
Malam Sabtu menjadi jadwal rutinitas menginap di rumah biru alias di rumah Papa Bagja. Ami dan keluarga berangkat usai salat ashar. Dan ini kali pertama juga untuk Puput yang ikut serta menginap di rumah besar milik ayah sambung yang merupakan purnawirawan angkatan laut itu.
Ami punya kamar sendiri di rumah itu terletak di lantai 2. Yang paling disuka dari kamarnya itu, jendelanya menghadap pada pemandangan Gunung Sawal yang hijau menjulang dan membentang panjang.
Menikmati senja di teras belakang yang menghadap kolam ikan. Obrolan santai mengalir diantara Ibu, Papa, dan Puput. Ami hanya menjadi pendengar sambil terus menengok aplikasi chat. Meski pesan terus bermunculan terutama dari grup sekolah, ia abaikan. Yang ditunggu adalah balasan dari ayang Panda.
"Aa bobonya sama Ate Kun....ups lupa. Ate Ammii." Rasya terkikik dan membekap mulut dengan tangan kirinya melihat Ami melotot. Beralih loncat ke kasur dan berguling-guling riang usai mengikuti Ate nya salat magrib.
"Udah yuk turun belum waktunya bobo. Kita makan. Sekalian Ate mau ngobrol sama nenek sama opa, sama Umma."
"Lessgowww. Belangkaaatt." Rasya sigap turun dari kasur. Ia mengayun-ayunkan tangan Ami selama berjalan hingga menuruni tangga. Keluarga sudah berada di ruang makan dengan banyak menu tersaji di meja. Ami dan Rasya pun bergabung.
Ami menatap semua orang yang bergabung di meja makan. Memastikan dulu semuanya sudah selesai makan karena ada hal yang akan disampaikannya. "Bu, besok Kak Akbar sama Mama Mila dan Papa Darwis mau bertamu ke rumah putih." Ia membuat istilah rumah berdasarkan warna cat.
Ibu Sekar spontan saling tatap dengan Puput yang duduk segaris dengannya. Lalu ia pun menoleh kepada Pak Bagja yang duduk di samping kirinya.
"Mau datang jam berapa, Ami?" Puput mewakili bertanya lebih dulu.
"Belum ada konfirmasi waktunya, Teh. Sekarang Kak Akbar udah meluncur dari Jakarta otewe ke Tasik. Kan bareng sama Kak Rama."
"Oh iya lupa." Puput baru ingat kalau suaminya memang akan berangkat bareng dengan Akbar. Tapi ia tidak tahu kalau mama Mila dan papa Darwis ternyata ikut juga.
"Aa, sekarang main dulu sama adek ya. Tuh kasihan adek sendiri sama Mbak aja. Ayo Aa temenin main dulu ya." Puput mengusap puncak kepala Rasya yang duduk di tengah antara dirinya dan Ami. Anak pertamanya itu pun mengangguk menurut, turun dari kursinya dan berlari.
Ami paham maksudnya Puput mengalihkan Rasya. Sepertinya ia akan disidang oleh tiga orang dewasa di sekitarnya itu.
"Ami, gimana udah salat istikharah belum?" Ibu menatap Ami dengan ekspresi serius.
"Aku udah salat, bu. Sudah melaksanakan istikharah selama tujuh kali."
"Lalu udah mendapat jawaban belum?"
__ADS_1
"Aku nggak tahu, Bu. Maksudku jawaban dari doa itu harus seperti apa. Aku hanya merasakan hati ini makin mantap. Kalau mimpi sih nggak ada." Ami menjawab jujur tanpa dibuat-buat.
Sejenak hening menyelimuti. Ami menyapukan pandangan silih berganti kepada Ibu, Papa dan juga Puput yang ada di sampingnya. Semua wajah tampak serius tapi tenang.
"Ami, besok pagi tolong tanyakan lagi jam berapa pastinya mau datang. Biar Papa bisa bagi waktu karena akan ada kegiatan hari esok."
"Oke, Pa."
