Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
115. Melamarmu


__ADS_3

Iring-iringan rombongan Akbar sudah bergerak memasuki perbatasan Tasik Ciamis. Lalu lintas ramai lancar tidak ada hambatan sama sekali. Sehingga 10 menit sebelum acara, Akbar dan keluarganya sudah tiba di depan Cafe Dapoer Ibu. Ada dua orang sesepuh perwakilan keluarga Ami menyambut di halaman cafe. Dengan arahan petugas wedding organizer, Mama Mila dan Papa Darwis berjalan paling depan menuju pintu cafe yang berhias rangkaian bunga estetik. Diiringi Akbar dan Iko di belakangnya. Serta anggota rombongan yang lain.


Masuk ke dalam Cafe, disambut keluarga inti yang berdiri berjajar. Mulai bersalaman dengan Rama dan Puput , Panji dan Aul, Zaky, kemudian Pak Bagja dan Ibu Sekar. Namun ada yang kurang. Ami tak terlihat. Akbar ingin bertanya. Namun tidak ada kesempatan karena harus segera bergeser posisi. Ia merasa hal ini tidak ada dalam draft acara yang sudah dipelajarinya.


"Mohon maaf. Mas Akbar nyari apa atau nyari siapa ya?" Pembawa acara bernama Reno yang merupakan teman Aul dan juga rekan Ami saat MC, menyempatkan menyapa Akbar usai mempersilahkan semua tamu duduk di setiap meja masing-masing. Akbar terciduk mengedarkan pandangan dengan ekspresi bingung. Riuh tawa hadirin pun pecah karena godaan sang pembawa acara itu. Membuat Akbar tersenyum mesem.


Setiap meja berisi 4 kursi. Dimana masing-masing sudah ditandai siapa pemiliknya. Kecuali Akbar dan kedua orang tuanya duduk di depan saling berhadapan dengan orang tua Ami. Dimana kursi tengahnya masih kosong tak berpenghuni.


Bung MC mulai membuka acara. Semua tamu pun mulai fokus menatap ke depan. Tamu terbatas itu diantaranya ada wali kelas Ami serta kepala sekolah. Dua orang dari akedimis itu sengaja diundang atas saran Pak Bagja. Dengan alasan menjaga terjadinya penilaian negatif mengingat status Ami masih pelajar.


Di ruang yang berbeda, Ami ditemani Padma dan 3 orang teman sekelasnya yaitu Kia, Sonya, dan Ifa. Mereka diundang karena teman terdekatnya sekaligus sebagai perwakilan kelas. Ditambah Marga dan Almond yang sudah duduk di kursi tamu. Satu permintaan Ami pada teman-temannya. Jangan posting acara lamarannya di media sosial.


"Mi, udah mulai tuh." Sonya mengangkat telunjuk ke atas agar semua orang yang ada di ruangan mendengar suara MC.


Ami mulai mengatur nafas karena mendadak tegang. Kurang dari setengah jam lagi waktunya muncul di hadapan Akbar. Memang ada perubahan konsep yang tidak ia sampaikan kepada Akbar. Sengaja sebagai kejutan.


Kia menyentuh telapak tangan Ami dan terasa dingin. "Mi, jangan tegang. Tetap santuy seperti ciri khas Ami. Ami juga kan udah biasa Jadi MC. Udah biasa ditatap banyak orang. Beda sama aku yang minderan. Bisa-bisa ngompol."


Sontak saja ucapan Kia membuat semuanya tertawa. Berhasil pula meredakan ketegangan Ami. Sambil menunggu waktu, diisi dengan berfoto bersama dan selfie untuk koleksi pribadi.


"Ami, waktunya keluar." Ucap Puput yang datang bersama Aul dan seorang kru WO. Kakak beradik itu akan mendampingi si bungsu menghadap keluarga Akbar. Sebentar lagi akan masuk ke acara inti yaitu khitbah.


Ami berdiri dan merapikan gaun indah berwarna sage green yang panjangnya menutupi sepatu high heel. Dengan mengucap Bismillah, mulai melangkah tegak dengan digandeng oleh Puput dan Aul.


Terpesona. Satu kata yang menggambarkan ekspresi Akbar begitu melihat Ami datang dengan dikawal Puput dan Aul. Senyum sang dara begitu manis menampakkan dua lesung pipi. Wajah dengan sapuan riasan minimalis malah semakin terlihat cantik. Ia yang sudah berdiri menunggu,tetap mengunci pandangan hingga jarak semakin dekat.


