Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
78. Apotek Tutup


__ADS_3

Ami dan Ibu Sekar masuk ke dalam mobil Pak Bagja yang baru saja datang menjemput. Sang purnawirawan yang masih gagah di usia senja itu langsung tancap gas membelah jalan raya menuju arah Tasikmalaya.


"Diantar calon Papa ngambil raport ke skul 🤭." Sebuah caption mengiringi foto yang ia potret diam-diam dari jok belakang dimana ia duduk seorang diri. Dikirimkan ke grup keluarga dan juga ke Ayang Akbar.


Ami menyimpan lagi ponselnya ke dalam tas. Duduk manis sambil menikmati pemandangan dari jendela samping kanan. Sesekali nimbrung obrolan santai orang tua di depan yang meminta pendapatnya. Hingga mobil pun tiba di parkiran luar sekolah. Tidak bisa masuk karena parkiran di dalam sudah penuh.


Sesekali langkah terhenti karena ada orang tua murid yang mengenal sosok Pak Bagja. Jadilah bertegur sapa dulu. Dan Ami hanya tersenyum mesem saat sang purnawirawan dengan bangga berkata kepada orang-orang yang menyapanya, "Mengantar calon anak istri ngambil raport."


Ami bergabung dengan sebagian teman-teman yang juga datang ke sekolah. Duduk berjajar di bangku panjang yang tersedia di teras kelas. Sementara Ibu Sekar dan Pak Bagja masuk ke dalam kelas yang isinya semua wali murid IPA 3.


"Kia, siapa yang kesini?" Ami memperhatikan Kia yang baru membuka ponsel.


"Mama. Tadinya kalau Bapak yang kesini, aku gak akan ikut. Karena jadinya sama Mama, jadi aku anter naik motor. Mi, buka hape. Aku kirim foto."


Ami hanya memakai tas selempang casual. Merogoh ponsel yang disimpan di resleting belakang. Bibirnya pun tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Keren, Kia. Kapan dipasangnya?"


"Baru kemarin. Yang beli nasgor pada muji wajah baru yang fresh. Ada yang nanya juga pesan spanduknya dimana? Aku bilang bikinan mahasiswa arsitek." Kia tersenyum malu di saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Udah dikirim ke A Zaky belum?"


"Belum. Sama Ami aja ya."


"Aduh maaf ya, Kia. Aku udah pensiun jadi kurir. Lagian kalau kamu langsung yang kirim, A Zaky bakalan senang karena merasa hasil karyanya diterima."


"Iya deh. Kirim sekarang gitu, Mi?"


"Tahun depan aja." Ami memutar bola mata diiringi geleng-geleng kepala.


Kia terkekeh dan lalu menoyor bahu Ami. Segera mengirim ulang foto yang sama kepada Zaky diiringi caption, "A Zaky, makasih. Spanduknya udah dipasang kemarin. Realnya semakin bagus."


Lagi-lagi hanya ceklis satu. Mungkin Zaky selalu mematikan ponsel di saat jam belajar. Kia pun berusaha untuk tidak sering check and recheck laporan pesan. Ia tak ingin terulang kecewa ketika kenyataan balasan tak sesuai ekspektasi.


"Kalau ceklis satu berarti A Zaky lagi ada kelas. Dia emang sangat fokus dan tekun ngejar target lulus lebih cepat. Harap maklum kalau balasnya delay."


Kia mengangguk. Ucapan Ami sekaligus menjawab rasa penasarannya. Dalam hati merasa kagum hingga tanpa sadar tersenyum simpul.


"Rahmi Ramadhania. Tuh dipanggil Bu Elin." Teriak Vino yang berdiri di samping pintu kelas yang terbuka. Ia dan dua rekannya memang sengaja ingin mendengarkan prakata wali kelas yang siap membagikan raport.


Ami sontak berdiri dan masuk ke dalam kelas dengan pikiran diselimuti tanya. Ada apa? Ia pun berdiri di samping meja guru. Menunggu Bu Elin akan memberi pengumuman.


Dan kini terjawab. Saat wali kelas merangkum bahunya di depan seluruh wali murid sambil berucap, "Selamat untuk Rahmi Ramadhania. Kembali meraih ranking satu sekaligus juara umum untuk seluruh kelas IPA karena total nilainya paling tinggi."

