Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
91. Gempar


__ADS_3

Lantai dua gerai ayam geprek Mr Duck sudah terisi oleh Ami dan kawan-kawan. Suasana berisik tak bisa dikendalikan. Berasal dari masing-masing meja yang mempunyai topik candaan berbeda-beda. Apalagi 28 porsi paket ayam geprek baru mulai diproses. Maka area lantai dua itu menjadi area bebas berekspresi semua anak-anak SMA kelas 12 dengan outfit aneka gaya.


Jreng. Suara gitar yang dipetik Vino sebagai intro, mampu membuat suasana berisik menjadi senyap. Ami yang duduk satu meja dengan Padma dan Kia, pun tak kalah antusias memperhatikan Vino dan Marga yang biasa menjadi teman konsernya di kelas. Menunggu penampilan seperti apa yang akan mereka persembahkan.


"Guys, please your attantion!" Marga mulai opening dengan berdiri di samping Vino yang memegang gitar. "Hari ini teman kita Rahmi Ramadhania bertambah tua. Kita do'akan ya. Moga berkah usia, panjang umur, semua mimpinya terwujud, selalu menjadi kebanggaan keluarganya. Pokoknya doa terbaik buat Ami Selimut."


"AAMIIN." Ucap semuanya kompak satu suara.


"Happy birthday, Ami. Happy birthday, Ami 🎶" Suara nyanyian itu berasal dari arah tangga. Ternyata Sonya dan Ifa yang bernyanyi dan Almond memangku kue berukuran besar dengan lilin angka 18. Sontak nyanyian itu dilanjutkan atau diikuti oleh semua orang. "Happy birthday, happy birthday, happy birthday Ami."


Sorak sorai tepuk tangan terdengar heboh dan dilanjutkan bernyanyi, "Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga....sekarang juga." 🎶


"Hais, gede banget kuenya. Mana aku yang harus bayar lagi." Ami yang ditarik Sonya untuk berdiri, dengan malas mendekati Almond yang memegang kue. Memang biasanya setelah tiup lilin, Ifa selaku bendahara kelas akan menyerahkan nota pembelian.


Ifa tertawa lepas. "Kali ini nggak, Mi. Ciyus kita patungan beli. Aku dimarahin Almond nih kalo ujung-ujungnya ngasih struk."


"Ifa serius, Mi. Ayo ah tiup lilinnya. Make a wish dulu ya!" Almond yang tidak sabar menunggu momen Ami meniup lilin. Sudah ada temannya yang disuruh mengabadikan dengan kamera ponsel.


"Make a wish nya buat kesuksesan sabtu depan aja ah. Bismillah, Ya Allah semoga Kak Akbar bisa dapetin restu Ibu." Ami membuka mata usai berdoa dalam hati. Barulah meniup lilin dan mendapat tepuk tangan teman-temannya.


"Kia dan Yuma, ini kuenya tolong dimutilasi ya. Nanti bagiin abis makan." Ami memberi perintah begitu black forest bentuk persegi panjang yang dipenuhi buah ceri merah disimpan Almond di meja.


"Oke, Boss." Yuma mewakili menjawab. Penuh semangat mendekati meja Ami. Kia mulai membuka pisau plastik pemotong kue yang masih tersegel.


Tiga orang pramusaji datang membawa nampan besar. Mulai menyajikan paket ayam geprek di meja-meja. Tingkah teman-temannya Ami beraneka macam. Ada yang langsung selfie dengan memegang piring makan. Ada yang memfoto semua menu yang ada di meja sambil menunggu start makan. Karena Marga mengultimatum belum boleh makan sebelum semuanya dapat jatah.


"Tahaaan. Doa dulu woy. Biar apa yang kita makan tuh bukan hanya bikin kenyang perut. Tapi juga berkah." Ami mengingatkan usai semua kebagian jatah. "Silakan ustad Budi pimpin doa. Waktu dan tempat di silakan." Ia menunjuk orang yang duduk di meja tengah. Yang namanya Budi kitu sering menjadi muadzin di masjid sekolah karena suaranya bagus.


"Bud, baca doanya pakai lagam adzan Mekah ya!" Celetuk Ozi yang membuat semuanya tertawa. Lain halnya Budi yang sudah berdiri, merespon dengan nyengir.


Hening sesaat. Doa sebelum makan pun dipanjatkan Budi dengan khidmat. Selesai berdoa, riuh lagi seperti Taman Kanak Kanak.


***


Mobil sedan hitam mulai memasuki parkiran Mr Duck. Pengemudi di dalamnya tak lantas keluar. Menatap buket bunga mawar segar dan buket coklat yang tersimpan di jok sampingnya. Ia harus menunggu 1 jam di toko floris saat memesan buket mawar merah. Ditambah ia harus belanja coklat chunky bar berjumlah 18 batang dan sekalian dibuat buket di toko floris itu. Demi apa? Demi mentaati perintah boss besar yang ada di kantor pusat Jakarta.


