
Video call masih tersambung dengan Padma. Karena dengan mengobrol, mampu meredam ketegangan yang dirasakan Ami. Topik pembicaraan masih membahas dugaan kehebohan keluarga jika sudah mendengar kabar kedatangan Akbar. Hingga suara ketukan di pintu kamar terdengar. Membuat Ami dan Padma saling pandang dengan mata melebar.
"Padma, Bi Ela manggil. Waktunya menghadapi sidang perdana nih. Huft." Ami menarik nafas begitu ketukan diiringi panggilan kedua kali terdengar.
"Semangat, Nyonya Akbar. Kamu pasti bisa. Ihihihi." Padma sengaja selalu menanggapi ucapan Ami dengan santai dan bercanda. Agar bestinya itu tidak terbawa suasana tegang.
Ami memutar bola mata diiringi memeletkan lidah sebelum kemudian mematikan sambungan video. Bergegas membuka pintu.
"Ada apa, Bi Ela?"
"Neng Ami dipanggil Ibu dan Bapak ke ruang tamu. Harus sekarang katanya, Neng."
"Asiap, Bi. Bentar, aku mau pipis dulu" Ami membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Tiba-tiba saja mendadak ingin buang air kecil. Bergegas melangkah ke kamar mandi.
"Ami pasti bisa menjawab tenang. Ada ayang yang nemenin, oke. Semangat, Mi!" ujarnya berbicara pada pantulan dirinya saat melintas di depan cermin. Sejenak mengatur nafas lagi untuk meredam ketegangan. Usai kepercayaan diri terbangun, barulah keluar meninggalkan kamarnya dan menuruni tangga.
Ami dan Akbar bertemu pandang. Sama-sama tersenyum simpul. Kerjapan mata satu kali Pandanya itu seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Duduk di sini, Mi!" Pak Bagja menunjuk single sofa agar jangkauan pandangannya bisa leluasa menatap silih berganti antara Akbar dan Ami.
Ami menurut duduk. Ia balas menatap Ibu Sekar yang nampak resah, dibalas dengan senyum menyeringai.
"Ami, apa benar ini tamu yang Ami bilang kemarin?" Jika pada Akbar, Pak Bagja berkata tegas dan menatap tajam. Pada Ami, ia berkata lembut dan menatap hangat layaknya orang tua yang akan mulai menasihati anaknya.
"Iya, Pa. Tamu yang aku maksud adalah Kak Akbar. Kenapa aku kemarin gak sebut nama? Karena agar aku tidak dua kali menjawab pertanyaan Papa dan Ibu. Biar sekarang aja aku menjawab interogasinya Papa dan Ibu." Ami cengengesan. Ia akan tetap berusaha bersikap tenang dan tidak gugup.
Ibu Sekar menatap Ami diiringi helaan nafas panjang. Meski belum bertanya pada anak bungsunya itu, ucapan Ami sudah menyiratkan adanya hubungan khusus dengan Akbar. Bagaimana ini? Ia mulai berpikir. Karena tak sesederhana itu jika harus menolak. Masalahnya Akbar adalah keponakannya Krisna, besannya. Adik sepupu dari Rama, menantunya. Ada hubungan keluarga yang harus dijaga agar tak berujung canggung.
"Ami, ini Mas Akbar bilang katanya lagi mencari calon istri. Dan yang ingin dilamarnya adalah Ami. Apa Ami udah tau?" Tanya Ibu Sekar ingin memastikan dugaannya.
"Iya, Bu. Kak Akbar udah bilang sebelumnya sama aku. Bu, kasih restu ya Bu ya!" Ami menatap Ibu dengan senyum malu sekaligus sorot permohonan.
__ADS_1
"Pa!" Ibu Sekar semakin syok mendengar ucapan Ami. Ia sampai mencengkram kuat lengan Pak Bagja. Saling tatap dengan sang suami karena terkesima ucapan santai Ami.
