
"Siapa coba suhunya? Padahal selama ini aku tuh cowok cool and calm. Kena virus Ami jadinya ter Ami - Ami. Harus tanggung jawab lho." Jika di muka umum Akbar begitu rapih menyembunyikan perasaan dengan berekspresi dan bersikap wajar, lain halnya saat berdua seperti sekarang ini. Tatapan penuh cinta nyata tergambar di kedua matanya.
Ami terkikik. "Harus tanggung jawab gimana? Padahal aku tuh biasa becandain orang, gombalin Kak Rama, Kak Damar, Kak Panji, teman-teman. Tapi kenapa gombalin Kak Akbar jadi masuk ke hati ya. Ke hatimu berbalik ke hatiku."
"Itu artinya insyaallah kita jodoh. Dan kamu harus tanggung jawab dengan cara menjadi Nyonya Akbar. Siap ya lulus sekolah, Cutie?" Akbar menatap lembut. Mencolek pangkal hidung Ami dengan gemas.
Ami menangkup kedua pipi yang terasa memanas. Bibirnya melengkungkan senyum malu. "Hmm, gimana kalau keluargaku gak setuju aku nikah muda? Maksudnya menyuruh aku harus kuliah dulu."
"Itu akan jadi tugasku buat ngeyakinin keluarga Ami. Yang penting sekarang aku pengen dengar jawaban Ami dulu. Biar aku punya kekuatan untuk jadi pejuang restu dan pastinya bakalan pantang menyerah. Cutie, ini nih maksud aku curi kesempatan pengen ngobrol berdua. Selain kangen, juga ingin membahas masa depan hubungan kita."
Wajah Ami kembali merona. Ini yang membuatnya merasa nyaman saat bersama Akbar selain jantung yang selalu jedag jedug. Kentara dewasa dan setiap ucapan selalu penuh optimisme. Vibes positifnya terasa menular.
Ah, kan... jadi pengen bersandar di dada Kak Akbar. Astaghfirullah, otakku.
Ami mengerjapkan mata saat kehaluan melintas di benaknya. "Kak, kalau nikah dulu, nanti aku boleh kuliah, kan?" Ia ingin memastikan lagi meski dulu Akbar pernah membahasnya.
"Tentu saja boleh. Kita nikah, tidak akan memupus cita-cita Ami. Justru aku akan selalu support. Kuliah sambil pacaran halal kan nyaman dan menenangkan. Gimana, sayang?" Akbar menjadi tidak sabaran ingin mendengar kemantapan hati Ami. Itu karena demi lancarnya rencana Mind Mapping yang sudah disusunnya.
Ami menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan perlahan. Dipanggil sayang, lagi-lagi hati meleyot, jantung mereog. "Bismillah. Insyaa Allah aku siap, Kak." Ia tersenyum malu dengan wajah yang kembali merona.
"Alhamdulillah. Makasih, Cutie." Akbar tersenyum lebar dengan mata berbinar. Meski merasa gemas melihat tingkah polos Ami, ia menahan tangan yang gatal ingin menyentuh dan menguyel-uyel kedua pipi putih yang matang itu. Cukup tadi mencolek hidung kecilnya.
"Tapi tetap ya, Kak. Tunggu kelas 12 buat go publish nya." Ami menatap dengan sorot memelas.
"Ke keluarga Ami iya nanti. Tapi terbuka ke keluargaku terutama ke Mama akan secepatnya."
"Waduh, kira-kira....."
"Be calm, Cutie. Aku tau pasti gimana keluargaku. Jangan takut ya." Akbar mengusap-usap puncak kepala Ami.
Ami manggut-manggut. Tatapan teduh Akbar sudah bisa membuat hatinya tenang dan nyaman. Usapan tangannya membuat darah berdesir.
"Waktu imsyak eh waktu ngobrol lima menit lagi." Teriak Leo dari balik tirai. Diiringi tawa cekikikan Tasya.
Membuat Ami ikut-ikutan cekikikan. Berbeda dengan Akbar yang menatap jam tangannya dengan menghela nafas kasar serta ekspresi kecewa. Merasa baru semenit duduk bersama.
"Pulang ke Ciamis kapan, Cutie?" Akbar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan melanjutkan obrolan di sofa yang sama, dengan duduk saling menyamping itu.
__ADS_1
"Besok siang, Kak. Biar malamnyabada waktu belajar soalnya senin ada ulangan matematika."
