
Melangkah di bulan baru. Februari. Ami sudah memetakan kegiatan dan ujian yang akan dihadapinya di mulai dari Penilaian Tengah Semester di minggu pertama bulan Maret. Dilanjutkan bulan-bulan berikutnya dengan UAS, Ujian Sekolah, hingga seleksi masuk PTN. Dan Mei waktunya kelulusan.
Oh iya, jangan lupakan tugas-tugas yang bakal terselip di setiap bulannya. Apalagi mulai bulan ini akan ada pelajaran tambahan di setiap hari Sabtu. Bye bye sementara libur weekend. Tidak akan ada lagi libur di hari Sabtu. Hari libur hanya di setiap tanggal merah saja. Semester 2 ini, masa terakhir duduk di bangku SMA ini, benar-benar padat jadwal belajar, tugas, dan ujian.
"Panda, aku skul dulu. Baik-baik di rumah ya." Ami mencium tangan serta memeluk boneka pandanya sebelum keluar meninggalkan kamar. Seperti itulah kebiasaannya setiap hari, setiap kali berangkat sekolah seolah boneka itu mewakili pemberinya.
Ami seperti biasanya enjoy menjalani hari-hari sekolah. Komunikasi dengan Akbar berjalan lancar seperti biasanya. Namun untuk bulan ini tidak datang ke Ciamis. Diundur ke awal Maret, sekalian ada kunjungan kerja.
Hingga tak terasa Maret datang menyapa. Artinya, memasuki waktunya ujian Penilaian Tengah semester selama sepekan. Gaya belajar Ami yang konsisten membuatnya tidak merasa keteteran. Apalagi sampai merasa stress. Tidak sama sekali. Itu karena menerapkan bimbingan coach Akbar bahwa harus disiplin dan konsisten. Sehingga tidak ada istilah belajar sistem kebut semalam di kamus Ami.
"Mi, ada si kuning di parkiran. Itu mobil Coach Akbar, kan?" Sonya heboh berteriak di depan pintu saat jam istirahat di hari keenam. Hari terakhir pelaksanaan PTS. Ia baru pulang dari ATM Center di lobby sekolah waktu melihat ada mobil yang mencolok dan menjadi pusat perhatian murid-murid yang sebagian ada yang selfie.
"Iya. Lagi meeting sama Pak Kepsek." Sahut Ami santai. Jelas saja ia tahu karena Minggu sore Akbar sudah tiba di Tasik. Dan tadi malam ke rumahnya. Menemani belajar di ruang tamu. Pelajaran Bahasa Inggris dan Seni Budaya.
"Eciee, bareng Ayang dong pulangnya." Ifa menggoda Ami yang sama-sama berada di kelas karena membawa bekal dari rumah. Sementara yang lainnya ada yang ke kantin dan ada yang di luar kelas sambil membuka buku.
Ami tak menjawab dengan kata. Tapi dengan gestur bibir senyam-senyum dan memainkan alisnya. Makanya tadi berangkat sekolah minta diantar oleh Mang Kirman. Karena sudah janjian akan pulang bersama Akbar.
"Mi, gimana rasanya naik si kuning?" Kia bertanya dengan terkekeh. Saling bertukar mencicipi cemilan dengan milik Ami.
"Ya gitu deh. Berasa naik kendaraan roda empat." Ami menusuk dengan garpu dimsum di bawa Kia. Lalu mencoleknya pada mayones dan saus.
"Serius ih, Ami." Kia menoyor bahu Ami dengan gemas.
"Kia, beneran ini dimsum bikin sendiri?" Ami mengalihkan topik pembicaraan. Lebih suka membahas makanan yang ada di meja.
"Iya, tadi malam bikinnya. Kenapa, nggak enak ya?"
"Enak banget tahu. Aku suka, aku suka." Ami tulus memuji dan mengacungkan dua jempolnya.
"Alhamdulillah." Kia tersenyum dengan wajah tersipu.
"Kia, ada kabar gembira nih. Adyatama Group, perusahaan keluarga Kak Rama, tahun ini akan memberikan beasiswa kuliah buat calon mahasiswa yang lulus seleksi jalur prestasi. Kuotanya untuk 10 orang. Kalau Kia lolos SNMPTN, aku akan daftarin. Jadi kamu gak usah cari beasiswa lain ya. Karena Adyatama memberikan beasiswa full sampai semester akhir."
"Ya Allah, Mi..." Kia terkejut dengan mata melebar. Tak bisa melanjutkan kata karena senang mendengar kabar itu. Meskipun pengumumannya perkiraan 1 bulan lagi, sejak ia daftar SNMPTN, setiap hari selalu sholat malam. Berdoa meminta kemudahan agar bisa kuliah.
"Bismillah ya, Kia. Semoga kita sama-sama lolos. Secara akademis sih, nilai raport kita sudah memenuhi persyaratan. Kita berdoa moga bisa masuk dalam kuota keterima di PTN lewat jalur ini. Kita jadi anak Unpad dan anak UI. Hihihi." Ami mengajak adu tos.
