Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
53. Kiriman Paket


__ADS_3

Akbar menahan langkah Gita yang akan keluar dari ruangannya usai menyerahkan setumpukan berkas. "Gita, panggil Leo kesini sekarang juga!"


"Baik, Pak." Gita mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.


Akbar menggulung lengan panjangnya hingga ke sikut. Hari ini selasa. Banyak pekerjaan yang harus selesai hingga kamis nanti. Itu artinya malam ini harus kembali lembur. Karena jumat tidak akan masuk kantor mengingat di rumah akan diadakan acara pengajian serta siraman sang adik, Aiko.


"Ada apa, Boss?" Leo yang nyelonong masuk begitu saja, langsung menghampiri Akbar yang baru akan duduk di sofa.


"Size baju Ami apa ya? Nomer sepatu berapa?" Akbar duduk santai sambil bersilang kaki.


Leo yang hampir menjatuhkan bo kong di sofa, urung dan berdiri lagi dengan tatapan melongo serta kening mengkerut. "Lo gak salah nanya sama gue? Emang gue asistennya or emaknya?"


"Yaelah, gak cerdas punya asisten. Itu artinya lo tanyain sama Tasya. Dia kan udah ketemu Ami. Bisa ngira-ngira kan ukuran bajunya. Dan gue gak mau tau gimana caranya dapat ukuran sepatu Ami. Jangan sampai curiga. Karena mau ngasih surprise. Mau ngasih gaun dan sepatu buat ke wedding Iko." Jelas Akbar.


"Bukan gue gak cerdas. Tapi lo kelewat pinter alias oon. Tinggal ngomong; 'Leo, minta tolong Tasya cari tahu size baju dan sepatu Ami'. Bukan nanya kayak tadi gitu. Hadeuh kirain dipanggil kesini buat bahas kerjaan." Leo pun bisa duduk usai menyolot bossnya itu.


"Sembarangan ngatain oon. Gue tuh cerdas. Pertanyaan sederhana terlalu biasa. Otak jadi manja gak mau mikir. Dah lah telpon Tasya sekarang. Loud speaker!" Tegas Akbar yang sudah tidak sabar mendapat informasi penting itu. Soal belanja, ia sendiri yang akan memilih.


Panggilan sudah terhubung. Cukup lama menunggu hingga terjawab.


"Sayang, ada apa?" Suara Tasya di sebrang sana terdengar riang.


"Sayang lagi santai kan? Aku ada perlu anu." Leo melihat ke arah Akbar yang nampak fokus menyimak. Ia memperbaiki posisi duduknya.


"Aduh, Mas. Lahiran tinggal menghitung hari. Jangan minta anu lagi. Udah stop!"


"Sya...."


"Emang sih kata dokter menjelang HPL itu bagus si baby ditengokin bapaknya. Tapi aku udah gak mood. Ini perut mulai sering kontraksi. Aku juga udah ga bisa lincah."


"Eh, Sya...."


"Mas! Jangan pakai dalil menolak keinginan suami itu dosa. Liat sikon. Aku udah gak bisa goyang, Papa Leo."


"TASYAAAA!" Leo menepuk kening. Ia menggeram gemas. Sama sekali tidak kebagian kata untuk menyela karena sang istri yang terus merepet mendominasi percakapan. Ia sampai melirik Akbar untuk melihat ekspresi wajah sang boss. Kentara mendengus sebal.


Akbar hanya bisa menutup kuping mendengar cerocosan Tasya yang absurd. Namun tetap saja terdengar dan mencemari indera pendengarannya. "Stop...stop! Kenapa siang-siang bahas yang bikin gerah? Haiss kalian!"


"Eh, kok ada suara Mas Akbar?!" Nada suara Tasya terdengar kaget.

__ADS_1


"Ini pake loud speaker, Sya. Kamu sih salah paham malah bahas gituan. Kamu tuh ada tugas dari si boss nih. Gini nih gaul sama Tante Mila jadi kena virus merepet. Kasian nih anaknya Tante Mila merana. Kan otaknya jadi traveling." Diakhir ucapannya, Leo mendapat lemparan bantal sofa yang mengenai dadanya.


"Oh, sorry-sorry. Kamu sih Mas bilangnya ada perlu anu. Kirain anu itu ehem-ehem. Emangnya ada tugas apa? Jadi deg degan nih." Tasya terdengar antusias ingin tahu.


"Akbar butuh info size baju dan sepatu Ami. Mau kirim hadiah surprise ke Ciamis. Sayang bisa ngira-ngira gak?"


"Oh begitu. Ngomong dong dari tadi. Size bajunya aku bisa nebak. Tapi kalau sepatu gak tau."


"Makanya kamu kontek Ami, Sya. Gimana caranya dapat info itu dan jangan sampai Ami curiga."


"Oke-oke, cingcay lah. Harus kapan infonya?"


"Ditunggu dalam waktu satu jam dari sekarang. Urgent, Sya." Sahut Akbar yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


"Oke deh. Aku tutup ya!"


***


Ami baru selesai menerima telepon dari Tasya. Obrolan santai selama hampir lima belas menit dibumbui canda tawa. Hingga ia menjadi yang terakhir keluar dari kelas di jam pelajaran terakhir. Ada Kia yang setia menunggunya di luar kelas.


"Yuk, pulang!" Ami pun menggandeng lengan Kia menyusuri koridor kelas berbaur bersama murid lainnya yang masih santai bermain ponsel.