Akbar mengangguk. "Padahal masih kangen. Rajin belajar ya, Cutie. Biar cepat gede."
"Ish, quote sesat muncul lagi." Ami mengeplak lengan Akbar yang kemudian tertawa.
Bersamaan dengan itu, Leo dan Tasya keluar dari tirai dan mendekat. Mereka hanya memberi waktu setengah jam demi menghindari kecurigaan orang-orang.
"Mi, ayo kita pergi. Mas Akbar ada jadwal ngedate kedua dengan Mbak Lea."
"Hihihi. Lesgow, Kak." Ami beranjak dari duduknya. Merasa geli melihat Akbar dan Leo yang saling tatap dan sama-sama memasang ekspresi jijik.
***
Ami dan Ibu sudah kembali ke Ciamis. Rutinas berjalan seperti biasanya. Jalinan cinta backstreet masih rapih belum terendus siapa pun. Hingga bulan pun berganti. Semakin dekat hari menuju acara study tour ke Yogyakarta angkatan kelas sebelas.
Ami menunggu kedatangan Ifa dan Marga di warung pempek yang tak jauh dari sekolah. Sudah janjian sebelumnya. Ia pun sudah minta maaf kepada Kia karena tidak bisa pulang bareng untuk hari ini dengan alasan ada rapat kegiatan. Meski sebenarnya ia sendiri yang suka memaksa teman sebangkunya itu untuk dibonceng. Tak berselang lama, dua temannya itu datang dengan membawa motor masing-masing.
"Waktunya berhitung, guys!" Sambutan Ami begitu Ifa dan Marga sudah duduk.
"Bentar atuh, Mi. Bo kong baru juga nempel di kursi. Aku mau pesen dulu kapal selam." Protes Marga dengan wajah memberengut.
"Ditraktir kan, Mi?" Ifa bertanya dengan antusias sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya."
"Cakeeep." Marga menjentikkan jari. "Kan aku jadi semangat laporan. Fa, hitung duit kamu buruan. Mumpung pempek belum otewe." Ia pun mengeluarkan hasil donasi khusus dari murid laki-laki.
Dua hari yang lalu, Ami menyampaikan ide untuk membantu Kia agar bisa ikut serta study tour dengan cara patungan satu kelas. Marga dan Ifa ditugaskan untuk menggalang dana secara senyap lewat pesan pribadi yang dikirim ke semua siswa sekelas, dengan nominal seikhlasnya. Dan hari ini donasi sudah terkumpul.
"Masih kurang, Mi. Rata-rata yang ngasih lima puluh ribuan, paling kecil dua puluh ribu." Ifa memberi laporan akhir usai digabungkan dengan pendapatan Marga.
"Kurangnya berapa? Biar sekurangnya dari aku." Ami memperhatikan Ifa yang menghitung dengan kalkulator ponsel.
"Kurang empat ratus delapan puluh ribu." Lapor Ifa.
Ami merogoh dompet dari dalam tasnya. Tadi menyempatkan menggesek kartu di ATM center sekolahnya. "Fa, besok bayarin ke Bu Elin. Alhamdulillah kelas kita full peserta seperti kelas lainnya." Lima lembaran merah diberikan kepada Ifa.
__ADS_1
"Kamu baik banget, Mi. Nyumbang paling gede." Marga tulus merasa kagum. Selain kocak, Ami suka paling depan dalam menuangkan inisiatif membantu orang.
"Alhamdulillah kebetulan ada rejekinya. Kan kita harus tolong menolong sesuai kemampuan." Sahut Ami dengan santai. Obrolan terhenti karena seorang pelayan menyimpan tiga porsi Pempek serta es jeruk di meja. Pembahasan hasil donasi sudah beres. Waktunya fokus menikmati sajian pempek kapal selam dan lenjer.
Keesokan harinya, Kia mendapt kejutan saat jam istirahat pertama. Marga selaku ketua murid mengumumkan jika semua 100% kelasnya ikut serta study tour. Ia menelungkupkan kepala di meja saat Ami memberi tahu jika biaya study tour sudah dibayar dari patungan teman-teman sekelas. Ia menyembunyikan mata yang berkaca-kaca karena haru.
Kia berdiri dari duduknya dan berkata, "Makasih ya, teman-teman semuanya. Aku speechless. Hanya Allah sebaik-baiknya pemberi balasan." Ia menyeka sudut matanya yang kemudian mendapat pelukan dari Ami.
