Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
41. Resepsi Siang


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Aulia Maharani binti almarhum Ramdan Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Panji dalam satu tarikan nafas dalam jabat tangan erat dirinya dengan Zaky sang wali.


"SAH." Semua saksi satu suara.


Panji memejamkan mata dengan kedua tangan menengadah mengaminkan doa. Dalam hati berucap syukur, pada akhirnya perjuangan cintanya sampai juga ke puncak. Mulai hari ini sang gadis pujaan resmi terikat menjadi kekasih halal.


Zaky tak kalah menghela nafas lega. Untuk kali kedua telah berhasil menjadi wali nikah saudara perempuannya. Meski rasa tegang di awal tetap ada, namun berhasil diminimalisir sehingga bisa berucap dengan tenang.


Aul mulai menginjakkan kakinya di karpet merah setelah doa selesai. Khusus momen ini, Ami dan Padma lah yang menggandeng tangannya di kiri dan kanan untuk diserahkan kepada sang pengantin pria yang menunggu di ujung karpet.


Ami dan Padma menebar senyum. Dua gadis remaja yang cantik itu nampak tenang tanpa beban. Sementara Aul tersenyum malu melihat Panji yang tampan dan gagah mulai maju dua langkah untuk menjemputnya.


"Mi, yang bantuin mulung sawer dah jadi pengantin. Padma bakal mulung sendirian." Padma berbisik begitu menepi usai menjalankan tugasnya.


"Sama aku juga. A Zaky nemenin ibu di pelaminan. Tapi aku sih punya bala bantuan cadangan." Ami menaik turunkan alisnya.


"Siapa?" Padma nampak penasaran.


"Tuh Kak Akbar." Ami mengarahkan pandangan ke kursinya Akbar yang duduk di samping Leo. Dan tanpa diduga pandangan mereka bersirobok.


Serrr. Ami merasakan desiran di dada saat Akbar yang mengenakan batik lengan panjang warna krem, mengulas senyum manis.


"Ih enak kamu, Marimar Bakalan dapat banyak dong. Padma minta bantu siapa ya?" Padma nampak berpikir sambil melayangkan pandangan ke semua kursi yang terisi tamu yang kebanyakan rombongan keluarganya. "Ah nggak ada. Biarlah Padma mulung sendiri aja. Moga dapat banyak."


"Tenang aja, Munaroh. Kalau aku dapat banyak, aku traktir kamu jajan dua buku. Oke?!" Ami mengangkat satu tangannya untuk ber high five.


"Oke, Bestie." Padma menepuk tangan Ami dengan girang. Di saat prosesi adat sungkeman sedang berlangsung, keduanya asyik berfoto ria di area photo booth. Hingga terdengar pembawa acara mengumumkan waktunya acara sawer panganten. Sontak keduanya memekik girang.


"Kak Akbar, kemon!" Ami dengan sengaja menghampiri kursi Akbar. "Kita jangan berdiri di belakang, biasanya gak akan sampe lemparannya. Di depan ya!" Ia memberi instruksi di saat Panda nya baru berdiri.


"Oke, Cutie." Akbar mengiringi langkah Ami berjalan menuju kerumunan orang-orang yang bersiap memulung sawer.


Leo menoleh pada istrinya yang cekikikan ditahan. "Liat sendiri kan, sayang. Gimana nurutnya si Akbar sama Ami. Mana udah punya panggilan sayang segala. Beuh, kalau orang kantor liat kelakuan CEO nya kayak gini, bisa-bisa gempar satu gedung," ujarnya. Ia sudah memperkenalkan Tasya pada Ami saat sebelum acara akad dimulai.


"Hihihi, Mas Akbar bisa awet muda punya pacar kayak Ami. Tapi heran deh, belum jadian udah punya panggilan sayang. Apa mereka TTM-an ya?" Tanya Tasya sambil melihat ke depan dimana juru kawih mulai menyanyikan tembang yang liriknya berisi pepatah.


"Modusnya nganggap adik. Kita liat aja misi nanti malam berhasil nggaknya." Leo merangkum bahu Tasya yang sedang hamil 8 bulan. Kemudian tersungging senyum seringa begitu ide muncul di benaknya. Ia meminta ponsel yang dititipkan di tas sang istri.


Wur...awur. Panji dan Aul yang duduk di bawah pelaminan dipayungi pagar bagus, lebih dulu melemparkan uang saweran yang ada ditangannya. Penuh suka cita. Dilanjut Bunda Ratih dan Ibu Sekar melemparkan saweran dari atas pelaminan. Riuh jeritan dan angkat telunjuk dari para pemulung sawer yang meminta agar uang lembaran yang dibundel dengan coklat chunky bar mini, dilempar ke arahnya.


