
Cuti yang diambil Gita bukan sembarang cuti. Sudah sangat penasaran dengan siapa perempuan yang sudah memenangkan hati Akbar. Penyelidikan dengan membayar orang suruhan sudah dilakukan begitu Akbar dan orang tuanya Minggu lalu berangkat ke Tasik. Ia menugaskan seorang penguntit yang handal di bidangnya.
Jika Mama Mila ataupun orang-orang terdekat Akbar masih bungkam dengan siapa sosok perempuan itu, ia tidak tinggal diam mencari tahu sendiri. Maka dari itu, di hari ketiga masa cutinya yang bertepatan dengan keberangkatan Akbar ke Kuala Lumpur, ia gunakan untuk berangkat ke Tasik bertemu langsung dengan sosok perempuan yang telah mencuri hati sang CEO Pulangpergi.
Gita bersama seorang temannya sengaja menginap di hotel lain. Karena jika menginap di hotel Seruni bisa mengundang kecurigaan Tommy.
Dan di sinilah sekarang Gita berada. Di sebuah cafe yang jaraknya sekitar 500 meter dari SMA fullday school tempat Rahmi Ramadhania menimba ilmu. Sempat kaget begitu mendapat informasi lengkap dari orang suruhannya. Bagaimana silsilah seorang Rahmi yang ternyata berkaitan dengan keluarga besar Adyatama Group. Merupakan adik iparnya Rama. Membuatnya berpikir tidak boleh bertindak gegabah.
Sementara di parkiran motor sekolah, Ami berdiri berhadapan dengan seorang perempuan cantik yang mengenakan kacamata hitam. Menunggu menyebutkan nama. Karena ia merasa tidak mengenal perempuan tersebut.
"Oh ya, kenalan dulu. Namaku Luna dari Jakarta. Aku ingin ngobrol penting sama kamu. Bisa nggak kita cari tempat buat ngobrol karena ini ada kaitannya dengan Mas Akbar."
Ami menyambut uluran jabat tangan perempuan yang bernama Luna itu diiringi raut terkejut karena nama Akbar disebut. Sikap waspada mulai dipasang.
"Kita ngobrol di sana aja, Mbak." Ami menunjuk bangku beton yang ada di bawah pohon kersen.
"Aduh jangan di ruang terbuka gini ya, polusi. Tadi pas lewat aku liat ada Cafe namanya Cafe Geranium. Gimana kalau kita ngobrol di sana aja kayaknya tempatnya cozy. Tenang, aku yang traktir. Kamu tahu kan Cafe itu?"
Ami mengangguk. Iya sepakat akan mengikuti perempuan bernama Luna itu. Tapi akan berangkat sendiri menggunakan motornya. Melihat Luna sudah berlalu lebih dulu, Ami mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Bicaranya sangat serius dan menjelaskan cukup panjang. Usai sambungan telepon berakhir, ia lantas mengenakan helmnya.
Tiba di cafe yang dimaksud, Ami mengedarkan pandangan di depan pintu. Langkahnya tertuju pada Luna yang melambaikan tangan di meja dekat jendela. Nampak duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut panjang yang belum terlihat jelas wajahnya.
"Duduk, Rahmi." Luna masih bersikap ramah menunjuk satu kursi yang ada di sebelah kanan meja.
Ami menarik kursi dan duduk. Seketika terkejut melihat perempuan yang duduk berhadapan dengan Luna itu kini terlihat jelas wajahnya. "Mbak sekretarisnya Kak Akbar, kan?"
"Kamu kenal aku? Emangnya kapan kita pernah ketemu?" Gita menatap tajam serta menelisik wajah Ami. Ia tidak bisa seperti Luna harus beramah tamah. Sedari tadi menunggu, ia sudah scroll media sosial Ami. Kini melihat langsung sosok penggoda Akbar, begitu anggapannya. Hatinya pun langsung gondok.
Ami memindai lawan bicara dari gaya bicaranya seketika ide-ide pun bermunculan di benaknya.
"Mbak Gita Sucita sekretarisnya CEO Akbar Pahlevi Bachtiar. Betul, kan?" Ami menatap tenang dan santai sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu tau dari Mas Akbar?!" Gita tak menyangka dirinya dikenali lebih dulu. Ini di luar ekspektasi.
