Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
48. Ami Melunak


__ADS_3

"Ami sayang sama Ibu?" Puput merasa ini kesempatan yang pas untuk memberi pencerahan terhadap Ami.


"Sayang banget lah, Teh." Ami menjawab cepat dan yakin.


"Oke. Ami sekarang udah dewasa untuk diajak sharing. Teteh mau ngingetin, setiap wanita yang udah dewasa dan menikah, dia harus menurut saat dibawa pindah oleh suaminya. Lalu yang terakhir yang tinggal di rumah hanya orang tua. Itu pun jika masih komplit. Lebih spesifik kita bahas keluarga kita aja ya, Mi."


"Ami benar, setelah Aul pindah rumah, Zaky lanjut study lagi, yang nemenin Ibu ada Ami. Tapi Ami pun nemenin Ibu hanya sementara kan? lulus SMA akan kuliah. Katanya Ami pengen kuliah di UI, kan? Berarti nanti Ibu sendirian dong cuma ditemenin Bi Ela." Puput menjelaskan dengan perlahan dan tenang agar terserap oleh Ami.


Ami menyimak dengan seksama.


"Dulu, Teteh awalnya berat dan sedih waktu harus pindah rumah ke Jakarta. Ninggalin Ibu dan tiga adik yang masih sekolah. Biasanya Teteh yang suka nemenin Ibu kalau lewat jam sembilan malam Aul atau Zaky belum pulang ke rumah. Jadi teman bicara Ibu. Tapi seiring waktu, dengan dukungan Kak Rama, perhatian bisa di manage dari jauh."


Ami menghela nafas panjang yang terdengar jelas oleh Puput di sebrang sana.


"Mi, kalau dari pagi sampai sore Ami berada di sekolah, Ibu memang tidak kesepian karena punya kesibukan memantau rumah makan, pengajian, dan lain-lain. Tapi jika malam mungkin Ibu menginginkan teman tidur, teman curhat, butuh sandaran, yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan. Jadi seumpamanya Ibu ingin menikah lagi, sebaiknya kita dukung asal calon suami Ibu benar-benar track recordnya baik."


"Ingat, Mi. Sejak Ayah tiada, Ibu selalu kerja keras untuk membahagiakan kita. Sekarang, waktunya kita mendukung keinginan Ibu asal Ibu bahagia."


"Memangnya Ibu suka juga sama Pak Happy?" Ami mulai bersuara setelah sekian panjang mendengar penjelasan Puput.


"Menurut penglihatan Teteh, sepertinya Ibu juga suka."


"Terus Teteh mau punya ayah sambung Pak Happy?"


"Bukan hanya Teteh yang mau nerima Pak Bagja. Aul dan Zaky juga setuju. Intinya, asal Ibu bahagia. Tapi waktu itu Ami masih SMP. Ibu menolak lamaran Pak Bagja. Karena apa? Karena Ibu lebih sayang sama Ami yang gak mau punya ayah sambung." Jelas Puput tanpa berkesan menyalahkan Ami.


"Gini deh, sekarang Ami renungkan aja dulu ucapan Teteh dari awal tadi. Renungkan dengan kepala dingin dan pemikiran panjang ke depan. Kita semua kan sayang sama Ibu. Apapun keinginan Ibu selama itu baik, dan bikin Ibu bahagia, ayo kita support." Sambung Puput.


"Hm, ya udah deh. Aku pikir-pikir dulu." Ami merasa sudah cukup paham dengan penjelasan Puput. Ia mengakhiri obrolan jarak jauh hampir setengah jam itu karena sudah dua kali ada panggilan masuk dari nama 'Panda'.


[Kak, maaf barusan lagi teleponan sama Teh Puput. Sekarang udah]


Satu pesan dikirimkan ke nomer Akbar. Ami bergegas memakai jilbab dan berkaca. Karena selain ada misscall juga video call yang tak terjawab. Tak lama terdengar ponselnya berdering. Panggilan video dari 'Panda'.


"Hei...tumben murung. Kenapa, hm?" Tanya Akbar usai menjawab salam Ami. Wajah cantiknya terlihat lesu.


"Nggak papa kok. Mungkin kecapen tadi abis praktek kimia di lab." Ami memasang senyum lebar. Ia lupa jika memang sebelumnya suasana hatinya sedang buruk.

