Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
126. Hangatnya Summer in München


__ADS_3

Akbar dan Leo mengikuti ajakan Pak Bagja menuju gudang tempat disekapnya seorang preman bernama Konyal. Sang purnawirawan begitu tiba di Jakarta hanya istirahat sebentar dan meninggalkan Ibu Sekar di rumah Puput. Demi membantu calon menantu agar segera menyelesaikan masalahnya.


"Kamu kenal?" Pak Bagja menoleh memperhatikan ekspresi Akbar yang sedang meluruskan pandangan dari balik kaca terhadap orang yang terikat di kursi.


"Tidak, Pak." Akbar menyahut yakin. Berulang kali memeras otak pun tetap sama. Merasa belum pernah melihat wajah pria itu. Ia meminta masuk ke dalam ruangan itu sekarang juga.


Berada jarak sedekat ini dengan orang yang terikat, Akbar semakin yakin tidak mengenal sang preman yang menundukkan wajah yang sudah berhias memar di sudut mata kiri.


Akbar mencengkram dagu preman yang berhias tato di dada, hingga kepala si sandera mendongak ke atas. "Apa motifmu menculik Ami?" tanyanya dingin.


"Saya hanya menjalankan order, Bos."


"Siapa yang nyuruh?"


Diam. Preman yang dikenal dengan nama Konyal itu melipat bibir. Hanya memberi jawaban dengan gelengan kepala.


Hanya dengan isyarat sorot mata dari Pak Bagja, seorang anak buah maju dan menonjok perut sandera. Bugh.


"Semakin lama kamu mengulur-ngulur waktu, kamu akan semakin babak belur. Pilih mana?" Akbar menatap tajam wajah yang sedang meringis itu.


"Saya akan bilang. Tapi tolong jangan penjarakan saya, Bos. Saya terima order ini karena butuh biaya operasi anak saya. Sekarang sudah selesai operasi dan sedang pemulihan. Kalau saya di penjara, siapa yang bakal nyari duit lagi untuk biaya kontrol." Konyal mendongak dan memberanikan diri menatap Akbar.


"Saya tidak percaya omonganmu." Ucap Akbar.


"Tapi saya percaya Anda orang baik. Anda memang tidak mengenal saya. Tapi saya kenal Anda sudah sangat lama."


Akbar memicingkan mata dengan kening berkerut. Sementara Pak Bagja dan Leo melipat tangan di dada mengamati dan mendengarkan dengan serius.


"Saya sering melihat anda datang ke panti asuhan Al Luqman. Anda kan donatur di sana. Nyumbang uang dan suka bawa hadiah satu mobil untuk anak-anak panti. Saya ini yang jualan siomay di depan Yayasan Panti Asuhan itu. Bos bisa tanyakan ke Bu Nunung ketua panti, kebenarannya. Saya dikenal dengan nama Mang Konyal."


Akbar menoleh ke belakang menatap Leo. Isyarat mata memberikan perintah yang ditanggapi Leo dengan anggukan. Leo pun mengeluarkan ponsel sambil melangkah keluar ruangan.


"Selain dagang di depan panti, kerjaanmu apa?" Pak Bagja bersuara. Ia tidak percaya dengan profesi orang yang mengaku berdagang itu. Karena tugas menculik seseorang pastinya dilakukan oleh profesional di bidangnya.


"Saya punya job sampingan nerima order, Bos. Seperti order nyulik, teror, intel pasutri selingkuh, kampanye gelap calon anggota dewan. Dan saya pastikan nyuliknya bukan untuk dihabisi tapi untuk diintimidasi. Saya tidak ambil job pembunuh bayaran, Bos."


Akbar menghembuskan nafas panjang. Ia lalu mendengarkan bisikan dari Leo di telinga kirinya dengan penuh atensi.


"Oke. Sekarang bilang siapa yang menyuruhmu. Saya pastikan akan bebaskan kamu." Ucap Akbar membuat ketegasan usai mendengar laporan dari Leo.


"Namanya Sephia."


"Sephia?!" Akbar menautkan kedua alisnya.


"Sephia Halim. Anda lebih kenal dia daripada saya."


Mendadak tubuh Akbar menegang dan merapatkan bibir mendengar nama panjang seorang perempuan yang sudah dihapus dari ingatannya itu.


Akbar menepati ucapannya. Akan membebaskan Konyal dengan satu syarat tidak lagi mengulang perbuatan mengganggu dirinya ataupun mengganggu keluarganya.


"Siapa Sephia Halim?" Pak Bagja baru bertanya usai keluar dari ruang interogasi. Akan meninggalkan tempat itu lebih dulu bersama Akbar dan Leo.


