
Akbar melangkah menghampiri rombongan keluarga Ciamis yang sudah lebih dulu dicegat oleh Mama Mila dan Papa Darwis. Ada Iko dan juga Galih yang baru memasuki restoran. Acara salam salaman pun berlangsung dengan cara bergiliran dalam suasana penuh kekeluargaan. Ia sengaja menjadikan Ami target terakhir yang akan disalaminya. Dan saat berhadapan dan saling menatap, Cutie nya itu mengajak bersalaman dengan ekspresi malu-malu sambil memeletkan lidah. Tak ada kesan romantis. Yang ada justru menggelikan serta gemas ingin menjawil hidung yang sedang cengar cengir itu.
"Sun tangan dong!" Akbar ada kesempatan berbisik dan menahan tangan Ami yang ingin lepas. Di saat semua orang fokus beramah tamah dengan Pak Bagja yang memperkenalkan diri sebagai calon suami Ibu Sekar.
"Ish, ish." Dengan malu dan gerak kilat dalam hitungan detik, Ami menuruti permintaan Akbar. Namun tidak mencium punggung tangan Panda nya itu, hanya menempelkan ke kening. Lalu segera menarik tangan yang sempat dicolek-colek jari oleh ayangnya itu. Begitu saja, menimbulkan hawa panas yang terasa menjalar di wajahnya. Bisa dipastikan kedua pipinya itu kini memerah seperti tomat yang matang.
"Ratih, aku sekarang punya anak bungsu nih." Dengan bangga, Mama Mila merangkum bahu Ami di hadapan Ratih dan Ratna. Ia sangat senang melihat baju pemberiannya dipakai Ami yang kentara semakin cantik. "Aku iri ya sama kalian bisa dipanggil Bunda Ratih, Mami Ratna. Ya kan aku juga gak mau ketinggalan dong dipanggil Mama Mila. Makanya ini anak gadis resmi jadi anak bungsuku juga. Pengen tak bungkus dibawa ke Jakarta aja kalau ibunya ngasih. Biar lanjutin sekolahnya di Jakarta aja. Ini Ami, akan kujaga dan kurawat seperti anak sendiri. Tetep aja di Jakarta juga banyak sodara. Posisi rumahku ibarat poros tengah. Deket ke rumah Puput, deket ke rumah Teh Ratna, deket ke rumah Cia." Jelas Mama Mila yang tak kentara menarik nafas selama nyerocos.
"Aduh, aku seperti Malika iklan kecap ya, Ma." Ami terkikik. Sementara Bunda Ratih dan Mami Ratna tertawa lepas.
"Kamu emang cocok sama Ami, Mil. Sama-sama rame. Tapi yakin, Bu Sekar gak bakalan ngasih si bungsu dibungkus ke Jakarta. Gak bakalan mau pisah. Kecuali nanti kalau kuliah." Sahut Mami Ratna yang masih sama-sama berdiri, belum memilih meja.
"Hm, iya juga sih. Eh kita duduk bareng aja kan pas berempat. Paksu biar bikin grup sendiri aja. Tuh kan liat paksu kita sudah buat formasi. Pasti lagi ngobrolin mancing deh." Mama Mila memainkan mata isyarat menunjuk ke sudut kiri.
"Kalau aku gak bisa ikutan gabung ya, Ma. Aku kan jadi panitia. Mau nyambut mereka dulu." Ami melihat ke arah pintu masuk restoran dimana ada personel grup gambus yang baru datang. Mama Mila mengangguk memaklumi.
Akbar terlibat obrolan santai bersama Rama, Zaky, dan Damar. Duduk dalam satu meja. Belum ada keleluasaan untuk berbincang intens dengan Ami. Hanya bisa sesekali saling bermain mata, saling mencuri pandang.
Meja-meja berkapasitas empat kursi sudah ditata sedemikian rupa sehingga memiliki view yang sama. Bisa menatap ke depan tanpa harus memutar badan atau memutar kursi ke pusat dekorasi estetik yang bertuliskan "Halal Bihalal & Tasyakuran 4 Bulanan".
"Ehem, hadirin sekalian mohon perhatiannya dulu."
Semua orang yang rata-rata sedang terlibat perbincangan, mendadak menghentikan obrolannya dan beralih memusatkan perhatian ke depan. Dimana ada Ami berdiri sambil memegang mic ditemani Rasya.
Akbar menyipitkan mata diiringi mengulas senyum. "Si cantik mau ngapain ya?" ucap batinnya terheran sekaligus penasaran.