"Ibu...kesini!" Ami tak kalah berteriak sambil melambaikan tangan dari arah depan kiri. Sementara sepasang pengantin langsung diamankan oleh crew WO dengan naik ke atas pelaminan, agar tidak terdorong oleh para pemulung sawer yang heboh.


Selesai. Semua orang bersuka cita menghitung hasil tangkapannya. Bersamaan dengan waktunya semua tamu mengantri naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat berbahagia.


"Deuh, yang baru ngasih nafkah." Sindir Leo yang melihat Akbar duduk lagi di sampingnya dan menyerahkan uang saweran kepada Ami yang diajak duduk pula.


Ami terkikik. Ia menganggap ucapan Leo sebagai candaan. "Aku hitung dulu pendapatan Kak Akbar ya." Ia mulai menghitung koin seribuan lalu membuka solatif bening yang mengikat uang kertas dengan kemasan coklat. Nominal terkecil lima ribu, terbesar seratus ribu.

__ADS_1


"Dapat berapa, Mi?" Akbar tak kalah penasaran ingin tahu hasil mulungnya yang ditangkap tangan di atas. Tidak memungut yang jatuh ke lantai karena kasihan emak-emak yang ada di depannya tadi.


"MasyaAllah, banyak banget." Ami menatap Akbar dengan ekspresi tidak percaya. "Kak Akbar dapat enam ratus tujuh puluh delapan ribu. Aku mah dapa seratus empat puluh lima ribu." Ia terpukau hasil mulung Akbar yang didominasi uang seratus ribu dan lima puluh ribu.


"Ami seneng?" Akbar menaikkan satu alisnya.


"Banget, Kak. I'm so happy. Makasih ya, Panda. Ups, Kak Akbar." Ami terkejut sendiri dengan salah ucapnya. "Aku tinggal dulu ya, mau ke Padma." Ia segera beranjak sekalian menyembunyikan wajahnya yang merona.


Akbar tertawa. Tak perlu menjaga image di dekat Leo yang sudah diajak kerjasama sejak semalam. Ia menyuruh sang asisten untuk membeli coklat chunky bar mini usai melihat Cia mengemas uang saweran. Dan Tasya ditugaskan membundel uang seratus ribu dan lima puluh ribu dengan total empat ratus ribu rupiah, semirip yang dilakukan Cia.


"Mi...curang nih Mas Akbar. Yang murninya cuma dapat dua ratusan. Hahaha..." Tasya berkomentar saat Ami sudah menjauh.


"Kan yang penting dia happy." Akbar terkekeh. Waktunya mengantri di karpet merah setelah melihat antrian sudah sedikit.


***


Usai akad dilanjutkan dengan resepsi dengan tamu undangan dari pihak kedua orang tua. Sementara undangan teman-temannya Panji dan Aul, serta sebagian dari teman-teman Puput dan Zaky, akan hadir di resepsi nanti malam.


Untuk pertama kalinya Panji bisa merengkuh pinggang Aul tanpa penolakan. Ia tak segan menunjukkan kemesraan bukan hanya pada saat sesi foto, namun juga di hadapan para tamu undangan. Aura bahagia terpancar dari sepasang pengantin yang tampil memukau dalam balutan busana hasil rancangan desainer butik Sundari.


Tema tembang kenangan menjadi musik pengiring resepsi siang. Sesuai usia tamu yang hadir. Dan tanpa diduga Pak Bagja didaulat naik ke atas panggung oleh MC yang mengenal sosok sang purnawirawan itu.


Ternyata tamu undangan dari pihak Ayah Anjar dan Bunda Ratih banyak yang mengenal akan sosok Pak Bagja. Sehingga tepuk tangan terdengar mengiringi sang purnawirawan yang masih gagah dalam balutan jas hitam.


🎶


Menunggumu sampai akhir hidupku


Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban


Demi keutuhan kau dan aku


Biarkanlah aku memiliki


Semua cinta yang ada di hatimu


Apapun kan kuberikan cinta dan kerinduan


Untukmu dambaan hatiku


"Aa, liat Ibu dan Pak Bagja. Menurut Aa gimana?" Puput tak sengaja mengikuti arah pandang sang penyanyi yang mengarah ke pelaminan. Terciduk ibunya tersenyum mesem dan balas melihat ke panggung musik.


Rama belum menjawab karena meresapi suara Pak Bagja yang cukup bagus serta menyanyi dengan hati. Sekaligus sedang mengamati bahasa mata antara Ibu dan Pak Bagja.


🎶


Malam ini tak ingin aku sendiri

__ADS_1


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih, kau sayang


"Sayang, sepertinya Ibu punya rasa sama dengan Bagja. Kalau Pak Bagja jangan ditanya lagi. Sesama lelaki, Aa bisa liat tatapan cinta itu masih ada meski dulu ditolak Ibu. Sekarang Aul akan keluar rumah ikut Panji. Ibu hanya tinggal berdua sama Ami. Kita dukung Ibu kalau memang butuh pendamping di usia senja." Jelas Rama yang bisa menarik kesimpulan akan hasil pengamatannya barusan.