"Dia....mantan pacar Akbar, Pak. Akbar akan selesaikan urusan dengannya."

__ADS_1


"Selesaikan urusan? Maksudmu masih ada rasa yang tertinggal, masa lalu belum usai?" Pak Bagja memicingkan mata.


"Bukan begitu, Pak. Semuanya sudah usai. Tidak ada kenangan yang tersimpan. Akbar juga tidak tahu maunya apa. Tiba-tiba muncul setelah 10 tahun putus."


"Ingat, Bar. Kamu belum bisa jemput Ami jika masalahmu belum selesai."


"Akbar ingat itu, Pak. Insya Allah, secepatnya akan diselesaikan. Beri Akbar kepercayaan untuk menyelesaikan urusan pribadi ini."


"Baiklah."


***


"Kamu yakin datang sendiri?" Leo memastikan ulang sambil berdiri dengan menyandarkan punggung ke tembok di samping pintu. Usai sehari mengintrogasi Konyal, malam ini Akbar akan menemui mantannya itu.


"Bukankah kamu udah baca juga isi emailnya? Jangan cemas dengan keselamatanku." Akbar selesai melipat kedua lengan kemejanya hingga sikut. Sengaja perginya dari kantor sepulang kerja. Karena jika berangkat dari rumah akan banyak pertanyaan dari mama Mila.


"Aku tidak cemas dengan keselamatanmu. Tapi cemas dengan hatimu yang mungkin saja jadi goyah karena dia datang lagi." Leo tahu pasti bagaimana kisah cinta Akbar dan Sephia yang dipandang orang dengan sebagai pasangan serasi. Ia saksi bagaimana hancurnya Akbar waktu dulu ditinggalkan gadis yang sangat dicintainya itu.


"Aku harus berterima kasih padanya. Ditinggalkan dan dihancurkan hati sampai berkeping-keping, bisa membuat seorang Akbar Pahlevi yang sekarang ini." Akbar membuka kedua tangannya dengan ekspresi percaya diri dan bangga pada pencapaian yang sudah dilakukannya. Dari mulai tertatih bangkit hingga mencapai kesuksesan sekarang.


Laju mobil Akbar berhenti di depan sebuah cafe yang nampak sepi. Ia menjadi ragu untuk keluar dari mobil karena hanya ada satu mobil yang terparkir. Supercar yang sama dengan miliknya yang berwarna merah. Ia kembali teringat dengan isi email dari inisial SH yang baru terpecahkan teka-tekinya begitu sebuah nama disebut oleh Konyal. Hingga ia memutuskan meminta janji temu. Dan di sinilah tempat yang ditunjuk oleh Sephia Halim.


Akbar mengatur nafas sebelum membuka pintu mobil. Tak dipungkiri mendadak timbul sedikit tegang karena akan bertemu lagi dengan wanita yang pernah melambungkan asa sekaligus menjatuhkan mimpi dan cita. Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, ia masuk ke dalam cafe yang disambut seorang pelayan dengan ramah dan sopan. Langsung mengajak menuju arah ke belakang.


"Cinta yang membawamu datang ke sini kan, Mas?" Ucap seorang wanita cantik yang berdiri menyambut kedatangan Akbar dengan senyuman manis.


Akbar menghentikan langkah di jarak 2 meter. Tatapan memindai sosok tinggi semampai yang tak dipungkiri semakin cantik dengan wajah dewasa. Entah apa rasa yang berkecamuk dalam dada Akbar sekarang.


"Salah besar. Aku datang karena kamu sudah mengganggu gadis yang tulus mencintaiku. Apa maumu?" Akbar menatap datar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


"Katakan maumu apa. Waktuku tidak lama." Tegas Akbar usai bisa mengontrol hatinya. Bunga kampus yang dulu berhasil ia dapatkan hatinya itu daya pikatnya memang luar biasa. Namun kini keadaannya berbeda. Hatinya tak akan goyah oleh pesona yang masih memancar di wajah ayu wanita di hadapannya itu. Satu nama yang baru sudah melekat kuat di hatinya.


"Sebelumnya aku minta maaf atas kesalahanku dulu yang meninggalkanmu, Mas. Aku tidak sabar harus mendampingimu dari nol. Kamu menyengsarakan diri padahal jelas orang tuamu punya perusahaan yang sedang maju."


"Aku nggak ingin membahas masa lalu. Udah aku maafkan dan aku lupakan. Sedikitpun tak ada kenangan yang tersimpan di hati dan pikiran. Sudah dibakar habis. So, to the point aja. Apa maumu sekarang?" Akbar tidak terpengaruh dengan wajah sendu dengan sorot mata penuh penyesalan yang kini ditampilkan Sephia.


