
"Padma, jajan yuk? Bosen di kamar terus nunggu resepsi malam." Ami melipat mukena usai sholat ashar. Lalu loncat ke ranjang dan rebahan di samping Padma yang sedang scroll media sosial.
"Jajan dimana, Mi?" Padma menyimpan ponselnya. Beralih memiringkan badan menghadap Ami. Keduanya mendapat jatah kamar hotel dari Panji, menginap satu malam. Mumpung hari seninnya tanggal merah.
"Nyobain jajan di Coffee Shop nya Seruni sekalian nongkrong sore. Tenang, aku traktir dari mulung sawer." Ami menarik tangan Padma untuk bangun dan bersiap.
"Kak Akbar jago ya. Bisa dapat banyak. Lah Padma cuma dapet enam puluh empat ribu. Pas mau mungut yang seratus ribu, eh coklatnya diinjek sama si Fajar. Emang suka rese tuh anak." Adu Padma yang menceritakan anak tetangganya yang sekolah di SMP berbeda dan suka usil.
"Sepertinya Kak Akbar punya tekhnik khusus biar dapat banyak. Dia kan coach. Jadi tidak cukup hanya pintar, tapi juga harus cerdik." Ami memasang pasminanya di depan meja rias, bersisian dengan Padma yang memilih praktis memakai jilbab instan.
Letak Coffee Shop Seruni berada di samping kanan ruang resepsionis yang tersekat dinding kaca. Ada pilihan tempat duduk indoor ber AC dan outdoor untuk perokok. Ami dan Padma memilih duduk di ruang No Smoking Area tentunya.
"Padma, monggo dipilih-dipilih. Bebas sesuka hati." Ami membaca daftar menu dengan seksama. Begitu juga Padma. Seorang waiters menunggu dengan ramah.
"Nggak ada bajigur ya, Kang?" Ami mendongak menatap waiters.
Padma tidak tahan untuk tidak tertawa. "Marimar, yang bener aja nyari bajigur. Harusnya kita nongkrong di alun-alun. Ada Mamang yang suka mangkal."
Ami menjawab dengan cengengesan. "Oke, aku pesan Mickey Mouse sama pancake duren aja."
"Mickey Latte mungkin ya, Teh?" Ralat sang waiters sambil menahan senyum. Sementara Padma langsung cekikikan mendengarnya.
"Oh, salah baca ya aku. Iyalah itu." Ami pura-pura terkejut dan meralat. Memang sengaja iseng. "Munaroh, buruan pesan! Malah cekikikan kayak kunti." Ia menegur Padma yang duduk di hadapannya. Sengaja memilih meja dengan dua kursi yang berada di sisi kaca.
"Aku mau Flavoured Milk sama Kebab." Sahut Padma usia membaca semua menu.
"Baik, saya ulang ya! Mickey Latte, Flavoured Milk, Pancake duren, dan Kebab. Atas nama siapa?" Tanya waiters.
"Marimar." Padma menyahut cepat. Usai waiters pergi, ia dan Ami saling tatap dan sontak cekikikan ditahan. Mentertawakan wajah waiters yang terlihat tidak yakin menuliskan nama Marimar.
"Mi, Mickey Latte itu kayak gimana sih. Pernah nyoba?" Padma menatap dengan sorot penasaran.
"Nggak tau aku juga. Random aja nyoba. Kalau varian minuman coklat kan di Cafe Dapoer Ibu juga ada. Padma tau Flavoured Milk itu apa?" Ami balas bertanya.
"Nggak tau juga. Asalkan gak pesan kopi lah. Yang pasti susu, kan? Hihihi." Padma cekikikan melihat Ami memeletkan lidah.
Tak berselang lama, pesanan datang. Ami dan Padma menikmati sajian sambil melihat pemandangan jalanan kota yang terlihat jelas dari tempat mereka duduk.
"Hai, Neng Eneng.....berduaan saja?"