__ADS_1


"Alhamdulilah." Ucap Ami yang diiringi tersenyum dan mengangguk saat seluruh hadirin bertepuk tangan. Ia melihat senyum bahagia di wajahnya Ibu juga Pak Bagja.


Ibu Sekar menjadi orang pertama yang maju untuk membubuhkan tanda tangan dan menerima raport Ami. Paling pertama meninggalkan kelas. Disusul pemanggilan wali murid bernama Zaskia Zettira.


"Ami congrats. Kamu selalu gak bisa disalip." Kia yang kembali bertahan di ranking dua, berpelukan dengan Ami. Ia tulus mengakui kehebatan teman sebangkunya itu.


"Padahal aku gak ngejar target ranking satu. Enjoy belajar. Dan ranking menjadi bukti dari ketekunan kita belajar." Ami menyampaikan lagi motivasi Akbar yang sudah merubah mindset nya dari yang awalnya ambisi ingin selalu juara menjadi serius tapi santai dalam belajar dengan metode mind map.


"True. Aku juga makasih udah dikasih rahasia cara belajarmu." Kia mengacungkan jempolnya. Ia memperhatikan mamanya dan Ibu Sekar yang sedang berbincang, lalu berpelukan untuk berpisah karena Ami akan pulang lebih dulu.


***


"Harus dirayain makan siang spesial nih. Buat Ami sang juara. Ami tunjuk aja pengen makan dimana setelah kita belanja di toko emas." Pak Bagja menatap sekilas penumpang di jok belakang dari spion tengah. Lalu melirik Ibu Sekar yang duduk di jok sampingnya.


"Yeay asyik dong. Aku pengen makan di hotel Seruni boleh, Pak?" Tanya Ami yang baru saja memotret raportnya dan dikirim ke grup keluarga. Untuk Akbar nanti saja sekalian video call.


"Siap laksanakan!" Sahut Pak Bagja yang mendapat respon tawa Ami dan Ibu Sekar.


Acara pilih-pilih perhiasan cukup menyita waktu karena banyaknya model. Juga total 63 gram itu dijadikan satu set perhiasan. Ami dengan semangat membantu memilihkan untuk Ibu. Dan tanpa diduga Pak Bagja pun menyuruh memilih perhiasan senilai 5 gram sebagai hadiah ranking satu. Ia menjatuhkan pilihan pada sebuah gelang cantik.


Selesai sudah acara memilih perhiasan. Kini sudah beralih tempat, duduk manis di restoran hotel Seruni usai menunaikan dulu sholat Duhur di mushola hotel. Ami ingin sekali mengirimkan foto posisinya sekarang kepada Akbar. Namun dipikir ulang, bisa jadi makan akan menjadi gratis karena perintah sakti sang owner kepada manajemen. Maka diputuskan tidak mengabari.


"Mau lanjut kemana lagi Bu, Ami? Bapak hari ini lagi santai, bisa anter kalau mau lanjut jalan-jalan." Pak Bagja menyusut bibir usai meneguk minumannya. Beralih menatap Ibu Sekar dan Ami silih berganti.


"Langsung pulang aja, Pak. Aku ada janji vc an sama temen." Ami mengintip jam tangan hadiah dari Akbar dulu. Sudah jam setengah dua. Dan sudah tak sabar ingin video call untuk bercerita banyak hal dengan Panda nya itu.


"Ibu juga ada jadwal pengajian abis ashar." Ibu Sekar menyetujui untuk pulang.


"Baiklah. Apa kita pulang sekarang?" Pertanyaan Pak Bagja itu dijawab anggukkan Ami dan Ibu Sekar.


Sampai di rumah, Pak Bagja hanya duduk sebentar. Mengerti, mungkin Ibu Sekar dan Ami ingin istirahat. Ia sudah cukup puas menghabiskan waktu setengah hari ini dengan menemani calon istri dan calon anak sambung. Mungkin ini akan menjadi kunjungan terakhir sebelum nanti datang lagi di hari pernikahan. Dan akan tinggal satu atap.


