
"Selama Aa ada di Ciamis, Ami akan diantar jemput sekolah, ditemenin jalan-jalan. Pokoknya nemenin segala kegiatan Ami di luar rumah." Ucap Zaky yang mengemudi mobil dengan tenang. Mengantar Ami di hari pertama kembali masuk sekolah setelah libur semester.
"Weh, pocecip syekali kakakku ini. Asiap lah punya sopir pribadi yang ganteng." Ami tersenyum lebar dan mengangkat tangan memberi simbol finger heart.
"Ini bakal jadi kenangan. Beres sekolah kan Ami nikah. Bakal dibawa pindah sama Mas Akbar. Kita nggak akan punya banyak waktu sering bersama seperti ini. Tanggung jawab Aa bakal berpindah ke Mas Akbar. Dan kita juga jadi manusia dewasa yang punya perjalanan hidup masing-masing. Ami nikah, Aa namatin kuliah S1 terus lanjut S2 ke Swiss."
Ami memalingkan wajah ke sebelah kiri. Ucapan Zaky membuat matanya tiba-tiba perih karena keharuan menyeruak. "Ah bahasannya nggak asik. Bikin mellow aja."
"Biar pun nanti kita berjauhan lagi, pokoknya harus tetap sering komunikasi. Aku juga bakal mantau Aa yang pengen punya pacar bule Australia."
Zaky menoleh sekilas dan mendecak. "Bule aja nggak pakai Australia. Kamu pasti keukeuh mau jodohin Aa sama kangguru."
Ami terkikik melihat Zaky mendecak sebal dan lalu menjitak kepalanya. Daripada membahas tema yang mellow, lebih baik membahas yang membuat tawa atau menyebalkan.
Mobil sudah berhenti di depan trotoar sekolah. Ami turun usai mencium tangan Zaky. Langkahnya ringan memasuki gerbang sekolah. Mengawali hari hingga lima bulan kedepan menyelesaikan semester akhir masa sekolah SMA. Harus tetap semangat dengan kesibukan belajar dan tugas yang menanti di depan. Ditambah dengan rencana masa depan yang sudah siap diwujudkan.
"Ecieee." Kompak seluruh murid yang sudah ada di kelas begitu melihat Ami masuk. Murid laki-laki ada yang lanjut suit-suitan. Ozi malah mengikuti Amii sambil pandangannya dan jarinya menunjuk ke jari manis Ami yang tersemat cincin putih bermata berlian kecil.
Ami paham godaan teman-temannya itu. Ia tetap santai melangkah tanpa berkomentar. Menuju mejanya yang berada di paling belakang. Mereka sudah lebih dulu gaduh saat di grup chat. Mengucapkan selamat sambil menggodanya sebagai otewe Nyonya coach.
"Mi, mana kompensasi buat kita yang nggak diundang ke acara tunanganmu? Traktir bakso ya, Mi!" Ucap Vino yang mendapat koor suara persetujuan teman lainnya.
"Hm, oke deh. Aku traktir semuanya aja. Mau kapan waktunya?" Jawaban Ami mendapat riuh tepuk tangan teman-temannya.
"Nanti pulang sekolah gimana, guys? Acungkan tangan yang setuju." Marga sebagai ketua murid, bertindak menjadi koordinator.
Ada sekitar 10 orang yang tidak mengacungkan tangan. Termasuk diantaranya Kia yang duduk di samping Ami.
"Kia, kenapa nggak ngacung?" Ami menatap penasaran.
"InsyaAllah aku lagi puasa, Mi." Kia tersenyum meringis.
"Diundur besok bisa nggak? Aku lagi niat puasa. Sayang euy kalau dibatalin." Celetuk Prasetya Budi yang lebih akrab disapa Budi.
Ada tiga orang yang tidak bisa dengan alasan sedang puasa sunnah. Sementara yang tidak bisa ikut yang lainnya, beralasan karena ada acara keluarga. Akhirnya ada kata mufakat, makan-makan baksonya besok hari Selasa sepulang sekolah.