"Mengingat keluarga besar juga tamu undangan sudah hadir semua, maka acara halal bihalal dan tasyakuran empat bulanan kehamilan Teh Aul, akan saya mulai. Mancing ke laut lupa bawa umpan. Mungkin pada terkejut kenapa Ami tampil di depan." Ucap Ami yang mendapat respon tawa hadirin. Selain keluarganya dan Padma, belum ada yang tahu jika ia didaulat menjadi MC.
__ADS_1
Akbar semakin melebarkan senyum dan mengkunci sosok Ami yang berdiri dengan ekspresi tenang. Antusias menunggu ucapan selanjutnya.
"Saya ditunjuk menjadi MC tembak. Berhubung MC yang asli tidak bisa hadir karena mendadak ada halangan. Jadi....nini aki matanya belek, mandinya dalam kuali. Kalau Ami tampilnya jelek, maafkan jangan dibully."
Grrr semua hadirin tertawa. Ada yang tertawa lepas, juga tertawa kecil. Enin termasuk yang terkekeh-kekeh. Sementara Padma terkikik.
"Dah lah, cocok Ami yang jadi MC. Jadi yang hadir kehibur kabeh. Mr Bean mah lewat." Celetuk Enin sambil mengacungkan satu jempol.
"Ah, Enin bisa aja." Sahut Ami diiringi senyum mesem yang menampakkan lesung pipi. "Baiklah, satu pantun lagi sebelum masuk ke acara serius ya. Berburu rusa ke Bukit Barisan, berburunya di hari sabtu. Bapak ibu kalau suka dan terkesan, sudilah aku dijadiin mantu. Ehehehe...." Ia tersenyum malu. Rasya pun yang keukeuh ingin menemani Ate nya itu, ikut terkikik meskipun tidak mengerti maknanya.
Mama Mila sampai berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat heboh. Hampir saja mau teriak bilang 'ini calon mantuku lho' namun rem langsung pakem karna Iko mencolek pinggangnya. Beruntung anaknya itu bergabung mengisi satu kursi yang kosong.
Ruang restoran masih riuh tawa. Terkhusus Akbar, ia tak lepas mengunci pandangan. Terlihat mesem-mesem dengan hati yang penuh keriaan juga kekaguman. "Kamu udah kutandai, Cutie. Udah jadi calon mantu Mama. Just be mine." yang hanya terucap dalam hati.
"Sudah ah. Hadirin sekalian, waktunya kita serius." Ami berhasil membujuk Rasya agar duduk di kursi yang disediakan untuk MC di sudut kanan. Khawatir lama-lama berdiri membuat keponakannya itu bosan dan menariknya pergi. Malah bisa ambyar.
"Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarkatuh." Ami benar-benar memasang wajah serius dan mulai profesional. Semua hadirin menjawab salam dengan serempak.
Kata "Aamiin" kompak diucapkan hadirin dengan tulus.
"Yang saya hormati para orang tua yang tidak bisa saya absen satu persatu namanya. Yang saya sayangi kakak-kakak, adik-adik, sepupu serta keponakan. Wabil khusus untuk pemilik hotel Seruni yang sudah ridho memfasilitasi tempat acara halal bihalal serta tasyakuran empat bulanan Teh Aulia Maharani. Terima kasih, Kak. Semoga Allah SWT menggantikan pengorbanan kakak dengan rejeki berlipat ganda."
Akbar ikut berucap amin serempak dengan semua hadirin. Tersenyum manis dan mengangguk saat pandangan saling bertaut dengan sang MC. Tersanjung mendapat kehormatan khusus.
"Tiada kata yang paling indah di pagi menjelang siang ini selain ucapan puji dan syukur yang mana Allah telah limpahkan rahmat, taufik, serta hidayah -Nya kepada kita semua. Sehingga di suasana yang berbahagia ini kita bisa menghadiri acara halal bihalal keluarga sekaligus tasyakuran empat bulanan kehamilan Teh Aulia Maharani dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin."
"Tak lupa sholawat serta salam....." Ami menyampaikan mukadimah dengan berdiri tegak serta aura percaya diri yang tinggi. Tidak nampak kegugupan. Malah begitu tenang serta penuh senyum. Memikat semua orang untuk tetap fokus mendengarkan setiap kalimat yang terucap tanpa menggunakan teks. Hingga sampai kepada menyampaikan susunan acara.