"Sebentar dulu! Papa mau tanya Ami. Sejak kapan Ami dan Akbar punya hubungan spesial?" Pak Bagja tetap dengan gestur tenangnya. Berbanding terbalik dengan Ibu Sekar yang nampak resah.
"Bulan ini pas setaun, Pak. Tepatnya nanti pas wedding anniv Teh Aul. Itu tanggal jadian kami." Ami menjawab apa adanya.
"Boleh Akbar menambahkan, Pak?"
Pak Bagja mengangguk.
"Meski hitungan satu tahun, tapi kami hanya bertemu jika ada acara keluarga. Selebihnya, kita LDR- an." Sahut Akbar yang merasa penting menjelaskan hal ini. Agar tidak salah paham.
"Sudah satu tahun. Simple nya, kamu ngajak Ami backstreet. Dimana keberanian kamu sebagai laki-laki sejati?"
"Emang aku yang minta rahasiain dulu, Pa. Karna...."
Pak Bagja mengangkat tangannya. Melarang Ami melanjutkan ucapan. "Ami jangan jawab ya. Papa sedang bertanya pada Akbar."
"Bapak benar kalau selama setahun ini kami backstreet. Itu karena ada alasannya. Pertama, Ami masih 17 tahun. Masih lama menunggu waktu lulus sekolah karena Akbar ingin mengajak Ami menikah selesai lulus SMA. Dan tentunya Ami tetap harus kuliah. Akbar yang akan bertanggung jawab membiayai kuliah Ami. Akbar gak akan menghalangi cita-cita Ami."
Pak Bagja dan Ibu Sekar fokus menatap dan mendengarkan Akbar selama berbicara. Lain halnya dengan Ami yang mendengarkan sambil menundukkan kepala dan memainkan jemari.
"Kedua, kalau Akbar setahun yang lalu itu datang seperti ini, kemungkinan ditolaknya sangat besar. Karena kemungkinan keluarga Ami akan menjadi was-was mengetahui Ami pacaran dengan pria dewasa seperti Akbar."
"Ketiga, Ami yang meminta hubungan kami ini dirahasiakan dulu. Itu karena peraturan di keluarganya yang melarang pacaran saat SMA."
"Keempat, selama setahun ini ingin menjadi ajang pembuktian jika hubungan kami ini tidak mengganggu sekolah Ami. Tidak menurunkan prestasi Ami. Justru Akbar akan merasa gagal sebagai laki-laki sejati jika prestasi Ami menjadi anjlok karena pacaran. Dan perlu Bapak dan Ibu ketahui jika pacaran kami sehat. Akbar sangat menjaga Ami." Pungkas Akbar yang duduk tegak dan menatap lawan bicara dengan tenang. Sejenak suasana pun menjadi hening.
"Bu, Pa, aku boleh bicara?" Ami meminta izin karena takut dilarang lagi. Ternyata Papa Bagja dan Ibu Sekar kompak mengangguk.
"Ibu tahu kan, selama dua semester kelas 11 ranking aku tetap kesatu tapi nilainya naik. Malah semester dua jadi juara umum. Aku bisa seperti itu karena ada coach yang membimbing dan memotivasi. Coach itu namanya Kak Akbar. Oleh Kak Akbar, aku diajarin metode belajar mind map. Belajar yang terorganisir, tepat guna, dan tidak ngoyo. Tapi hasilnya nomer uno."
__ADS_1
"Terus aku juga berani ambil job MC karena ada motivator yang membangun self confidence dan mengajari public speaking. Motivator itu Kak Akbar."
"Ibu....aku cinta sama Kak Akbar. Aku siap mental buat nikah muda. Aku tetap akan mendaftar masuk UI sesuai cita-cita aku. Nanti mau ikut seleksi jalur prestasi." Ami tak kalah panjang lebar memberi penjelasan. Demi membantu usaha Akbar mendapatkan restu.
