
Paturay tineung adalah istilah bahasa Sunda. Istilah untuk acara perpisahan. Paturay \= berpisah, tineung/katineung \= kasih sayang/penuh kasih.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
"Sebelum makan, kita sholat dulu ya, Cutie. Biar tenang." Akbar membuka safety belt begitu menghentikan mobil di parkiran khusus petinggi. Saat melewati Masjid Agung, terdengar adzan duhur berkumandang. Masih terdengar jelas sampai ke hotel Seruni.
"Aku lagi berhalangan, Kak." Ami mengikuti membuka safety belt. Menunggu pintu dibuka. Tapi justru yang didapat adalah pandangan intens Akbar dengan kedua sudut bibir tertarik.
"Kenapa ngeliatinnya gitu amat, ih. Kan aku jadi salting. Hayu ah turun!" Ami menghalangi pandangan dengan membuka telapak tangannya di depan mata Akbar. Yang ada justru tangannya diraih dan Akbar mengecup punggung tangannya.
"Mau bilang dulu, kalau kamu itu cantik sekali." Akbar masih menggenggam tangan Ami yang halus dan lembut. Ia betah memandang wajah yang kini sedang merona merah jambu.
"Alhamdulillah." Ami senyam-senyum dengan bahu mereog. "Udah, ah. Ayo turun. Takut ada makhluk astral yang berbisik jahat. Nenek bilang itu berbahaya." Ami bernyanyi di kalimat akhir. Lalu meminta Akbar membukakan pintu.
Akbar terkekeh dan menuruti permintaan Ami. Sama-sama keluar dan berjalan bersisian menuju pintu masuk dari samping. Langsung memasuki lift. Akbar meminta Ami menunggu di ruang kantornya selama ia pergi ke mushola.
"Mau tahu tadi abis meeting apa di sekolah?" Akbar membuka percakapan setelah duduk saling berhadapan di meja restoran. Wajahnya lebih segar dengan rambut bagian atas sedikit basah.
"Mau tahu banget. Dari semalam kan aku udah kepo. Ada apa gerangan Coach Akbar ke sekolah." Sahut Ami yang sedari berada di mobil juga sudah menunggu Akbar membuka cerita.
Akbar tersenyum melihat Ami menopang dagu dan nampak menunggu. "Kesimpulan hasil meeting adalah acara perpisahan kelas 12 tahun ini akan diadakan di ballroom Seruni."
"Wahhh. Kok bisa?" Ami menegakkan punggungnya dengan sorot mata terkejut tak menyangka.
"Bisa dong. Apapun bisa aku lakukan buat orang yang kucinta." Akbar mengedipkan sebelah mata diiringi senyum simpul.
"Aihh, adek meleleh, Bang. Kalau lagi di rumah aku bakalan pingsan. Kalau di sini aku malu. Ngumpet aja gitu ke kolong meja?" Ami menyingkap taplak meja bulat dengan menunduk menengok kolong meja.
Akbar terkekeh. Respon Ami memang selalu out of the box. Mungkin perempuan pada umumnya akan tersipu-sipu dan baper dengan berkaca-kaca. Namun Ami tetaplah Ami yang selalu konyol dan menggemaskan.
"Jelasin dong, Kak. Gimana bisa deal di ballroom Seruni.Apakah Akbar ngasih diskon atau free? Soalnya kan bayar biaya perpisahan udah ditentuin."
"Aku kasih diskon, Cutie. Jadi anggaran biaya yang tadinya buat sewa gedung, dialihkan untuk sewa ballroom. Kekurangan biayanya disubsidi dari hotel ini."
"Kak Akbar ngelakuin itu demi aku?"
Akbar mengangguk. "Yes. Acara perpisahan angkatan Rahmi Ramadhania harus spesial. Wacana penawaran ballroom udah aku sampaikan sebulan yang lalu. Cuma kan komite mesti musyawarah dulu. Jadilah aku dapat undangan meeting hari ini. Dan deal deh."
