Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
88. Support System


__ADS_3

Ami membuka pintu kamar yang memang dikuncinya. Tersenyum lebar menyambut kedatangan Padma yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada sambil menggendong tas ransel.


"Lama bener buka pintunya. Lagi vc or teleponan sama siapa sih?" Padma masuk ke dalam kamar. Menyimpan tasnya di sofa.


"Emang kedengaran gitu?" Ami mengikuti langkah Padma yang mengamati lemari kaca khusus berisi deretan piala kejuaraan silat dan piagam penghargaan. Terakhir piagam yang diraihnya adalah ranking satu dan juara umum kelas 11 IPA.


"Kedengaran tapi gak jelas ngomong apa. Yang kedengaran jelas mah ketawanya. Padma tebak deh. Pasti abis vc sama Panda ya?" Padma menyipitkan mata meneliti penampilan Ami yang memakai pasmina di dalam kamar.


"Seratus buat Munaroh." Ami duduk di tepi ranjang. Membuka pasmina, dan menggerai rambut panjangnya yang masih setengah basah.


"Oke. Sekarang waktunya Marimar buka rahasia nama Panda yang sebenarnya. Inisial APB ini nih." Padma menunjuk nama APB pada boneka Panda yang terduduk di kepala ranjang.


"Padma harus janji dulu. Mau amanah pegang rahasiaku. InsyaAllah sebulan lagi keluarga aku juga bakal tau dan mungkin terkejut. Karena Panda mau datang melamar secara pribadi ke Ibu."


"Padma janji, Mi. Duh buruan cerita dong. Makin kepo dengar Panda mau lamar Ami. Beneran nih Marimar mau nikah muda?" Padma menggoyang-goyangkan lengan Ami. Sangat kentara sudah tidak sabar.


Suara adzan magrib mulai terdengar berkumandang. Membuat Ami yang sudah siap membuka mulut, memilih urung berbicara.


"Adzan, Munaroh. Nanti aja ceritanya dilanjut setelah Ibu dan Papa pergi. Biar kamu bebas berekspresi kalau mau teriak kaget. Aku juga udah siapin kayu putih kalau kamu mau pingsan." Ami tersenyum miring.


Padma mengerucutkan bibir. Harus sabar lagi menunggu. "Kenapa harus teriak kaget apalagi pingsan? Memangnya Padma kenal gitu sama itu Panda?"


"Kenal banget. Makanya aku takut kamu syok." Ami menggulung lengan bajunya hingga sikut. Bersiap wudhu.


"Hah masa? Aduhhhh...siapa ya itu APB. Almond bukan, Mi?"


"Bukan. Udahlah jangan dipikirin dulu. Sekarang mah sholat, makan, dan tunggu Ibu sama Papa pergi." Ami masuk ke dalam kamar mandi di saat Padma sudah membuka mulut.


***


"Mi, langsung kunci pintunya yang tertib ya. Ibu udah bilang juga sama Bi Ela buat ngunci pintu belakang." Ibu Sekar bersiap pergi usai makan malam bersama. Menunggu Pak Bagja sedang mengeluarkan mobil dari pekarangan.


"Siap, Bu." Ami melihat Pak Bagja keluar dari mobil dan melangkah menghampiri.


"Ami, besok Papa tunggu di rumah sana. Papa sama Ibu duluan ya!" Ucap Pak Bagja berpamitan kali kedua.


"In syaa Allah, Pa. Aku kesana sama Padma jam dua siang ya. Soalnya mau ke toko buku dulu." Ami menunggu di teras hingga mobil Papa sambungnya itu mulai melaju.


Pintu gerbang langsung dikunci oleh Mang Kirman. Ami masuk ke dalam rumah dan menuruti instruksi Ibu. Mengunci pintu utama dan memasang selot atas dan bawah. Bergegas menuju tangga untuk menemui Padma di lantai dua yang tadi mendapat telepon dari Panji. Ia lihat bestienya itu baru saja mengakhiri perbincangan dengan mengucapkan salam.


"Padma, liat lagi nih foto hasil jepretan kamu dulu." Ami bergabung duduk di sofa letter L di ruang keluarga. Foto saat di cafe Dapoer Ibu sudah ditampilkan di layar.


"Wah masih disimpan aja nih foto prewed Ami Dan Kak Akbar. Hihihi." Padma nampak berbinar melihat hasil karyanya yang dulu berhadiah bonus uang jajan dari Akbar.