__ADS_1


Akbar mengulas senyum. "Mulut bisa berkata tidak. Tapi mata gak bisa dibohongi. Ami lagi ada masalah, kan? Ayo cerita, sayang. Aku orang spesial buatmu, kan?"


Hati Ami meleleh mendengar ucapan serta tatapan teduh Akbar yang memenuhi layar ponsel. Ia tersipu malu.


"Ibuku ada yang naksir. Namanya Pak Bagja. Dia....." Ami menceritakan secara garis besar tentang siapa Pak Bagja, bagaimana kedekatan dua keluarga yang sudah saling memperkenalkan anak cucu, serta usahanya dua kali mendekati ibunya. Hingga terciduk ucapan Pak Bagja tadi yang akan pergi lagi ke Jerman dan akan kembali secepatnya jika Ibu menerima lamarannya.


"Kak, apa aku egois kalo gak ngizinin Ibu nikah lagi. Sementara tiga kakakku mengizinkan dengan alasan asal Ibu bahagia." Ami mengakhiri cerita panjang lebarnya diiringi helaan nafas berat. Ia duduk sila di sofa dengan satu tangan menopang dagu sambil menatap ponsel yang terpasang di holder.


"Ami punya perasaan gak rela seperti itu wajar kok. Itu karena figur almarhum ayah gak bisa digantikan oleh siapapun. Benar begitu, Cutie?"


"Bener banget, Kak." Ami menyambar jawaban dengan cepat.


"Tapi aku yakin, Ibu sudah menempatkan nama Ayah di lubuk hati yang paling dalam. Tersimpan rapih dan rapat bersama segala kenangan. Kalaupun kini membuka hati untuk pria lain, itu ada tempat bertahta tersendiri, terpisah. Ibu mungkin butuh bahu dan dada untuk bersandar. Butuh teman bicara dari hati ke hati yang hanya bisa dilakukan dengan pasangan."


"Ucapan Kakak mirip sama Teh Puput." Ami menyahut penjelasan Akbar.


"Teh Puput bisa bicara begitu karena sudah merasakan. Nanti juga kalau kita nikah, ini dada, ini bahu, hanya diperuntukkan buat sandaran Ami seorang." Akbar menepuk bahu kokoh dan dada bidangnya sambil menaik turunkan alisnya.


Ami mengulum senyum dengan wajah merona. Mendadak badannya panas dingin saat terbayang mimpi Bollywood-an dimana Akbar memeluknya dari belakang. "Jangan bahas dulu nikah, Kak. Masih jauh." Ujarnya masih dengan wajah yang merona.


"Ish, itu kan just kidding." Ami tersenyum meringis.


"Tapi semua joke Ami udah dicatat malaikat lho. Satu-satu mulai dikabulkan. Seperti Panda. Pandangin wajahmu tiap hari. Pasti bonekanya selalu dipeluk dan diajak bicara ya? Sambil ngebayangin aku juga, kan?" Padahal Akbar hanya menebak karena ingin memulihkan suasana hati Ami agar kembali riang. Faktanya, si Cutie terkejut dengan mata melebar.


"Ish, Kak Akbar cenayang ya. Jangan-jangan ada cctv di kamar ini." Ami sampai mendongak menatap setiap penjuru plafon. Membuat Akbar tertawa lepas. Setelah itu memasang wajah serius.


"Cutie, Iko bentar lagi nikah. Udah pasti bakal stay di Singapore dengan suaminya. Aku kurang lebih dua tahun lagi akan menjadikanmu Nyonya Akbar jika keluarga Ami memberi restu nikah muda. Berarti di rumah tinggal Mama dan Papa aja. Mereka bahkan merencanakan hari tua dengan umrah lagi dan wisata religi ke berbagai negara selain ngasuh cucu. Lalu Ibu gimana? Karena nanti Cutie akan aku bawa pindah ke istana kecil kita. Deskripsi ini bisa jadi pertimbangan keputusan Cutie. Keputusan terbaik agar semuanya bahagia." Akbar tak pernah seserius ini bicara dengan Ami. Ia memberikan saran bijak untuk sang tersayang yang sedang labil.


Ami menyembunyikan wajah yang kembali merona ke bantal sofa karena Akbar sampai jauh membahas tentang masa depan hubungannya. Sampai menggigit bibir tanpa terlihat.


"Iya, Kak. Aku sekarang lebih lega. semua masukan Kakak akan aku pertimbangkan. Makasih ya udah mau dengerin curhat aku."