Hanya sebatas itu obrolannya. Belum ada kesimpulan. Malah Puput mengalihkan topik pembicaraan membahas persiapan Aul yang mau aqiqah. Membuat Ami harus mengelus dada untuk bersabar menunggu keputusan dari keluarganya itu. Ia tidak lagi menuntut jawaban. Memilih sabar menunggu saja.
Ami perlahan melepaskan pelukan dari punggung Rasya yang sudah terpejam di jam sembilan. Bocah itu selalu ingin dipeluk dan diusap-usap punggung setiap kali mau tidur. Ia melihat ponselnya namun belum ada kabar terbaru dari Akbar. Kemungkinan dia belum sampai ke Tasik.
Lupa belum membawa air minum. Ami keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju dapur. Sepintas dari bawah tangga, ia melihat Ibu, Papa, dan Puput masih ada di ruang tengah sedang berbincang dengan suara yang kurang jelas terdengar. Mungkin sekalian sambil menunggu Rama datang.
Pagi menyapa. Ami melihat Rama sedang menggendong Rayyan di halaman belakang sambil berjemur. Chat dari Akbar baru terbaca subuh karena semalam ia ketiduran. Kini ia memberitahu keluarganya jika Akbar akan datang di jam 10. Maka dari itu usai sarapan, semuanya pun bersiap-siap untuk kembali ke rumah putih alias rumah utama yang berdampingan dengan rumah makan Dapoer Ibu.
***
Rasya mendongak dari fokusnya memainkan dua dinosaurus di sofa. Menatap wajah Ate Ami. "Cantik- cantik," ujarnya sambil mengangguk-angguk. Lalu kembali fokus dengan mainannya. Sebelum kemudian ate nya itu mengajak turun meninggalkan kamar.
Sofa ruang tamu telah terisi penuh oleh empat orang tuan rumah serta tiga orang tamu. Kecuali Rama yang sengaja tidak ikut serta memilih berada di ruang tengah bersama kedua anaknya. Percakapan ringan bergulir di antara orang tua Akbar dengan orang tua Ami. Terlihat Papa Darwis antusias mendengarkan Pak Bagja yang menceritakan tentang tambak udang yang ada di Cipatujah.
Usai ngobrol ke sana kemari, Mama Mila mencolek pinggang suaminya yang merupakan sebuah kode. Untuk itu Papa Darwis pun mulai berdehem usai menyeruput tehnya.
"Bapak dan Ibu. Kedatangan kami kemari selain bersilaturahmi juga kami ini ingin melanjutkan lagi pembahasan hubungan Akbar dengan Ami. Akbar sudah bilang pada saya ataupun sama Mamanya, bahwa ia menyukai Ami dan sudah bicara sama bapak dan ibu untuk meminta restu. Nah jadi sekarang saya sebagai orang tuanya memperkuat bahwa niat anak saya itu serius ingin menjadikan Amin sebagai calon istrinya. Barangkali sekarang ini bapak dan ibu sudah mempertimbangkan dan bisa memberi jawaban kepada kami." Papa Darwis berbicara dengan hati-hati.
Ami kali ini tidak banyak bicara. Lebih banyak menunduk di samping Puput. Meski ia tahu kalau Akbar terus-menerus curi-curi pandang apa adanya. Situasi saat ini cukup tegang. Ia harap-harap cemas menunggu ucapan Ibu maupun Papa.
"Pak Darwis dan Ibu Mila, mohon maaf sebelumnya. Akbar sudah dua kali datang ke sini. Tapi belum bisa memberi jawaban karena kami butuh waktu untuk mempertimbangkan. Terutama mengingat usia Ami yang masih di bawah 20 tahun. Kami tidak meragukan niat baik Akbar. Karena kami sudah bisa menilai Akbar sudah matang secara usia dan mental. Justru yang sedang kami tilai itu anak kami sendiri. Ya itu tadi karena usianya masih di bawah 20 tahun. Takutnya belum siap secara mental. Takutnya ini hanya semangat di awal aja." Jelas Pak Bagja mewakili bicara.
