
Ami dan Padma berpisah di lobi gedung sekolah. Berpisah arah jalan karena Padma harus berbelok menuju tangga. Sementara untuk murid kelas 12, tak lagi menaiki tangga. Karena jajaran kelasnya ada di lantai dasar.
"Ami!" Suara pria memanggil. Membuat Ami memutar badannya ke belakang.
"Emon." Ami membalas senyum Almond yang mendekat setengah berlari.
"Cie, yang abis liburan dari Bali. Akhirnya masuk sekolah juga. Seneng deh aku ketemu Ami lagi." Almond mensejajari langkah Ami menyusuri koridor ruang perpustakaan.
Ami hanya merespon dengan cengengesan. "Gak minta oleh-oleh, Mon? Biasanya orang yang pulang liburan suka ditagih oleh-oleh.
"Aku mah beda. Ketemu kamu lagi udah jadi oleh-oleh spesial buat aku." Almond menoleh sambil tersenyum manis.
"Kalau aku fans kamu pasti udah ge er. Sayangnya biasa aja." Celetuk Ami santai dengan tatapan lurus ke depan. Ia balas menyahut teman beda kelas yang menyapanya.
"Hah. Kalau bukan Ami yang ngomong gitu, udah kuputus pertemanan. Heran deh gue. Kok gak bisa kesel sama lo. Iya deh iya. Emang gue yang ngefans sama lo." Almond mengeluarkan bahasa Jakarta nya sambil menoleh dengan memasang ekspresi sebal.
Ami terkikik. "Bagus, Mon. Gaul sama aku bisa kuat mental. Eh, itu kelasmu. Kenapa ngikut aku terus?" Ia menghentikan langkah di pertengahan kelas IPA 2 karena kelas Almond di IPA 1 sudah terlewat.
"Belum tau ya? Aku udah pindah di IPA 3." Almond melenggang santai meninggalkan Ami yang melongo seolah tidak percaya.
"Apa ini maksud kejutan Kia kemarin?" ucap batin Ami yang kemudian menoleh ke belakang saat mendengar suara Kia memanggilnya. Bukan hanya melihat Kia, ada juga Ifa dan Marga yang datang bersamaan.
"Kia, surprise yang kamu maksud itu Almond?!" Todong Ami usai adu tos dengan Kia, Ifa, dan Marga.
Kia mengangguk dan cengengesan. "Almond yang minta sama semuanya jangan ngasih tau Ami. Biar jadi surprise katanya. Dia tukeran kelas sama Ridho. Jadi Ridho pindah ke IPA 1."
"Waktu dulu si Almond keliatan songong. Tapi selama dua hari dia di kelas kita, anaknya nyenengin juga. Ramah dia. Malah bagi-bagi oleh-oleh liburan dari Dubai." Sahut Marga sang Ketua Murid.
"Mi, semua ciwik merasa berkah ada Almond di kelas kita. Bisa cuci mata jarak dekat sama wajah blasteran Arab. Si Sonya paling duluan ngajak selfie. Hihihi." Sahut Ifa.
"Hais, makin kecentilan kabeh ini mah." Ami memutar bola mata lalu melanjutkan langkah yang juga diikuti ketiga temannya itu.
Kia menunjuk bangku belakang jajaran kedua sebagai tempat duduknya dengan Ami. Dan bangku Almond yang duduk dengan Vino, berada di depannya.
Almond yang sudah duduk di kursinya, memutar tubuh ke belakang dan senyam senyum menatap Ami. "Mi, gak mau ngucapin welcome gitu."
Ami menatap Almond yang kentara wajahnya berseri-seri. Memang dulu Almond pernah bilang ingin sekali gabung di kelas IPA 3 karena kompak. "Welcome, Almond. Semoga betah gabung di kelas IPA 3," ujarnya menghargai usaha teman baiknya itu.
"Of course. Mimpi yang jadi nyata bisa sekelas sama Ami Selimut. Ada oleh-oleh Dubai buat kamu, Mi. Nanti ya pulang skul. Soalnya ada di mobil" Almond tersenyum lebar.
"Wehhhh....Thank you, Mon. Kalau aku mah oleh-olehnya pie susu khas Bali. Nanti deh dibagiin pas istirahat."