Ami dan Padma sontak menoleh ke sumber suara. Kompak tersenyum lebar dan mengangguk sopan.
"Iya, Tante. Nunggu magrib nongkrong dulu di sini." Ami mewakili menjawab pertanyaan Mama Mila yang datang bertiga dengan seorang pria paruh baya serta seorang perempuan yang wajahnya lebih mirip mamanya Akbar itu.
"Eh, kalian pindah duduknya yuk! Kita satu meja biar rame." Mama Mila menunjuk meja panjang berkursi enam. Ami dan Padma menurut.
__ADS_1
Kehadiran Mama Mila dan Papa Darwis di Coffee Shop, membuat manajemen sibuk menyambut dan menyiapkan pelayanan. Karena mereka tahu mereka adalah orang tua dari boss besar Akbar.
"Ami belum kenal ya sama Papa dan adiknya Akbar. Ini Papa Darwis dan Aiko." Ucap Mama Mila. Karena baru Padma yang tahu saat acara siraman Panji.
Ami berdiri dan mengulurkan tangan ke Papa Darwis, kemudian ke Aiko sambil mengenalkan namanya.
"Ami ini adik iparnya Rama dan Panji, Pa. Kakaknya Ami cowok, kuliah di Singapore. Mama udah kasih tau alamat rumah kita biar kapan-kapan dia main." Jelas Mama Mila. Papa Darwis manggut-manggut.
"Ami masih SMA apa udah kuliah?" Iko nampak penasaran.
"SMA kelas sebelas, Kak." Sahut Ami diiringi senyum ramah.
"Mama juga ngira, kirain Ami udah kuliah. Mau Mama jadiin mantu lho tadinya. Ah iya, Mama lupa belum ngasih tau Iko soal foto Ami sama Akbar. Ugh, mereka serasi banget dan chemistry nya dapet. Lah, pas scroll foto lainnya ternyata masih seragam putih abu toh. Nanti ya Mama share link nya." Cerocos Mama Mila.
"Ini nih, Tante. Fotografer sekaligus pengarah gayanya, Padma. Dia yang atur angel foto. Sampe Kak Akbar ngasih bonus jajan karena hasil jepretannya bagus-bagus." Ami menunjuk Padma yang merespon dengan tersenyum malu.
Aiko yang penasaran, segera meminta Mama Mila mengirim link nya. Ia mengamati sambil senyum-senyum. "Ini sih yang difoto sama yang motoin sama-sama keren," ujarnya memuji.
"Makasih, Kak. Ngomong-ngomong, Kak Aiko ini pasti lahirnya di Tarogong Garut ya?" Celetuk Ami. Sontak saja di kolong meja, Padma menyepak kakinya dan terlihat menundukkan kepala, menahan tawa.
"Oh, bukan. Iko lahir di Tokyo, Jepang. Kata Mama, dulu ngidam pengen lahiran di Tokyo. Makanya namanya jadi pakai nama Jepang." Ralat Iko. Ia belum tahu jika Ami memang sengaja iseng.
Cukup lama duduk satu meja dan berbincang santai membahas hal random. Hingga waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Ami berpamitan karena sebentar lagi menjelang waktu magrib dan akan dirias lagi oleh tim MUA.
Ami dan Padma saling pandang dengan raut kaget. Keduanya kompak berucap terima kasih.
"Rejeki anak soleh ya, Munaroh." Ami merangkum bahu Padma menuju lift.
"Ho oh, Marimar." Padma menekan tombol angka menuju lantai kamarnya.
***
Resepsi kedua sedang berlangsung dengan tamu undangan kawula muda. Aul mengenakan gaun pengantin modern warna biru muda. Sementara Panji mengenakan wedding tuxedo and suit warna biru dongker. Penampilan keduanya sangat fresh dan elegan. Ditunjang dekorasi penuh bunga bak di negeri dongeng. Konsep pernikahan impian yang terwujud nyata.