"Saya dan ibunya Ami mengajak bicara kakak-kakaknya dulu yaitu dengan Puput dan Aul. Kecuali dengan Zaki belum. Karena dia kan jauh. Nanti aja sama Zaki terakhir. Jadi jawaban dari kami adalah...."
__ADS_1
Ami sontak mendongak dan menatap ke arah Papa Bagja. Mendadak jantungnya deg-degan. Karena papa sambungnya itu menggantungkan kalimat. Sama halnya Akbar yang duduk di single sofa. Menatap fokus menunggu ucapan jawaban apa yang akan keluar. Harap-harap cemas.
"Jawaban kami adalah, kami memberikan restu pada hubungan Akbar dan Ami." Ucap Pak Bagja dengan lugas.
Jika sang tamu mengucapkan Alhamdulillah dengan wajah-wajah yang semringah. Ami justru menyembunyikan senyum malu dan haru di balik punggung Puput dengan tangan memeluk lengan kakak pertamanya itu. Akhirnya restu yang diharapkan itu turun juga.
***
Satu bangunan gazebo di rumah makan Dapoer Ibu menjadi tempat jamuan makan dua keluarga. Tak ada lagi asa yang menggantung. Karena tiket restu sudah dijunjung. Dengan catatan selama menunggu ke jenjang halal, harus bisa membawa diri dan menjaga sikap.
"Kenapa jadi pendiam, hm? Bukan Ami banget deh." Ucap Akbar memanfaatkan kesempatan mengambil udang goreng yang ada di depan piring Ami sambil berbisik. Sejak keluar dari rumah menuju Gazebo tak ada percakapan dengan Cutie nya itu. Berjalan dengan diam namun wajah cantiknya nampak semringah.
Ami mengunyah sambil menahan senyum. Pura-pura mengambil tisu yang ada di dekat Akbar untuk balas berbisik. "Lagi adaptasi dulu dengan status baru. Masih gak nyangka."
Akbar pun mengunyah sambil senyum-senyum. Ada waktunya nanti komunikasi berdua lewat telepon atau video call nanti malam minggu. Karena momen sekarang adalah temu keluarga yang pembahasannya ke sana kemari.
"Bu Sekar, biar lebih kuat nih hubungan dua keluarga kita. Lebih resmi status Akbar dan Ami. Gimana kalau Desember nanti anak-anak kita tunangan dulu? Pas Ami libur semester satu. Bagus kan ideku? Bagus dong masa enggak. Jadi anak-anak kita gak akan ada yang tikung menikung orang lain. Biar tenang tenteram hati. Setuju ya Bu Sekar, Pak Bagja, Puput, Rama?" Mama Mila menyapukan pandangan pada orang-orang yang diabsennya itu dengan wajah antusias dan penuh semangat berapi-api .
"Ami gimana?" Ibu Sekar menatap anak bungsunya yang duduk lesehan di samping Akbar.
"Terserah Ibu aja." Ami mendadak jadi anak manis.
"Kalau Akbar gak akan Mama tanya, Mi. Dia mah pasti mau." Mama Mila mengerling pada Akbar yang merespon dengan memainkan alisnya.
Ami terkikik dan yang lainnya terkekeh.
"Zaky Desember pulang, Bu. Menurut Teteh itu momen yang pas. Keluarga kita kumpul lengkap." Puput kemudian mendekatkan bibir ke telinga ibunya. "Tapi Zaky harus dikasih tau dulu dari sekarang."
"Masih ada waktu ya Bu Mila. Nanti aja kepastiannya biar Ami yang akan mengabarin lagi sama Bu Mila atau sama Akbar.
"Iya, Bu. Untuk penerimaan hari ini aja Akbar sudah merasa senang dan bahagia. Untuk acara lamaran mau kapan mau di mana Akbar akan ngikutin keinginan Ami, keinginan keluarga Ami. Pokoknya Akbar akan siap menunggu." Sahut Akbar tanpa ragu.
__ADS_1