"Masih ada waktu bulan depan, Kia. Ikut ya biar aku ada teman." Ami tahu pasti alasan Kia. Dari seluruh murid sekelas, hanya Kia yang belum mengkonfirmasi keikutsertaan study tour ke Jogja.


"Hm, gimana nanti deh." Kia tidak mau mengeluh dengan besarnya biaya study tour selama tiga hari dua malam itu. Itu karena ia memikirkan pengeluaran yang hampir bersamaan dimana adiknya yang SMP juga akan melakukan study tour minggu depan. Tidak mau membebani orang tuanya.


"Aku yakin kamu bisa ikut. Akan selalu ada rejeki yang datangnya gak disangka-sangka, Kia. Cemungut!" Ami menepuk bahu Kia diiringi senyuman. Ia meraih helmnya dan membonceng teman sebangkunya itu seperti biasanya sampai di lampu merah.


Hari berganti. Rutinas berjalan sebagaimana biasanya. Kamis ini suasana hening di kelas IPA 3 karena semua murid terfokus pada penjelasan guru agama yang membahas fiqih. Hingga di sepuluh menit terakhir terdengar pintu kelas ada yang mengetuk dari luar.


"Yang namanya Rahmi Ramadhania mana?" Tanya Pak Khaeruman sang guru agama yang berdiri di ambang pintu.


Ami dengan raut kaget penuh tanya, maju menghampiri begitu mengacungkan tangan dan guru menyuruh ke depan. Nampak ada petugas piket berdiri di luar.


"Ada tamu yang mau bertemu Rahmi. Ditunggu sekarang di ruang kepala sekolah." Petugas piket menyampaikan tujuannya.


"Tamu siapa, Pak?" Ami mengerutkan kening dengan perasaan terheran-heran.


"Nanti aja di ruang kepala sekolah dikasih tahunya."

__ADS_1


Ami menurut meski kurang puas dengan jawaban petugas piket. Ia meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Khaeruman. Lalu mengikuti langkah petugas piket menuju ruang kepala sekolah yang terletak di lantai dasar. Sepanjang jalan dipenuhi tanya.


"Ini dengan Rahmi Ramadhania ya?" Tommy meyakinkan dulu saat sudah berhadapan dengan Ami. Lagi, ia mendapat tugas dari boss besar untuk mengantar barang. Tugas kurir yang kedua kalinya.


Kepala sekolah beranjak dari sofa memberi kesempatan anak muridnya menerima tamu penting. Ya penting, karena tamunya itu utusan Akbar, donatur terbesar di SMA Al Barkah.


"Iya Pak saya Rahmi. Bapak siapa?"


"Saya Tommy, Neng. GM hotel Seruni Tasik. Saya kesini karena ada titipan dari Pak Akbar untuk siswa bernama Rahmi Ramadhania. Harus ketemu orangnya langsung." Tommy menyerahkan goodie bag warna krem berisi paket bersampul krem polkadot. Dikirim dari Jakarta kemarin.


"Oh ya. Makasih, Pak." Ami menerima dengan ekspresi kaget bercampur bingung. Padahal semalam chatingan lama dengan Akbar. Ia menceritakan kegiatan sekolah karena ditanya. Selebihnya, Panda nya itu menceritakan persiapan wedding Iko. Sama sekali tidak bilang akan mengirim hadiah. Lagi-lagi memberi surprise.


"Kalau begitu saya permisi ya."


Ucapan Tommy membuyarkan lamunan Ami. Ami pun tersenyum dan mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Ia pun sekalian pamit kepada Pak kepala sekolah.


Ini siswa siapanya Pak Akbar sih? Masa GM jadi kang paket lagi. Padahal banyak staf yang bisa disuruh. Heran.


Suara hati Tommy yang menerka-nerka mengiri langkahnya hingga masuk ke dalam mobil.


Ami menenteng paper bag dengan langkah tergesa karena ingin mengecek ponselnya. Barangkali Akbar ada menghubungi. Untung kelas lengang karena jam istirahat. Bisa-bisa diintrogasi kalau Sonya Cs melihat tentengannya. Hanya ada Kia dan dua orang lain yang sedang berbincang.


"Mi, ada tamu siapa? Wah, dapat bingkisan segala." Kia menuju mejanya menyusul Ami yang baru saja duduk.


"Itu....ada utusan sodaranya kakak ipar. Nitip oleh-oleh dari Jakarta buat aku." Ami menyahut sambil membuka ponselnya. Namun sama sekali tidak ada chat dari Akbar.


Kia mengangguk. Ia bukan tipe orang yang suka ingin tahu berlebihan akan urusan orang lain. Tak lagi bertanya.


[Kak, barusan ada Pak Tommy ngasih paket]


[Katanya dari Kak Akbar. Benarkah?]


Ami menunggu balasan sambil mengintip isi goodie bag. Namun karena kadonya tertutup rapat, ia menahan rasa ingin tahu hingga nanti sampai di rumah.


[Iya itu hadiah dari aku. Nanti kalau udah dibuka kabarin lagi ya]


[Aku meeting dulu. MU, Cutie 😘]


Ami tersenyum mesem membaca balasan dari Akbar. Jadi ingin segera pulang ke rumah. Ingin tahu apa isi dalam kado bersampul kertas krem polkadot itu.

__ADS_1


__ADS_2