Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
43. Belum Waktunya Just Be Mine


__ADS_3

Flashback On


[Aku udah di toilet bareng Ami]


[Sayang buruan naik]


Leo membaca chat dari Tasya. Ia memang ikut mengantar Enin sampai lobi. Namun tidak lama karena adanya chat dari sang istri. Bergegas melangkah lebar menuju lift dan menekan tombol angka delapan.


"Ami udah sama Tasya. Bentar lagi masuk lift." Leo memberi laporan pada Akbar. Ia duduk di samping sang boss yang sedang bertumpang kaki sambil memainkan ponsel.


"Ok. Waktunya lo ganti kostum." Akbar menyimpan ponselnya dan menunjuk paper bag yang tersimpan di meja. "Buruan! Waktunya hanya lima menit." Ia mengingatkan Leo yang mendecak saat melihat isi paper bag.


Leo membuka jas dan kemejanya dengan cepat. Berganti memakai gaun wanita yang panjangnya selutut. Akbar membantu memakaikan wig berambut pirang hingga terpasang rapih.


"Wow, cantiknya pacarku. Ini toh kerja sampingan lo. Kalau malam jadi Lea, kalau siang Leo." Akbar tertawa tanpa suara sambil memotret Leo. Tak mempedulikan sang asisten yang mendengkus dan menggerutu.


"Awas aja kalo gak ngasih bonus. Beres misi kudu langsung transfer!" Ancam Leo. Kemudian bergegas membuka ponsel begitu terdengar notif pesan. Tasya mengirim pesan lagi.


[Kita udah sampe lantai 8]


Akbar dan Leo mulai mengatur posisi duduk sesantai mungkin. Akbar duduk miring agar wajahnya terlihat jelas dari pintu kaca. Sementara Leo duduk lurus dan hanya bahu serta rambut pirangnya yang terlihat dari belakang.


Akbar melihat pergerakan Ami dari kamera pengawas yang dipasang dadakan di koridor dan tersambung dengan ponselnya. Terlihat hendak kembali menuju lift usai mengantar Tasya sampai depan pintu.


"Wow, surprise. Gak nyangka kamu bakalan nyusul aku ke Tasik." Akbar sengaja berbicara di depan pintu kaca agar suaranya terdengar jelas oleh Ami. Kemudian berlari lagi menuju tempat duduknya dalam posisi semula. Berhasil. Ami terlihat berjalan menuju arah ruangannya.


"Come on. Tri....two....one. Action!" Ucap Leo dengan suara pelan begitu melihat di layar ponsel. Posisi Ami sudah berdiri di depan pintu kaca.


Leo dipeluk oleh Akbar penuh senyum. Lalu rambut pirangnya dikecup mesra, dalam, dan lama. Sungguh, Leo memasang ekspresi ingin muntah mendapat perlakuan seperti itu. Untung saja membelakangi pintu.


"Cih. Jijik gue. Sana!" Akbar mendorong tubuh Leo usai melihat Ami pergi dengan cepat. Tubuhnya bergidik.


"Sama. Gue malah pengen muntah. Amit-amit jabang bayi mesra-mesraan sama terong. Sana buru kejar si Ami! Lo udah bikin nangis anak orang Kasian tuh." Leo melepas wig dan dressnya. Tubuhnya pun bergidik.


Flashback Off


***


Ami memutar tubuh, memalingkan wajah sendunya ke sembarang arah. Tidak mempedulikan lagi penampilan wajahnya yang entah berantakan atau tidak. Yang biasanya ingin tampil sempurna di depan Akbar, kini acuh.


"Kak Akbar mau apa kesini?" Ami ingin melepas jas yang tersampir di bahunya. Namun, pria yang kini hanya mengenakan kemeja putih itu menahan kedua bahunya sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku kesini mau memperjelas semuanya, Cutie. Kita duduk yuk!" Ucap Akbar dengan lembut. Ia menunjuk salah satu meja. Rooftop ini biasanya menjadi tempat favorit para tamu yang ingin bersantai sambil ngopi di petang dan malam hari. Namun sejak magrib, tempat ini ditutup sementara atas perintahnya.


Ami menggeleng. "Aku mau pulang ke rumah. Gak jadi nginep disini." Ia melepas jas dengan cepat dan menyimpannya di sandaran kursi. Mengambil high heels nya yang teronggok di bawah dan bersiap pergi.