__ADS_1
"Baiklah kita melangkah pada acara berikutnya yaitu tilawah Al Qur'an yang akan disampaikan oleh bestie tersayang. Dia ini alhamdulillah juara satu hafiz Qur'an juz 30 tingkat SD se provinsi Jawa Barat. Juara satu hafiz Qur'an juz 29 tingkat SMP dan sederajat se provinsi Jawa Barat. InsyaAllah dalam waktu dekat akan ikut serta lomba MTQ tingkat internasional di Kairo, Mesir. My lovely bestie, Padmavati Syahreza. Kepadanya disilakan." Ami tersenyum lebar dan mengedipkan mata saat Padma menatapnya datar sebelum berdiri dari duduknya di samping Enin. Mentransfer energi positif agar bestie itu percaya diri dan tidak grogi.
Suasana hening saat lantunan ayat suci Al Qur'an mengalun merdu dari bibir Padma yang diucapkan sambil memejamkan mata. Nampak fokus dan meresapi ayat demi ayat hingga selesai. Menyejukkan hati yang mendengar. Menyenangkan bagi Ayah bundanya serta Panji yang menatap dengan senyum penuh bangga.
Usai tilawah Al Qur'an, Ami melanjutkan menyampaikan susunan acara berikutnya yaitu prakata dari Enin selaku sesepuh yang diwakili oleh Papi Krisna. Prakata singkat disampaikan oleh pria kharismatik yang merupakan bapaknya Rama dan Cia. Mengingatkan akan pentingnya mempererat tali silaturahmi, menjaga kerukunan, dan saling mendukung kesuksesan usaha keluarga. Tak lupa satu kalimat yang menjadi quote bahwa 'Semua orang harus bahagia'.
"Kita akan lanjutkan kepada acara puncak yaitu tausyiah yang akan dilanjutkan dengan doa. Akan disampaikan oleh Uwa Syarif. Bagi yang belum kenal, beliau itu adalah kakak dari ibu saya. InsyaAllah nanti akan menjadi wali nikah ibu. Ups, keceplosan." Ami berakting menutup mulutnya padahal sengaja. Jadilah suasana kembali dihiasi tawa.
Ibu Sekar menatap tajam Ami dengan wajah memerah karena malu. Sementara yang ditatap membalas dengan cengengesan dengan dua jari membentuk simbol V. Lain halnya Pak Bagja yang mesem-mesem.
***
Alunan musik gambus mengiringi suasana santai orang-orang yang mulai mencicipi hidangan. Akbar dan Panji sepakat menyajikan kuliner tradisional khas sunda. Disamping unik juga menghindari bosannya akan hidangan opor ayam dan sebangsanya yang biasa ada di setiap rumah. Maka kehadiran tutug oncom, nasi cikur, goreng baby fish, ikan nila nakar, serta kue jajanan pasar dan juga minuman tradisional, disambut antusias oleh Enin juga para orang tua lainnya.
"Untuk MC yang beautiful and amazing, ikut aku sebentar yuk." Akbar sengaja mengikuti Ami yang selesai membawakan acara terlihat berlalu keluar restoran. Dan ternyata menuju toilet. Sebuah kesempatan untuk berduaan.
"Kak, sengaja ngikutin aku ya?" Ami yang saat keluar dari ruang toilet wanita terkejut melihat kehadiran Akbar, kini menoleh ke kiri dan kanan. Melihat situasi.
"Iya. Ikut aku dulu ya, sayang. Hanya sebentar kok."
Ami bagaikan terhipnotis saat mendengar kata sayang secara berhadapan langsung. Menurut saat lengannya ditarik memasuki satu ruangan yang sepertinya ruang kantor.
"Semua yang ada di dalam tadi memujimu, Cutie. Dan aku ingin jadi orang yang pertama memberi selamat atas performance kamu sebagai MC. My Cutie luar biasa. Aku bangga padamu." Akbar mengacungkan dua jempolnya. Lalu memajukan wajah lebih dekat dengan telinga Ami. "Dan makin cinta."
Bulu kuduk Ami meremang karena bisikan yang menguar aroma mint itu begitu dekat di telinga. Apalagi kini sebuah buket bunga mawar merah asli, diberikan Akbar padanya. Tidak terlihat sebelumnya kapan buket itu diambil. Tahu-tahu dikeluarkan dari belakang punggung. Speechless. Hanya netra yang bisa menggambarkan perasaannya yang berbunga-bunga dan penuh kupu-kupu berterbangan.
...****************...
__ADS_1
Hai Bestie,
Fyi, akun ig aku berganti akun baru @authormenia . Kuy follow yah. Yg mau tau Ami yang cantik pakai dress hadiah Mama Mila, intip di igs authormenia 🫠