Ibu Sekar menghela nafas panjang. Ini adalah pertemuan dan pembahasan yang tidak pernah ada dalam ekspektasinya. Ia meneguk tehnya untuk menyegarkan tenggorokan yang mendadak kering. Ami, anak bungsunya yang baginya masih dianggap anak-anak, bicara begitu lugas dan percaya diri.
"Mas Akbar, maaf ya. Ibu belum bisa memberi jawaban sekarang. Ibu hargai niat baik Mas Akbar datang kesini. Ibu perlu bicara empat mata dengan Ami. Ibu juga harus bicara dengan kakak-kakaknya Ami."
Akbar mengangguk. "Akbar siap menunggu jawaban dari Ibu dan Bapak. Kapan Akbar boleh datang lagi kesini, Bu?"
"Nanti aja dikabarin. Sekali lagi, makasih buat oleh-olehnya. Mas Akbar makan dulu ya! Bi Ela akan mengantar Mas Akbar kesana." Ibu Sekar menoleh ke arah jendela yang menghadap rumah makannya. Mengusir Akbar secara halus.
"Makasih, Bu. Akbar masih kenyang. Mau pamit aja. Mau lanjut ke rumah Enin." Akbar bangkit dari duduknya. Ia paham jika waktunya bertamu sudah habis. Segera menyalami Ibu Sekar dan Pak Bagja.
"Aku pulang dulu ya." Akbar tersenyum manis pada Ami yang juga ikut berdiri.
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya!" Ami ingin sekali mengantar Akbar hingga ke pintu gerbang. Namun ia melihat tatapan Ibu diiringi gelengan lemah. Jadilah hanya menatap punggung orang yang disayangnya keluar dari ruang tamu usai mengucap salam.
Di ruang tamu tersisa tiga orang. Ami, Ibu, dan Papa. Saling diam untuk beberapa saat. Ami mendekap bantal sofa dengan tatapan terfokus pada cangkir bekas Akbar minum. Sementara suguhan sepiring kue lapis legit sama sekali tak tersentuh. Ia menunggu saja apa yang akan diucapkan Ibu atau Papa setelah ini.
Akbar melajukan mobil kuningnya ke arah jalan menuju rumah Enin. Ada satu paper bag yang berada di jok sampingnya untuk diberikan sebagai oleh-oleh. Jika di luar, orang-orang terpukau sampai memutar kepala melihat super car melintas di jalan desa. Lain halnya dengan sang driver yang pikirannya sedang berputar mengingat lagi ucapannya saat menjawab interogasi orang tuanya Ami. Takut ada yang salah ucap.
Di satu sisi, Akbar kagum akan jawaban Ami yang lugas tanpa ragu dan takut. Ami memperlihatkan kedewasaan berpikir. Jawaban jujur dari hati yang tentu saja sangat membantu memperkuat niatnya. Bahwasannya bukan cinta sepihak. Tapi sungguh-sungguh saling cinta. Semoga tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan restu.
Mobil yang dikemudikan Akbar perlahan memasuki pekarangan rumah yang pintu gerbangnya sudah terbuka lebar. Entah memang sudah terbuka dari tadi atau baru saja dibuka. Karena biasanya harus memencet bel dulu agar pintu gerbang yang biasanya tertutup rapat, ada yang membukakan oleh penjaga rumah.
Di teras rumah dengan pemandangan taman yang asri, Enin nampak duduk di kursi goyang ditemani Padma dan Bunda Ratih yang duduk di kursi panjang. Akbar melangkah lebar mendekati penghuni rumah yang sedang bersantai itu sambil berucap salam.
"Kok sendirian, Bar? Gantungan kunci gak ikut?" Ucap Enin usai menjawab salam Akbar yang lalu mencium tangannya dengan takzim.
...****************...
__ADS_1
Tunggu up kedua malam ini. InsyaAllah