
"Papa ngucapin selamat ke Akbar. Kan Akbar udah dapat penghargaan young entrepeneur contest dari presiden." Pak Bagja beralasan. Ia sedang berada di Jakarta saat Akbar mendapat undangan ke Istana Negara. Urusan pekerjaan selesai. Urusan penyelidikan track record pun kelar.
Ami manggut-manggut. Senyum penuh bangga pun menghiasi wajah cantiknya. Ia pun duduk sendiri di single sofa. Sementara Akbar hanya tersenyum mesem mendengar alasan Pak Bagja yang begitu luwes membuat alibi.
"Ami udah beres PTS nya?" Akbar menatap Ami. Tak merasa canggung dengan adanya Pak Bagja. Malah merasa untung. Biar bapak sambungnya Ami itu bisa menilai ketulusannya dalam mendukung dan perhatian terhadap pendidikan Ami.
"Alhamdulillah udah beres kemarin. Nanti awal Oktober mulai ada tugas kelompok semua mapel. Daftar kelompok harus dibuat mulai senin besok. Satu kelompok lima orang. Bakal ada dua kelompok jumlahnya enam orang. Kan total murid ada 32 orang."
Ucap salam terdengar dari Ibu Sekar yang baru datang. Membuat semua perhatian tertuju ke arah pintu utama yang terbuka lebar.
"Ada tamu rupanya. Udah lama, Mas Akbar?" Ibu Sekar menerima uluran tangan Akbar yang mencium tangannya.
"Ada sekitar lima belas menitan, Bu. Ibu ada salam dari Mama." Akbar menatap ibunya Ami yang duduk di samping Pak Bagja.
"Wa'alaikum salam. Sampaikan salam balik juga ya." Ibu Sekar tetap tersenyum ramah pada pemuda yang sedang gigih berjuang mendapat tiket restu.
"Kok ini cuma ada suguhan es jeruk aja. Ami udah nawarin Mas Akbar makan belum?"
"Emang boleh ditawarin makan, Bu? Takut salah." Sahut Ami diiringi senyum menyeringai.
"Ya boleh atuh. Biasanya juga suka ditawarin. Tapi makannya di rumah aja jangan di Dapoer Ibu."
Ami tersenyum lebar karena Ibu bersikap 'welcome'. "Kak, mau makan? Mau ya. Aku juga lapar belum makan nasi dari pagi. Kenyang jajan bandros tadi," ujarnya menatap sang tamu.
Ibu Sekar geleng-geleng kepala mendengar tawaran Ami yang tak biasa.
"Masih kenyang, Mi. Ami aja deh yang makan." sahut Akbar yang setengah ragu untuk menjawab iya di hadapan Ibu Sekar dan Pak Bagja.
"Sekali nolak, gak ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Besok-besok kalau bertamu gak akan ditawarin lagi." Ucap Pak Bagja dengan suara tegasnya.
__ADS_1
"Iya mau. Aku mau, Mi. Sama lapar juga." Bergegas Akbar meralat ucapannya. Bahayanya menolak makan sama dengan kehilangan momen berduaan dengan Ami.
Ami terkikik melihat gestur Akbar yang berubah panik dan gelagapan itu. Ia beranjak lebih dulu. Akbar menyusul kemudian usai izin dulu kepada Pak Bagja dan Ibu Sekar.
***
Akbar tahu diri dengan tidak berlama-lama bertamu. Usai berada di ruang makan, makan berdua dengan Ami, tak lama ia pamit pulang. Kembali ke hotel Seruni dan kini merenung di kamarnya. Sejujurnya tidak sepenuhnya senang dengan sikap 'welcome' Ibu Sekar. Ada tanda tanya dalam benaknya. Dan berujung waspada. Karena apa? Karena saat makan, pandangannya tak sengaja menangkap adanya kamera cctv mengarah ke meja makan. Dan baru sadar jika di ruang tamu pun melihat sekilas adanya letak cctv. Padahal dulu tidak ada kamera pengawas di dalam rumah. Kalau di luar memang sudah tahu ada. Terintegrasi dengan rumah makan Dapoer Ibu.
Akbar mulai berpikir cerdas. Membuat perkiraan jika ia sedang dalam ujian penilaian orang tuanya Ami. Untung saja tidak jadi mencolek lengan Ami saat awal bertamu tadi. Gerak geriknya dalam pantauan. Bisa jadi, jika tangannya nakal menyentuh Ami, pintu rumah tak akan terbuka lagi untuknya. Begitu ia membuat kesimpulan sendiri.
Aplikasi map mulai dibuka. Akbar melihat jarak tempuh dari hotelnya ke stadion Galuh Ciamis. Ia lalu membuat pemetaan dan coretan pada kertas yang tulisannya hanya dimengerti olehnya sendiri. Besok pagi harus tiba on time berarti harus mengatur strategi.
"Tom, ke kamarku sekarang!" Akbar mengakhiri panggilan usai mendapat sahutan sigap dari Tommy. Hanya menunggu sekitar enam menit, pintu kamarnya pun ada yang mengetuk.