Kegaduhan mereda karena bel berbunyi. Pelajaran hari ini berjalan lancar hingga tiba waktunya pulang sekolah. Seperti biasa, Ami selalu mengajak Kia pulang bersama jika teman sebangkunya itu tidak membawa motor.
"Emang motornya parkir di mana, Mi?" Kia menoleh dan menatap heran karena Ami mengajak berjalan ke arah gerbang bukan ke parkiran motor.
__ADS_1
"Nggak bawa motor tapi diantar jemput sama A Zaky. Dia tuh konsisten setiap pulang ke Ciamis, bakal jadi sopir dan bodyguard aku. Hehehe."
Kia sontak menghentikan langkah karena kaget. "Mi, aku nggak ikut ya. Mau naik angkot aja. Nggak enak ah ngerepotin A Zaky."
"Ah,Kia. Kayak baru pertama kali aja ikut pulang bareng dengan sopirnya A Zaky. Dulu juga pernah. Ini nostalgia tahu. Ayo ah!" Ami tidak terima penolakan. Ia menarik tangan Kia, berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di bahu jalan.
"Aku gak mau jadi kayak sopir pribadi ya. Please, satu orang duduk di depan!" Zaky menatap dari spion tengah terhadap dua orang penumpang yang ada di jok belakang.
"Kia tuh temenin A Zaky. Aku mau rebahan sambil chatingan sama ayang."
Kia merasa sungkan kalau harus duduk di samping Zaky. Tapi nggak mungkin juga menolak karena Ami mendorong bahunya. Jadilah ia pindah di jok penumpang depan. "Hei, jantung. Nggak usah disko. Biasa aja, please."
Tak ada obrolan sepanjang mobil melaju menuju lampu merah tempat Kia turun. Karena Zaky menerima telepon. Mungkin dari Singapura karena obrolannya menggunakan bahasa Inggris. Ami pun di jok belakang sibuk dengan kedua jempol mengetik cepat sambil senyum-senyum.
"A Zaky, aku turunnya di lampu merah." Dia mengingatkan Zaki yang baru selesai mengakhiri sambungan telepon.
"Kirain mau main dulu ke rumah Ami. Nanti aku anterin pulangnya. Kebetulan nanti sore mau ke Tasik lagi ada janji sama teman." Zaky menoleh sekilas. Perlahan mulai menurunkan kecepatan karena 500 meter di depan menuju lampu merah.
"Iya, Kia. Main aja dulu yuk Ke rumahku. Tenang, ada driver ganteng, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong. Bakalan nganterin pulang sampai depan gang. Mau ya?" Sahut Ami sengaja menimpali.
Kia menahan kekehan karena ucapan Ami barusan. "Maaf, Mi. Nggak bisa. Sore ini aku ada tugas bantu Bapak persiapan bahan-bahan untuk jualan nanti."
"Nasgor bapaknya Kia buka tiap hari apa ada hari liburnya, Mi?" Zaky melajukan lagi mobil begitu lampu berganti hijau.
"Kenapa nggak tanya langsung tadi sama, Kia?"
"Kan tadi lagi nerima telepon dari teman di Singapura. Keburu Kia-nya turun."
"kalau nggak berubah, liburnya tuh tiap malam Jumat. Kalau penasaran pastinya, ya chat aja Kia."
Zaky tidak menjawab. Keburu ponselnya berdering lagi. Ada panggilan masuk dari sahabat masa SMK nya.
***
"Ma, Akbar berangkat dulu!" Akbar mencium tangan Mama Mila. Sudah sebulan berlalu dari tanggal lamaran selama ini komunikasi dengan Ami sebatas telepon dan video call atau chatingan. Sabtu subuh ini, bersiap berkunjung ke Ciamis.
