina mana, Bi?" Bu Sekar mengingat-ingat wajah bernama Gina. Rasanya tidak ada nama Gina selain anaknya Pak Bagja. Tapi kan mereka baru akan mudik H-3. Masih dua hari lagi.
"Itu lho, Bu. Anaknya pak purnawirawan."
Bu Sekar terkaget dan bergegas bangun dari duduknya untuk membuktikan kebenaran ucapan Bi Ela.
"Assalamu'alaikum, Ibu."
Sang tamu yang benar saja adalah Gina anaknya Pak Bagja berdiri dan tersenyum lebar begitu Bu Sekar datang ke ruang tamu.
"Masyaa Allah, Gina. Kapan datang?" Tanya Bu Sekar usai menjawab salam Gina. Balas memberi pelukan dan cipika cipiki usai anak bungsu pak Bagja itu mencium tangannya.
"Kemarin abis magrib, Bu. Harusnya sih sampe rumah siang, tapi kena macet pas keluar tol."
Bu Sekar mengajak Gina duduk bersama di satu sofa. "Pulang sama Papa atau sendiri?"
"Berdua sama Papa. Aku kesini juga disuruh Papa buat nganterin oleh-oleh." Gina menyerahkan satu goodie bag dan satu paper bag ukuran besar.
"Ya Allah, Gina. Kenapa repot-repot segala. Terima kasih banyak ya, nak." Bu Sekar menerima uluran oleh-oleh itu dengan menyimpannya di samping meja.
"Sama-sama, Bu. Itu Papa yang milih sendiri oleh-olehnya juga, waktu kita jalan-jalan di Berlin."
Bu Sekar mengangguk. "Hm, tapi Papa nya sehat? Soalnya tumben Gina kesini sendirian."
"Alhamdulillah sehat, Bu. Papa ada di rumah lagi manasin mobil tua koleksinya. Malah aku disuruh Papa mesti nganterin oleh-oleh segera."
Bu Sekar menatap wajah Gina yang sama sekali tidak ada raut keterpaksaan. Justru berbinar bahagia.
Si akang rese deh bilangnya mau pulang H-3. Malah surprise gini.
"Ibu mau pergi ya?" Gina memperhatikan penampilan Bu Sekar yang sudah rapih.
"Iya mau ke pasar. Itu Ami pengen buat nastar jadi mau belanja bahan-bahannya sekalian beli yang lainnya juga. Tapi gak apa-apa santai aja dulu Gina disininya. Ibu bisa pergi siangan. Cuma gak bisa disuguhi aja." Ibu Sekar terkekeh.
"Aku mau ikut ke pasar, Bu. Boleh ya? Sudah lama sekali gak tahu suasana pasar."
"Yakin? Pasar gak senyaman mall, Gina. Apalagi bulan puasa suka ramai sekali pengunjung."
"Yakin, Bu. Papa malah pernah maksa aku ikut ke pasar domba. Jadi udah terbiasa lah, Bu....aku diajak blusukan."
Ibu Sekar tersenyum. "Tapi ijin dulu sama Papa nya Gina ya. Sambil nunggu mobilnya lagi dipakai Mang Kirman ke cafe dulu."
__ADS_1
"Perginya pakai mobil aku aja, Bu. Bentar aku vc Papa."
Ibu Sekar ingin mencegah Gina agar jangan video call tapi telepon saja. Terlambat, sambungan video dengan cepat sudah lebih dulu terhubung. Wajah tegas sang purnawirawan nampak hadir di layar. Perlahan ia menggeser duduknya lebih renggang agar wajahnya tak terlihat.
"Papa, aku mau ikut Ibu ke pasar. Jadi pulangnya telat."
"Ibunya mana?"
Gina menoleh ke samping diiringi senyum simpul. Lalu menggeser duduk hingga rapat agar dua wajah terbingkai di layar.
Gugup. Itu yang kini dirasakan Bu Sekar saat mata bertemu mata di layar. Berbulan-bulan tak pernah saling tatap karena komunikasi selama ini hanya lewat telepon dan chat.
"Hai, apa kabar ibunya Ami?" Pak Bagja mengulas senyum dengan wajah yang tenang.
