Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
129. Akad Nikah


__ADS_3

Sebelum turun meninggalkan kamar, Ami memeluk erat boneka pandanya dengan penuh kerinduan. Boneka yang tetap berdiri di tempat yang sama selama ditinggalkan, yaitu di tengah-tengah bantal dengan punggung bersandar di kepala ranjang.


"Panda, aku kasih tahu ya. Mulai malam Senin aku bobonya sama orang yang ngasih kamu. Maaf ya kamu bakal tersisih. Jangan jealous ya. Kamu nggak akan aku lupain kok. Akan dibawa kalau aku pindah ke Jakarta." ucap Ami sambil mengelus-elus kepala boneka kesayangannya itu. Mendadak merinding bulu roma membayangkan nanti tidur dengan Panda asli. Tak bisa berlama-lama di dalam kamar, karena ada teman-temannya di bawah menunggu.


Sementara di lantai bawah, Zaky sedang dikelilingi oleh Padma dan kawan-kawan sambil duduk lesehan di karpet ruang tengah. Tawa riang pecah karena obrolan yang berbumbu canda.


"Makasih ya semuanya. Udah bantu sampai surprise berhasil. Besok acara siraman pada datang lagi ya." Zaky nampak supel bergaul dengan teman-temannya Ami itu.


"Pasti datang dong. A Zaky, makasihnya bonusin ya. Bonusin dengan pengen foto-foto bareng A Zaky hari Minggu. Mumpung kita nanti dandan cantik, pakai gaun cantik juga, jadi harus punya kenang-kenangan tiap orang berfoto dengan A Zaky. Setuju nggak, guys?" Sonya menatap teman-temannya satu persatu.


"SETUJU!" Kompak Yuma dan Ifa. Sementara Kia tidak bersuara, hanya tersenyum simpul.


"Kia, jangan senyum aja. Setuju, kan?" Sonya mencolek lengan Kia.


Kia meringiskan wajah karena semua mata tertuju padanya. "Aku ngikut aja deh, gimana kompaknya."


"Tuh A Zaky. Gimana jawabannya? Padma siap fotografernya." Sahut Padma.


"Duh, berasa jadi artis. Okay."


Jawaban singkat Zaky mendapat sambutan tepuk tangan Sonya dan kawan-kawan. Kecuali Kia yang hanya tersenyum mesem.


"Rame banget. Pada bahas apaan sih?" Celetuk Ami yang baru saja datang. Bergabung duduk di samping Padma.


Zaky beranjak usai pamit dengan alasan mau bersiap shalat jumat. Memberi kesempatan pada Ami dan teman-temannya untuk mengobrol dengan bebas.


Ami mendengarkan cerita Sonya, temannya yang ganjen tapi baik. Bersambung dengan pertanyaan Ami yang ingin tahu bagaimana kronologis kolaborasi teman-temannya itu selama membantu persiapan acara.


Larut dalam obrolan santai yang kini didominasi Sonya Cs yang menggoda si calon pengantin. Hingga tak terasa waktunya kaum laki-laki shalat jumat. Ibu Sekar datang menghampiri dan menyuruh semuanya untuk makan siang di Dapoer Ibu. Tentu saja tawaran menggiurkan yang disambut dengan senang hati.


Kebersamaan dengan teman-temannya berakhir pukul dua siang. Semuanya pulang, kecuali Padma. Karena diminta Ami untuk tetap tinggal. Baru saja mobil Sonya meninggalkan parkiran di depan rumah, datang mobil yang baru dan perlahan mulai parkir di tempat yang kosong. Keluarga kecil Rama baru saja tiba.


"Ate...Aa dataaang."


Padahal pintu mobil belum terbuka, namun teriakan Rasya yang kencang dari dalam mobil sampai terdengar keluar. Membuat Ami dan Padma tertawa.


Rasya buru-buru berlari begitu pintu mobil dibuka. Lebih dulu menghampiri Ate Ami dan Ate Padma. Menyalami dengan berjingkrak-jingkrak girang.


"Teteh, jam berapa dari Jakarta?" Ami beralih berpelukan dengan kakak sulungnya itu.


"Berangkat jam enam. Berhenti lama di Limbangan karena Kak Rama salat Jumat dulu bareng sopir. Sekalian istirahat. Puput juga berpelukan dengan Padma sambil cium pipi kiri dan kanan.


"Aa enggak ditanya." Rasya menggembungkan kedua pipi dengan wajah memberangut.


"Emang Anda siapa?" Ami dengan sengaja menjahili Rasya dengan pandangan memicing. Sementara Padma tertawa cekikikan.