Grep. Akbar menahan lengan Ami. "Please, Cutie. Kita bicara dulu ya!" Seulas senyumnya membuat sang gadis luluh, mau diajak duduk. Ia bersabar menunggu Ami selesai mengenakan lagi sepatunya.


"Aku minta maaf udah bikin Ami sakit hati dan nangis." Akbar menatap Ami yang menundukkan wajah. "Mau liat siapa cewek yang tadi aku peluk? Liat dulu, Cutie!" Ia menghadapkan layar ponselnya ke depan wajah Ami yang kini mendongak.


"Kak Akbar tau dari mana kalau aku menciduk kakak lagi me sum?" Ami memicingkan mata masih dengan ekspresi sendu. Belum tertarik melihat layar ponsel yang ada di hadapannya.


"Karena aku pasang CCTV khusus. Bisa dibilang ini prank. Liat dulu, Cutie! Baru aku jelasin semuanya." Akbar menyimpan ponselnya ke tangan Ami yang terjalin di meja.


Ami terkejut dan mengerutkan kening. "Ini Kak Leo?! Jadi...bukan cewek beneran? Pstt...." Ia menahan tawa. Ada rasa gengsi mengekspresikan diri karena sedang dalam mode ngambek.


"Karena susah membedakan ucapanmu antara yang serius dan yang candaan, makanya aku pakai jalan ninja buat ngorek perasaanmu yang sebenarnya. Dan berhasil tau kalau kamu jatuh cinta sama aku. Cutie, cintamu tidak bertepuk sebelah tangan. Kamu juga tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Cause, I love you too." Jelas Akbar diiringi senyum manis.


"Kak Akbar JAHAT!" Ami mengerucutkan bibirnya. Antara malu dan rasa sakit hati yang memudar berganti hati yang menghangat dan berdesir karena mendengar pengakuan cinta. Membuat rasa menjadi nano-nano dan salah tingkah.


"Tapi kan jahatnya cuma beberapa menit, Cutie. Maaf ya, sayang." Ucap Akbar diiringi senyum serta tatapan hangat sambil mencondongkan badannya.


Ami menggigit bibir. Kata sayang yang terucap dari bibir Akbar, membuat tubuhnya panas dingin. "Aku....aku belum pernah jatuh cinta. Dan sekarang tau gimana sakitnya patah hati. Sebaiknya memang aku gak pacaran dulu. Takut ngeganggu fokus belajar." Ujarnya menarik kesimpulan dengan ucap ragu.


"Berarti hari ini kita jadian, Kak?!" Tanya Ami dengan polos.


Akbar mengangguk dan tersenyum. "Mau diumumin di ballroom mungpung pesta belum selesai dan keluarga masih kumpul?" Tantangnya.


"Eh, jangan-jangan! Bisa-bisa aku digantung di pohon cikur. Dan Kak Akbar gak usah ngasih cincin segala. Kita backstreet aja ya, Kak." Mohon Ami dengan tatapan memelas.


"Hm, oke. Tapi Ami harus percaya, kalau aku pria serius dan bertanggung jawab dalam membuat keputusan. Maksudnya, memilih Ami bukan untuk dijadiin pacar tapi sebagai calon istri. Apa Ami gak keberatan dengan usia kita yang beda 16 tahun?" Akbar berdiri dan menyampirkan lagi jasnya di bahu Ami yang kentara merinding. Kali ini tidak ada penolakan.


"Aku suka sama Kak Akbar karena dewasa dan ngemong. Aku gak masalahin soal usia kok. Jantung aku suka kelojotan dan ser seran tiap kali kita deket atau vc an. Bukankah itu tandanya aku jatuh cinta sama Kakak?" Ami tersipu malu.


Akbar terkekeh. "Polos banget sih kamu, Cutie. Gemes deh. Kalo gini kan aku punya kekuatan buat minta restu ke keluarga Ami."


"Eh, tapi jangan dulu sekarang-sekarang, Kak. Nanti aja kalau aku udah kelas 12 minta restunya. Sekarang kita backstreet aja." Wajah Ami yang tadi sendu, kini berbinar lagi.


"Maksudnya kalau kelas 12 minta restu, berarti lulus SMA siap nikah, hm? Biar kuliahnya setelah jadi Nyonya Akbar aja ya, Cutie?" Tanya Akbar diiringi senyum simpul.