"Dulu kan yang gak ngizinin Ami. Sekarang Ami udah gede, bisalah nanti diajak bicara lagi." Puput setuju dengan pendapat Rama.


"Barakallahu Laka Wa Baarakaa Alaika Wa Jamaa Bainakumaa Fii Khoir. Selamat ya Kak Panji dan Teh Aul." Ucap sang tamu spesial yang datang bersama suaminya. Dialah Kartika dan Tirta. Couple goal yang sempat tersendat naik ke pelaminan karena melayani orang-orang yang ingin berfoto bersama.


"Terima kasih banyak, Teh Tika, Mas Tirta, udah bisa hadir. Terima kasih juga buat rancangan spesialnya." Panji masih menahan pasangan Kartika dan Tirta saking bahagianya bisa datang. Aul pun berucap hal yang sama.


"Busananya biasa aja. Tapi yang memakai auranya spesial. Jadinya...MasyaAllah sangat elegan dan amazing." Sahut Tika merendah.


"Berdua aja? Anak-anak gak diajak, Teh?" Aul menatap silih berganti pasangan serasi di hadapannya itu.


"Anak-anak ditinggal di vila mumpung banyak yang ngasuh. Riweuh kalau bawa anak-anak. Soalnya kita mau lanjut pacaran dulu sampai sore." Tirta yang mewakili menyahut. Membuat sepasang pengantin tertawa.


Kehadiran Tirta dan Tika diabadikan dalam jepretan kamera oleh sang fotografer. Tidak hanya berfoto dengan sepasang pengantin, namun juga berfoto lengkap bersama orang tua kedua pengantin.


Resepsi berakhir pukul setengah dua siang. Ada jeda istirahat untuk Panji dan Aul sebelum melanjutkan ke resepsi kedua nanti malam. Keduanya melaksanakan sholat Duhur berjama'ah di kamar pengantin.


Usai sholat, Panji mencium kening Aul. Dalam dan lama. Untuk pertama kalinya menjadi imam sholat dengan istri tercinta sebagai makmumnya. Rasanya nyes, saat Aul mencium tangannya diiringi senyum manis.


Untuk pertama kalinya pula Panji melihat Aul tanpa jilbab. Rambut panjang sebahu disisir dan dibiarkan tergerai. Baju santai dengan panjang selutut membungkus tubuh ramping dengan kulit bersih kuning langsat. Tak tahan dengan pemandangan menggoda itu, ia menarik pinggang sang istri dan sama-sama rebah di ranjang pengantin.


"Ayang, mulai sekarang harus ganti panggilan. Aku gak mau ya dipanggil kakak." Panji memiringkan badan menghadap Aul. Telunjuknya mulai mengarsir garis wajah sang istri.


"Hm, apa ya. Dari dulu sebenarnya aku udah punya panggilan sayang kok." Aul tersenyum menatap Panji yang masih betah mengarsir wajahnya.


"Apa?!" Panji menghentikan gerak telunjuknya di sudut bibir yang ranum menggoda itu.


"Pinokio." Aul terkikik geli melihat Panji berubah memberengut.


"Masa Pinokio sih, Yang?" Panji merajuk dengan menggigit gemas jari lentik Aul.


"Pinokio versi aku kan beda sama dongeng Pinokio yang lantas hidungnya memanjang tiap kali berbohong. Pinokio yang ini menggemaskan karena punya hidung mancung yang tajam. Dan aku suka." Aul mengedipkan matanya.


Panji tersenyum lebar. "Kalau aku suka semua yang ada padamu. Udah gak tahan pingin cicipi ini....." Jemarinya mengusap bibir ranum yang menggoda hasratnya itu.


"Sayang, aku ikhlas untuk disentuh setelah halal. Maaf kalau kemarin-kemarin selalu bawa duo M demi menjaga dari godaan setan. Sekarang, lahir batin aku sudah menjadi milikmu." Jelas Aul sambil tangannya terulur mengusap-ngusap pipi Panji penuh rasa sayang.


Tak ada lagi ucap. Mata saling menatap hangat penuh cinta. Merefleksikan bahasa kalbu bahwa pernikahan terlaksana karena tanpa terpaksa. Justru karena saling cinta. Tak lama, Aul memejamkan mata saat bibirnya mulai mendapat sentuhan ciuman pertama.


...****************...

__ADS_1


Ups, masih belum sampai ke momen mendebarkan. Sabar ya, Bestie. Kasih panggung dulu para pemeran pendukung. 😁


__ADS_2