Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
121. Ponsel


__ADS_3

Ami menggenggam tiga buket. Dua diantaranya lebih dulu ia dapatkan dari Ibunya dan dari Akbar. Usai berpamitan kepada Kia dan teman-teman lainnya, ia dan Zaky pun langsung menuju restoran karena sudah ditunggu.


"Aa serius ih. Sebenarnya kapan datang?" Ami mengulang tanya di dalam lift yang hanya terisi berdua.


"Datangnya semalam jam satu. Aa nginep di sini. Ibu sama Mas Akbar tahu kok. Makanya dapat kamar pun free. Surprise Aa berhasil, kan?" Zaky tersenyum menyeringai. Percaya diri sudah berhasil memberi kejutan kepada Ami. Ia sengaja menyempatkan pulang ke Ciamis di hari perpisahan sang adik. Padahal hanya punya waktu libur yang sebentar.


"Ho oh. Katanya bakal pulangnya nanti pas nikahan aku. Aa bakal lama di sini?"


"Lusa berangkat lagi. Cuma punya waktu libur empat hari. Sengaja pulang demi Ami."


"Aihh, so sweet deh kakak Suneo." Ami menyandarkan kepala di bahu Zaky.


"Gue jitak pala lo." Zaky mendengkus sebal. Benar-benar menjitak kepala Ami yang tertawa cekikikan. Lift pun terbuka.


Ami dan Zaky menuju meja panjang di sisi jendela, di mana Akbar terlihat sedang berbincang santai dengan Ibu Sekar dan Papa Bagja. Rupanya makanan sudah tersaji di meja. Tak perlu lagi memesan menu karena sudah disediakan. Tinggal makan.


"Alhamdulillah. Acara makan siang ini sekaligus dalam rangka syukuran karena Ami lulus sekolah dengan prestasi terbaik sebagai murid teladan. Papa dan Ibu mendoakan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melindungi dan memberi kemudahan dalam Ami menggapai cita-cita sekaligus memulai hidup baru berkeluarga dengan Akbar." Doa Pak Bagja diaminkan oleh semua orang dalam suasana hening dan penuh keseriusan. Barulah memulai makan.


Setengah jam kemudian, Panji dan Aul datang. Mereka sudah mengkonfirmasi bakal datang terlambat karena Panji baru selesai meeting.


Selesai acara makan siang santai itu, dilanjut dengan berfoto. Akbar sengaja mengundang fotografer khusus untuk mengabadikan momen Ami yang lulus sekolah.


"Bentar, aku touch up dulu. Udah hinyay kayaknya muka aku." Ucap Ami saat berpindah ruangan. Ruangan kantor sudah disulap menjadi studio foto.


"Biarin aja. Lumayan buat masak dadar telur. Minyak mahal." Ledek Zaky.


Ami mendelik. Sementara yang lainnya menertawakan.


Sesi foto pun dimulai. Ami mulai mengenakan selendang penghargaan sebagai murid teladan dengan memegang satu buket spesial dari Akbar. Foto sendirian menjadi pembuka. Ia lalu menjadi bintang utama dalam sesi foto keluarga, dengan gaya serius dan gaya gokil.


"Kak, ayo kita bikin pas foto background biru. Ups salah. Foto berdua maksudnya." Ami tersenyum menyeringai. Tanpa malu mencandai Akbar di depan keluarganya. Bahkan fotografer pun mengeluh senyum.


Akbar tertawa. Ia pun tanpa ragu dan penuh percaya diri mulai berdiri di samping Ami. Berbagai gaya diikuti sesuai arahan fotografer dan juga sesuai permintaan Ami.


Waktu terus bergulir. Merubah siang menjadi malam. Mengganti hari dengan pekan. Pekan beranjak berganti bulan. Jika kelas 10 dan 11 sedang melaksanakan ujian akhir semester di bulan Juni ini, Ami pun disibukkan dengan persiapan melakukan prawedding dua hari lagi. Sekaligus menunggu yang Akbar datang esok hari.


"Bu, berangkat ke Padepokan dulu." Ami mencium tangan Ibu Sekar dengan tas ransel yang sudah digendong. Hari-hari bebasnya ia isi dengan mengajar lagi di padepokan silat sebagai asisten pelatih Kang Aris setiap Sabtu dan Minggu. Melatih murid-murid seusia SD. Rencananya sampai akhir bulan Juni ia menjadi pengajar ilmu silat dasar untuk pemula. Karena bulan selanjutnya waktunya persiapan menghadapi pernikahan dan persiapan kuliah. Akan berpisah dengan Padepokan Elang Putih tercinta. Yang selama ini menjadi tempatnya mengasah ilmu silat hingga menjadi juara.


"Mi, aku baru terima info nih. Oktober ada kejuaraan pencak silat piala kemenpora. Daftar ya, Mi." ucap Aris begitu bergabung duduk di bale-bale bersama Ami dan Toni. Sesi latihan sudah berakhir. Saatnya santai menikmati waktu istirahat.


"Wah. Lokasinya di mana, Kang?" Mata Ami yang berbinar menunjukkan ketertarikannya untuk ikut serta.