"Stop. Cukup sampai sini aja, Neng Ami. Ini belum akad nikah. Jadi Mas Akbar jangan dulu menyambut menggandeng tangan. Apalagi pengen mengecup kening. Sabar ya Mas Akbar." Ucap Reno menggoda Akbar dan Ami yang kini berdiri berhadapan di sisi kursi orang tua masing-masing.


Suara tawa para tamu menggema di ruang cafe yang luas itu. Godaan sang pembawa acara berhasil membuat Ami dan Akbar mesem mesem.


Setelah tadi perwakilan orang tua kedua belah pihak memberi sambutan serah terima lamaran, kini saatnya yang bersangkutan menyampaikan prakata lamaran secara pribadi.


Dengan berdiri tegap dan penuh percaya diri. Dalam balutan kurta sage green polos yang membalut tubuh atletisnya, Akbar menatap Ami dengan tatapan menghujam hangat dan penuh cinta serta pembawaan yang tenang.


"Rahmi Ramadhania, hari ini aku datang membawa keluarga lengkap dengan maksud untuk meminangmu. Hari ini, di hadapan semua orang aku berjanji. Dengan segenap hati aku, dengan ketulusan hati aku, untuk bisa menjaga kamu, menjadikan kamu satu-satunya di hidupku. Rahmi Ramadhania, bersediakah kamu untuk menjadi istri aku?"


Reno memberikan mic kepada Ami yang nampak tersenyum malu-malu dengan wajah merona. "Silakan Neng Ami jawab. Jangan ada kata terpaksa ya. Kalau boleh jawabnya pakai pantun ciri khasnya Ami Selimut."


Ami menggelengkan kepala sebagai jawaban penolakan karena tidak mempersiapkan pantun. Pikirnya, kali ini harus serius karena ini momen istimewa.


Ami menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Dengan tatapan tegak lurus, senyum malu-malu, ia pun berucap, "Bismillahirrahmanirrahiim. Dengan izin Allah dan juga restu Papa, Ibu, Teteh dan Aa, aku menerima Kak Akbar Pahlevi Bachtiar sebagai calon suami aku."


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Kupandang tajam bola matamu

__ADS_1


Cantik dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Kuingin melamarmu


Vokalis band membawakan lagu "Melamarmu" milik Badai Romantic Project sebagai backsong saat Mama Mila menyematkan cincin di jari manis Ami. Kemudian Ibu Sekar menyematkan cincin di jari manis Akbar. Lalu Ami dan Akbar pun mengangkat tangan kiri dan memamerkan cincin ke hadapan para tamu dan petugas dokumentasi dengan penuh senyum serta wajah semringah.


Cincin bukan sekadar simbol pengikat. Namun mengandung filosofi.


Doa menjadi menutup prosesi khitbah dengan harapan semoga niat lurus saling mengikat ini diberkahi Allah dan tidak ada halangan dan rintangan selama menunggu waktu sampai ke tahap pernikahan nanti.


***


"Kak Almond, are you okay? Sudah Padma bilang kalau nggak kuat jangan hadir." Padma membekap mulut menyembunyikan senyum mengejek.


"Hei.....I'm totally okay. Aku udah move on tahu." Almond memutar bola mata melihat Padma kini cekikikan.


"Terus kenapa bengong? orang lain pada makan kamu diem. Apa lagi sakit gigi, sariawan?" cecar Padma.


"Aku sengaja lagi nunggu kamu. Soalnya ngambil makanannya pengen ditemenin kamu." Almond tersenyum miring.


"Dih, manja. Ayo buruan! Soalnya nanti kamu punya tugas cuci piring." Padma berlalu lebih dulu sambil cekikikan.


"Awas ya, aku jitak kamu." Almond mengejar langkah Padma. Dia benar-benar menjitak kepala Padma dengan pelan karena gemas.


Di meja jajaran depan, Akbar dan Ami duduk bersama saling berhadapan menikmati makan. Aura bahagia terpancar di wajah mereka. Sudah selesai bersalaman dengan dua keluarga dan tamu yang mengucapkan selamat.


"Cantik."

__ADS_1


"Sudah, Kak. Aku lagi makan nih. Nanti kesedak lho." Ami memicingkan mata melihat Akbar terus menatapnya dan mengulang memuji dengan satu kata 'cantik' untuk yang keempat kalinya. Dimulai dengan berbisik curi-curi kesempatan saat menyalami tamu, saat mengambil makanan, dan sekarang sudah dua kali lagi makan bersama.


