Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
57. Reaksi Mama Mila


__ADS_3

"Hari ini destinasinya kemana, Cutie?" Akbar menelepon Ami di pagi hari ditemani secangkir kopi. Masih berada di Kuala Lumpur bersama Leo. Hari minggu besok barulah kembali ke Jakarta.


"Hari ini acara bebas main ke Malrboro. Beli oleh-oleh, jalan-jalan, sorenya pulang deh." Sahut Ami yang masih berada di hotel bersiap check out. Dua hari kemarin sudah mengunjungi tempat-tempat bersejarah mulai dari museum hingga ke candi Prambanan dan Borobudur.


"Uangnya kurang gak buat beli oleh-olehnya?"


"Cukup, Kak. Lebih malah. Dapat transferan juga dari Teh Puput. Oh ya, Panda mau oleh-oleh juga?"


Akbar mengulum senyum. Kadang-kadang Ami memanggilnya Panda. Berawal dari joke Panda, pandangin wajahmu tiap hari jadilah kado sweet seventeen sebuah boneka dan menjadi panggilan sayang. Ia sih oke-oke aja asal itu dari Ami. Meski wajah brewok tak selucu boneka Panda.


"Aku mau oleh-oleh pisang."


"Hais, Kak. Pisang mah di Jakarta juga banyak. Oleh-oleh ciri khas dong."


"Gak mau, pengen pisang. Pilih aku yang kau sayang."


Leo yang duduk satu meja. langsung memasang ekspresi ingin muntah. Ia buru-buru beranjak berpindah duduk dengan membawa cangkir kopinya. Tak ingin telinganya terkontaminasi lagi kebucinan Akbar.


"Ish - ish....senjata makan nona ini sih. Argh, aku lengah, satu kosong."


Akbar tertawa lepas. Padahal tidak dihafalkan, tapi setiap kata gombalan Ami nempel dengan sendirinya di memori.


"Aku gak minta oleh-oleh makanan or barang. Pengen oleh-oleh orangnya aja. Kangen Cutie."


"Ish...pagi-pagi jadi kenyang sarapan gombal. Bikin PBB aja, Kak."


Akbar tertawa lagi. "Artinya apa tuh?"


"Perasaan Berbung Bunga."


Akbar terkekeh. Lima belas menit komunikasi yang cukup menjadi mood booster untuk mengawali kunjungan kerja terakhir di kantor yang baru diresmikan. Mulai bulan ini, aplikasi pulangpergi resmi melebarkan sayap di Malaysia. Siap melayani tiket pesawat dan hotel secara daring dengan fokus perjalanan domestik di negeri jiran.

__ADS_1


Hari ini agenda kerjanya ditutup dengan acara makan malam bersama direktur dan manajer semua divisi. Akbar ingin membangun suasana kekeluargaan. Demi memotivasi para petinggi tersebut agar bekerja penuh loyalitas.


Minggu jam sembilan pagi, pesawat mendarat di tanah air. Sudah ada sopir yang menjemput di bandara internasional Soekarno Hatta. Langsung meluncur pulang ke rumah Akbar lebih dulu. Kemudian sopir pun mengantar Leo ke rumahnya.


Akbar menuju kamarnya setelah ART mengatakan orang tuanya ada di belakang. Usai menyimpan koper dan cuci muka, ia menghampiri Mama Mila dan Papa Darwis yang berada di teras belakang. Mama Mila dengan hobinya merawat anggrek. Papa Darwis dengan hobinya membaca buku, asyik membaca di kursi santai. Begitu cara mereka menikmati akhir pekan jika tidak ada acara keluar.


"Bar, cape gak?" Mama Mila memperhatikan raut wajah Akbar yang baru saja duduk usai mencium tangannya.


"Biarin Akbar istirahat dulu Ma." Tegur Papa Darwis usai bertanya kabar perusahaan di Kuala Lumpur. Seolah bisa menebak apa yang ingin dibahas Mama Mila. Itu karena sebelumnya, sang istri sudah bercerita tentang obrolan dengan Gita.


"Iya makanya Mama nanya dulu Akbar. Kalau cape ya istirahat dulu. Kalau gak cape ya kita ngobrol-ngobrol santai." Mama Mila beralasan. Yang sebenarnya hati sudah tidak sabar ingin membahas hal yang baginya sangat penting.


"Gak cape kok. Mama mau nanya apa?"