"Di TMII, Jakarta. Ami akan kuliah di UI, kan? Jadi nggak jauh tuh. Nanti Ami daftar kategori mahasiswa."


"Hm, Oktober ya. Nanti aku minta izin dulu."


"Aku sih yakin, Teh Puput, dan semua keluarga pasti ngizinin. Bakal support Ami."

__ADS_1


"Tapi nanti izin utama bukan ke keluarga."


"Maksudnya?" Aris menaikkan satu alisnya. Sama halnya Toni dan seorang pelatih lainnya yang terlihat bingung.


"Nanti juga tahu. Aku pulang duluan ya!" Ami tersenyum mesem sambil bangkit dari duduknya. Memang, Aris dan kawan-kawan pelatih belum diberitahu jika sebelum kuliah akan ke KUA dulu.


Ami melajukan motornya dengan suasana hati riang. Tak mengapa, malam minggu seringnya di rumah dengan keluarga tanpa diapelin Ayang. Karena hubungan jarak jauh. Yang penting komunikasi lancar dan hubungan sehat tanpa kendala. Tapi besok siang Akbar akan datang karena Senin jadwal prewedding di daerah pantai Pangandaran. Sengaja mengambil waktu weekday agar tak terlalu ramai pengunjung.


"Astaghfirullah!" Ami mengerem sekaligus saat tiba-tiba sebuah mobil menyalip dan berhenti di depannya tanpa memberi lampu sein. Untung kedua kakinya sigap menapak di aspal. Membuatnya tidak terjatuh. Dan beruntung pula tidak ada kendaraan lain di belakangnya. Jalan dalam kondisi lengang.


Masih belum stabil jantung yang berdebar kencang karena kaget. Tiba-tiba dua orang pria yang mengenakan masker turun dari mobil dan menghampirinya.


"Ikut ke mobil atau saya tusuk!" Ucap salah seorang yang mengenakan kaos hijau army sambil menunjukkan pisau belati yang tersimpan di pinggang kanan.


"Buruan turun!" Gertak seorang lagi dengan intonasi galak dan tatapan tajam.


Ami yang mengenakan helm full face, menatap dengan waspada sambil turun dari motornya dengan mengangkat kedua tangan di samping bahu.


Semua serba cepat dalam hitungan detik. Lengan Ami ditarik agar segera masuk ke dalam mobil. Namun begitu lengannya ditarik oleh yang membawa pisau belati, Ami dengan gerak cepat memelintir tangan itu dan memberi perlawanan dengan memasukkan tendangan lutut ke perut. Hingga sang pengancam itu mengadu dan terjengkang ke bahu jalan.


Merasa kaget mendapat perlawanan salah seorang lagi langsung melayangkan tangan untuk memukul wajah Ami namun Ami lebih dulu berkelit menghindar dan mengambil tangan itu. Dengan penuh kekuatan ia memelintir tangan besar itu hingga terdengar bunyi reketek. Disusul dengan suara erangan panjang dan ekspresi penuh kesakitan.


Tidak dibiarkan begitu saja. Ami lanjut memberikan tendangan orang yang sedang mengerang kesakitan itu. Hingga jatuh tersungkur dalam posisi telungkup dengan bibir mencium aspal dengan begitu kerasnya.


Merasa situasi sudah mulai tidak aman. Terlihat ada kendaraan yang akan lewat, si pengemudi membunyikan klakson berkali-kali. Dan si baju Army bergegas menarik temannya yang tak berdaya menggusur masuk ke dalam mobil. Wussss... mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi.


Ami masih berdiri dengan nafas tersengal-sengal dan keringat yang bercucuran. Ia menatap laju mobil itu dengan mengingat nomor polisinya. Sungguh peristiwa yang tidak terpikirkan dalam benaknya akan terjadi menimpanya. Semua berlangsung dalam hitungan menit di jalanan yang sepi. Jika saja tidak memiliki ilmu bela diri, ah sudahlah.


"Bu, Pa, barusan di jalan aku mau diculik." Ami mengadu dengan sisa syok yang nampak di wajahnya yang pias.


"Ya Allah! Ami gak apa-apa? Ada yang terluka nggak?" Ibu Sekar terkaget dan menghampiri Ami yang duduk di sofa dengan kepala menengadah ke sandaran sofa. Duduk di samping kanan dan memperhatikan wajah dan tangan putri bungsunya itu. Pak Bagja pun mendekat dan duduk di samping kiri Ami.


"Alhamdulillah aku selamat gak ada luka. Aku lawan mereka. Yang satu orang, aku patahin tangannya "


"Ibu, tolong ambilin dulu minum. Ami masih syok, Bu." Pak Bagja dengan segala pengalamannya, ia terlihat lebih tenang menyikapi kejadian yang menimpa anak sambungnya itu.


"Pelakunya berapa orang, nak?" Pak Bagja mulai bertanya usai Ami minum segelas air putih hingga habis. Dan terlihat sudah lebih tenang.


