
Ponsel pun berdering usai Ami berganti pakaian tidur. Nama 'Panda' yang tampil di layar selalu membuatnya senang dan bersemangat. Dan kamar menjadi tempat bebas dirinya mengekspresikan perasaan. Jingkrak-jingkrak lalu loncat ke kasur dan bersandar nyaman di dada boneka Panda berukuran satu meter itu. Headset sudah terpasang. Barulah menggeser ikon jawab dan berucap, "Assalamu'alaikum, Panda."
"Wa'alaikum salam. Ami...ini mamanya Akbar."
Ami terjengit lalu terduduk dari posisi nyamannya berada di pelukan hangat dan lembut bulu rasfur bonekanya. Benar, bukan suara Akbar. Tapi suara perempuan. Kaget dan malu karena ia berucap salam dengan suara manja.
"Wah wah, Panda itu panggilan sayang buat Akbar ya, Mi? So sweet deh. Mama aja jadi baper dengernya. Ami, kenapa Akbar dipanggil Panda? Dududu...anak Mama selucu itukah? Tapi Akbar gak makan bambu ya, Mi. Makan nasi sama kayak umumnya warga negara Indonesia."
Cerocosan Mama Mila semakin membuat wajah Ami matang seperti tomat. Malu luar biasa. Untung bukan video call. Rasanya pengen mematikan ponsel dan bersembunyi di balik selimut. Akan tetapi tentu saja tidak sopan.
"Maaf, Tante. Kirain Kak Akbar. Aduh aku malu banget pengen gali lubang deh." Ami menjawab sambil berjalan hilir mudik di samping tempat tidur, seperti setrikaan. Mendadak tubuhnya berkeringat karena salah tingkah dan panas dingin.
"Mama, Mi. Udah dibilangin jangan panggil tante. Panggil MAMA!"
"Hehe. Iya, Mama. Maaf...suka lupa." Ami segera meralat. Mama Mila sudah dua kali meneleponnya sejak pulang umroh. Biasanya pakai nomer pribadi. Makanya sekarang tidak menyangka yang menghubungi nomer Panda tapi yang bicara mamanya.
"Hape Mama di kamar. Males ngambilnya. Makanya ngebajak hape Akbar mumpung lagi ada deket Mama. Sebenarnya dia udah mau kabur ke kamar tapi Mama tahan dulu."
Ami spontan mengangguk. Penjelasan Mama Mila sudah menjawab keheranannya.
"Mi, udah libur belum sekolahnya?"
"Besok terakhir sekolah, Ma. Baru deh libur." Ami beralih duduk tegak di sofa. Bicara dengan orang tua tidak bisa santai sambil senderan di boneka seperti yang suka dilakukannya jika teleponan dengan Akbar.
"Mama tuh sengaja telpon Ami. Mau bilang besok Mama mau kirim baju lebaran buat Ami. Biarin Ami udah beli baju lebaran juga. Mama pengen ngasih karena sayang sama Ami. Jangan ditolak ya, Mi!"
"Aduh, Mama baik sekali. Makasih sebelumnya ya, Ma." Antara senang campur bingung yang dirasakan Ami sekarang. Gimana alasannya sama Ibu nanti saat paket itu datang. Backstreet membuatnya terpaksa sesekali berbohong jika ada paket yang datangnya ketahuan oleh Ibu.
"Ami, kalau ibu nanya bilang aja dari Mama Mila, gak apa-apa kok. Alasannya Mama nganggap Ami seperti anak bungsu. Ami gak usah bingung atau takut Ibu curiga. Oke, sayang?"
Ahh, Mama Mila. Kenapa seperti cenayang sih. Tau aja kegalauan aku.
"Oke, Ma. Mama tau aja kalau aku lagi bingung mikirin alasan. Soalnya aku gak mau bohong. Hehe."
__ADS_1
"Tuh kan. Itu tandanya kita ada chemistry. Mama mertua cetar sama mantu imut. Cocok, kan? Ya cocok sekali kita ini. Udahlah, lulus sekolah Ami tak bungkus ke Jakarta. Mama mau ngadain ngunduh mantu yang meriah. Pengen pesta yang gimana, Mi? pesta dua hari dua malam, tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh malam? Mama siap kabulin."
"Aih, Mama bisa aja. Pesta sehari aja cukup, Ma. Ah, jangan dulu bahas ngunduh mantu ya, Ma. Aku jadi deg degan ngebayanginnya. Aku mau fokus sekolah dulu biar nilainya tetap bagus."
"Ehehehe. Calon mantu Mama emang gemesin deh. Ya udah, hapenya Mama kasih ke Akbar lagi ya. Ini anak dari tadi ngode terus nyuruh udahan. Kan Mama masih betah ngobrol sama Ami nya. Ami gak bosen kan denger Mama ngomong terus? Ya nggak lah ya. Ami jadi bisa nilai kalau Mama bukan tipe-tipe mertua galak. Jadi Ami gak usah takut, gak usah sungkan juga telepon Mama lebih dulu. Mama malah senang jadi berasa diperhatiin sama calon mantu. Ya udah ya Mi, Mama kalau ngomong terus kapan beresnya. Nanti jadi kayak dongeng sebelum tidur. Udah ya Mi, Mama haus jadinya. Padahal abis tarawih udah minum es jeruk biar seger. Dasar godaan se tan kalau tarawih itu mata mendadak ngantuk. Eh, malah bahas tema baru. Jadi panjang lagi deh. Ya udah.... "
"Mamaaa, dari tadi ya udah ya udah terus. Kapan udahannya? Rem, Mamaaaa. Reeeemmm!"
