Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
86. Awal Sekolah


__ADS_3

Ami membuka kunci pintu kamar usai mendengar penjelasan singkat Akbar. Memang lupa jika waktunya meminta restu sudah di depan mata. Padahal memang sudah dibahas waktu mojok di samping rumah di acara nikahan Ibu. Rasanya deg deg ser dari sekarang mendengar aba-aba Panda nya itu.


Pintu dibuka Ami. Ia bergacak pinggang di depan Rasya yang datang diantar Puput. "Kamu kamu lagi. Kamu kamu lagi. Ah bosan akuuu." Usai protes dengan bernyanyi serta memencet hidung Rasya, ia pun bergegas naik lagi ke kasur dan menyembunyikan tubuh di balik selimut.


Rasya menyusul loncat ke kasur dan menindih Ami sambil tertawa-tawa. "Kamu kamu lagi. Jangan ngumpet kamuuuu," ia melonjak-lonjak di atas permukaan selimut diiringi tawa.


"Ampun, Ucul. Engapppp." Ami menyembulkan kepala dari balik selimut. Menggulingkan tubuh Rasya hingga terbaring di sampingnya. Menggelitik pinggang keponakannya yang jahil itu.


"Ampun Ate Kunti, hihihi."


"Ate, jangan diajak main. Waktunya tidur dah malam." Tegur Puput. Rasya terbangun karena diganggu Rayyan. Hingga ingin pindah tidur dengan Ate Ami.


"Tuh dengerin kata Umma. Tidur!" Ami beralih memeluk Rasya dan mengusap-usap lengannya.


Puput duduk di sofa sambil memperhatikan yang berada kasur. Termenung sejenak. Bukan waktu yang pas untuk bicara menasihati Ami. Ia pun beranjak mengganti lampu terang dengan lampu tidur.


***


Rapat internal yang dipimpin Akbar sedang berlangsung serius. Persaingan bisnis di bidang jasa layanan pemesanan tiket dan hotel secara daring semakin ketat. Butuh inovasi-inovasi baru agar tetap bertahan dan semakin bertambah naik pelanggan. Dengar pendapat dari para manajer setiap divisi sedang bergulir. Hanya satu hal yang membuat sang CEO oleng fokus sejenak saat ponsel di saku jasnya bergetar. Pasti dari Ami, tebaknya.


[Kak, aku udah landing di Tasik. Otewe Ciamis]


Tidak salah tebakannya. Dua jam yang lalu Ami mengabarkan sudah berada di bandara Halim Perdanakusuma, bersiap pulang dengan pesawat tujuan Tasikmalaya.


[Alhamdulillah. MU, Cutie 😘]


Balasan cepat sudah dikirimkan. Akbar kembali fokus mendengarkan presentasi dengan perasaan tenang. Sang kekasih sudah pulang dengan selamat ke kampung halaman.


Jauh berjarak ratusan kilometer, Ami dan orang tuanya baru saja tiba di rumah usai dijemput oleh Mang Kirman di bandara Wiriadinata Tasikmalaya. Perjalanan via udara tentunya memangkas waktu lebih cepat. Hanya saja jadwal penerbangannya tidak rutin setiap hari.


Rumah nampak sepi. Hanya ada Bi Ela yang menyambut. Ami langsung menuju kamarnya dan memeluk boneka pandanya dengan erat.


"I miss you, Panda. Tiga malam kita gak tidur bersama. Kamu kesepian ya. Duh cucian." Ia mengecup hidung panda yang terduduk di kepala ranjang sebelah kanan.


Ami beralih mengambil ponsel di dalam tasnya. Sudah dua hari tahun ajaran baru dimulai. Ia sudah izin sebelumnya. Namun juga sudah rindu bertemu teman-temannya di sekolah. Kabar kemarin dari Kia, belajar hari pertama belum efektif karena kelas 10 sedang masa orientasi sekolah. Baru hari ini efektifnya.


"Kia, aku udah pulang. InsyaAllah besok mulai skul. Ada kabar apa hari ini?" Ami duduk di depan meja rias sambil mengamati jerawat yang baru muncul di dekat hidungnya.


"Hari ini kelas 12 udah efektif belajar, Mi. Dan wali kelas kita Bu Elin lagi."


"Wow Bu Elin lagi. Surprise. Aku sih yes."

__ADS_1


"Terus ada satu kabar lagi...."


"Apa?!"


"Besok aja deh liat sendiri."


"Hei, Kiaaaa. Jangan bikin aku penasaran."


"Hahaha. So sorry, aku udah keceplosan. Kalau aku bocor bisa dicegat di lampu merah. Hahaha."


"Ish, justru kalau begini, aku bakal kepikiran. Gak bisa tidur. Kia ada kabar apa sih?"


"Entah jadi kabar bahagia buat Ami atau tidak. Yang jelas bukan kabar buruk. Udah dulu ya, Mi. Ada guru masuk. Bye."


Ami masih ingin berbicara dengan Kia namun lebih dulu sambungan terputus. Dan tentunya menyisakan rasa penasaran yang tinggi. "Masa iya harus nunggu besok. Apa Sonya tau berita yang dimaksud Kia?" monolog batinnya berakhir dengan menjatuhkan tubuh telentang di kasur. Tak sabar menunggu esok pagi.


***


Ami mengamati lagi penampilannya yang sudah rapih dalam balutan seragam putih abu dan kerudung putih. Padma baru saja menelepon mengajak berangkat sekolah barengan. Ia menyetujui. Ditambah sudah kangen dengan bestie nya itu yang mulai hari ini perdana mengenakan seragam SMA. Ia melirik ponsel yang berdering di meja rias. Panggilan video dari Panda.


"Semangat pagi yang mau skul." Wajah tampan berhias senyum lebar memenuhi layar ponsel yang dipegang Ami.


