Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
131. Menempuh Hidup Baru


__ADS_3

Menatap dari arah samping pada gadis cantik yang rambutnya diikat ekor kuda dan sedang makan dengan lahap serta penuh minat. Sesekali tangannya terulur memainkan anak rambut yang menjuntai di leher sang gadis yang masih baru hitungan jam naik status menjadi istrinya. Akbar merasa menjadi pria beruntung bisa mendapatkan anak gadis Ibu Sekar yang merupakan stok terakhir. Kilas balik yang menggelikan ketika mengenal sosok anak SMP yang akrab disapa Ami. Yang narsis dan lawak serta pandai menggombali siapapun. Definisi jodoh adalah misteri Ilahi.


"Kak, jangan ngeliatin terus. Aku makan jadi grogi nih. Bisa-bisa sendoknya ikut ketelen." Ami menutup pandangan Akbar dengan memasang telapak tangan di samping telinga kirinya. Banyak rupa makanan yang tersaji di meja makan minimalis di dalam kamar pengantin itu. Namun mendapat tatapan memuja dalam jarak sedekat itu, membuat Ami tidak tenang dan salah tingkah.


Akbar terkekeh. Meraih tangan Ami yang menutupi wajah, lalu menggigitnya dengan gemas. "Kamu ngegemesin sih. Jadi pengen cepet-cepet buka kado."


"Bukannya semua kado udah dibawa pulang bareng Ibu?" Ami mengingatkan cerita yang diucapkan Akbar saat tadi.


"Ada satu kado spesial. Nanti dibukanya habis Isya." Sahut Akbar dengan tetap santai memainkan jemari tangan kiri Ami.


"Kadonya ada disinikah?" Ami mengedarkan pandangan ke sekeliling yang terjangkau pandangan mata.


"Ada. Nanti aku tunjukin. Sekarang lanjutin lagi makannya sampai kenyang ya, sayang." Akbar mencomot sebutir anggur hijau. Ia tetap duduk di samping Ami, menemani yang lagi makan.


Shalat magrib dan isya dilakukan dengan berjamaah. Lalu disambung dengan melaksanakan shalat sunat dua rakaat. Pengantin baru sama sekali tidak keluar kamar lagi. Semua tirai sudah tertutup rapat. Stok makanan dan buah-buahan tidak akan kekurangan. Pun tidak akan merasa bosan di dalam kamar. Karena semua fasilitas tersedia dengan dekorasi menunjang keromantisan.


"Sayang, inilah yang aku maksud. Kalau hari Minggu kita bisa melepas kangen dengan bebas. Dengan semua kejadian yang udah kita lalui minggu-minggu kemarin, aku semakin gila merindukanmu." Akbar membelai bahu putih Ami yang ia dudukan dalam posisi menyamping di pangkuannya. Meski bukan mengenakan lingerie, gaun tidur dengan panjang di atas lutut dengan tali simpul pita yang terikat di kedua bahu, mampu memicu kerja hormon testosteron yang berefek gairah memuncak ke ubun-ubun.


"Aku aku juga ngalamin sakit hati dan rindu dalam satu waktu. Dan itu sungguh-sungguh menyiksa. Kenapa waktu pertama kita ketemu lagi di Jerman, aku pengen dipeluk l? Cause miss you so like a crazy." Ami merebahkan kepala di dada Akbar yang mengenakan kaos putih slimfit. Mencetak jelas dada bidang yang sekarang bisa disentuhnya tanpa takut. Rasa malunya sudah berkurang setelah dimulai dari tadi siang Akbar memberikan sentuhan-sentuhan ke tubuhnya.


Tak ada lagi kata. Berganti interaksi dua bibir yang saling bertaut. Mendeskripsikan kata hati yang sedang membuka celengan rindu yang sudah penuh dan sesak. Akbar menuntun cara permainan bibir agar sensasinya menyenangkan kedua belah pihak. Tanpa melepas pertautan dua bibir yang dikunci, ia menggendong sang bidadarinya berpindah tempat ke peraduan.


"Kak, katanya mau buka kado spesial dulu. Aku kepo apa isinya." Dengan nafas yang masih diatur, dengan ritme jantung yang berdetak lebih kencang, Ami berusaha mengulur waktu. Ia bisa membaca apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sudah dewasa untuk mengerti itu. Bahkan waktu berganti pakaian tidur di kamar mandi, Ami mengingat pelajaran dari Tasya waktu itu. Harus siap jika memang sang suami menginginkannya malam ini.