Mama Mila menyimpan semprotan hama dengan wajah semringah. Urung melanjutkan kegiatannya. Memilih bergabung duduk di kursi santai bersama suami dan anaknya.


"Ada kabar yang sampai ke telinga Mama kalau kamu itu sebenarnya sudah punya pacar. Terbuka dong sama Mama. Siapa dia? Orang mana? Masa orang luar sudah tahu, Mama dan Papa enggak. Kenapa? Takut gak direstui? Tenang aja. Mama dan Papa gak seperti itu. Jika Akbar merasa cocok, kita sebagai orang tua akan support. Ayo jawab Bar! Mama dari kemarin udah gregetan nunggu ketemu kamu."


Papa Darwis terkikik melihat Akbar beranjak dulu ke dalam. Mata mengarah ke buku, namun telinga awas mendengar.


"Papa ngetawain Mama?!" Mama Mila memicingkan mata dengan intonasi galak.


Papa Darwis mendongak. "Bukan lah. Ini ada plot kocak. Memangnya barusan Mama ngelawak?"


"Bohong ya. Mana mungkin buku sejarah ada humornya. Mama barusan merepet kepanjangan sampai empat pertanyaan, Pa. Emang Papa gak dengar?"


"Papa fokus baca buku, Ma. Tapi sekarang mau nyimak." Papa Darwis menutup bukunya begitu melihat Akbar datang lagi membawa soft drink. Cari aman beralasan dari pada mendapat ceramah karena sudah mentertawakan sang istri.


"Mam, iya Akbar udah punya pacar. Waktu wedding Iko juga hadir." Ucap Akbar dengan ekspresi santai.


"Ya Salam, Akbar. Hadir tapi gak dikenalin? TERLALU."

__ADS_1


"Buat apa dikenalin. Emang Mama udah kenal dan cipika cipiki. Kita juga foto bersama bareng pengantin. Di album ada kan, Ma."


"Bar, jangan main teka teki sama Mama! Siapa sih? Album foto dan video udah dibawa Iko ke Singapore." Mama Mila mulai gregetan. Sementara Papa Darwis santai menyimak.


"Akbar pegang dulu kata-kata Mama tadi ya! Bahwa sebagai orang tua akan support jika Akbar merasa cocok."


"Iya-iya. Buruan dong bilang!"


"Tapi Mama janji gak boleh syok apalagi pingsan."


"Ya Salam, Akbar! Kesabaran Mama udah low level nunggu jawaban. Jangan ngerjain orang tua!" Mama Mila menggeram sambil mengelus-ngelus dada.


Akbar terkekeh. Berpindah duduk ke samping Mama Mila dan mengulurkan ponselnya. "Mama liat sendiri calon istri Akbar nih di album PBB." Ia terinspirasi ucapan Ami kemarin. Sehingga foto kebersamaan dengan Ami saat opening Cafe Dapoer Ibu sampai dengan foto hasil jepretan Leo, dibuat album khusus dengan nama "PBB". Sesuai dengan faktanya setiap kali menatap foto kebersamaan itu, rasa hati selalu berbunga-bunga.


Mama Mila mengikuti perintah Akbar. Menyentuh album "PBB". Deretan foto mampu membuatnya menautkan kedua alis dan mengerutkan kening. "Bar, ini sih foto sama Ami. Serius dong, nak. Mama udah kepo level akut. Mana foto pacar alias calon istrimu itu?"


Akbar mengulum senyum lalu menghela nafas sebelum berucap. "Yang Mama bilang cantik sih tapi masih kinyis, itulah pacar Akbar. Insyaa Allah bakal calon istri."


Mama Mila melebarkan mata dengan mulut menganga. Menggelengkan kepala tak percaya. Kembali menunduk melihat foto-foto yang kesemuanya bagus dan serasi. Ah, ia baru sadar jika berbagai angle itu begitu dapat chemistry nya.


"Pa...Papa dengar barusan Akbar bilang apa? Takutnya Mama halusinasi." Mama Mila menatap Papa Darwis yang sama sekali tidak terkejut. Hanya terlihat sedang menatap Akbar dengan satu alis terangkat.


"Dengar dong, Ma. Mama kalau mau pingsan kasih aba-aba dulu ya. Biar Papa bisa nangkap."


"PAPA!!!"


Akbar menahan tawa melihat mamanya beranjak dan menarik kumis Papa Darwis.


...****************...


Ingin panjang...apa daya meriweuh dengan kegiatan RL 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2