"Emang Anda Ate Kunti." Balas Rasya diiringi memeletkan lidah dan mata dikerjap-kerjapkan. Gaya menyebalkan.


Rama dan Puput serta Padma tertawa lepas karena Ami kalah telak. Kegaduhan di luar rumah itu terdengar sampai ke dalam. Membuat Ibu Sekar dan Aul muncul ke teras.


Hari ini, semua keluarga berkumpul lengkap. Anak, menantu, cucu, hadir. Suasana rumah riuh oleh tiga orang balita yang bermain bersama. Tanpa lelah dan berlangsung hingga malam tiba.


"Bu, harus gitu ada acara siraman? Aku sih pengajian aja sudah cukup." Ucap Ami usai mendengar penjelasan Ibu Sekar untuk acara besok yang akan dimulai pukul satu siang.

__ADS_1


"Siraman itu rangkaian tradisi pernikahan adat Sunda. Boleh diadakan, boleh tidak. Tapi Ibu ingin laksanakan. Waktu dulu juga Teh Aul siraman juga. Kecuali Teh Puput yang enggak, karena nikahnya mendadak. Waktu itu harusnya khitbah jadinya akad nikah." Ibu Sekar menatap Puput dan Rama sambil tersenyum mesem.


"Kak Rama waktu itu harus ke Amrik, Mi. Takut Teh Puput diculik hatinya kalau LDR. Jadinya maksa Enin buat bujuk Ibu dan Teh Puput." Celetuk Panji tanpa beban.


"Ah elo, buka rahasia perusahaan." Rama mendelik memandang Panji yang sedang memangku baby Pasha sambil memegangi dot.


Grrr. Suara tawa kumpul keluarga itu memenuhi seisi rumah. Pak Bagja dan Gina tak luput ikut larut dalam suka cita.


"Aa, aku pengen bicara empat mata sama Aa. Pindah dulu yuk, A." Ami beranjak bangun terlebih dahulu. Langkahnya menuju pintu keluar dibuntuti oleh Zaky. Iya menuju ke samping rumah yang terdapat sebuah bangku taman berkapasitas dua orang.


"Ada apa sih pakai mojok segala?" Zaky memandang Ami yang memasang ekspresi serius.


"Aku kan belum minta izin dengan benar sama Aa. Aa bakal dilangkahin nikah. Aa ikhlas nggak?"


Zaky menghela nafas. Tangan kanan terentang di belakang bahu Ami, disandarkan pada sandaran kursi. Kaki kanan menumpang di atas lutut kiri. Pandangan sedikit mendongak menatap langit pekat yang bertaburan bintang.


"Jujur, awalnya Aa nggak terima. Bukan tidak terima dilangkahin tapi tidak setuju dengan rencana Ami yang memutuskan nikah muda. Tapi melihat kesungguhan Ami, Aa mengalah dan Aa ikhlas Ami nikah lebih dulu. Karena tiap individu punya waktu yang berbeda dalam menjemput jodoh."


"Ingat, Mi. Setiap keputusan harus dipertanggungjawabkan. Jadi Ami harus bertanggung jawab sama keputusan nikah muda. Jangan dianggap main-main. Harus dewasa dalam menyikapi permasalahan. Harus patuh sama Mas Akbar selama di jalan yang benar. Nikah berarti kebebasan Ami dibatasi oleh kewajiban sebagai istri. Aa nggak bisa nasehatin soal kehidupan pernikahan karena belum berpengalaman. Nanti Ami bisa sering-sering bertanya sama ibu."


"Iya, A. InsyaAllah, aku bertanggung jawab sama keputusanku ini. Masalah kemarin juga jadi pembelajaran buat aku. Besok pagi, Aa bisa temenin aku pengen ziarah dulu ke makam ayah?"


Zaky mengangguk. "Bisa."


***


Berbeda dengan Ami yang akan melangsungkan acara pengajian dan siraman nanti siang. Di hotel Seruni, Sabtu pagi ini sedang berlangsung acara pengajian yang akan dilanjutkan dengan acara siraman Akbar Pahlevi Bachtiar. Keluarga besar Enin yang berada di poros tengah, turut hadir. Artinya nanti akan hadir pula di acara pengajian dan siraman Rahmi Ramadhania. Puput dan Aul mendampingi suami tanpa membawa anak-anak. Ditinggal bersama pengasuh di rumah Ibu Sekar. Momentum sakral dan khidmat itu berakhir jam sebelas siang.