"Tentu saja. Aku kan calon istrinya Kak Akbar. Calon suamiku udah terbuka tentang keluarga, tentang pekerjaan, hobinya. Pokoknya Kak Akbar udah buka-bukaan. Ups. Jangan negatif thinking ya." Ami tersenyum malu-malu.
Sebaliknya Gita panas membara dadanya. Kata 'buka-bukaan' malah membuat pikirannya traveling menjelajah jauh ke luar angkasa.
"Tunggu-tunggu. Sebelum lanjut obrolannya, sebaiknya kita pesan menu dulu ya." Luna berusaha mendinginkan suasana. Terutama mendinginkan Gita yang ia sepak kakinya di kolong meja.
"Aku air mineral aja. Dan maaf nggak bisa lama-lama di sini. Katanya mau ngobrol tentang Kak Akbar. Soal apanya ya? Aku harus segera pulang soalnya ibu menungguku di rumah." Ami menatap Luna dan Gita bergantian.
"Oke, to the point aja. Asal kamu tau, orang tua aku dan orang tua Mas Akbar dari dulu sepakat ngadain perjodohan. Tapi kamu tiba-tiba hadir di antara hubungan aku dan Mas Akbar." Gita memasang wajah sendu. Menghembuskan nafas kasar.
"Oh, begitu?" tak ada ekspresi kaget. Ami tetap menanggapi dengan tenang.
"Aku tahu cewek seumuran kamu itu tidak akan serius menjalin hubungan. Kamu godain Akbar karena butuh duitnya kan? Aku bisa kasih konvensasi berapa pun yang kamu mau. Sebutkan saja angkanya. Asal tolong pergi dari kehidupan Mas Akbar. Hanya aku yang pantas menjadi pendampingnya. Kamu terlalu muda buat dia." Gita memohon dengan memasang wajah memelas.
"Aku nggak tahu harus komen apa ya, Mbak Gita. Pertama soal perjodohan. Aku gak percaya. Karena apa? Karena Mama Mila dan papa Darwis Minggu kemarin baru aja datang ke rumah mau nyiapin lamaran aku sama Kak Akbar.
__ADS_1
"Kedua, mbak Gita nyangka aku cewek cabe-cabean gitu? Maaf ya aku nggak serendah itu justru Mbak lah yang merendahkan harga diri sebagai seorang perempuan. Ngejar cowok yang jelas tidak pernah menghadapkan hati padamu."
"KAMU!" Gita berdiri dan melayangkan tangan ke wajah Ami untuk menampar. Namun hanya menggantung di udara karena pergelangan tangannya lebih dulu ditahan oleh Ami yang ikut berdiri. Lalu dihentak. Membuat Gita oleng dan sigap memegang ujung meja agar tidak terjengkang.
"Apa Mbak Gita gak takut resiko berurusan dengan calon Nyonya Akbar?" Ami menatap tajam dengan satu alis terangkat.
"Kamu mau ngadu sama Mas Akbar?"
"Bagusnya gimana?" Tantang Ami.
Gita terdiam. Mengira perempuan yang dianggap perempuan desa itu bisa dengan mudah diintimidasi. Lagi-lagi di luar ekspektasi. Salah besar.
"Rahmi, maaf ya aku ikut campur. Sebaiknya obrolan ini cukup kita bertiga aja yang tahu. Karena semuanya sudah jelas. Berarti rumor Mas Akbar punya pacar anak SMA itu nggak salah. Maafin sikap Gita ya. Harap maklum dia merasa kecewa karena wacana perjodohan antar orang tua batal. Please, nggak usah ngadu ke Mas Akbar ya."
"Baiklah. Kalau gitu obrolan kita udah selesai kan. Ini nitip bayar minuman aku." Ami mengeluarkan uang sepuluh ribu dari saku. Menyimpannya di meja. Kemudian berlalu pergi dengan membawa sebotol air mineral yang belum sempat diminum.
Kita menatap Luna dengan ekspresi kesal. "Kenapa kamu ngomong gitu? Harusnya gue ngasih pelajaran dulu sama bocah itu."