"Aku udah 2 tahun cerai, Mas. Pernikahanku tidak bahagia. Dia gak mau punya anak. Seiring waktu baru aku sadar, dia workaholic yang lebih mencintai uang daripada mencintai aku."


"itu urusan pribadimu. Aku nggak mau tahu."


"Dengar dulu, Mas. Biarkan aku selesai bicara."


Akbar diam tanpa memberi reaksi sebagai jawaban apapun.


"Dan baru 5 bulan ini aku berada di Indonesia. Aku selangkah lebih dekat denganmu tapi kuakui susah untuk menggapai hatimu lagi. Aku tak menyangka kamu berpacaran dengan anak SMA. Apa kamu trauma berpacaran dengan perempuan dewasa, gara-gara aku?"


"Kamu nyuruh orang nyulik Ami untuk apa?" Akbar tidak tertarik mendengar curhatan Sephia. Ia to the point ingin mendengar alasan tentang upaya penculikan.


"Tenang, sayang. Aku gak akan nyakitin gadismu. Hanya taktik agar bisa ketemu kamu, Mas. Tak menyangka dia pandai bela diri. Meskipun gagal tapi aku senang pada akhirnya tetap bisa ketemu denganmu." Sephia ingin meraih tangan Akbar namun lebih dulu Akbar menurunkan tangannya dari meja.


"Mas, andainya kamu tahu selama ini aku tidak benar-benar melupakanmu. Cinta untukmu masih tersimpan. Dulu terpaksa meninggalkanmu karena aku butuh uang banyak buat kuliah S2 di Harvard. Aku ingin kembali padamu, Mas. Kita mulai lagi hubungan dari awal. Dengan skil yang kupunya, kita akan bangun bersama perusahaan yang besar."


"Sepertinya obrolan kita sudah cukup. Bertemu denganmu hanya buang-buang waktu." Akbar bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Kamu akan betah duduk lagi kalau tahu siapa dalang di balik kebakaran kantor travel APB." Sephia menarik sudut bibir melihat Akbar sesuai dengan perkiraannya. Duduk di kursi semula.


"Siapa?" Akbar menatap tajam. Kejadian kebakaran yang menghanguskan kantor pusat travelnya lima tahun yang lalu itu berakhir dengan ketuk palu pailit. Terpaksa menjual aset yang tersisa untuk membayar pengembalian modal kepada investor. Dan dua orang pelaku yang tertangkap kamera pengawas menyiramkan bensin di belakang ka kantor, tidak berhasil diketahui karena menggunakan helm full face.


"Aku orangnya. Kehadiran APB travel sudah membuat customer Buana travel makin lama berkurang karena berpindah ke APB. Kamu juga jadi penyebab mundurnya para investor dari Buana karena berpindah ke APB. So, aku harus bertindak menyelamatkan perusahaan suamiku itu. Tega gak tega, aku harus singkirkan APB travel demi pertahankan usaha travel suamiku. Maafin ya, sayang." Sephia menatap Akbar dengan sorot penuh penyesalan.


"Makasih, Sephia Halim. Susah payah aku mencari pelaku hingga mengeluarkan uang banyak. Sekarang kamu dengan sukarela menyerahkan diri. Tunggu polisi akan menjemputmu."


Sephia tertawa lepas. "Aku suka joke mu, Mas. Come on, lupakan masa lalu. Aku udah menyesal. Kamu tahu pasti kan aku ini perempuan cantik dan pintar. Aku bisa mendampingimu memajukan perusahaan."


"Ya. Kamu memang pintar tapi tidak cerdas." Akbar membuka satu kancing atas kemejanya. Menunjukkan sebuah benda kecil yang terselip di balik bajunya itu. Bersamaan dengan itu masuklah Leo bersama tiga orang petugas kepolisian berpakaian preman.


"Mas, aku tahu pasti kamu bukan orang yang kejam. Hatimu sangat lembut. Tolong maafin aku, Mas."


Teriakan Sephia tidak digubris Akbar. Ia berlalu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Waktunya bersiap menjemput masa depan yang ada di Jerman.


***


Summer in München jauh dari kata panas. Justru hawanya terasa hangat bahkan tadi subuh hujan yang tidak terlalu lebat sudah mengguyur kota terbesar ketiga di Jerman itu. Dan akhir pekan ini masyarakat kota banyak yang menghabiskan waktu di luar rumah dengan berolahraga atau sekadar jalan-jalan serta duduk-duduk di taman kota.