Acara pengajian dan siraman di kedua tempat berbeda itu telah berlangsung dengan lancar. Kini waktunya menghitung jam menuju hari esok akad nikah dan berlanjut resepsi yang akan dilangsungkan dalam satu waktu. Mengingat tradisi pernikahan di Ciamis maupun Tasik, hampir tidak pernah melaksanakan resepsi di malam hari.


Malam Minggu di rooftop Hotel Seruni tidak dibuka untuk umum. Karena digunakan private party sang pemilik hotel. Tidak ingin disebut sebagai pesta bujang karena pesta bujang identik dengan hal negatif penuh kemadharatan. Ini adalah acara berkumpulnya teman-teman terdekat. Hadir di antaranya Rama, Panji, Damar, Leo, Tommy, dan tiga teman Akbar dari komunitas slalom.


Pesta bujang identik dengan perayaan di klub malam. Menghadirkan Disk Jockey, penari striptis, minuman beralkohol. Namun yang dilakukan Akbar bersama circle-nya adalah pesta barbeque dengan diisi gelak tawa. Akbar harus tahan panas kuping dan kuat mental karena keusilan mereka yang berbincang random hingga membahas persiapan malam pertama.


Lain halnya di rumah Ibu Sekar. Malam Minggu Ami sedang kedatangan tamu. Yaitu Tasya bersama Baby Embun yang sudah bisa berjalan. Jika Embun anteng bermain dengan Rasya dan yang lainnya, di dalam kamar Ami pun sedang anteng membahas persiapan malam pertama, tips dari Tasya.


"Kak Tasya, aku malu bahas ginian." Ami menutup mukanya yang memerah. Tidak biasa mendengarkan pembahasan tentang keintiman.


Tasya terkikik. "Biasanya kalau bahas gini sama keluarga kan nggak mungkin karena malu. So, kalau sama aku, Ami bebas bertanya apapun. Jangan shy shy cat."


"Jadi ada yang langsung goal ada yang tidak itu bener ya, Kak?" Pada akhirnya Ami bersuara sesuai rasa penasarannya.


"Betul sekali. Aku contoh yang langsung goal. Yang tidak langsung goal itu bisa karena tegang. Bisa karena selaput da ra yang lebih tebal dari umumnya. Atau karena si suami langsung gempur dengan kurang pemanasan. So, nanti dibikin relax ya. Komunikasikan dengan Mas Akbar, pengennya kamu tuh diperlakukan seperti apa biar nyaman." Jelas Tasya tanpa menunjukkan ekspresi usil. Ia bersikap seolah psikolog pernikahan.


"Terus nantinya bakal jalan kayak bebek. Benarkah itu?" tanya Ami lagi.


"Nggak bener itu. Itu hanya jokes. Yang benar itu kita akan merasakan sesuatu yang berbeda. Jadi merasa ada yang mengganjal, perih pas cebok dan agak bengkak. Itu wajar namanya juga buka segel. Rasa nggak nyaman itu paling lama seminggu. Tapi kalau soal jalan, ya tetap aja biasa."


Ami mangut-manggut. "Oke, Kak. Makasih ilmunya."


Jam terus bergerak. Malam mulai larut. Semua tamu sudah pulang. Ami tidur ditemani Padma dan Rasya. Bocah yang dari kemarin tidak mau berpindah tidur meski dibujuk oleh Zaky dengan dibelikan mainan. Mainannya diambil, rayuannya ditolak.


Padma dan Rasya sudah terlelap. Harusnya Ami juga sama karena lelah dengan rangkaian acara siang tadi. Namun matanya malah sulit terpejam. Padahal nanti subuh, tim MUA akan datang ke rumah untuk merias pengantin, keluarga, dan pagar ayu atau bridesmaid. Mendadak membayangkan hari esok akan seperti apa. Lembaran baru dalam hidupnya akan dimulai. Dengan status sebagai istri dari Akbar Pahlevi Bachtiar.

__ADS_1


Tring. Suara notif pesan terdengar. Ami meraih ponsel yang berada di nakas. Tak jauh dari posisinya merebahkan badan.


[Sayang, udah tidur belum?]


Sebuah pesan dari Akbar yang mampu membuat senyum Ami melengkung manis dengan menonjolkan lesungpipi.


[Belum, Kak. Nggak bisa tidur]


[Apa karena ngebayangin besok? mau vc dulu nggak?]