"Hei, lo nyadar gak. Kita udah nganggap remeh bocah itu. Kita udah ngira dia adalah gadis kampung yang polos. Ternyata lo salah lawan, Git. Gue tadi nyelamatin elo dari kemungkinan lo dipecat Akbar. Harusnya berterima kasih sama gue."
***
Ami turun dari motor begitu tiba di depan pintu gerbang rumahnya. Berdiri menatap mobil yang mengikutinya yang kemudian berhenti. Dari pintu penumpang, Padma turun dan berjalan mendekatinya.
"Gimana bagus nggak videonya?" Ami mengajak Padma masuk dulu dan duduk di teras.
"Gini ya rasanya jadi agen 007. Hihihi. Tegang loh tadi Padma pas ngerekam. Hampir aja tadi mau jerit pas waktu Ami mau ditampar. Asli tegang." Padma memberikan ponselnya. Memperlihatkan rekaman video saat tadi mendapat perintah mengikuti Ami masuk ke cafe.
"Gak nyangka ya sekretarisnya Kak Akbar itu angkuh dan nggak tahu diri." Sama halnya Padma yang tidak terlalu kaget. Karena Ami pernah curhat jika ada perempuan yang mengejar-ngejar Akbar sejak lama yaitu Gita.
"Hu um. Dan video ini buat jaga-jaga kalau suatu saat dia bertindak di luar nalar sama aku. Aku bisa laporin ke Kak Akbar. Untuk sekarang biarin aja dulu."
"Nyonya Panda baik banget deh. Padahal bisa aja sekarang juga dilaporin ke Kak Akbar. Biar mbak Gita dimutasi jabatan atau mungkin dipecat." Padma terkikik karena Ami menyenggol bahunya hingga sama-sama oleng ke samping.
"Eh, kok pada duduk di teras. Ayo masuk. Ibu bikin es pisang ijo tuh. Cobain deh." Ucap Ibu Sekar yang muncul dari pintu utama. Hendak melihat ke jalan karena Ami belum juga pulang. Ternyata anaknya itu sedang ada di teras bersama Padma.
"Padma mau langsung pulang Bu. Nih Bunda udah ngechat nanyain kenapa telat pulang. Pisjo nya boleh ya Bu dibungkus. Hehehe."
"Boleh, Padma. Sekalian aja buat bunda sama Enin ya." Ibu menyuruh Ami membantu menyiapkan es pisang ijo untuk dibungkus.
Usai menyerahkan 3 cup es pisang ijo kepada Padma yang langsung pulang, Ami naik ke kamarnya. Bukan hanya Padma yang disuruh merekam video. Ia pun merekam suara dari ponsel yang tersimpan di saku hoodie nya. Kini diputar ulang untuk mendengarkan hasilnya.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Ami memutuskan Tasya lah orang yang tepat dijadikan teman curhat untuk urusan pribadinya. Bukannya tidak percaya kepada ketulusan cinta Akbar. Namun ia menyadari bahwa eksekutif muda itu punya pesona di mata para perempuan baik yang single ataupun yang sudah menikah. Akbar memang memperkenalkan orang-orang terdekatnya lewat foto tanpa memberitahu jika ternyata sekretaris yang bernama Gita itu punya rasa yang terpendam. Dan soal itu ia ketahuinya dari Tasya.
"Ami, kenapa gak ngajak aku sih. Kalau tahu si Gitgit nyamperin kamu, tak bejek-bejek itu mukanya. Ih aku jadi gemessss." Suara Tasya terdengar melengking usai mendapat kiriman video serta rekaman suara dari Ami.
"Emangnya Jakarta ke Tasik nyampe dalam waktu 5 menit aja, Kak?" Ami terkikik. Usai mandi dan makan, ia memang memutuskan melaporkan hasil meeting di cafe tadi pada Tasya.
"Mau nebeng lewat pintu Doraemon, Mi." Tasya dan Ami tertawa bersama.
__ADS_1
"Kak, aku nggak akan ngadu ke Kak Akbar. Biar ajalah dulu. Moga aja mbak Gita nggak berulah dan sadar diri."
"Baik sekali kamu, Mi. Oke, yang penting aku nitip satu hal aja ya. Ami harus percaya 100% sama kesetiaan Mas Akbar. Aku saksinya. Dia itu orang baik. Aku tau pasti soalnya kan dia itu deket banget sama Papa Embun. Jangan dipikirin cewek-cewek di luar sana yang pengen deketin atau sebatas kagum sama Mas Akbar. Karena Ami lah pemilik hatinya. Oke?!"