Akbar mengangguk diiringi senyuman manis. "Aku senang Cutie mau terbuka. Jangan sungkan ya kalau mau curhat, mau telpon. Aku akan selalu luangkan waktu buat kamu meskipun kita ldr-an."


Ami tersipu malu. "Iya, Kak. Hm, udah mau jam sembilan. Waktunya aku tidur." Meskipun sebenarnya masih betah berbincang, namun ia berusaha konsisten dengan disiplin waktu.


"Ok. Aku juga mau pergi dulu. Ada teman yang ultah." Akbar melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


"Cewek apa cowok, Kak? Kenapa jam sembilan baru mau berangkat?" Tanya Ami penasaran.


"Cowok bule Amrik, Cutie. Puncak pestanya malah nanti midnight. Aku datang buat setor muka aja. Kalau gak datang gak enak soalnya dia teman akrab. Jam sepuluh pulang lagi kok."


Ami mengangguk dengan wajah masih menyiratkan kekhawatiran. "Pasti pestanya ada minuman alkohol ya. Kakak jangan minum ya!"


"Iya ada. Cutie jangan khawatir, aku gak akan ikutan minum. Makanya abis setor muka bakal pergi diam-diam." Akbar dapat membaca kecemasan Ami. Hatinya menghangat karena mendapat perhatian.


"Oke deh, Kak. Hati-hati ya! Jangan ngebut!" Ami pun mengucapkan salam. Yang dibalas Akbar diiringi kedipan maut. Untung sambungan sudah terputus saat ia terjengkang di sofa sambil mengangkat kedua kaki ke udara. Tumbang terpanah kedipan maut.


***


Pagi saat sarapan, Ami makan sambil memperhatikan wajah Ibu yang makan di hadapannya. Seperti biasanya, Ibu selalu kalem, ngobrol santai, tak terlihat murung. Meskipun hari ini Pak Bagja berangkat ke Jakarta dan besok terbang ke Jerman. Ia menilai sikap Ibu tidak ada yang berubah.


Di perjalanan ke sekolah, Zaky membuka obrolan serius sambil fokus menyetir. "Mi, menurut Ami gimana denger kemarin Pak Bagja nunggu jawaban Ibu?"


"Ya gak gimana-gimana. Emangnya harus gimana?" Ami menoleh memperhatikan kakak laki-laki satu-satunya itu.


"Jadi Ami setuju kalau Ibu mau nerima lamaran Pak Bagja." Zaky takjub dengan sikap Ami yang tak lagi frontal menolak.


"Tergantung. Aku akan nunggu dulu Ibu yang bertanya pada kita." Sejak mendapat wejangan semalam dari Puput dan Akbar, pagi ini Ami kembali riang seperti sedia kala.


Zaky tak lagi bertanya. Senyum samar terbit di bibirnya. Ia bisa menangkap sikap Ami yang melunak.


Sore hari sepulang sekolah, di rumah sudah ada pengantin baru yang sedang duduk berduaan di ruang tamu. Jika sebelumnya selalu duduk di sofa berbeda, kini duduk rapat di satu sofa.


"Baru pulang, Mi?" Panji tersenyum menatap sang adik ipar yang datang beriringan dengan Zaky.


"Iya, Kak. Aa ngajak sholat Ashar dulu di masjid Agung Tasik. Teteh sama Kak Panji kapan datang?"


"Tadi jam satu." Aul yang menjawab. "Mi, bantuin buka kado ya. Di kamar jadi sempit sama tumpukan kado." Ia mengira selama tiga malam tinggal di hotel, kado pernikahannya sudah dibuka sama orang-orang yang ada di rumah. Tapi Ibu bilang gak mau membukanya karena harus disaksikan sama pemiliknya.


"Asiap. Tapi aku mau mandi dulu ya. Gerah." Ami merasa tidak percaya diri duduk bergabung dengan wajah-wajah yang terlihat segar dan wangi seperti baru saja mandi. Ia bergegas menuju tangga.


"Zaky, duduk dulu bentar! Kakak mau bicara." Panji menahan langkah Zaky yang akan mengikuti Ami.


Obrolan serius terjadi. Aul menjadi pendengar saja selama Panji berbicara dengan Zaky. Toh sebelumnya sang suami sudah membicarakannya dulu dengannya. Ia pun tersenyum simpul melihat sang adik tersenyum lebar diiringi ucap alhamdulillah dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2