Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
99. Cinta Tak Bisa Dipaksakan


__ADS_3

Puput langsung menodong Rama dengan kalimat tanya begitu sang suami mengakhiri sambungan telepon dengan Mami Ratna. Namun suaminya itu malah garuk-garuk rambut diiringi senyam-senyum. "Papa, aku tanya lagi bahas apa sampai namaku dispill. Bukan malah senyam-senyum gitu kayak merajuk pengen anuuu," ujarnya dengan nada gemas.


"Ummaaa, Aa juga pengen anuu. Aa halus dibagi." Rasya menyambar dengan beralih duduk di pangkuan Puput. Mengira orang tuanya sedang membahas jajanan yang dirahasiakan.


Membuat Rama tertawa lepas melihat Puput yang blingsatan dan spontan garuk-garuk rambut dengan wajah meringis. Sepertinya lupa kalau si sulung suka meniru dan mengadu dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Apalagi kini Rasya menggoyang-goyangkan lengan Umma Puput dan merengek-rengek.


"Oke. Umma akan bagi besok pas Aa bangun tidur. Asal Aa bobo sekarang. Adek aja udah bobo. Let's go kita ke kamar." Puput merasa ada jalan membujuk Rasya. Sang anak mengangguk tapi minta digendong di punggung. Ia pun menuruti dengan menatap dulu Rama usai si sulung nemplok di punggungnya. "Papa utang penjelasan di kamar!" ujarnya dengan tatapan tajam dan lalu beranjak lebih dulu menuju tangga.


Rama terkekeh. Segera ikut menyusul dengan lebih dulu mematikan lampu. Ia menunggu Puput di kamar utama karena sang istri sedang berada di kamar Rasya. Lama menunggu membuatnya ketiduran di samping baby Rayyan. Tahu-tahu terjaga karena mendengar suara adzan dan tubuhnya sudah berselimut.


"Yang semalam dibahas tuh berita keluarga aku, sayang. Aku bilang sama Mami kalau aku udah tau, tapi Puput belum tau." Rama selesai menyisir rambutnya dan bersiap menenteng tas kerja. Sudah jam setengah tujuh. Waktunya sarapan dan berangkat ke kantor. Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri yang juga sudah siap mengantar Rasya ke sekolah. "Ngobrolnya harus santai, sayang. Nanti ya pulang kerja aku ceritain." Satu kecupan mendarat di pipi kanan istri tercintanya itu.


Puput mengangguk. Sedikit lega usai mengetahui sedikit bocoran tentang cerita yang akan dibahas nanti. Ia sama-sama keluar dari kamar dan bersiap dengan rutinitas masing-masing di senin pagi ini.


Ponsel Puput berdering dalam perjalanan pulang dari sekolah Rasya. Bersamaan dengan lampu merah menyala, menjadi kesempatan menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Ibu.


"Teteh lagi santai gak?" Tanya Ibu Sekar di sebrang sana usai menjawab salam Puput.


"Lagi nyetir pulang dari sekolah Rasya. Ada apa, Bu?"


"Nanti aja deh kalau Teteh udah sampai di rumah, Teteh telpon balik Ibu ya. Ada yang mau Ibu bicarakan."


Meski heran dan penasaran, Puput menyanggupi permintaan Ibu.


"Umma, siapa yang telpon?" Tanya Rasya yang memperhatikan penuh antusias dan ingin tahu.


"Nenek."


"Aa mau bicala sama nenek." Rasya mengulurkan tangan dengan penuh semangat.


Puput menyerahkan ponsel yang sudah dinyalakan loud speaker. Biar ikut mendengar obrolan Rasya dengan sang nenek. Kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil sesekali tertawa karena obrolan Rasya yang lucu saat menanyakan Ate Kunti. Hingga mobil tiba memasuki kawasan perumahan, barulah percakapan jarak jauh itu berakhir.


Puput memilih duduk di ruang tamu bersiap menghubungi Ibu Sekar. Menjauh dari Rasya yang sedang mengajak bermain Rayyan agar tidak berisik. Penasaran dengan apa yang ingin dibahas ibunya itu.


"Teteh udah di rumah, Bu. Ibu mau bahas apa?"


"Ini soal Ami, Teh. Ibu perlu pendapat Teteh."


"Kenapa dengan Ami, Bu?"