"Semangat pagi yang mau ngantor. Hmm, pantes matahari mendadak redup." Ami menoleh dulu ke arah jendela dengan kening mengkerut.


"Karena cerahnya berpindah di wajahmu." Ami terkikik sambil memeletkan lidah.


Akbar menangkup hidungnya yang membuat Ami tertawa lepas.


"Cutie, tau gak bedanya kamu sama matahari?" Kali ini Akbar tak mau kalah membalas gombalan Ami.


"Hm, apa ya?" Ami mendudukkan ponsel dengan bersandar pada kaca. Ia pun duduk di kursi. Masih ada waktu sebelum turun untuk sarapan.


"Kalau matahari terbit dari sebelah timur, terbenam di sebelah barat. Kalau kamu terbit di mata, terbenam di hati."


"Arghh, aku pengen salto terus pingsan." Ami berjingkrak-jingkrak lalu melorotkan tubuh hingga tak terlihat di layar. Terdengar suara Akbar yang tertawa renyah.


Canda pagi itu harus berakhir karena waktu yang membatasi. Ami harus segera berangkat sekolah. Sungguh komunikasi singkat yang menjadi booster untuk keduanya.


"Bu, Papa gak ikut sarapan?" Ami menarik kursi untuk bersiap sarapan nasi goreng buatan Ibu.


"Papa lagi lari pagi. Kebiasaan sarapannya juga jam 8. Kita aja duluan makan." Ibu Sekar menjadi terbiasa sarapan jam 6 karena biasa menemani anak-anak sarapan sebelum berangkat sekolah.

__ADS_1


Seperti biasanya, Ami melayani dulu menuangkan nasi ke piring Ibu. Baru kemudian menuangkan nasi untuknya. Ia mulai melahap sambil melirik jam tangannya.


"Bu, aku berangkatnya gak bawa motor tapi mau bareng Padma. Padma diantar Ayah Anjar. Bentar lagi nyampe."


"Pulangnya gimana? Apa bareng juga?" Ibu memperhatikan Ami yang makan dengan cepat.


"Bareng juga, Bu. Aku cuma numpang sekali ini aja. Anggaplah sebagai suporter Padma yang hari ini resmi jadi anak SMA." Ami menaik turunkan alisnya.


"Aneh-aneh aja pakai ada istilah suporter segala." Ibu Sekar menatap si bungsu yang cengengesan. Mau heran tapi ya Ami.


Klakson mobil terdengar bersamaan dengan Ami bersiap keluar. Ia mencium tangan Ibu yang mengikutinya ke teras. Mobil Ayah Anjar sudah berada di depan dan terlihat sedang berbincang dengan Pak Bagja yang baru pulang olahraga.


"Ibu, lihat! Padma pakai seragam putih abu." Padma sengaja turun dulu dari mobil dan berlenggak-lenggok dengan wajah semringah di depan Ibu Sekar yang mengantar Ami sampai ke depan gerbang.


"Centil ah, Munaroh." Ami memutar bola mata melihat Padma cekikikan.


"Selamat ya, Padma. Gak terasa ya Padma makin dewasa. Yang semangat belajarnya ya." Ibu Sekar tersenyum simpul melihat kebahagiaan adiknya Panji itu.


"Yuk ah, jangan sampai telat. Gerbang bisa ditutup." Ami mengingatkan usai melihat jam tangannya. Ia menghampiri Pak Bagja dan pamit dengan mencium tangan. Padma melakukan hal yang sama.


Ibu Sekar masih berdiri di depan gerbang usai mobil yang dikemudikan besannya melaju pergi. Ia beralih menatap sang suami yang berkeringat dan bertanya, "Lari berapa kilo, Pa?"


"Total 5 kilo pulang pergi." Sahut Pak Bagja usai melihat fitur stopwatch di jam tangannya.


"Murni kuat lari selama itu atau disambung jalan kaki?" Ibu Sekar mengulum senyum. Sedikit meledek.


"Ayo kita ke kamar! Kemarin masih kurang bukti ya kalau aku Opa yang masih perkasa." Pak Bagja menaikkan satu alisnya.


"Idih kenapa jadi bahas itu." Ibu Sekar berbalik badan, melangkah masuk lebih dulu dengan kedua pipi bersemu merah. Ia jelas mendengar suaminya tertawa sambil menutup pintu gerbang.


Di dalam mobil yang dikemudikan Ayah Anjar, Padma memilih duduk di belakang bersama Ami. Di tengah perjalanan, murid IPA 1 itu membuka telapak tangan sambil senyum-senyum. "Ami, Padma nagih utang sekarang!"


"Kapan aku pinjam duitmu?" Ami mencoba mengingat-ingat. Keningnya berkerut.


"Bukan utang duit, Marimar. Tapi utang penjelasan. Who is Panda? Katanya nunggu Padma pakai seragam putih abu. Padma udah kepo akut. Gak mau jadi jerawatan." Todong Padma yang kini menggoyang-goyangkan lengan Ami.


Ami menempelkan telunjuk di bibir dengan mata mengerjap-ngerjap. Takut pembicaraannya didengar Ayah Anjar. Padma pun langsung melipat bibir.


"Malam sabtu besok bisa gak nginap di rumahku? Aku akan cerita. Dan Padma bakal jadi orang pertama yang bakal mendengar curhatanku tentang Panda. Karena Padma itu bestie pertama aku." Jelas Ami yang berkata setengah berbisik.


Padma mengangguk. "Bisa-bisa. Padma akan nginep. Lah kenapa Padma jadi deg-degan," ujarnya sambil memegang dada.

__ADS_1


"Normal. Berarti masih hidup." Ucapan santai Ami mendapat hadiah toyoran dari Padma.


__ADS_2