Dua orang yang duduk di hamparan rumput hijau Englischer Garten kini saling tatap dalam diam. Tak terasa hampir 2 jam lamanya Ami larut dalam cerita yang diucapkan Akbar selama terjadinya miskomunikasi ini. Ia yang terkejut saat mengira suara Akbar adalah halusinasi, faktanya orang yang sedang dirindukannya Itu benar-benar nyata duduk di sampingnya. Menahan tangannya agar tidak beranjak. Hingga cerita pun mengalir dengan berbagai ekspresi yang muncul menyertai narasi.


"Maafin aku ya, Cutie. Kekacauan ini gara-gara aku." Akbar menunjukkan surat penyesalannya.


"Aku juga bersalah kok. Memilih lari sejauh ini. Aku malah merasakan sakit hati bercampur rindu yang menyiksa. Ternyata aku belum dewasa ya, Kak." Ami tertawa sumbang diiringi kerjapan mata yang meluruhkan air mata. Sedari tadi berusaha menahan desakan untuk tidak menangis namun dadanya sudah merasa sesak. Ia ekspresikan perasaannya yang sesungguhnya kini. Lega,haru, dan bahagia.


"Wajar, sayang. Kamu belum banyak pengalaman dengan kerasnya kehidupan." Tangan Akbar terulur menyeka pipi Ami yang basah. "Jangan pernah lari dari hatiku ya, sayang." Ungkapnya dengan tatapan penuh cinta sambil menyeka ulang kedua pipi Ami yang basah karena lelehan air mata yang turun lagi.


Ami mengangguk kemudian nafas dan menghembuskannya perlahan. "Punya pemikiran negatif itu ternyata menyiksa. Ditambah harus menahan rindu makin makin parah deh rasanya. Lebih baik ngerjain tugas matematika satu semester. Paling cuma jenuh dan stress doang. Nggak kayak gini. Huft."


Akbar terkekeh sambil mengusap-usap ke puncak kepala Ami. "Miss you so bad, sayang."


"Aku juga. Peluk dong, Ayang Panda." Ami merajuk. Ia menggeser duduknya sehingga lebih dekat berjarak 5 cm.


"Stop - stop! Nggak ada adegan peluk-pelukan. Ini bukan drama Korea."


Ami tarjengit saat akan menyandarkan kepala di bahu Akbar yang diam tak merespon keinginannya. Baru tahu alasannya sekarang.


"Aa ada di sini juga? Apa datang bareng kak Akbar?" Ami menatap Zaky yang datang mendekat di bersama Gina.


"Iya. Sengaja ngawal disuruh Ibu. Kalau nggak dikawal bisa-bisa kayak barusan ada adegan peluk-pelukan." Zaky menoyor kepala Ami dengan pelan. Lalu menggosok-gosok puncak kepala adiknya itu dengan gemas. "Lain kali kalau kabur itu yang jauh ke ujung dunia. Ke Antartika kek biar ditemenin penguin."


"Gini nih punya kakak Suneo. Bukannya ngasih perhatian dan menghibur adiknya selama ada di sini. Malah datang-datang nyebelin." Ami memutar bola mata dengan lirikan sebal ke arah Zaky.


"Kata siapa nggak perhatian. Aku suka komunikasi dengan Gina nanyain keadaan kamu. Takutnya bunuh diri."


"Aku juga selalu nanyain kabar kamu ke Gina dan minta candid kamu dari setelah Papa dan Ibu pulang ke Jakarta." Akbar ikut menimpali.


"Teh Gina, beneran?!" Ami menatap serius ke arah Gina.


"Hehe. Iya, Mi. Sorry ya nggak jujur. Semua orang sayang sama kamu, Mi. Bukqn hanya Zaky dan Mas Akbar. Keluarga di Indo selalu mantau keadaanmu. Nanya kabar lewat aku." Gina mengangkat kedua jarinya diiringi senyum seringai.


"Ya Allah, so sweet kalian semua. Aku jadi pengen nangis lagi. Aa Suneo, pinjam kaos buat nyusut ingus nih." Ami menarik kaos Zaky dan mengarahkan ke hidung. Namun Zaky buru-buru mengeplak tangan Ami dan berlari diiringi tawa renyah Akbar dan Gina.

__ADS_1


Hangatnya summer in München kini terasa menyerap sampai ke hati Ami yang berjalan bersisian dengan Akbar menyusuri Englischer Garten yang sangat luas itu. Mereka berdua berjalan di belakang Gina dan Zaky yang memimpin sebagai pemandu jalan. Sesekali curi-curi kesempatan berpegangan tangan dan lirik-lirikan saat bodyguard Zaky tengah lengah memotret pemandangan alam. Sampai mereka tiba di tepian sungai Isar.


__ADS_2