"Kado spesialnya itu kamu, sayang. Aku nggak bisa menahannya lagi. Pengen buka sekarang. Kamu milikku seutuhnya. Aku milikmu seutuhnya." Akbar mulai mencumbu leher Ami dengan mengungkung di atasnya. Bibir sibuk menyapu. Tangan ikut bekerja membuka simpul tali gaun tidur istrinya itu.


"Ughhh..... Hmph....." Rintihan dan lenguhan lolos dari bibir Ami tanpa bisa dicegah seiring kelembutan bibir lembab dan basah Akbar yang terus menyapu naik turun.

__ADS_1


Gerak jarum jam pendek baru menuju ke angka delapan. Bisa dikatakan hari masih sore. Skin to skin di peraduan berseprai putih harus terjeda karena ekspresi sakit sang pengantin wanita. Tarikan nafas yang kencang, buliran keringat yang berjatuhan di kening dan pelipisnya, menandakan rasa sakit tidak perdaya.


"Cutie, kamu makin cantik dan seksi. Hanya aku yang boleh melihat ini semua. You're mine, baby." Bisik Akbar dengan suara parau. Ia ingin membuat Ami lebih rileks sebelum melanjutkan lagi petualangannya.


Ami mengangguk lemah dengan kedua tangan masih mencengkram bahu polos Akbar. "Pelan-pelan ya, Kak. I'm yours."


"Relax, sayang. Sakitnya hanya sebentar aja. I love you." Di setiap usahanya membuka jalan sempit, Akbar terus membisikkan puja-puji di telinga kanan Ami yang meringis-ringis sambil menggigit bibir. Kedua tangannya diselipkan di belakang kepala sang istri serta bibir mulai memagut lagi. Pada akhirnya, jalan sempit itu mampu ditembusnya dengan sensasi rasa luar biasa.


 Akbar berhasil menahan berbagai serangan godaan selama hidupnya. Di era pergaulan yang bebas dan terbuka, suatu hal yang mudah jika dirinya ingin bersenang-senang dengan perempuan manapun. Tampan, mapan dan kuasa,ia punya. Namun bersyukur masih memiliki iman yang bisa menahannya dari perbuatan maksiat. Kini ia berbangga, memberikan keperjakaannya kepada kekasih halal.


Ami dari awal sudah ikhlas memberikan diri seutuhnya kepada pria cinta pertamanya yang kini menjadi jodoh. Sakit memang. Saat kehormatan yang dijaganya selama ini dengan bergaul di lingkungan yang baik, berhasil ditembus oleh senjata tumpul yang menumpahkan jutaan peluru hidup yang akan berlomba-lomba bertemu sel telur untuk dibuahi. Berharap membentuk zigot yang akan menghasilkan buah cinta berkualitas.


Belaian lembut tangan Akbar di rambutnya, lambat laun meredakan sakit dan perih yang dirasa Ami pada inti tubuhnya. Belaian penuh sayang itu lambat laun memejamkan matanya hingga terbuai dalam damai dalam rengkuhan sang imam hidupnya.


***


Usai makan sore, Akbar menyampaikan akan membawa Ami pindah ke Jakarta esok hari. Karena hari Jumat akan berangkat melangsungkan bulan madu ke Swiss. Mengingat minggu kedua bulan Agustus, Ami akan memulai ospek sebagai mahasiswa baru di fakultas kedokteran Universitas Indonesia.


"Ibu, Papa, Teh Gina, bisa kan antar aku pindahan Jakarta?" Ami menatap keluarganya itu satu per satu.


"Tentu saja. Kita semua akan ikut mengantar." Sahut Ibu Sekar.


"Iya, Mi. Sekalian aku mau berangkat lagi ke Jerman hari Kamis. Nanti Ami sama Mas Akbar harus mengulang lagi liburan ke Jerman ya. Kemarin kan liburannya sad moment." Gina terkikik melihat Ami yang tersindir lalu melirik Akbar dengan wajah tersipu malu.


Akbar melaksanakan Magrib dan Isya ke masjid bersama Pak Bagja. Malam ini ia membantu Ami packing barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta. Tentu saja sambil diselingi dengan meraba-raba dan merayap-rayap.