"Oke, Kak. Makasih ya Mama Embun. Ah, sayang sekali nggak bisa video call sama Embun."
"Sesame, say. Embun nginep di rumah mbah uti. Tadi siang dijemputnya. Jadi Malam ini aku leluasa bikin adik buat Embun. Ups, lolos sensor ini mulut. Tapi gak mungkin ngadon sih. Kan Papa Embun ada di KL sama Tuan boss. Duh, aku ngomong sama anak di bawah umur ya. Eh nggak ding. Ami kan udah bukan lagi anak-anak. Tapi siap bikin anak." Tasya tertawanya renyah tanpa beban.
"Kak Tasya ih. Jangan bahas gituan. Aku malu tahu." wajah Ami bersemu karena Tasya begitu lemes mulutnya.
"Hahaha. Ami nggak usah malu sama aku. Aku tahu kok kalau bicara urusan privat sama saudara sendiri pasti malu. Jadi Ami bisa bertanya sama aku nanti kalau udah dekat hari akad. Aku akan ngasih tip gimana caranya malam pertama agar tidak tegang. Karena mendapat tusukan pertama itu sakit."
"Ahhhh, Kak Tasya. Jangan dulu bahas itu ah. Udah ah udahan dulu. Bye." Ami tersenyum meringis karena otaknya mendadak traveling.
Terdengar tawa cekikikan Tasya sebelum akhirnya sambungan pun terputus.
Baru aja 10 menit hening, ponsel Ami kembali berdering. Sebuah nama yang berhasil membuatnya tersenyum lebar. Video call dari panda. Segera mengenakan pasmina.
"Sayang, I miss you." ucap Akbar dengan mata mengerjap manja.
Ami menatap lembut dengan dada yang berdesir. Tentu saja merasakan hal yang sama. "Aku juga, Ayang Panda. Hm, katanya gak akan vc dua hari."
"Faktanya mana tahan aku nggak natap wajah cantik Cutie dan gak dengar suaranya."
"Merosot adek, Bang." Ami benar-benar menghilang dari layar ponsel karena menjatuhkan tubuh ke bawah sofa.
Akbar tertawa renyah. "Hei, sayang.....harusnya kan 'Meleleh adek, Bang' bukan merosot. Naik lagi, Cutie. Aku kangen liat lesung pipi mu."
Ami duduk lagi di sofa. Memberi senyum manis untuk sang kekasih yang berada di Kuala Lumpur. "Frasa yang terlalu pasaran itu sih. Aku kan selimut. Bukan hanya singkatan selalu terlihat imut. Tapi juga selalu membuatmu terhanyut."
"Bang, mau tanya. Delman tujuan ke Mars lewat jam berapa? Gak kuat gue tinggal di Bumi."
"Eh, itu suara Kak Leo, kan? Kirain Kak Akbar vc sendirian." Ami terkejut mendengar teriakan yang terdengar jelas.
Akbar tertawa dan nampak cuek. Sama sekali tidak terganggu dengan adanya Leo yang juga berada di kamar hotel yang sama. Karena memang memesan twin bed.
"Biarin aja, Cutie. Karena kalau kepanasan, nanti setan akan lari dengan sendirinya."
Dan Ami melihat belakang kepala Akbar terkena lemparan bantal. Ia pun tertawa cekikikan.
"Oh ya, ada good news dari Zaky. Sabtu besok janjian ketemu. Zaky udah ngasih alamat apartemennya. Nanti aku akan ke sana."
"Alhamdulillah. By the way, dekat dengan rumahnya Kak Iko nggak?"
"Lumayan jauh sekitar 50 menitan lah. Check out dari sini aku langsung ke Singapura kalau Leo langsung pulang ke Jakarta."
Ami mengangguk. "Aku akan berdoa semoga A Zaky dilembutkan hatinya. Nggak ada drama-drama sampai Kak Akbar dipersulit."
"Aamiin. Cutie emang calon istri soleha. Makin cinta deh."
__ADS_1
"Udah, Bang. Udah. Gak kuat aku dengernya."