"Yang turun dari mobil dua orang, Pa. Dua-duanya pakai masker. Yang satu bawa pisau belati. Kemungkinan bertiga dengan sopir. Karena begitu yang dua orang aku kalahin, sopir bunyiin klakson ngajak kabur."


"Ami tahu ciri-ciri mobilnya?"


Ami mengangguk. Ia menyebutkan jenis mobil dan warnanya serta plat nomor yang dicatat dalam ponselnya.


"Sekarang Ami istirahat aja ya di kamar. Biar ini jadi urusan Papa. Ami udah hebat bisa mengalahkan mereka." Pak Bagja mengusap kepala Ami penuh bangga dan sayang.


"Ibu temenin dulu Ami ya." Pak Bagja beralih menatap sang istri sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Ayo, Neng. Istirahat di kamar." Ibu Sekar menarik tangan Ami dengan lembut. Ia menenteng tas ransel si bungsu yang terlihat lelah dan lunglai.


***


"Pak Akbar, Pak Leo, sampe ketemu nanti malam di wedding Naomi. Aku pulang duluan ya. Pacarku udah jemput." Ucap Gita usai membereskan meja kerja Akbar. Sabtu yang seharusnya libur, harus masuk lembur. Karena Senin dan Selasa, Akbar akan cuti kerja karena akan ke Tasik.


"Oke." Sahut Akbar singkat. Sementara Leo hanya mengamati punggung Gita hingga hilang di balik pintu.


"Syukurlah si Gita kalau beneran udah punya boyfriend. Udah bisa move on dari elo."


"Lagian sikap gue udah jelas dari dulu juga. Profesional sebatas menganggap sekretaris. Di luar kerja menganggap teman. Gue nggak pernah ngasih harapan." Akbar menjawab santai. Sekaligus bersiap-siap pulang.


"Sampe ketemu di Kelapa Gading, bro." Leo menepuk bahu Akbar di lobby kantor begitu dua mobil datang beriringan diantarkan petugas.


Akbar masuk ke dalam mobilnya yang kali ini menyetir sendiri karena memakai si kuning. Mobil melaju di jalan raya yang padat merayap. Tidak aneh dengan kepadatan lalan raya kota metropolitan Jakarta. Harus banyak sabar karena sering berlama-lama waktu di jalan.


Tiba di rumah pukul lima sore. Akbar bergegas naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Terakhir komunikasi dengan Ami pagi tadi. Sekarang mau mandi dulu sebelum nantinya video call.


"Hp kemana ya?" Akbar sudah berpakaian kasual dengan wajah segar. Tapi ponsel yang dicarinya dalam tas tidak ada.


Akbar mengingat betul sepanjang berkendara tidak memainkan ponsel. Tapi rasa penasaran membawanya turun dari kamar dan dengan langkah cepat menuju garasi mobil. Nihil.


"Ada apa sih, Bar. kayak orang bingung gitu." Mama Mila yang sedang menyiram tanaman, mengerutkan kening melihat Akbar berkacak pinggang lalu menurunkan lagi berulang dua kali.


"HP Akbar nggak ada. Lagi mikir ketinggalan dimana ya atau jatuh? Hp Mama mana, Ma? Akbar pinjam dulu."


"Lagi di cas. Ambil aja di kamar."


Akbar menghubungi nomernya dengan memakai ponsel Mama Mila. Terhubung. Diulang sampai tiga kali pun tetap terhubung. Untuk memastikan dimana ponselnya, ia pun membuka laptop untuk melacak lokasi smart phone nya.


"Assalamu'alaikum, Tante."


"Ini gue. Wa'alaikum salam." Sahut Akbar yang berinisiatif menelepon Leo.


"Lah...hpmu mana? Masa boss pulsanya sekarat. Malu atuh." Leo tertawa mengejek.


"Diem dulu, Lea. Lo seneng banget merepet kayak Mama gue aja."


"Hei...Hei. Apa bawa-bawa Mama segala." Sahut Mama Mila yang sudah ada di belakang kursi yang diduduki Akbar.


Akbar menoleh ke belakang dengan senyum menyeringai dan mengangkat kedua jarinya. Terdengar di seberang sana Leo tertawa dengan puas.


"Leo, hp gue ketinggalan di kantor. Lo suruh OB yang tugas sore ini anterin ke rumah gue ya. Kalau bisa sebelum jam tujuh udah nyampe rumah."


"Oke."


Jawaban singkat Leo menjadi akhir sambungan telepon. Akbar kemudian bergabung dengan Mama Mila dan Papa Darwis di meja makan. Makan malam sebelum magrib.

__ADS_1


Faktanya, sampai Akbar bersiap berangkat ke pesta pernikahan temannya, ponsel belum juga sampai ke rumah. Ia menitip pesan kepada penjaga rumah jika saja ada orang kantor mengantarkan ponsel miliknya itu. Kedua orang tuanya juga sama akan menghadiri resepsi pernikahan. Tapi beda tempat.


Akhirnya, Akbar yang sudah gagah mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu, berangkat ke kondangan tanpa membawa ponsel. Tidak kesampaian menghubungi Ami.


__ADS_2