Akbar tersenyum meringis melihat Ami mengerucutkan bibir. "Cutie, kalau lagi sama temen cowok jangan pasang ekspresi begitu ya. Cukup di hadapanku aja."


"Emang kelihatannya gimana, Kak. Jelek, menyebalkan atau apa?"


"Yakin pengen tahu jawabannya?"


Ami mengangguk dengan ekspresi polos tanpa beban.


Akbar mencondongkan kepalanya. Lalu berbisik, "Jadi gemes pengen cium."


Amis sontak membulatkan bibir dengan mata melebar. "Maaf-maaf," ujarnya dengan wajah meringis dan mengangkat dua jari.


Para orang tua asik bercengkrama dalam sukacita. Anak Pak Bagja yang bisa hadir hanya Guna dan anak istrinya. Gina sudah video call kemarin, minta maaf tidak bisa hadir karena masih ada sampai tanggal 29. Baru bisa pulang awal tahun baru.


"A Zaky, makasih ya." ucap Sonya yang didukung Ifa. Tak bosan-bosannya meminta foto bareng dengan Zaky setiap bertemu.


Berbeda dengan Kia yang duduk di meja pojok belakang. Menjadi tempat yang leluasa untuk curi-curi pandang memperhatikan Zaky yang terlihat tampan dalam balutan dresscode keluarga. Hanya mesem-mesem menonton Ifa dan Sonya bergantian berfoto dengan Zaky.


"Kia, kenapa nggak ikutan foto-foto tuh sama kayak si duo centil?" tanya Marga yang duduk bergabung sambil membawa semangkuk bakso.


"Hehe. Nggak ah, malu." Kia melanjutkan menyendok es krimnya. Selain malu tentunya merasa grogi kalau harus berfoto di samping Zaky. Biarlah, sudah punya foto selfie berdua saat nikahan Ibu Sekar. Yang masih dia simpan di galeri ponselnya dalam album khusus. Setiap saat kalau kangen tinggal menatap senyum manis kakaknya Ami itu.


Band yang membawakan lagu-lagu populer mengalun mengiringi acara makan. Para tamu berangsur pulang usai mencicipi semua hidangan.


"Kia, pulang dengan siapa?"


Kia tidak menyangka kalau Zaky datang menghampirinya di lobi cafe. Sedari tadi kakaknya Ami itu wara-wiri, sibuk berbincang dengan tamu dan anggota keluarga besarnya.


"Aku numpang di mobilnya Almond, A."


"Berduaan?"


Kia menggelengkan kepala. "Sama Marga, Sonya, dan Ifa juga."


Zaky mengangguk. "Hati-hati ya. Makasih ya udah datang," ujarnya diiringi senyuman ramah.


"Sama-sama, Aa." Kia tersenyum simpul. "A Zaky bisa nggak senyumnya jangan manis begitu. Kamu udah bikin aku makin suka dan makin kagum," ungkapkan perasaannya hanya berani disuarakan di dalam hati. Yang terjadi adalah ia memandangi punggung Zaky yang kembali masuk ke dalam Cafe.


Acara telah usai. Menyisakan keluarga inti yang masih ada di dalam Cafe. Mama Mila dan Papa Darwis bersama Iko dan suaminya, berpamitan kepada Ibu Sekar dan Pak Bagja. Hendak pulang ke hotel.


Di rooftop lantai 2. Akbar dan Ami baru selesai berfoto dengan arahan fotografer untuk menambah dokumentasi. Sama-sama berjalan santai menuruni tangga menuju lantai bawah.


"Ikut pulang ke Jakarta yuk, Cutie." Akbar menoleh sambil memainkan kedua alisnya.


"Idih, Kak Akbar jadi nggak sabaran. Tunggu ya 6 bulan lagi." Ami memeletkan lidahnya melihat Akbar menepuk kening.

__ADS_1


"Oke. Sabar....sabar." Akbar menghibur diri sambil mengusap-usap dada.


Sudah waktunya perpisahan. Berpisah dalam suasana suka. Pergi untuk kembali di lain waktu. Di momen waktu kunjung pacar. Enam bulan menuju halal tidaklah lama. Jika waktu diisi dengan kegiatan berguna. Semoga tidak ada bala yang menimpa.


__ADS_2