***


"Ayangnya siapa sih?" Tanya Akbar diiringi senyum manis. Ia mendapat kiriman foto raport sesaat tadi sebelum sesi video call. Kini saling bertatap muka dalam layar dengan sama-sama memasang wajah semringah.


"Ayangnya Panda dong." Jawab Ami diiringi memeletkan lidah. Yang membuat Akbar tertawa. "Makasih ya Kak. Kak Akbar udah jadi Coach, jadi best friend, jadi kakak, jadi ayah. Multi title is you."


"Jadi calon imam gak disebut?" Akbar tersenyum mesem.


"Nah itu. Mau bilang calon imam di urutan satu tapi aku maluuuu." Ami menutup wajahnya dengan kelima jari tangan yang direnggangkan.

__ADS_1


Akbar terkekeh sekaligus gemas melihat gestur manja Ami. "Mana ada Ami pemalu. Adanya malu-maluin." Ia pun berubah tergelak melihat Ami mengerucutkan bibir.


"Kirain mau muji. Malah dihempaskan ke bumi. Kayak aku nih ngasih tebakan pujian. Apa bedanya Kak Akbar sama Kim Jong-un?"


"Hm, kalau Kim Jong-un presiden Korea Utara. Kalau aku calon imammu. Masuk kan, Cutie?" Akbar tersenyum lebar sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Salah. Bukan itu jawabannya."


"Apa dong?"


"Kalau King Jong-un komunis, kalau kamu kok manis. Eee aaa....."


Akbar tertawa renyah sampai menghempaskan punggung ke sandaran sofa. Tak perlu jauh-jauh liburan karena ada Ami yang menghibur. Semua kepenatan kerja tersapu dari kepala.


" Cutie, mau minta hadiah apa? Buat juara di hatiku, pengen apapun akan kukabulkan." Ucap Akbar usai berhenti tertawa.


Ami menggelengkan kepala. "Jangan lagi kasih-kasih hadiah, Kak. Aku gak bisa bebas pakainya soalnya nanti harus berbohong kalau ditanya Ibu. Udah cukup dapet uang jajan bulanan juga." Ia tersenyum mesem-mesem.


Akbar menghela nafas panjang. "Oke deh. Aku ngalah dulu. Padahal rencana pengen beliin mobil. Biar Cutie sekolah gak pakai motor."


"Ah apalagi mobil. Jangan-jangan dulu....🎶. Kak...mending fokusin dulu strategi minta restu bakal gimana."


"Tenang, sayang. Urutannya kan udah ada di mind map. Bismillah, setelah ultah Cutie yang ke 18, aku akan mulai action."


"Aduh, kenapa aku jadi deg-degan." Ami memeluk bantal sofa dengan erat.


"Normal. Tandanya masih hidup." Akbar tersenyum menyeringai.


"Idih, Panda. Jangan memasang ekspresi begitu ah. Jadi kayak apotek tutup deh."


"Aku gak ngerti." Akbar menautkan kedua alisnya.


"Gantengnya gak ada obat." Ami menaiki turunkan alisnya.


Wajah Akbar menghilang dari layar karena baru saja tubuhnya melorot. Membuat Ami tertawa cekikikan. Ingin tertawa lepas namun takut suaranya terdengar ke luar kamar. Meski tadi selepas Pak Bagja pulang, Ibu pun masuk kamar untuk beristirahat.


"Kak, jangan lama-lama atuh pingsannya. Ayo bangun!" Ami terkekeh-kekeh karena pemandangan di layar ponselnya hanya sandaran sofa warna abu dengan dinding tembok berwarna putih.


Komunikasi sambungan video itu masih berlangsung. Ada saja topik pembicaraan yang bisa dibahas berbumbu canda tawa. Hingga tak terasa sudah satu jam lamanya.


Ponsel masih terpasang di phone holder. Padahal tujuh menit yang lalu video call sudah berakhir. Ami sedang termenung memikirkan sesuatu. Besok adalah tanggal 29 Juni. Itu artinya tiga hari lagi waktunya Akbar ulang tahun. Ia sedang berpikir keras merencanakan sebuah kejutan. Tapi apa ya?

__ADS_1


__ADS_2