[Iya mendadak gelisah ngebayangin besok 🤭. Nggak boleh vc biar besok berasa kangennya. Lagian aku tidur ditemani Padma dan Rasya]


[Udah jam 10, sayang. Harus cepat tidur biar bangun subuh fresh. Cobain senam mata ya. Kerjap-kerjapkan mata dengan slow motion sambil dzikir dalam hati. Terus aja sampai nanti lelah dengan sendirinya]


[Oke, Kak. Mau aku coba. Udahan dulu ya]


[Oke, sayang. Aku juga mau tidur. Sleep tight calon istri 😘]


[😘😘]


Ami mulai mempraktekkan trik yang disarankan Akbar. Benar adanya. Lambat laun matanya terlelap tanpa sadar.


***


Mentari pagi bersinar hangat. Akbar selaku calon pengantin laki-laki, masih santai pagi ini dengan berolahraga ringan. Ditambah ia tidak harus keluar dari hotel karena lokasi akad dan resepsi diadakan di hotelnya sendiri. Meski begitu, khusus hari ini, ia dan keluarga besar berlaku sebagai tamu. Yang akan masuk ke ballroom tentunya keluarga calon pengantin perempuan lebih dulu. Semuanya sudah diatur oleh tim wedding organizer.


Jarum jam pendek bergerak ke angka 8. Akbar sudah mengenakan baju pengantin putih khas Sunda, dengan sebuah Kujang terselip di pinggangnya. Dia berada di kamar lain. Kamar pengantin tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Semalam ia masuk hanya untuk mengecek sebentar dekorasi kamar pengantin yang ternyata sudah sesuai ekspektasinya.


"Bro, rombongan pengantin wanita sudah sampai. Ami sudah berada di waiting room. Kita bersiap 10 menit lagi masuk ke ballroom." Lapor Leo yang masuk ke kamar Akbar dengan mengenakan seragam groomsmen. Namun tak berselang lama Mama Mila dan Aiko menyusul masuk.


"Widiw, Mas Akbar cakep and gagah. Kayak pangeran dari Kerajaan Pajajaran." Iko membulatkan telunjuk dan jempolnya dengan wajah semringah. Kemudian menyerahkan ponsel kepada Leo untuk memotretnya. Awalnya berdua, lalu berempat bersama Papa Darwis yang menyusul masuk.


"Mas, waktunya turun ke ballroom. Sudah waktunya acara dimulai." Ujar salah seorang kru WO yang baru saja datang.


Akbar menarik nafas dan menghembuskan perlahan sedikit rasa sedikit gugup mulai timbul. Ia harus menenangkan diri dulu. "Bismillah...."


Usai keluar dari lift, Mama Mila dan Darwis menggandeng lengan Akbar. Keluarga yang lain berbaris di belakang dengan memangku hantaran nikah. Semuanya melangkah pelan menuju pintu ballroom dengan iringan para petugas dokumentasi.


***


Menjadi wali untuk yang ketiga kalinya. Zaky duduk tegak dengan penuh percaya diri. Tak lagi gugup seperti pengalaman pertama dulu menjadi wali nikah Puput. Ia nampak tenang dan penuh wibawa. Duduk menghadap meja akad nikah yang di hadapannya duduk segaris dengan calon pengantin pria bernama Akbar Pahlevi Bachtiar.


Pesona sang wali nikah sudah membetot atensi seorang bridesmaid. Yang selalu memandang dengan sorot kagum serta senyum samar. Ialah Kia. Yang sudah dicap dianggap adik itu sempat membantu memasang ulang kain jarik yang dikenakan Zaky. Karena Zaky mengeluh ikatan tali di pinggangnya terlalu ketat.


Kelengkapan administrasi sudah diperiksa ulang oleh petugas dari Kantor Urusan Agama. Saksi dari kedua belah pihak pun sudah duduk di kursi masing-masing. Kursi estetik yang berhias sarung putih dan tersimpul pita berwarna kuning emas.


Zaky mulai mengulurkan tangan usai khutbah nikah. Dijabat dengan erat oleh Akbar yang menatap lurus dan tenang. Tidak ada yang boleh maju mengabadikan momen akad nikah ini kecuali petugas dokumentasi resmi.


"Saudara Akbar Pahlevi Bachtiar. Saya nikahkan dan kawinkan engkau terhadap adik saya yang bernama Rahmi Ramadhania binti Ramdan Wijaya dengan mas kawin 100 gram logam mulia dibayar tunai." Ucap Zaky dengan tegas dan lugas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rahmi Ramadhania binti Ramdan Wijaya dengan mas kawin 100 gram logam mulia dibayar tunai." Sahut Akbar yang terucap dalam satu tarikan nafas.


"SAH."

__ADS_1


__ADS_2