"Aihh. Kak Akbar dari tadi bikin aku meleleh terus. Makasih ya, Kak." Ami tersenyum lebar sambil memiringkan kepalanya.
"Ucapin terima kasihnya dengan benar dong."
"Emang yang benar gimana?"
"Kamu berdiri terus mendekat kesini dan peluk aku." Akbar menaik turunkan kedua alisnya diiringi seringai jahil.
"Oh gitu. Bentar ya aku telepon dulu Papa. Kalau Papa ngizinin aku akan peluk Kakak." Ami bersiap merogoh ponselnya dari dalam tas selempang. Namun lebih dulu Akbar mencegahnya.
"Jangan, Cutie. Bisa-bisa aku dihukum sama Pak jenderal." Akbar mengangkat kedua tangan ke atas. Membuat Ami cekikikan penuh kemenangan.
Chef turun tangan langsung menghidangkan menu makan siang spesial untuk sang bos Seruni ditemani seorang pelayan yang mendorong troli. Mempersilahkan menikmati dengan anggukkan dan senyum penuh kesopanan dan keramahan.
Obrolan serius sudah berakhir saatnya menikmati makan siang. Akbar dan Ami menikmatinya dalam suasana santai.
Ami sangat tahu memposisikan diri. Meski sering becanda, ia menyesuaikan dengan situasi di mana ia berada. Makan dengan sikap anggun mendampingi si empunya hotel yang sedari masuk hotel selalu mendapat anggukkan hormat dari semua karyawan.
Hampir 2 jam berada di Hotel Seruni. Bukan sekadar duduk di restoran saja. Tapi juga masuk ke ruang kantor dan bergabung dengan Leo yang sedang berkutat dengan laptop dan ponsel. Ami sejenak bersantai disana. Karena Akbar harus mendengarkan dulu laporan Leo sebelum mengantar pulang ke Ciamis.
__ADS_1
"Kak, nyanyi yuk." Ucap Ami setelah mobil si kuning meluncur di jalan raya meninggalkan Hotel Seruni. Ponselnya sudah dibuka dan scroll mencari lagu.
"Oke. Direkam gak?" Akbar menoleh sekilas melihat Ami yang masih memilih lagu.
"Direkam dong. Aku akan posting di tok tok buat kenang-kenangan."
"Oke. Tapi latihan dulu ya." Akbar berdehem untuk mengecek suaranya.
"Lagu Melly ya, Kak. Judulnya Jika. Hafal gak?"
"Ingat-Ingat lupa. Aku bagian reffnya aja deh. Soalnya sambil nyetir."
Dan sepanjang perjalanan menuju Ciamis itu sepasang kekasih bersenandung di dalam mobil yang dipacu dengan kecepatan sedang. Riang, penuh kebahagiaan, serta keberanian Ami yang mengecup punggung tangan Akbar untuk pertama kalinya. Malu-malu merona.
***
Ballroom Hotel Seruni sudah dipenuhi oleh murid kelas 12 dan juga orang tua atau wali murid. Acara dengan tajuk Paturay Tineung itu akhirnya tiba, usai menghadapi tahapan ujian di mulai sejak bulan Februari sampai awal Mei. Saatnya melepas semua murid yang 100% lulus untuk melangkah di babak baru untuk menggapai impian dan cita-cita.
Semua murid mengenakan dress code yang sudah ditentukan pihak sekolah. Murid laki-laki mengenakan setelan jas abu tua dengan kemeja lengan panjang berwarna hitam. Murid perempuan mengenakan kebaya modern warna abu muda dengan kain jarik berwarna dasar hitam motif batik abu-abu.
Kepala sekolah Al Barkah sedang menyampaikan pidato sambutan usai pembacaan ayat suci Al Qur'an yang dibawakan oleh Padmavati Syahreza, juara kedua MTQ Internasional tingkat pelajar SMA sederajat yang diadakan di Kairo Mesir.