"Hm, gak tau...gimana atuh ya." Ami menutup mukanya yang memanas. Nyonya Akbar. Huft. Dua kata yang membuat bulu kuduknya merinding disko.


Akbar terkekeh. "Oke, jangan dipikirin dulu. Nanti kita bahas sambil jalan. Yang penting sekarang kita udah resmi jadian."

__ADS_1


Ami mengangguk setuju. "Tapi Kak Akbar janji harus setia. Kak Akbar tuh handsome. Pasti sering ketemu banyak cewek cantik. Janji bakal setia!" Ia mengulurkan jari kelingkingnya.


"Ami juga cantik. Pasti most wanted di sekolah. So, Cutie juga harus janji bakal setia!" Akbar sudah mendekatkan kelingkingnya tapi belum ditautkan. Menunggu jawaban Ami.


"Aku janji." Ucap Ami pasti. Kedua kelingking pun bertaut diiringi saling melempar senyum manis.


Dering ponsel di dalam tas, membuat Ami tersadar dan menarik jari kelingkingnya yang masih bertaut. Padma menelepon.


"Aku abis cari angin. Bentar lagi ke dalam." Ami memasukkan lagi ponselnya dengan tergesa usai Padma menanyakan posisinya.


"Kak, aku mau ke ballroom lagi." Ami menatap Akbar meminta izin.


"Kita bareng. Tapi Cutie harus ngaca dulu deh." Akbar mengulum senyum.


Ami menegakkan punggung karena kaget. Bergegas merogoh bedak di dalam tas. "Ya Salam! OH NO!" Ia terjengit sendiri melihat kondisi wajahnya. Lipstik di bibirnya pudar dan belepotan karena tadi menyusut ingus dengan punggung tangan. Mascara aman karena waterproof. Namun liner di bawah mata serta bedaknya luntur karena tersapu air mata. Juga jilbab bagian depannya sedikit berantakan karena sapuan angin.


"Kak Akbar kenapa gak bilang dari tadi. Kan...kan aku malu ih. Aku kayak badut. Mau ke kamar dulu ah, cuci muka." Ami menghalangi mukanya dengan tas dan bergegas berdiri.


Akbar mengulum senyum sambil mengikuti langkah Ami menuju lift. "Gak papa kok. Ami tetap cantik dalam kondisi apapun. Aku suka."


"Hm, pujian Kak Akbar bikin APD." Ami masuk lebih dulu ke dalam lift yang kosong. Disusul Akbar yang berdiri di sampingnya.


"Artinya?" Akbar memicingkan mata menatap Ami. Cutie nya itu sudah kembali ke setelan pabrik.


"Aku Pengen Dihalalin. Hihihi." Ami memutar tubuh menghadap samping karena malu ditatap oleh Akbar yang kini tertawa.


"Dihalalin setelah lulus SMA ya, Cutie?" Akbar mengusap-usap puncak kepala Ami. Ucapannya serius dari hati.


Ami menggigit bibir karena usapan Akbar di puncak kepalanya berefek pada denyut jantung yang menjadi bertalu-talu. "Belum bisa jawab sekarang deh, Kak. Hehe." Sahutnya sedikit gugup.


"Kamu sih mancing-mancing. Oh ya, aku antar ke kamar. Ditungguin di luar. Nanti kita ke ballroom bareng. Kita bersikap biasa aja. Tidak terlihat seperti orang pacaran. Ami bisa, kan?" Tanya Akbar dengan serius.


"Iya, Kak." Ami mengangguk. Senyum samar terbit di bibirnya dengan wajah yang merona. Tidak menyangka jika malam ini resmi jadian setelah sedikit drama yang menyesakkan dada dan menyakiti hati. Sakit dan kecewa itu telah menguap berganti bahagia yang melambung. Lift pun terbuka di lantai lima.


"Cutie, jasnya." Akbar menahan Ami yang sudah membuka pintu kamar.


"Eh iya, lupa. Maaf." Ami cengengesan. Terlanjur nyaman dan hangat dengan jas yang melekat di punggungnya. Serasa dipeluk.


"Nanti ya, Cutie. Belum waktunya just be mine." Akbar mengulas senyum sambil mengedipkan sebelah mata.


"Ish....Panda!" Ami kehilangan kata karena merasa oleng tertembak oleh kedipan mata Panda. Bergegas masuk dan menutup pintu. Di balik pintu, ia bersandar sambil mengusap-usap dada serta menarik nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2