Seisi kelas bertepuk tangan memberi semangat untuk Kia. Besok malam waktunya berangkat study tour ke Yogyakarta dengan menggunakan tujuh bus pariwisata.
***
Mama Mila menyambut ramah kedatangan Gita yang baru pulang dari kantor. Mengajak duduk di teras belakang rumah. Sudah dua kali sang sekretaris janjian ingin bertemu, namun baru kesampaian sekarang. Itu karena ia dan suaminya baru pulang dari Singapura usai mengantar Iko pindah rumah.
"Akbar pulangnya kapan, Gita?" Mama Mila tahu jika sang anak berada di Kuala Lumpur bersama Leo dengan rencana tinggal selama lima hari. Namun ingin memastikan info dari sekretaris anaknya itu.
"Pulangnya hari minggu, Tante. Besok aku akan booking tiket pesawatnya." Gita menyeruput teh miliknya yang tersaji di meja.
"Tante, pacarnya Mas Akbar orang mana? Boleh aku tahu." Gita menyampaikan tujuannya bertamu. Sejak diberitahu Leo di resepsi Iko waktu itu, rasa penasaran menyelimuti pikirannya. Hingga dalam waktu sebulan ini ia memperhatikan Akbar, tak ada petunjuk yang bisa mengorek informasi. Hanya sesekali melihat sang boss mengulum senyum jika sedang membaca pesan.
"Akbar sampai sekarang belum ngenalin seseorang ke tante." Mama Mila melihat ekspresi terkejut di wajah Gita.
"Masa sih, Tan? Waktu resepsi Iko, Leo bilang Mas Akbar sudah punya pacar. Awalnya kan aku liat Mas Akbar foto bersama di pelaminan sama cewek berhijab. Aku liatnya dari jauh jadi gak kenal. Pas aku konfirmasi ke Leo, katanya itu calon istri Mas Akbar."
Giliran Mama Mila yang terkejut dengan mata melebar. "Serius lho Akbar belum ngenalin. Tapi emang dulu pernah bilang udah punya pacar. Pas Tante tanya mau diajak hadir gak di nikahan Iko, itu anak cuma bilang maybe yes maybe no. Ah syukurlah kalau udah punya calon. Pulang dari KL akan Tante introgasi. Dududuh...jadi gak sabar nunggu Akbar pulang."
Jika Mama Mila nampak kegirangan. Lain halnya Gita yang memasang wajah sedih.
"Jadi gak ada peluangkah buat aku, Tan?" Gita menatap sendu.
Mama Mila baru sadar dari euforia. Lupa jika Gita punya perasaan suka terhadap Akbar sejak lama. "Gita sayang, Tante gak bisa jodoh-jodohin Akbar dengan siapa-siapa. Dulu juga pernah berusaha nyariin jodoh dengan CV, tapi sama sekali tidak dilirik Akbar. Om Darwis sampai nasehatin Tante agar jangan ngatur urusan pribadi Akbar. Jadinya Tante pun hanya pasrah menunggu dan berdoa jodoh yang terbaik untuk Akbar. Kamu sebaiknya buka hati untuk yang lain ya, nak. Kamu tuh cantik dengan karir cemerlang. Insyaa Allah ada laki-laki di luar sana yang lebih baik dari Akbar."
"Tapi Mas Akbar laki-laki paling sempurna di mataku, Tante." Keukeuh Gita.
Mama Mila menggelengkan kepala. "Anggapan itu karena kamu menutup hati untuk laki-laki lain. Usiamu juga sudah matang, Gita. Sebaiknya mulai sekarang berhenti ya mengharapkan Akbar. Bukan apa-apa, Tante gak ingin kamu terluka dan patah hati. Tante udah anggap Gita seperti anak sendiri. "
Gita menghembuskan nafas panjang. "Kalau aku udah tau siapa pacarnya Mas Akbar, jika cewek itu lebih segala-galanya dari aku, aku akan legowo mundur."
__ADS_1
Mama Mila diam tak bisa menyanggah pendirian Gita. Belum ada kekuatan. Itu karena ia belum tahu siapa wanita pilihan Akbar. Hanya bisa mengusap-usap bahu anak temannya itu agar sabar. Menahan untuk tetap tinggal hingga makan malam bersama.