"Tom...Tom. Lagi-lagi lo jadi kurir. Jatuh wibawa lo sebagai GM." Tommy meratapi nasib sambil menatap pantulan wajah nelangsanya di spion tengah. Meski ia berkantor di hotel cabang Tasik, akan tetapi jabatannya tertinggi yang membawahi empat BM Seruni di wilayah Yogyakarta, Tangerang, Bandung, termasuk Tasik. Ia yang sebelumnya bertugas di Yogyakarta, harus menerima dimutasi ke Tasik yang status hotelnya sebagai bungsu. Karena baru menginjak tahun ketiga sejak diresmikan.


"Ya Tuhan, tolong. Penampilan udah eksekutif gini, malah jadi kang paket. Ini cewek siapanya Pak Akbar sih? Dulu ngirim kadonya ke sekolah. Sekarang kesini. Pacar? Gak mungkin kayaknya. Gita udah mengclaim dirinya pacar Pak Akbar. Sampe galak sama pegawai yang ketahuan caper sama si boss." Tommy masih menggerutu sambil menduga-duga dalam hati usai keluar dari mobil. Usai menguatkan hati untuk tabah, barulah melangkah menuju pintu masuk gerai ayam geprek.


"Yang ulang tahun ada di lantai dua, Pak. Langsung saja ke atas." Sahut kasir yang baru saja ditanya oleh Tommy.

__ADS_1


Tommy mengucapkan terima kasih dan bergegas melangkah menuju tangga. Suara petikan gitar dan nyanyian riang semakin jelas terdengar seiring langkah sepatu menapaki tangga hingga ke atas. Tangan kanan dan kirinya memegang buket. Ia tak peduli pandangan orang-orang di lantai satu. Yang jelas dia bukanlah sugar daddy. Akan setia pada satu istri yang sudah memberinya dua orang putra.


"Selamat siang. Assalamu'alaikum." Tommy menyapa dengan suara lantang di tengah nyaringnya nyanyian sebagian orang. Ada pula yang sambil berjoged. Hampir semuanya menatap kehadirannya dan membuat hiburan itu berhenti sejenak.


"Maaf ya hiburannya terganggu dulu. Saya mau ketemu dengan yang berulang tahun bernama Rahmi Ramadhania."


Ami maju mendekat diiringi tatapan teman-temannya yang kepo. Siapakah pria perlente yang membawa dua buket itu.


Ami ingat-ingat lupa dengan wajah di hadapannya itu. Namun begitu membaca name tag yang tersemat di jas, barulah ia ingat. Jadinya ia berubah terkesiap dan deg degan karena GM Seruni itu meminta berdiri di sampingnya. Pasti disuruh Akbar, tebaknya.


"Teruntuk Rahmi Ramadhania. Saya mendapat amanah untuk menyerahkan hadiah ini. Selamat ulang tahun dari CEO Pulangpergi, Akbar Pahlevi Bachtiar." Ucap Tommy yang sudah di briefing sebelumnya.


Ami kembali terkesiap karena GM Seruni menyebutkan nama pengirimnya. Ia menerima uluran dua buket cantik itu dengan rasa campur aduk. Tak menyangka karena dua hal. Mendapat surprise hadiah dan juga keterbukaan nama pengirim.


"Uhuy so sweet, Ami. Dapat surprise dari Ayang. Yeay. Aahhh, Padma jadi baper." Teriak Padma sambil bertepuk tangan.


Teriakan Padma entah spontan entah sengaja, berhasil membuat seisi lantai dua itu gempar. Terkejut bukan main. Termasuk GM Tommy.


"Padma, cius Coach Akbar pacarnya Ami?" Sonya terang-terangan meminta klarifikasi. Ia seolah terkena serangan jantung karena nafasnya naik turun dengan cepat akibat kepo akut dan semaput.


"Iya, dong. Jadi mon maaf ya buat cowok yang ada hati sama Ami sebaiknya mundur teratur. Ami udah ditembak CEO Pulangpergi sekaligus owner hotel Seruni." Padma senyam-senyum dengan wajah tanpa dosa. Tak peduli tatapan tajam Ami mengarah padanya.


"Si Munaroh kesurupan apa? Kenapa tiba-tiba publish sih," ucap batin Ami yang tak mengira di akhir acara makan-makan itu mendapat kejutan bertubi-tubi.


"Jadi anak SMA ini pacar si boss? Wow, hot news ini. Tapi kalau gak pake seragam kelihatan dewasa sih. An jirr, si boss. Seleranya yang krenyes-krenyes ternyata." Sepanjang menuruni tangga hingga keluar dari gerai ayam geprek, Tommy bermonolog dalam hati. Tak lagi bete seperti di awal datang tadi. Berubah mood menjadi riang dan tertawa sendiri di dalam mobil. Kini tahu jawaban dari rasa herannya dengan kelakuan si boss, si idola semua karyawati perusahaan.


Sementara di lantai atas yang memang sudah waktunya bubar setelah dua jam booking tempat, kehebohan masih terjadi. Hampir semuanya menunjukkan ekspresi kagetnya di hadapan Ami.