Tommy duduk di sofa menunggu Akbar yang harus menerima dulu panggilan masuk. Sepertinya dari ibunya di Jakarta karena ia mendengar sang boss menyebut nama 'Mama' beberapa kali.
"Tom, aku butuh motor sport buat besok pagi. Butuh buat dipakai jam setengah enam. Tolong cariin yang bisa disewa." Akbar menyampaikan maksudnya memanggil Tommy.
"Aku mau olahraga di stadion Galuh. Pakai mobil takutnya kena macet di jalan karena barengan ada event jalan sehat di alun-alun Ciamis. Aku harus nyampe lokasi on time. Kalau pakai motor kan gesit."
"Oh kalau begitu gimana kalau pakai motor saya aja, Pak. Meskipun motor lama, tapi tongkrongan sangar, mesin bandel karena selalu dirawat. Ini motornya..." Tommy memperlihatkan foto di layar ponselnya.
"Oke, Tom. Aku suka motornya. Harus standby sebelum jam setengah enam pagi ya!"
"Siap, Pak."
***
Akbar terbangun subuh karena dering alarm yang sengaja distel nyaring. Takut kebablasan kesiangan. Usai melaksanakan sholat subuh, dilanjut melakukan peregangan. Ia belum tahu Pak Bagja akan memberi tantangan apa. Sekadar lari pagi bareng atau mau lomba balap lari. Sungguh belum terbaca.
__ADS_1
[Pagi, Panda.... Joging yuk! Nanti Kak Akbar coba izin ke Ibu dan Papa]
Akbar tersenyum mesem membaca pesan dari Ami yang baru saja masuk. Ami benar-benar tidak tahu jika salaman kemarin itu adalah sebuah kesepakatan dengan Pak Bagja. Bergegas mengetik pesan balasan.
[Gak bisa, sayang. Pagi ini ada meeting penting]
[Lagian Ibu sepertinya gak akan ngizinin kita pergi berduaan. Sabar ya, Cutie 😘]
Dengan mengenakan celana joger hitam dan kaos warna putih, helm full face, Akbar menunggangi motor sport milik Tommy menuju arah stadion Galuh. Ini pengalaman pertama menuju stadion kebanggaan warga Ciamis itu. Ia akan berangkat mengandalkan Google map dengan jarak tempuh tertera 40 menit.
Nyatanya waktu tempuh molor empat menit karena Akbar salah belok saking banyaknya persimpangan. Jadinya rute jalan berubah. Namun beruntung, tiba di pintu masuk stadion jam setengah tujuh kurang tiga menit. Sudah ada Pak Bagja berdiri menunggu dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Bagus. Kamu datang tepat waktu." Pak Bagja memberi apresiasi dan mengajak Akbar masuk ke dalam stadion. Tidak ada sesiapa di dalam. Hanya ada petugas yang sedang menyiram rumput lapangan bola. Karena tidak dibuka untuk umum. Baru dipakai jika ada pertandingan sepakbola atau even olahraga atletik. Sedang ia bisa masuk karena punya akses orang dalam.
"Kita mau apa nih, Pak?" Akbar memberanikan diri bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh tribun bangku penonton yang kosong melompong.
"Saya nantang kamu lomba lari satu putaran. Start dan finish disini. Kalau berhasil mengalahkan saya, tiket restu dari Ibu Sekar hari ini juga bisa kamu dapatkan. Saya jamin itu. So, are you ready?" Pak Bagja menarik sudut bibirnya menatap Akbar yang terkaget.
"I'm ready." Ucap Akbar pasti. Ia membuka jaket kulitnya untuk bersiap menuju garis start. Percaya diri bisa mengalahkan Pak Bagja yang umurnya sudah tua.
Aba-aba 'bersedia' mulai diucapkan petugas kebersihan yang didaulat Pak Bagja untuk memberi instruksi. Pak Bagja berada di samping kiri Akbar yang nampak tengah memusatkan konsentrasi.
"Siap!" Ucap instruksi itu. Pak Bagja dan Akbar sama-sama memasang posisi mengangkat panggul.
"GO!"
Akbar melesat lari lebih dulu berjarak tiga detik dari Pak Bagja. Sepertiga lintasan, ia mengawal lari makin jauh meninggalkan sang rival. Senyum tipis menghiasi wajah saat sudah melalui setengah lintasan. Tak boleh menatap ke belakang karena bisa berpengaruh menurunnya kecepatan dan kehilangan detik.
Hal yang tak disangka tertangkap sudut mata. Pak Bagja mengejar dan semakin mendekat. Membuat Akbar kaget dan merasakan nafas mulai ngos ngosan dan kecepatan lari mulai menurun. Akibat terlalu bersemangat di awal.
__ADS_1
Lain dengan Pak Bagja yang tetap konstan berlari dengan ritme teratur hingga pelan tapi pasti mendahului Akbar dan berakhir finish yang pertama. Barulah nafasnya ngos ngosan dan terduduk di lintasan usai melewati garis finish.