"Padma, dialah APB alias Akbar Pahlevi Bachtiar. Dialah Panda itu." Ami memperhatikan reaksi Padma yang spontan menjatuhkan ponsel. Untung ia sigap menangkapnya sehingga tidak merosot ke lantai.

__ADS_1


"Amiiiii, jangan bercanda dong Mi. Kali ini serius dong." Sahut Padma yang merasa masih tidak percaya. Namun tak urung terlihat syok.


"Serius, Padma. Kan aku udah bilang mau bicara setelah Ibu dan Papa pergi. Sudah ku kasih clue kalau Padma juga kenal dengan APB. Kaget, kan?"


Padma melebarkan mata dengan mulut menganga. Ia kini percaya tapi belum bisa berkata. Semakin syok. Sungguh tak menyangka.


"Mi, jangan tersinggung ya. Padma kira Panda itu seumuran mahasiswa gitu. Ini Kak Akbar sama Ami beda umur berapa? Pasti jauh ya"


"Beda 16 tahun. Makanya aku pengen nikah lulus SMA. Kalau nunggu lulus kuliah, kasian Kak Akbar. Aku gak bilang dia tua. Tapi dewasa. Dewasa umur dan pemikiran. Asal Padma tau, belajar mind map itu dari Kak Akbar. Dia selama ini jadi Coach aku. Makanya nilai aku naik terus."


"Padma gak bisa komen, Mi. Jujurly merasa super kaget. Tapi kalau Ami emang udah sreg sama Kak Akbar, terus udah mantap mau nikah muda, Padma support Ami. Padma harap Ami tetap lanjut kuliah. Sayang banget kalau kalau cuma sampai SMA. Ami kan berprestasi"


"Itu udah direncanakan, Padma. Kak Akbar malah mengharuskan aku kuliah. Jadi stepnya tuh nikah dulu terus kuliah. Jadi kuliah sambil punya pacar halal." Ami menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lebar.


"Ya kalau itu udah keputusan Ami, Padma support. Moga aja Ibu, Teh Puput, dan semuanya ngasih restu. Jadi Kak Akbar mau ke sini kapan?"


"Tanggal pastinya belum tau. Yang jelas setelah ultah aku."


"Ya Salam. Ami oh Ami. Padma masih gak nyangka Marimar pacaran sama CEO Pulangpergi. Sama sepupunya Kak Rama. Apa Mama Mila udah tau belum?" Padma menaikkan kakinya sehingga duduk sila di sofa. Cerita Ami semakin menarik untuk disimak.


"Semua keluarga Kak Akbar udah tau. Hanya keluarga aku aja yang belum tau. Aku dan Panda sepakat mulai publish setelah kelas 12."


"Huft. Semoga restu keluarga Ami lancar jaya." Padma menghembuskan nafas panjang. Sudah berhasil keluar dari rasa syok.


***


Hari berganti. Sudah enam hari berlalu sejak Akbar mendengar cerita Ami tentang respon Padma. Sekarang tiba waktunya gilirannya berbicara dengan Rama di malam sabtu ini. Ia sengaja meminta sepupunya itu datang ke rumah.


"Sepi, Bar. Om sama Tante kemana?" Rama mengikuti langkah Akbar menuju ruang tengah.


"Baru aja pergi. Ada undangan wedding anniv temannya Papa. Mau minum apa, Ram?"


"Teh tawar aja deh. Tadi udah ngopi." Rama duduk di sofa dengan santai bersilang kaki.


"Oke, tunggu sebentar." Akbar melangkah menuju dapur untuk memberi tugas pada ART nya. Tak lama datang lagi dan duduk satu sofa dengan Rama.


"Mau bahas apa sih, Bar. Dari seminggu kemarin sebenarnya penasaran. Tapi ya baru sekarang ada waktu luangnya."


"Aku mau lamar gadis dari Ciamis. Dan aku butuh dukunganmu, Ram." Akbar berkata tenang sambil menatap reaksi sepupunya itu.


Rama tersenyum lebar dengan wajah semringah. "Hei, keturutan juga dapat jodoh orang Ciamis. Siapa namanya, alamatnya dimana? Siapa tau Puput kenal. Nanti aku akan ceritain."


"Namanya Rahmi Ramadhania."


Kening Rama berkerut. "Namanya mirip sama Ami."

__ADS_1


"Memang dia orangnya. Ami Selimut."