Ami terkikik ditahan mendengar teriakan Akbar yang bernada menahan kesal. Ia pun dari tadi cape bilang iya iya sudah berapa puluh sebagai bentuk respon ke lawan bicara. Pertanyaan Mama Mila pun sudah dijawab sendiri jadi tidak usah dijawab lagi. Mendengar mamanya Akbar itu merepet, jadi terbawa cape karena spontan menahan nafas.
"Hallo, Cutie."
Ami sekarang yakin yang bicara adalah Akbar. Suara yang selalu dirindukan.
"Iya, Kak."
"Harap maklum Mama ya. Emang gitu karakternya. Untung gak nurun ke anak-anaknya. Aku dan Iko kalem nurun dari Papa."
"Aku udah kabur kok. Ini otewe ke kamar. Papa malah udah kabur duluan karena konsentrasi baca bukunya jadi buyar."
Ami tertawa kecil. Ia bangkit dari duduknya di sofa. Kembali lagi naik ke atas kasur dan masuk ke pelukan boneka panda. Ia mendengar suara pintu dibuka lalu ditutup. Itu artinya Akbar sudah berada di kamar.
"Cutie, Panji udah cerita belum soal tanggal 4 Syawal nanti?"
"Udah, Kak. Tadi pas buka puasa. Kan Teh Aul sama Kak Panji nginep disini. Aku jadi gak sabar pengennya besok udah lebaran biar deket ke tanggal empat. Hehehe."
"Kalau ketemu emang mau ngapain?"
"Mau itu. Mau ngasih kue lebaran. Aku akan buat sendiri spesial for you. Pilih, Kak. Mau kue nastar, salju, atau pengen kue apa?" Ami berbicara sambil memain-mainkan tangan boneka pandanya.
"Mau nastar tapi manisnya sedang ya, Cutie. Terus selai nanasnya bikin sendiri ya jangan beli yang udah jadi. Suka yang asli non pengawet."
"Asiap, Kak. Ibu juga kalau bikin nastar suka bikin sendiri. Jadi asemnya asli tanpa citrun."
__ADS_1
"Nastar aja, Kak? Gak mau nambah yang lain?" Ami menggeliat ke ke kanan dengan kedua kaki beralih mengapit guling.
"Hm, apalagi ya? Udah nastar aja. Takutnya gak bisa ngerem pengen ngemil."
"Yang asinnya belum, Kak. Ada kue bakwan spesial bisa awet lama."
"Bukannya bakwan itu gorengan, Cutie?" Akbar bertanya dengan nada heran.
"Bakwan versi aku lain, Kak. Bakwan, Bagiku Kak Akbar Yang Menawan. Hihihi."
Senyap. Ami tak mendengar respon di sebrang sana beberapa detik lamanya. "Hallo, Kak. Jangan pingsan, Ayang. Hihihi."
Terdengar de sahan berat di ujung telepon. "Nanti halbil sekalian acara lamaran aja ya, sayang? Kamu makin gemesin soalnya."
"Eits, jangan. Sabar dulu. Kan Kakak udah bikin Mind Mapping. Jangan-jangan dulu, janganlah diganggu. Biarkan saja biar duduk dengan tenang 🎶." Di ujung ucapan, Ami bernyanyi lalu diakhiri tertawa renyah. Hobi jahilnya tak pernah surut disamping jago menggombal.
Berjarak ratusan kilometer, di kota metropolitan Jakarta, seorang pemuda berkaos putih masih anteng duduk di balkon kamar sambil senyum-senyum. Suara riang sang pujaan hati yang tak pernah luput dari candaan, selalu saja menyenangkan hatinya dan merupakan mood booster utama yang mengisi hari-harinya.
"Cutie, udah malam. Waktunya tidur!" Akbar melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Tapi aku masih betah." Suara Ami terdengar merajuk.
"Besok disambung lagi. Kan Ami harus bangunin aku sahur. Jangan sampai Cutie kesiangan. Udahan dulu ya, sayang." Akbar pun sebetulnya masih betah. Namun sebagai seorang yang dewasa, ia harus tegas membuat keputusan. Prinsipnya, kehadirannya di kehidupan Ami harus memberi dampak positif.
"Ya udah. Aku siap-siap tidur meluk panda. ATK, Papa Panda. Hihihi."
Akbar terkekeh. Semakin gemas saja ia sama Cutie nya itu. "Sleep tight, sayang. Jangan lupa berdoa dan mimpiin aku. Missing you."
Sambungan sudah terputus. Akbar masih betah duduk di kursi balkon menatap langit hitam pekat berhiaskan bintang-bintang. Kerap kerlip lampu dari gedung-gedung pencakar langit terlihat indah di malam hari. Namun jika siang hari, berganti pemandangan padatnya hutan beton di kota tujuan para kaum urban itu.
Cutie, oke...sekarang yang dipeluk boneka Panda. Tapi nanti kamulah yang akan dipeluk Panda hidup.
Akbar masih senyam-senyum. Kilas balik komunikasi barusan. Memang, Ami tak pernah sekalipun bicara serius 100%. Selalu saja ada lawakan yang membuatnya tertawa lepas juga baper. Ia mengira tawaran nastar pun mengandung jebakan singkatan. Ternyata serius. Malah lengah saat membahas bakwan yang ternyata itu mengandung singkatan yang membuatnya semakin gemas. Andai ada di dekatnya, ingin sekali menggigit bibir ranum yang suka menggodanya itu. Ia lelaki dewasa dimana cinta dan nafsu berpadu. Namun filter yang menahan semuanya itu. Yaitu iman.
__ADS_1