"Aamiin Ya Rab. Makasih ya, Mi. Selama ini Ami udah banyak bantu aku. Insya Allah tidak akan aku lupakan sampai kapanpun juga." Mata Kia berubah mengembun.
"Udah ah, jangan jadi melow. Kita akan tetap bersahabat meskipun nanti berpisah. Nanti kalau kamu kuliah di Bandung, pas mudik harus tetap main ke rumahku nengok Ibu, karena aku nanti tinggal di Jakarta."
"Iya, Mi. InsyaAllah."
Bel tanda masuk sudah berbunyi. Waktunya bersiap mengikuti ulangan akhir. Pelajaran Seni Budaya.
"Eh, satu lagi ada yang lupa. Asal Kia tahu aja. Info beasiswa ini dari A Zaky lho. Aa kan deket dengan Papi Krisna, Papinya Kak Rama. Katanya kalau Kia lulus, Aa nyuruh aku daftarin kamu ikut seleksi beasiswa Adyatama. Next nya Aa yang akan ngelobi ke Papi Krisna."
__ADS_1
"Ya Allah, A Zaky baik banget." Lirih Kia dengan suara mendadak serak karena haru. Tak bisa menjabarkan rasa yang sekarang timbul di hati. Berbagai rasa yang campur aduk. Sekelebat bayangan Zaky saat mengusap puncak kepalanya hadir di benak. Timbul rasa berdesir dan meremang.
***
Ami berjalan menuju ruang Kepala Sekolah sesuai permintaan Akbar yang menunggunya di sana. Langkahnya ringan sambil menggendong tas dan menenteng paper bag berukuran sedang. PTS sudah berakhir. Waktunya santai sejenak.
Ada Akbar dan Leo, serta Pak Muhtar sang kepala sekolah, begitu Ami masuk usai berucap salam. Iya duduk di single sofa yang masih kosong.
"Udah selesai, Cutie?" Akbar tak sungkan memanggil Ami dengan nama kesayangan meskipun ada kepala sekolah.
"Alhamdulillah." Ami tersenyum dan mengangguk.
"Ami, minum dulu." Pak Muhtar menggeser satu botol air mineral ke hadapan Ami.
"Terima kasih, Pak. Udah minum barusan. Aku biasa bawa tumbler sendiri." Sahut Ami mengangguk sopan.
"Pak Muhtar, kalau gitu kami mau pamit sekarang aja." Akbar beranjak dari duduknya. Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan perpisahan. Sebetulnya, meeting sudah selesai setengah jam yang lalu. Iya masih di ruangannya Pak Kepsek karena menunggu Ami pulang. Mengisi waktu dengan obrolan santai.
"Kak Leo, kita bareng aja semobil." Ami yang berjalan sejajar dengan Akbar, menoleh ke belakang karena Leo berjalan di belakangnya sendirian. Semalam, Leo juga ikut ke rumah. Namun tidak nimbrung. Anteng main catur dengan Pak Bagja di ruang tengah.
"Aku tengkurap di kap mobil gitu, Mi?"
"Udah, Cutie. Jangan mikirin Lea. Ada ayangnya yang bakalan jemput." Sahut Akbar tanpa menoleh ke belakang.
"Hei..... Kalau bukan lagi di sekolah, gue jitak pala lo!" Leo menggeram pelan. Biar tidak jadi pusat perhatian para murid yang sebagian masih masih berjalan santai di koridor sekolah.
Ternyata di lobby gedung sekolah, sudah ada Tommy yang berdiri menunggu. Datang untuk menjemput Leo. Jadilah berpisah mobil.
Meski sebagian besar murid sudah pulang, namun masih ada pula yang nongkrong. Ami bukannya tidak tahu jika banyak mata tertuju pada tiga objek. Dirinya, Akbar, dan si kuning yang pintunya terbuka ke atas. Diantaranya ada teman sekelas yang masih nongkrong di bangku beton lapang basket. Sekilas terlirik ada si kepo Sonya, Ifa, dan Marga. Duduk sambil mengayun-ayun kaki.
"Cutie, tolong vc Ibu. Aku mau izin dulu." Pinta Akbar sebelum melajukan mobil. Semalam pun sudah bilang jika hari ini akan menjemput Ami. Namun biar lebih afdol, ingin mengulang izin.
Sambungan video sudah terhubung. Ami melihat ibunya sedang berada di mobil yang sedang melaju. "Ibu mau kemana dandan cantik begitu?"
"Nemenin Papa ke kondangan. Pak Jaja tetangga depan rumah Papa nikahin anaknya." Ibu Sekar memperlihatkan sosok Pak Bagja yang sedang menyetir.
Ami mangut-manggut. "Bu, ini Kak Akbar mau bicara." Ia memutar ponsel menyamping ke kanan hingga wajah Akbar tampil di layar.
"Bu, ini Akbar udah jemput Ami. Akbar mau minta izin ngajak Ami makan siang di Seruni." Ucap Akbar.
"Boleh, Mas Akbar. Pulangnya jangan terlalu sore ya."
"Siap, Bu. Terima kasih ya, Bu. Assalamualaikum."