"Bapak dan Ibu wali murid yang kami hormati. Sebelum menutup kata sambutan paturay tineung ini, izinkan saya menyampaikan pengumuman penting yang wajib diketahui oleh Bapak Ibu dan hadirin semuanya. Bahwasannya sekolah SMA Al Barkah setiap tahunnya selalu memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap siswa yang terpilih menjadi siswa teladan. Komite sekolah sudah menyeleksi siapakah yang berhak mendapat sabuk kehormatan sebagai siswa teladan angkatan 20xx/20xx."
Ballroom yang luas itu mendadak hening. Semuanya atensi terpusat pada sang Kepala Sekolah yang sedang membuka sebuah amplop bersegel.
"Bismillahirrahmanirrahiim. Berdasarkan penilaian prestasi secara akademik dan non akademik selama tiga tahun belajar, maka dengan ini kami memilih dan memutuskan bahwa murid teladan angkatan tahun ajaran 20xx/20xx adalah...."
Jreng jreng
"Selamat kepada Rahmi Ramadhania dari kelas IPA3. Terpilih sebagai Murid Teladan tahun ajaran 20xx/20xx." ucapan Pak Muhtar sebagai kepala sekolah mendapat tepuk tangan meriah dari semua hadirin serta kehebohan dari kelas IPA 3 yang memberikan standing applause terhadap Ami.
Standing applause juga terlihat dari barisan kursi yang ada di baris ketiga dari depan yaitu ada ibu Sekar, Pak Bagja serta Akbar. Mereka bertiga menatap penuh kebanggaan terhadap Ami yang berjalan menuju panggung.
Ketua yayasan Al Barkah memasangkan selendang kehormatan di bahu Ami. Memberikan tropi serta papan simbolis berupa tabungan pendidikan sejumlah 10 juta rupiah.
Ami berucap salam sebagai pembuka sambutannya. Dresscode kebaya modern dengan warna abu muda itu melekat anggun di tubuh rampingnya. Model kebaya dan tailor adalah dari butik Sundari.
"Yang pertama dan paling utama adalah ucap syukur saya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ucapan terima kasih tak terhingga kepada Ibu, Papa, ketiga kakakku. Keharmonisan keluarga sudah memberikan positif vibes, membentuk aku menjadi pribadi yang penuh semangat dan bermental sehat. Terima kasih juga kepada SMA Al Barkah tercinta, semua guru yang sudah membimbing aku, juga teman-teman sekelas tercinta yang sudah bersama-sama selama 3 tahun ini. I love you sekebon karet." Ami memberikan flying kiss yang diterima semua teman sekelas dengan pekikan heboh dan girang.
"Terakhir, special thank kepada coach yang sudah membimbing saya sejak kelas 10 semester dua sampai dengan sekarang. Tanpa coaching dari beliau, mana mungkin saya bisa berdiri di panggung ini mendapat penghargaan tertinggi dari sekolah." Pandangan Ami dan Akbar pun saling bertaut. Sama-sama tersenyum mesem. Dan Akbar mengerjapkan mata serta menganggukkan kepalanya.
"Harus disebutin dong. Siapa itu nama coach nya." Celetuk sang pembawa acara yang berdiri berjarak 1 meter di samping kanan Ami. Dan sontak saja mendapat suitan Marga dan hebohnya kawan-kawan sekelas Ami.
Ami tersenyum meringis dengan wajah yang sudah berubah merona merah jambu. Menarik nafas dulu sebelum melanjutkan sambutan terakhirnya. "Kak Akbar Pahlevi Bachtiar. Terima kasih ya atas bimbingannya selama ini. Udah jadi coach dan motivator aku yang sangat handal, sabar dan, telaten."
Dengan penuh percaya diri ,Akbar berdiri dan mengacungkan kedua jempolnya serta senyuman manis.