***


Mama Mila sendiri yang membukakan pintu rumah untuk tamunya yang tak lain adalah Mami Ratna. Sudah lebih dulu janjian mencocokkan waktu. Dan siang ini sama-sama memiliki waktu luang.


"Mau ngobrol dimana kita, Teh? Di ruang tamu atau di teras belakang. Ah tapi biar santai mending di teras belakang sambil kita makan yang segar dingin dan pedas. Aku bikin asinan lho, Teh. Rasanya enak. Biarin lah ya muji sendiri karena gak ada yang muji. Tau sendiri Mas Darwis mahal sekali ngucapin pujian buat istrinya. Apalagi bilang I love you. Tapi aku sih udah paham watak. Aslinya dia mah sayang banget sama aku kok. Pak kumis yang cool abis dan bikin aku terhipnotis." Cerocos Mama Mila tanpa jeda sambil mengajak sang tamu berjalan meninggalkan ruang tamu.


"Sebenarnya kamu nawarin asinan apa curhat. Bingung aku ngeresponnya gimana. Terserah nyonya rumah aja lah mau disuguhin apa." Mami Ratna sudah tidak aneh dengan sifat adik iparnya itu.

__ADS_1


Mama Mila terkekeh. Ia lalu memanggil bibik agar membawakan minuman dan asinan ke teras belakang.


Di kursi yang nyaman dengan suasana teduh dan asri taman belakang, dua wanita yang masih cantik di usia yang tak lagi muda mulai membuka percakapan melanjutkan pembicaraan yang sempat dibahas sebelumnya lewat telepon. Yaitu soal Akbar yang kemarin ke Ciamis melamar Ami.


"Aku harap Teh Ratna dan Mas Krisna mau dukung Akbar juga. Gak ada rayuan pada Ami yang dilakukan oleh Akbar. Anak-anak tulus saling suka, saling cinta. Yang aku tangkap dari cerita Akbar kemarin, yang membuat ibunya Ami butuh berpikir karena Ami masih muda. Padahal Ami udah terang-terangan siap nikah muda. Aku sih memaklumi dilemanya Ibu Sekar. Makanya tugas kita untuk meyakinkan Ibu Sekar bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akbar yang dewasa bisa mengayomi, bisa sabar sama Ami andaikata masih kekanak-kanakan. Aku optimis begini karena tau banget watak anak-anakku."


Mami Ratna terdiam meresapi penjelasan sang adik ipar. Sudah curhat sebelumnya dengan Papi Krisna perihal kabar ini. Namun suaminya itu merespon dengan kalimat simpel bahwa, "Jodoh kadang misteri. Papi sih senang kalau Akbar berjodoh sama Ami. Usia jauh bukan masalah."


"Mila sejak kapan tau hubungan Akbar dan Ami?"


"Dari sebelum puasa. Makanya waktu halbil di Seruni, aku pamer kalau Ami adalah anak bungsuku. Padahal aslinya mau pamer inilah anak mantuku. Kita jadi sama kan, Teh. Punya satu besan. Jadi gak ribet kalau silaturahmi karena satu tujuan ke Ciamis." Mama Mila terkikik melihat sang kakak ipar merespon dengan geleng-geleng kepala.


"Jadi Teh Ratna dukung aku gak nih. Aku punya satu besan yang sama dengan teh Ratna dan Ratih. Kan seru kalau kita nanti ngasuh cucu. Kita bikin FTV judulnya 'Cucumu Cucuku Juga'." Mama Mila tergelak dengan pikiran dipenuhi imajinasi kumpul berempat dengan Ibu Sekar mengasuh cucu.


"Mila...Mila. Kamu beneran sefrekuensi sama Ami. Dah lah mertua sama mantu bakalan rame." Mami Ratna memutar bola mata melihat kehebohan adik iparnya itu.


"Itu artinya yes jadi timses kan, Teh?" Mama Mila menaik turunkan alisnya.


"Hmmm."


***


"Papa pulang....Papa pulang." Terdengar suara riang Rasya yang membuat Puput mengakhiri lamunannya di kursi makan. Memang jam lima sore ini jamnya sang suami pulang kantor jika tidak lembur. Pekikan girang sang anak menjadi nyanyian sambutan yang sudah biasa. Segelas air putih ia bawa untuk menyongsong suaminya itu yang berjalan sambil menggendong Rasya ke ruang tengah.