"Amiiiii. Beneran gak nyangka ih. Terpotek hati adek ah. Ternyata Coach Akbar pacarmu. Hwuaaa." Sonya membuat drama dengan pura-pura menangis.


"Jadi atut euy kalo ngegodain Ami. Atut ayangnya marah." Giliran Marga meledek Ami yang wajahnya kini memerah.


"Ciee, yang pipinya merah. Fix ini mah beneran Ami pacarnya Coach Akbar." Ifa mencubit cubit lengan Ami dengan gemas.


"Woy, pantesan waktu di nikahan Ibunya Ami, kita-kita gak boleh selfie. Hanya boleh fotbar. Ternyata oh ternyata alasan pacarnya bakal cemburu karena ini dia nih pacarnya." Yuma tak kalah menggoda Ami. Menjawil pipi Ami dengan gemas.


"Ya bener-bener. Aku baru nyadar." Sonya dan Ifa satu suara.


"Ibuuuu tolong! Aku kena KDRT." Ami tertawa sambil menangkis tangan-tangan Sonya and the geng yang ingin mencubit dan menggelitik saking gemas padanya.


Hanya Kia yang berekspresi tenang meski dan hanya senyum-senyum meskipun ikut terkaget.

__ADS_1


"Mi, aku mundur dah. Sainganku berat euy." Ozi dengan sengaja bertekuk lutut di hadapan Ami dengan mengangkat kedua tangan ke atas.


"Apa-apaan sih. Dah sana, pulang-pulang!"Ami mendekap buket dan bersiap untuk meninggalkan lantai dua menyisakan jajaran meja tak lagi beraturan. Kue ultah pun sudah habis karena dimakan bersama.


"Kak Almond, ayo pulang. Apa masih betah disini?" Padma melihat Almond masih duduk sambil memainkan ponsel. Sementara yang lainnya sudah menuruni tangga.


"Duluan aja. Aku lagi tanggung balas chat." Almond menyahut tanpa menoleh.


"Mon, duluan ya!" Ami melambaikan tangan sebelum berlalu. Satu buket coklat dipegang oleh Padma karena ia repot membawa buket bunga yang ukurannya besar.


Padma sengaja berjalan paling akhir. Sebentar menghampiri Almond yang masih menunduk menekuri smartphone apel somplak.


"Kak Almond, Padma ngasih saran ya. Bertemanlah dengan tulus. Jangan pakai hati. Bye." Padma tersenyum manis lalu memutar badan dan menyusul langkah Ami.


Di parkiran, semuanya membubarkan diri dengan kendaraan masing-masing. Ami dan Padma pun langsung masuk ke dalam mobil. Dan tancap gas meninggalkan parkiran yang makin ramai di waktu menjelang sore itu.


"Munaroh, jelasin! Kenapa tadi latah publikasi seperti Pak Tommy?" Ami menoleh sekilas kepada Padma dengan tatapan serius. Memutuskan menepikan mobilnya saat melihat bahu jalan yang lebar dan sepi.


"Padma dapat surat perintah dari Kak Akbar, Marimar." Padma menunjukkan isi chatnya. "Padma support ide Kak Akbar biar cowok-cowok yang naksir Ami pada mundur teratur."


"Nanti di skul bakal viral dong aku. Ah jadi malu." Ami menangkup wajahnya yang memerah. Terdengar ponselnya berdering nyaring. Nama 'Panda' tampil di layar.


"Hm, pasti dari Panda, kan?" Tebak Padma sambil tersenyum mesem. Senyum malu Ami sudah cukup jadi jawabannya. "Apa perlu Padma keluar dulu biar gak nguping?"


"Gak usah. Sstt, duduk manis aja." Ami mulai menggeser ikon jawab dan mengucap salam.


"Gimana udah selesai acaranya? Happy gak, Cutie?" Tanya Akbar usai menjawab salam Ami.


"Udah beres. Ini otewe pulang. Rasanya campur aduk, Kak. Ish, Kak Akbar ngasih surprise bikin jantungku kayak mau copot." Adu Ami diiringi menghembuskan nafas panjang.


Terdengar suara Akbar terkekeh. "It's time to show up, Cutie. Biar semua orang tau kalau Cutie udah ada yang punya. Gak ada yang berani lagi coba-coba deketin Ami Selimut. Ami gak marah kan dikasih surprise begitu?"


"Nggak, Kak. Cuma kayaknya nanti senin di skul bakal beda deh. Bakalan digodain terus deh. Aku kira bakalan publish nanti setelah ketemu Ibu."


"Jaraknya kan seminggu. Tenang aja, udah aku perhitungkan, Cutie. Everything will be oke."


"Hm, aku ngikut aja." Ucap Ami pasrah.


"Udah dulu ya, sayang. Aku masih di Bogor, pulangnya besok. Hati-hati nyetirnya ya. InsyaAllah kita ketemu next saturday."


"Iya, Kak. ATK."

__ADS_1


"Jangan lagi disingkat dong, sayang. Aku pengen denger jelas. Repeat!"


"Malu ah. Ada Munaroh." Ami melirik Padma yang nampak menahan cekikikan dengan membekap mulut.


__ADS_2