Hayu batur, hayu batur
Urang kumpul saréréa
Hayu batur, hayu batur
Urang sosonoan heula
Pileuleuyan, pileuleuyan
__ADS_1
Sapu nyéré pegat simpay
Pileuleuyan, pileuleuyan
Paturay, patepang deui
Amit mundur, amit mundur
Amit ka jalma nu réa
Amit mundur, amit mundur
Da kuring arék ngumbara
Adalah lagu berjudul Pileuleuyan, merupakan lagu daerah di Jawa Barat . Kini sedang dibawakan oleh paduan suara dari perwakilan murid-murid kesenian kelas 11. Mengiringi semua murid yang saling bersalaman, berpelukan, dalam haru dan tetesan air mata.
Ami dan Kia paling lama berpelukan dengan erat diiringi sesenggukan. Hasil pengumuman SNMPTN sudah dipastikan keduanya diterima di masing-masing kampus impian. Sejatinya perpisahan selalu meninggalkan kesedihan. Meski ini hanya berpisah sementara. Karena suatu saat nanti nasib dan takdir akan mempertemukan kembali. Dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
Berpisah denganmu
T'lah membuatku s'makin mengerti
Betapa indah saat bersama
Yang masih selalu kukenang
S'lamat jalan, Kekasih
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu
Untuk s'lama-lamanya
Adalah lagu milik Rita Effendi yang dibawakan oleh salah seorang murid kelas 10 dengan penuh penjiwaan dan penghayatan. Sekaligus menjadi akhir acara Paturay Tineung. Hadirin berangsur-angsur meninggalkan ballroom hotel. Sebagian memilih spot foto di rooftop untuk berfoto-foto ria.
Para orang tua murid pun sudah keluar. Termasuk Ibu Sekar, Pak Bagja dan juga Akbar, sudah lebih dulu meninggalkan ballroom dan akan menunggu Ami di restoran. Karena Ami masih berswafoto dengan teman-temannya.
"Surprise!" ucap seorang pria yang berdiri di belakang Ami yang masih anteng duduk bersama Kia sambil memakan snack. Kesedihan campur keharuan sudah menguras tenaga sehingga lapar dan haus.
"Aa.... ihhh kapan datang?" Ami berdiri terlonjak dengan wajah semringah dan mata berbinar.
"Datang barusan pakai pintu Doraemon. Nih, buat Ami dan Kia. Kalian adalah adik-adik Aa yang membanggakan. Selamat ya udah lulus SMA." Zaky menyerahkan dua buket bunga berisi boneka mini beda warna kepada Ami dan Kia.
"Aihh, buketnya ucul. Aku suka aku suka. Makasih ya Aa aku yang paling ganteng." Ami memeluk Zaky dengan penuh sayang seorang adik terhadap kakaknya.
"A Zaky, makasih banget. Nggak nyangka aku dapat buket juga dari A Zaky." Kia pun tak menyangka akan bertemu lagi Zaky setelah perpisahan di depan lapak nasi gorengnya beberapa bulan yang lalu. Ia menyalami Zaky dengan menempelkan punggung tangan kekar itu ke keningnya.
Kenapa jantung masih saja berdebar kencang. Padahal rasa sedang berusaha move on. "Kamu seperti adik bagiku." Adalah alarm yang selalu on setiap kali Kia teringat pada sosok pemuda yang pernah datang ke kios nasi goreng dengan mengenakan baju koko dan sarung. Itulah kesan pertama jatuh hati terhadap kakaknya Ami.
Tbc
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Aura perpisahan dengan pasangan AmBar semakin terasa ya. Aku juga nulisnya makin berat. Berat jika nanti harus menuliskan kata 'The End'. Kasih sajen lagi ya biar aku strong nulisnya 🤧
Yang mau lihat keuwuan Ami & Akbar nyanyi, cek aja story ig authormenia.
__ADS_1