"Aa udah ya turun. Adek nangis tuh pengen digendong. Giliran adek ya." Rama merayu Rasya yang malah mempererat rangkulan tangan di lehernya. Sementara Rayyan sudah berlari dan memegang erat celananya serta merengek minta digendong.


Melihat Rasya yang bergeming, Puput seperti biasanya turun tangan dan membujuk si sulung agar beralih digendongnya. Drama sore pun berakhir dengan aman terkendali. Anak-anak riang dan tertawa karena mendapat keadilan perhatian. Tak lama, adik dan kakak itu kembali bermain bersama dalam pengawasan pengasuh.


"Neng, udah ada kabar dari Ibu soal Ami belum?" Rama sepertinya peka melihat raut wajah Puput yang sedikit berbeda meskipun berhias senyum. Ia membuka dua kancing kemeja atas dan menepuk sisi sofa di sampingnya. Puput menurut duduk di sana.


"Jadi Aa udah tau soal Ami yang dilamar Akbar?" Puput menatap Rama dengan memicingkan mata.


Rama mengangguk. "Ini yang aku maksud berita keluarga itu. Mami kaget karena dapat kabar dari Bibi Ratih bahwa sabtu kemarin Akbar datang ke rumah Ibu untuk minta restu ingin melamar Ami dijadiin calon istri. Aku gak mau bahas tadi malam karena pasti kamu bakalan gak bisa tidur, karna kepikiran. Aku sengaja tunda bahas sore ini supaya kamu lebih dulu dapat kabar dari Ibu. Gitu, sayang."


"Aa sepertinya udah tau dari awal ya?" Tebak Puput tepat sasaran karena Rama menganggukkan kepala.


"Sebelum Akbar ke Ciamis, dia curhat dulu sama aku tentang niatnya itu. Jadi aku kagetnya udah duluan. Lalu sehari sebelum Ami ultah, aku vc an sama Ami. Aku nanya dari hati ke hati alasan Ami yang mau nikah muda. Dan jawabannya Ami bikin aku terenyuh. Ami merindukan sosok ayah dan ia bisa dapatkan dari Akbar. Ami bilang Akbar itu multi peran. Bisa jadi ayah, teman, coach, juga pacar. Sikap Akbar dewasa dan mengayomi sekaligus yang selama setahun ini menjadi coach yang membimbing sampai bisa jadi juara umum di sekolah. Aku rasa kita harus dukung juga keputusan Ami yang ingin menikah muda, sayang. Ami akan tetap kuliah. Hanya saja menikah dulu."


"Aku gak setuju Ami nikah pas lulus SMA. Kuliah dulu, atau minimal pertengahan kuliah. Bukan apa-apa. Ami belum dewasa dan masih senang main kesana sini sama teman-temannya. Aku takut Ami gagal di tengah jalan karena gak siap mental dan kurang kedewasaan."


"Itu hanya kekhawatirannu saja, sayang. Coba deh dengar langsung penjelasan Ami. Perspektif kamu akan berubah dan bisa menyimpulkan sendiri. Aku percaya istriku ini kakak yang bijaksana." Sebuah kecupan dilayangkan Rama di bibir Puput yang kentara memperlihatkan kegalauan.


"Ibu belum ngebolehin aku dan Aul nanya sama Ami. Katanya sekarang cukup tau aja dulu. Jangan sampai Ami merasa tertekan karna dinasihatin sana sini. Tunggu waktu minimal dua minggu."


***


Sudah dua minggu berlalu dari sejak kedatangan Akbar ke rumah. Ami melihat Ibu Sekar tak pernah lagi mengungkit atau membahas tentang Akbar. Apalagi minggu kemarin sibuk mendampingi Papa Bagja yang mengadakan acara silaturahmi purnawirawan TNI AL di Dapoer Ibu. Selain tentu saja menjadi berkah rejeki untuk rumah makan.

__ADS_1


Lagi-lagi Akbar berperan menenangkan kegalauan Ami. Menyuruhnya sabar dan tetap fokus belajar. Apalagi papa sambungnya yang sudah tiga hari berada di Jakarta karena urusan pekerjaan. Juga tak pernah membahas tentang restu yang ditunggu.


"Semangat pagi yang mau skul. Udah mau berangkat ya?" Sapa Akbar yang wajah fresh nya memenuhi layar ponsel Ami.