Ami mengakhiri sambungan setelah Ibu Sekar menjawab salam. Mobil pun mulai melaju keluar dari parkiran sekolah.
"Gimana tadi ada soal yang sulit nggak?" Akbar mulai membuka percakapan setelah mobil melaju di jalan raya.
__ADS_1
"Aman, Kak." Ami membulatkan telunjuk dan jempolnya dengan ekspresi penuh percaya diri.
"Calon istriku yang smart." Akbar mengusap-usap puncak kepala Ami diiringi senyum dan sekilas tatapan bangga.
Ami tersenyum meringis dengan wajah tersipu. "Jangan usap kepala lagi ah. Kan jadinya aku pengen nyender di bahumu.
"Hehehe. Nyender aja, Cutie. Nggak akan ditolak." Akbar menoleh sekilas diiringi senyum mesem.
"Nggak mau ah. Jangan mancing-mancing bahaya kesetrum."
Akbar terkekeh. Pandangannya tetap lurus ke depan. "Oh ya, mau ganti baju di mana, sayang?"
"Di mobil aja, boleh?" Ami memiringkan badan menatap reaksi sang driver.
"Tuh kan. Siapa yang mancing-mancing?" Akbar membawa tangan Ami dan menggesekkan ke rahangnya yang berjambang tipis.
"Aww, geli, Kak." Ami sontak menarik tangannya karena mendadak meriang dan merinding bulu roma. Baru sekarang merasakan memegang jambang Akbar. Kedua pipinya pun merona seperti tomat yang matang.
"Nah, itu adalah bentuk hukuman kalau Cutie nanti mancing-mancing lagi." Akbar tetap menatap lurus ke depan sambil tersenyum samar.
"Iya deh ampun. Gak akan lagi." Ami mengangkat dua jarinya. "Aku mau ikut ganti baju di rumah Kia, Kak. Kita kan akan melewati jalannya. Paling kak Akbar tunggu aja di mobil sebentar ya. Paling 10 menitan." Jelas Ami yang sudah bilang kepada Kia selesai tadi ujian.
Akbar menepikan mobil di parkiran bahu jalan raya. Pandangannya mengikuti langkah Ami yang melangkah cepat memasuki gang toko alat olahraga.
Ami berucap salam di depan rumah Kia yang berada di belakang toko. Sang punya rumah keluar dengan tersenyum lebar. Kia baru sampai rumah 10 menit yang lalu.
"Maaf ya Kia, direpotin. Kalau aku ganti baju di sekolah rasanya nggak nyaman." ucap Ami di dalam kamar Kia sambil mengeluarkan baju dan dus sepatu dari paper bag.
"Santai aja, Mi. Cuma ya kamarku segede ini. Jauh beda sama kamar Ami. Apalagi fasilitasnya, jauh sekali." Nada bicara Kia terdengar minder.
"Kamarmu nyaman, Kia. Jadi pengen tiduran malahan. Nggak boleh mengeluh ya. Kita harus bersyukur masih banyak yang di bawah kita yang kurang beruntung."
"Astagfirullah. Maafin aku yang udah banding-bandingin." Sahut Kia. Dan ia segera keluar dari kamar karena Ami terburu-buru akan berganti baju.
Kia menunggu Ami di ruang tamu sekaligus sebagai ruang keluarga karena rumahnya tidak terlalu besar. Iya iseng scroll media sosial dan melihat akun instagram Zaky Wijaya. Ternyata belum ada postingan terbaru. Yang terakhir masih foto Zaky menggendong baby Pasha. Dengan caption 'Hi, Mama' yang membuatnya otomatis selalu tersenyum mesem. Tak berani menulis komentar. Sudah ratusan komentar dari penggemar Zaky yang mewakili menawarkan diri jadi mamanya baby.
"Kia, gimana penampilanku?"
Kia mendongak dengan terkejut seolah maling yang tertangkap basah. Tak terasa sedari tadi stalking akun Zaky. Iya lantas berdiri dengan memasang ekspresi takjub. "Masya Allah, Ami. Beda banget sih saat pakai seragam sama pakai gaun. Cantik paripurna dan keliatan dewasa. Aku iri lho. Pengen bisa dandan cantik seperti kamu. Aku aja jatuh cinta apalagi Coach Akbar."
"Ah, Kia. Mujinya berlebihan deh. Kan aku jadi ge-er." Ami tersipu sambil merapikan pashmina nya.
"Serius, Mi. Aku muji tulus. Aku bukan penjilat. Pokoknya Ami perfect deh." Kia mengacungkan dua jempolnya.
Ami keluar dari rumah Kia sambil menenteng lagi paper bag yang isinya adalah sepatu dan seragam sekolah. Keluarga Kia kebetulan sedang ada di rumah kerabat. Ia hanya pamitan kepada Kia dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas tumpangannya.
Akbar menatap tanpa berkedip melihat Ami yang sudah berganti kostum. Keluar gang dan berjalan ke arah mobilnya. Ia menekan tombol hingga pintu mobil otomatis terbuka ke atas. Bidadarinya pun masuk dan menatap sambil tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Tbc