Rama terkekeh. "Serius dong, Bar. Rahmi orang mana Ciamisnya? Umur berapa dia?"


"Rahmi anak bungsunya Bu Sekar. Adik iparmu. Tanggal 3 Agustus nanti umurnya 18 tahun. Wedding anniv nya Panji Aul sama dengan setahun hubunganku dengan Ami."


Rama menatap Akbar tanpa kedip untuk beberapa waktu lamanya. Ia melihat keseriusan di wajah Akbar. Menatap ada kesungguhan di sorot mata sepupunya itu. Menggelengkan kepala dengan lemah. Speechless.


"Hati tak bisa memilih kemana cinta akan berlabuh. Awalnya aku juga ragu dengan perasaan ini. Ami orangnya periang. Sering lawak dan menggombal. Aku beneran terhibur oleh sifatnya itu. Tapi seiring waktu timbul rasa nyaman dan sayang. Sempat mengira perasan ini paling menanggap Ami seperti adik. Tapi hati berkata lain. Aku mencintainya sebagai perempuan. Dan Ami pun sama membalas perasaanku. Dia siap diajak nikah setelah lulus SMA."


"Bar, Ami belum dewasa. Mungkin ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Cinta anak SMA itu masih cinta monyet. Dia masih labil."


"Tidak, Ram. Aku udah menyelami perasaan Ami selama setahun ini. Dibalik sikapnya yang seperti itu, mentalnya udah dewasa. Salah satu buktinya, Ami mau merestui Ibu Sekar nikah dengan Pak Bagja. Awalnya dia kan keras menolak. Tapi Ami curhat padaku. Menyadari jika dia gak boleh egois. Dia sudah berpikir jauh ke depan bahwa tak selamanya bakalan tinggal serumah dengan Ibu."


"Sudah sejauh mana hubunganmu sama Ami, Bar?" Rama menyipitkan mata. Penjelasan Akbar menyiratkan hubungan sudah begitu dekat.


Akbar mengerti arti pertanyaan Rama. "Aku dan Ami LDR-an. Kita komunikasi hampir tiap hari. Hanya bertemu di momen-momen acara keluarga. Aku sangat menjaga Ami, Ram."


Rama mengusap muka. Merebahkan kepala ke sandaran sofa. Masih bingung menentukan sikap.


"Aku akan datang ke Ciamis setelah ultah Ami. Aku akan datang menemui Ibu Sekar buat melamar Ami secara pribadi. Sengaja aku ngomong sama kamu dulu karna butuh support system. Pasti nanti Ibu Sekar akan menceritakan kedatanganku pada Puput. Dan aku harap kamu bisa bantu ngasih pengertian sama istrimu itu."


"Apa Tante Mila udah tau?"


"Semua keluargaku udah tau lama dan sangat support."


"Tunggu-tunggu! Berarti Tante Mila meng claim Ami sebagai anak bungsunya itu...."


"Itu kamuflase. Yang sebenarnya Mama udah mengclaim Ami sebagai anak mantu. Mama lah yang paling euforia karna bisa punya calon besan yang sama dengan Tante Ratna dan Tante Ratih." Akbar sengaja memotong ucapan Rama.


Rama menghela nafas dan menghembuskan perlahan. Masih bingung mengambil sikap.


"Rama, aku masih mengingat betul jawabanmu waktu di nikahan Ibu Sekar. Kami bilang...."


"Tiap cowok memiliki kriteria memilih jodoh yang berbeda-beda. Kalau kamu cocok sama anak SMA, itu hak. Karena kebahagiaan diri tidak bisa diukur dari komentar pro kontra orang lain."


Rama mendecak dan menatap tajam. "Jadi lo kemarin sengaja memancing pendapatku? Cerdas juga lo," ucapnya bernada kesal.


Akbar tertawa lepas. "Baru nyadar lo CEO Pulangpergi begitu smart?!" Ia tersenyum menyeringai.


Rama menghembuskan nafas kasar untuk kemudian mengambil kesimpulan. "Kalau emang kamu udah didukung keluarga, aku akan masuk tim support system."


"Thank you so much, my brother." Akbar memeluk Rama dengan wajah semringah. Lalu mengurai pelukan dan berkata, "Aku makin yakin kamu beneran anak Om Krisna. Karena Om Krisna selalu bilang, semua orang harus bahagia."


Rama menoyor bahu Akbar dengan keras dan geram. Sepupunya itu merespon santai dengan tertawa lepas.

__ADS_1


__ADS_2