"Belum akan berangkat kalau belum dapat vc Ayang. Karna Ayang mood booster aku yang hari ini mau ulangan."


"Ehemm, hidungku jadi ingin terbang." Akbar dengan sengaja menangkup hidungnya. Membuat Ami cekikikan dengan wajah berbinar.


"Cutie, penampilanku udah oke belum? Sekarang mau berangkat ke Istana Negara." Akbar sedikit mundur dari layar agar keseluruhan penampilannya dalam setelan jas hitam terlihat oleh Ami.


"Outfitnya udah perfect. Wajah gantengnya udah gak bisa dimanipulasi. Rambutnya terlalu bervolume di tengah deh, Kak. Coba disisir lagi sedikit dilepekan bagian pas belah pinggirnya." Ami menunggu Akbar yang menghilang dari layar. Ia sudah tahu jika Akbar terpilih menjadi tamu kehormatan presiden bersama 19 orang lainnya sebagai entrepeneur muda yang menginspirasi. Dan akan mendapat penghargaan.


"Sekarang gimana, sayang?" Akbar tampil lagi di layar dengan wajah penuh senyum.


"Nah ini lebih oke. Perfecto. Ayangnya siapa sih ini?" Ami sengaja menggoda sambil menaik turunkan alisnya.


"Ayangnya siapa ya?" Akbar mengulum senyum.


"Hais malah lempar tanya. Ayangnya aku dong. Tau gak, Kak. Minyak apa yang bikin mabuk?"


"Minyak angin yang diminum?"


"Salah. Yang bener itu, minyaksikanmu tersenyum. Ihihihi."


Akbar tertawa renyah. Gombalan Ami akan menjadi mood booster sepanjang hari. "Sayang, udah ya. Waktunya berangkat."


"Ya. Aku juga waktunya skul. Congratulation buat penghargaannya, Ayang. ATK!" Ami menunjukkan finger love diiringi senyum manis berlesung pipi.


"Love you, Cutie. Assalamu'alaikum." Akbar sending flying kiss diiringi kedipan mata.


Layar sudah menghitam. Namun Ami masih tersenyum lebar sambil memegang dada yang ser seran belum usai, karena manisnya sikap dan kedipan maut Akbar.


***


"Ami, aku mau bicara!" Almond menghampiri Ami yang baru membuka helm. Ia sengaja datang lebih awal ke sekolah untuk bertemu Ami. Ini kali pertama ia menyapa lagi sejak dua minggu lamanya bersikap acuh.


"Ada apa, Almond?" Ami tetap tersenyum seperti biasanya meski selalu diacuhkan Almond. Ia tak bisa balas acuh karena bertentangan dengan hati nuraninya.


"Kenapa ya aku lebih nyaman denger kamu manggil Emon daripada Almond. Kesannya kamu bikin jarak gitu."


"Gak salah nih? Yang selama ini jaga jarak siapa coba? Makanya lebih baik panggil Almond aja seperti yang lainnya." Ami masih berdiri di samping motornya karena Almond menghalangi jalan.


Almond tersenyum menyeringai. Ucapan Ami benar adanya. "Aku minta maaf, Mi. Sekarang aku udah bisa nerima kenyataan kalau cinta tak bisa dipaksakan. Mau kan Ami maafin aku dan berteman lagi sama aku?"


"Alhamdulillah kalau kamu bisa bersikap dewasa. Aku maafin kamu, Emon. Aku gak pernah mutusin pertemanan. Kamunya aja yang menghindar." Ami memeletkan lidah. Sengaja meledek Almond.


"Iya deh iya. Emang aku yang salah. Sebagai bukti kita islah, mau kan nanti istirahat aku traktir jajan?"

__ADS_1


"Oke. Tapi Kia, Sonya, Yuma, Ifa, Marga, harus diajak juga." Ucap Ami tegas. Ia tetap konsisten tak mau ditraktir seorang diri.


"No problem. Sekalian ajak Padma juga, Mi. Biar tambah seru." Almond kini bisa tersenyum lebar. Setelah dua minggu lamanya meresapi ucapan Padma agar bertemanlah dengan tulus jangan pakai hati. Sekarang terasa plongnya dada saat berjalan bersama Ami menuju kelas. Hati ringan, riang, tanpa beban.


__ADS_2