"Iya, nak. Mama doakan moga lancar di perjalanan sampai ke sana selamat, dan pulang lagi dengan selamat. Salamnya sama Ami dan orang tuanya." Mama Mila mencium pipi kiri dan kanan anak sulungnya itu. Mulai tahun baru, setiap perjalanan jauh, ia melarang Akbar menyetir sendiri. Harus memakai sopir.
Mama Mila mengantar sampai teras. Tak lupa mewanti-wanti sopir untuk menyetir dalam keadaan fit dan tidak boleh ngebut. Papa Darwis sedang tidak ada di rumah. Sudah dua hari berada di Singapura untuk menengok perusahaan sekaligus menengok Iko.
__ADS_1
Perjalanan jauh itu pun tiba di Hotel Seruni Tasik pukul sebelas siang tanpa kendala. Ada waktu beristirahat dulu sebelum nanti sore berkunjung ke rumah Ami di Ciamis.
"Ada yang bisa dibantu, Pak Akbar?" tanya Tommy yang disuruh datang ke kamarnya Akbar. Padahal makanan dan minuman sambutan, sudah dikirim ke kamar bosnya itu. Kira-kira mau ngasih tugas apa ya. Ia bertanya-tanya dalam hati.
"Tahu cafe yang bagus nggak, Tom. Buat malam mingguan."
Tommy menghembuskan nafas lega. Dikira akan ada pekerjaan berat atau tugas menjadi kurir di akhir pekan ini. Rupanya yang lagi kasmaran mau malam mingguan dengan ayang.
"Mau yang lokasi di mana, Pak? Di Tasik atau di Ciamis?"
"Dua-duanya boleh. Nanti aku yang pilih."
"Untuk opsi yang di Tasik menurut aku sih ini." Tommy membuka akun media sosialnya. Lalu menunjukkan postingan beberapa cafe tema cozy. Kemudian beralih ke opsi cafe cozy yang ada di Ciamis.
"Cafe Dapoer Ibu?!" Akbar menarik sudut bibir begitu mendengar penjelasan Tommy tentang cafe yang menjadi referensi yang berada di Ciamis.
"Iya, Pak. Tempat lamaran Pak Akbar itu emang cozy. Aku suka bawa anak istri ke sana. Untuk tempat romantisnya ada di rooftop. Menurutku nggak usah jauh-jauh bingung nyari cafe lagi. Itu cafe milik keluarganya Neng Ami udah paling oke di Ciamis. Tapi kalau Pak Akbar ingin cafe yang lain ya monggo dipilih." Jelas Tommy.
"Oke. Aku udah punya pilihannya. Thank you ya, Tom. Kamu udah boleh keluar."
Dan pukul empat sore, Akbar melajukan mobilnya menuju Ciamis. Tak lupa membawa buah tangan. Sengaja berkunjung dari sore agar waktunya panjang. Bisa berbincang dulu dengan keluarganya Ami.
Senyum manis gadis Ciamis pujaan, menyambutnya di teras dan menjawab salamnya. Senyum Akbar pun merekah karena Ami mencium tangannya meski hanya disimpan di kening. Bukan dikecup bibir.
"Masuk yuk, Kak!" ucap Ami usai menerima uluran buah tangan dalam paper bag.
"Duduk di teras kayaknya enak. Menikmati senja sambil menatap calon istri tercinta." Akbar mengedipkansebelahmata.
"Aduduh, pengen pingsan terus nanti ditangkap sama ayang kayak di felem-felem. Tapi di dalam ada Papa sama A Zaky. Bisa dihukum."
Akbar terkekeh. "Ya pasti dihukum kalau pingsannya settingan. Makanya kalau mau pingsan jangan izin dulu." Ia menguyel-uyel puncak kepala Ami.
Ehemm.
Terdengar suara deheman Pak Bagja dari dalam rumah.
"Cutie, alarm bunyi. Ya udah yuk, kita masuk."
Ami terkikik melihat Akbar berbisik dengan wajah panik.
__ADS_1
Tbc