"Alhamdulillah. Katanya mau pulang H-3. Sampai gak percaya kalau Gina datang ke sini."
Pak Bagja terkekeh. "Sengaja biar surprise. Awalnya memang mau H-3. Ternyata Gina libur lebih cepat. Jadinya ya dipercepat pulangnya. Sudah kangen kampung halaman. Sama sudah gak sabar mau nagih janji yang ngajak bukber."
Bu Sekar mengerti sindiran halus itu ditujukan padanya. "Aku bicarakan dulu dengan Ami. Nanti dikabarin kalau udah ada izin si bungsu."
"Oke. Have fun buat yang mau ke pasar. Oh ya, nanti kalau Gina nakal kelayapan di pasar, jangan segan cubit lengannya. Aku gak akan marah kok."
Bu Sekar menanggapi dengan terkekeh.
"Papa, ih. Itu kan kelakuan dulu aku waktu kecil. Sekarang nggak lah." Sahut Gina dengan sewot. "Udah ya. Aku dan Ibu mau jalan sekarang." Ia pun melambaikan tangan sebagai akhir sambungan.
***
Bukan puasa hari ini berdua lagi. Kabar siang tadi dari Zaky mengatakan akan terbang dari Singapura dengan pesawat besok malam. Lalu kemudian singgah di rumah Puput. Jadinya akan sama-sama mudik H-2 biar tidak harus naik kendaraan umum. Dengan kendaraan pribadi, meskipun terkena macet tentu lebih nyaman.
"Mi, tadi pagi ada Gina anaknya Pak Bagja kesini. Ternyata baru mudik kemarin sore. Gina datang sendiri ngasih oleh-oleh dari Jerman." Ibu baru bercerita karena Ami pun baru pulang dari kegiatan bagi-bagi takjil dengan komunitas teman sekolahnya.
"Bukan perhatian sama Ibu aja. Oleh-olehnya buat kita semua. Udah dinamain masing-masing. Liat aja sendiri di kamar Ibu."
"Masa? Jadi penasaran pengen liat." Ami bergegas menyendok nasi usai berbuka dengan tiga butir kurma.
"Gina datang kan pas Ibu mau ke pasar. Jadinya Gina ikut. Lebih tepatnya Ibu diantar Gina ke pasar naik mobilnya."
"Teh Gina cuma nganterin, gak belanja?" Ami tertarik mendengar kelanjutan cerita Ibu.
"Iya cuma nemenin aja. Katanya nostalgia, terakhir pernah ikut ke pasar sama almarhumah mamanya waktu kelas 3 SMP."
"Teh Gina menurut Ibu anaknya baik gak?"
"Baik, pintar dan sopan. Itu poin penting yang harus dimiliki setiap individu. Percuma cantik dan pintar tapi tidak memiliki attitude."
"Kalau Pak Happy gimana, baik juga gak?"
"Sama, baik. Sudah stop Rahmi Ramadhania! Kapan kita mulai makannya kalau ngajak ngobrol terus?" Ibu melipat kedua tangannya di meja dan menatap si bungsu yang sudah terbaca akan menjurus pertanyaan jebakan.
"Hehe. Iya atuh to be continue setelah sholat magrib ya, Bu. Mari kita makan."
Usai sholat magrib, Ami langsung ke kamar Ibu untuk melihat oleh-oleh Jerman. Benar saja, lima kotak kado berhias pita mengisi dua kantong paler bag dan goodie bag. Semua ada namanya. Ia segera membuka miliknya dengan antusias.
"Mi, Pak Bagja dan Gina udah baik ngasih oleh-oleh. Kita undang bukber ya ke rumah. Boleh kan, Mi?" Ibu memperhatikan Ami yang membuka simpul pita dengan hati-hati.
__ADS_1
Ami mendongak dan menoleh. "Kenapa Ibu harus minta izin aku? Aku mah ngikut aja kalau ibu mau ngundang."
"Karena yang akan menemani tamu bukan hanya Ibu, tapi Ami juga. Kalau ibu welcome tapi Ami gak welcome kan gak akan nyaman. Jangan sampai ibu ramah tapi Ami cemberut karena gak suka." Jelas Ibu yang membuat Ami manggut-manggut mengerti.