"Pandaku harus ikut dibawa ya, Kak? Ini tuh sejarah banget. Gara-gara aku menggombalimu Panda. Pandangin kamu setiap hari. Hihihi. Jadilah aku dapat kado ini. Selalu aku peluk setiap malam. Jadi teman bobo." Ami memeluk boneka panda kesayangannya itu.

__ADS_1


Akbar mengurai pelukan Ami dari boneka panda itu. Beralih ia yang menarik badan Ami sehingga terbenam di pelukannya. "Boleh dibawa bonekanya. Tapi tempatnya jangan di tempat tidur kita. Ada Panda hidup yang harus Cutie peluk sebagai gantinya."


Ami mendongakkan wajah menatap rahang tegas Akbar yang pagi tadi baru memotong rambut menjadi lebih pendek di Barbershop di daerah Tasik. Mengusap-usap jambang tipis yang menambah macho penampilan suaminya itu. Ia mengecup pipi lalu melepaskan diri dengan loncat ke tempat tidur. Bersembunyi di balik selimut sambil cekikikan.


"Sayang, udah berani ngegoda ya. Awas, malam ini nggak bisa lolos." Akbar menarik selimut hingga jatuh ke lantai. Ia lalu menerkam dan menggelitik pinggang Ami hingga tertawa kegelian.


Canda tawa itu tidak berlangsung lama. Suasana berubah senyap berganti deru nafas yang saling memburu. Malam ketiga dilalui dengan cumbu mesra menuju puncak nirwana. Ini menjadi malam pertama di kamar Ami bergelungnya dua insan memadu kasih, bermandi peluh.


***


Suasana penuh kebahagiaan di kamar atas, berbeda terbalik dengan di kamar bawah. Tepatnya di kamar Ibu Sekar. Syahdu, sendu, dan mengharu biru. Itulah yang kini sedang dirasakan oleh seorang ibu dari 4 orang anak. Dadanya terasa sesak karena menahan isak usai packing pakaian untuk dibawa besok ke Jakarta.


"Bu, kalau mau nangis. Tumpahkan sekarang sampai lega. Jangan menangis di hadapan Ami. Nanti Ami jadi berat pisah sama Ibu." Pak Bagja meraih kepala Ibu Sekar yang duduk di tepi ranjang sambil menunduk dengan mata terpejam. Merengkuhnya ke dalam dada serta memberi usapan lembut.


Perlakuan manis penuh kasih itu akhirnya membuat pertahanan Ibu Sekar jebol. Ia menenggelamkan wajah di dada suaminya itu. Menangis tergugu. Tak dipungkiri ada sedih yang menyesak karena akan melepas anak bungsunya itu begitu cepat. Bukan tidak ridho ataupun tidak memberi restu. Karena hal ini sudah disadarinya bakal terjadi. Anak bungsunya mendapatkan jodoh lebih cepat dibanding kakak-kakaknya yang lain. Hanya saja nalurinya sebagai seorang wanita, air mata adalah senjata untuk melegakan hati menerima takdir anak-anaknya. Doa yang akan menjadi penghubung mengiringi anak-anak di manapun mereka berada


Begitulah sunatullah kehidupan. Ada yang datang dan pergi. Ada kebersamaan juga perpisahan. Anak-anak yang dirawat sejak dalam kandungan, tumbuh kembang hingga dewasa, pada akhirnya akan menjalani peran masing-masing di dunia yang fana ini. Jauh fisik dari keluarga. Namun ikatan batin tetap dekat tak terhalang jarak.


...T A M A T...


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Novel yang banyak kekurangan ini Alhamdulillah telah tamat. Mohon maaf jika tidak bisa memuaskan pembaca semua. Insya Allah, aku akan memenuhi permintaan Bestie semua yang ingin ada extra part. Tapi slow update ya.


Terima kasih untuk semua bentuk Cinta dari para pembaca setia. Baik berupa koin, poin, vote, maupun oleh-oleh yang dipaket ke rumah. Semoga segala kebaikan dibalas oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dengan berlipat-lipat. Aamiin


Next....Aku akan umumin pemenang giveaway. Ada 6 orang terpilih yang akan bisa memeluk Panda di rumahnya masing-masing. Siapa aja ya? jreng jreng....tunggu aja pengumumannya tanggal 23 Oktober.

__ADS_1


__ADS_2