__ADS_1
"Mi, sama aku ya bagiinnya." Vino menepuk dada, menawarkan diri. Yang mendapat jawaban anggukkan dari Ami.
Bel tanda masuk baru saja berbunyi. Semua murid duduk rapih menghadap ke depan karena diultimatum Marga.
"Mi, kapan Ami sama A Zaky mau mampir ke nasgor lagi? Kabarin ya." Bisik Kia saat guru baru saja masuk.
"A Zaky udah terbang ke Singapura. Kemarin langsung pakai pesawat dari Bali." Sahut Ami tak kalah berbisik.
"Owh." Hanya satu kata pendek yang bisa dikeluarkan dari bibir Kia yang kelu.
***
Hari terus bergulir. Ami mulai terbiasa dengan kehadiran Pak Bagja yang tinggal satu atap dengannya. Ayah sambungnya itu setiap harinya pergi pagi pulang siang menjelang sore dengan mengajak Ibu untuk memantau usaha perkebunan yang sudah dirintis sejak resmi pensiun. Tidak sedikit, lahan yang dimilikinya seluas 3 hektar dengan jenis komoditas yang sekarang ditanam adalah cabe merah, cabe rawit, mentimun, pakcoy, dan brokoli.
"Ami, bentar dulu Papa mau bicara." Pak Bagja bergabung di meja makan usai berpakaian rapih. Menahan Ami yang hendak beranjak usai sarapan. Ia melihat jam, masih ada waktu cukup sebelum Ami berangkat sekolah di jumat pagi ini. Ia duduk di samping Ibu Sekar.
"Ada apa, Pa?" Ami melihat ekspresi serius di wajah ayah sambungnya itu.
"Papa pengen ngajak Ibu dan Ami pindah rumah ke rumah Papa. Papa udah tanya Ibu lebih dulu. Dan jawaban Ibu terserah Ami. Ibu akan ngikut maunya Ami. Soal ke sekolah karena jaraknya jadi lebih jauh, Papa akan tugaskan sopir untuk antar jemput Ami. Kamar untuk Ami, kemarin udah Papa siapkan posisinya berdampingan dengan kamar Gina di lantai dua. Gimana Ami setuju?"
Ami sejenak berpikir mencermati semua ucapan Pak Bagja. "Pa, maaf ya. Aku pengen tinggal di sini aja. Disana rumah Papa terlalu besar dan gak ada penghuninya. Kalau ada Teh Gina sih masih mending jadi aku ada temen. Soal antar jemput, justru aku tuh nunggu umur 17 karena pengen mandiri. Karena selama ini sekolah selalu diantar jemput. Aku sangat excited bisa pakai motor ke sekolah."
"Malam sekarang aku gak bisa, Pa, Bu. Padma mau nginep disini. Malam Minggu sih oke. Untuk malam ini Ibu aja dulu yang nginep disana ya. Biar aku disini sama Padma dan Bi Ela."
"Ajak aja Padma nginep disana aja sekalian." Ucap Ibu Sekar yang juga diangguki Pak Bagja.
"Enggak bisa, Bu. Justru aku lagi kangen tidur berdua sama Padma di kamarku. Udah, Ibu aja dulu yang kesana. Besok siang, aku sama Padma nyusul. Ibu harus nurut sama aku ya!" Ami cengengesan mendapat pelototan Ibu.
"Papa sih nurut sama Ami."
Ami mengacungkan jempol. "Udah deal ya. Aku harus berangkat sekarang!" Ia beranjak dari duduknya. Mencium tangan Ibu dan Papa. Lalu berucap salam dan melangkah dengan semangat di hari terakhir sekolah karena besok libur.
"Jangan cemas, Ibu Ratu. Kita harus ikuti maunya Ami selama itu baik. Beri dia kepercayaan. Sikap demokratis kita akan membentuk karakter mandiri. Hitung-hitung latihan, biar nanti saatnya Ami pergi jauh untuk kuliah, mental sudah terlatih." Pak Bagja seolah bisa membaca arti ekspresi wajah Ibu Sekar yang berubah murung.