"Iya, Bu. Aku welcome. Tapi jangan besok ya. Kan aku mau bikin kue seharian. Sekalian aja kita bikin buat Pak Happy juga deh Bu. Masa beliau udah ngasih bingkisan gak kita balas. Kan sebaik-baiknya sikap itu saling berbalas ngasih hadiah. Berarti jangan nastar aja tambah apalagi ya? ah, kastengel aja deh. Aku inget waktu pengajian di rumah Pak Happy, Teh Gina ngemil kastengel terus deh. Berarti itu kesukaannya."
Ups, ini mulut. Kenapa merepet jadi kayak Mama Mila.
Ami spontan menangkup bibir dengan mata melebar.
"Ibu seneng deh Ami punya pemikiran begitu. Berarti bukbernya lusa ya, sayang? Biar Ibu konfirmasi ke Gina." Bu Sekar bernafas lega karena sikap Ami sudah berubah tidak seperti saat SMP.
"Gasss, Bu." Ami melanjutkan membuka tutup kotak yang terjeda.
"Aih, bagus sekali. Aku suka...aku suka." Ami menatap tas selempang warna coklat susu dengan merk brand ternama Jerman. Lalu mencoba memakainya dan berputar-putar dengan ekspresi riang.
"Punya Ibu apa? Liat dong Bu!"
"Kepo." Ibu bergeming duduk di tepi ranjang sambil melipat mukena untuk persiapan ke tarawih ke masjid.
"Ish Ibu....sejak kapan main rahasia-rahasiaan. Mana lihat!" Ami menggelitik pinggang Ibu yang kemudian tertawa dan menyerah.
Ibu mengeluarkan kotak kado dari lemari meja rias yang ukurannya lebih besar dari pada milik aanak-anaknya. Menyerahkan pada Ami.
"Wow, tas dan parfum." Ami membuka tutup parfum dan mencium aroma parfum wanita yang sangat wangi dan terlihat berkelas. Ia lalu membuka hand bag yang ukurannya besar, berbahan kulit warna hitam. Penasaran membuka bagian dalamnya. Ternyata ada sebuah kartu. Ia melihat ibunya berkaca memakai jilbab bergo dan nampak santai. Apakah artinya Ibu tidak tahu ada surat cinta di dalam tas?
"Bu, Ibu udah unboxing sampai ke isi tasnya belum?"
"Belum. Tadi cuma buka kotak aja pengen tau isinya. Emang ada apa di dalam tas?" Ibu masih berkaca untuk memoles bibir dengan sapuan lip cream warna merah bata.
"Nih dengerin ya, Bu!" Ami berdiri seolah hendak bersajak.
"If aging is frightening, maybe I’ll enjoy it every moment as long as I can with you. Sekar Sari, will you marry me? Aahhhh co cwittttt ini sih. Uhuuuyy."
Bu Sekar segera berbalik badan dengan ekspresi terkejut. Mengambil kartu seukuran KTP dari tangan Ami yang diacung-acungkan sambil jingkrak-jingkrak dan cekikikan. Ibunya yang mendapat ucapan romantis, Ami yang kesurupan.
If aging is frightening, maybe I’ll enjoy it every moment as long as I can with you. Sekar Sari, Will you marry me?
(Bila menua itu menakutkan, mungkin aku akan menikmati setiap momennya asal bisa bersamamu. Sekar Sari, maukah menikah denganku?)
...****************...
Kugenggam hati dan sakit ini
Memang suratan, tak bisa ku memaksa
Tuhan pasti tahu yang terbaik untukku
Tenanglah hati
Tegarlah diri walaupun perih
Berjalanlah lagi sejauh mungkin
Hingga suatu hari nanti pasti bertemu
__ADS_1
Dengan hati yang tak menyakiti 🎶
Adalah lirik yang pas untuk Andreas Chong alis Koko Andre yang patah hati ketiga kalinya pada gadis berhijab. Yuk...yang belum baca, mampir yuk ke "Sang Pencuri Hati" karya baruku di rumah F*z**. Tanyakan aja pada Bestie yang udah baca seru nggaknya. 🫠