Ibu Sekar menghembuskan nafas panjang. "Waktu kok cepat sekali berputar. Ami udah mau tamat SMA aja. Entah kenapa aku merasa Ami gak pernah besar. Merasa masih SD aja. Apa mungkin karena sifat rame dan jahilnya gak berubah ya." Ia pun bisa terkekeh akhirnya.
"Hm, bisa jadi karena itu. Aku aja masih ingat saat mau bertamu kesini tapi harus pakai password dulu sebelum masuk. Waktu itu Ami SMP. Passwordnya harus jawab tebakan dengan benar. Untung aku cerdas bisa jawab." Pak Bagja pun terkekeh mengingat kenangan itu.
"Oh iya aku ingat. Waktu itu aku lagi di dapur kan. Pas mau menghampiri, Pak Jenderal malah ngedipin mata." Ibu mengulum senyum.
"Waktu itu gimana rasanya dikedipin? deg deg ser, nggak?" Pak Bagja menopang dagu dengan wajah dicondongkan sangat dekat ke wajah istrinya itu.
__ADS_1
"B aja." Ibu Sekar mengulum senyum dengan telunjuk menahan bibir suaminya itu yang akan menyerang pipinya.
***
Ponsel yang terpasang di tripod itu menampilkan wajah Ayang Panda yang terlihat masih berada di kantor, duduk di kursi kebesarannya. Berbeda dengan Ami yang sore ini sudah berpakaian santai usai mandi. Ami sudah memberi tahu Akbar jika malam ini Padma akan menginap di rumahnya dan Ibu akan menginap di rumah Pak Bagja. Makanya komunikasi video call dimajukan sore ini.
"Padma bakal jadi orang pertama yang tahu hubungan kita, Kak. Aku sih yakin, Padma bisa jadi teman curhat yang baik. Mudah-mudahan dia gak pingsan pas tau siapa itu APB." Ami terkikik pelan.
"Kalau aku, orang pertama yang akan kukasih tau itu kakak ipar Cutie. Rama."
"Waduh. Aku jadi deg-degan. Kirain mau langsung ke Ibu?" Ami menatap dengan raut kaget.
"Penting. Sebelum datang ke Ibu, curhat dulu ke sepupu sendiri yang aku yakin bisa dipercaya dan bisa support." Akbar tetap bersikap tenang dan santai.
"Mau bicara kapan, Kak?"
"Kemungkinan minggu depan. Kemarin aku udah bilang sama Rama pengen ketemu empat mata bicara urusan pribadi. Tapi kita belum punya waktu yang klik. Besok aku ke Sentul ikutan event slalom. Minggunya Rama mau touring Harley ke Anyer."
"Hm, pada sibuk dengan hobi masing-masing ya. Aku jadi pengen nonton Ayang balap slalom deh." Ami tersenyum meringis.
"Yuk aku jemput sekarang ya. Mau?" Akbar menantang serius.
"No. Impossible. Mendoakan dari sini aja. Semoga ayangku juara." Ami mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bibir dimajukan lima senti.
Akbar mengulas senyum melihat gaya Ami yang menggemaskan itu. Gak tau apa, kalau gestur seperti menggoda iman, mengeliatkan imin. Ah dasar Cutie nya yang polos, keluh batinnya.
"Amiiiii, Padma datang." Teriakan diikuti ketukan di pintu, membuat Ami tersenyum miring sambil menatap Akbar.
"Alarm udah bunyi. Kita harus udahan." Ami melambaikan tangan sambil mengedipkan mata.
Akbar terlihat menghembuskan nafas kasar dengan memasang wajah sendu.
"Jangan sad gitu, Ayang. Wajah handsome yang sad gitu jadi mirip tanaman perdu. Tau gak mirip tanaman perdu apa?"
Akbar menggelengkan kepala. "Aku anak IPS, Cutie. Emang mirip perdu apa?"
"Mirip.....perdua bersamamu mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cintaaa 🎶"
Akbar tertawa renyah melihat Ami cosplay bernyanyi dengan sisir gulung menjadi mic nya.
"Nah gitu ketawa. Kan gantengnya jadi naik level. Ah udah ah itu Padma manggil lagi. Bye." Ami mematikan sambungan video lebih dulu. Lalu menyahut panggilan Padma.
__ADS_1