"Happy wedding, Bro. Semoga bahagia sampai menua bersama." Ucap Anggara sambil menyalami Panji dan lalu berpelukan. Ia datang dengan menggandeng seorang perempuan cantik berambut panjang ikal gantung. Meski tak berjodoh dengan Aul, tak lantas menghindar dan menghilang. Ia berbesar hati menerima kenyataan. Dan kini hadir membawa pacar.
"Makasih Pak Pol. Kami senang sekali karena kamu bisa menyempatkan datang." Sahut Panji dengan tulus. Aul pun mengangguk mendukungnya.
"Ditunggu undangannya ya, Kak Angga." Aul tersenyum semringah saat Anggara memperkenalkan perempuan yang digandengnya.
"Itu pasti. Kami akan nikah di Semarang. Pokoknya kalian harus datang!" Tegas Anggara. Ia pun tidak keberatan saat diminta foto bersama sebelum turun dari pelaminan.
Musik berirama pop menemani para tamu undangan yang sedang menikmati sajian hidangan serta yang antri menuju pelaminan. Tepuk tangan terdengar riuh saat MC mengumumkan waktunya sepasang pengantin melempar buket bunga. Para tamu undangan khususnya yang masih single, didaulat maju ke depan panggung pelaminan.
"Mi, mau ikutan? Kamu kan udah seventeen." Padma mencolek lengan Ami yang sedang mengoreksi penampilan menggunakan cermin bedak.
__ADS_1
"Nggak ah. Jodohku kan masih otewe. Nyampenya nanti setelah lulus SMA." Ami menjawab santai sambil menyeka kilap di hidungnya menggunakan tisu.
"Eciee....pacar Ami tuh APB ya, kan? Yang ngasih boneka Panda segede Rasya. Yang masih kau rahasiakan orangnya. " Padma mencolek-colek pinggang Ami yang sedang merapihkan jilbab. Sengaja menggoda.
Ami berkelit karena geli. "Ralat ya, kita gak pacaran kok. Panda nganggap aku adik. Entahlah," ujarnya sambil mengangkat bahu. Statusnya belum jelas meski ia sering menyerempet dengan gombalan yang menjurus. Namun, Akbar kadang bersikap seolah pacar, kadang pula perhatian seperti seorang kakak.
Padma meninggalkan Ami karena ingin melihat momen lempar buket bunga lebih dekat sambil merekamnya.
"Mi, boleh minta tolon, gak?" Leo datang bersama Tasya. Menghampiri Ami yang duduk seorang diri.
"Minta tolong apa, Kak?" Ami menaikkan satu alisnya.
"Anterin Kak Tasya ke kamar, bisa? Kak Tasya mau istirahat tapi penakut. Kak Leo mau nganterin dulu Enin ke lobi. Enin mau pulang duluan bareng Om Krisna dan Tante Ratna." Leo beralasan.
Ami mengangguk. "Ayo Kak Tasya, aku temenin." Ia beranjak dari duduknya. Bersama Tasya keluar dari ballroom lalu menuju lift. Namun berbelok arah dulu menuju toilet karena mendadak istrinya Leo itu kebelet ingin pipis.
"Kak Tasya udah dekat mau lahiran?" Tanya Ami saat sama-sama masuk ke dalam lift.
"Perkiraan dokter sih tujuh minggu lagi. Udah gak sabar ingin melihat my baby girl launching." Tasya terkekeh dengan tangan spontan mengusap-usap perut. Ami pun tersenyum melihat aura calon ibu yang nampak bahagia itu.
Pintu lift terbuka di lantai delapan. Ami mengantar Tasya sampai depan pintu kamar. "Met istirahat, Kak Tasya."
"Makasih ya, Mi. Aku masuk dulu ya udah pegel." Tasya melambaikan tangan usai membuka pintu dengan kartu.
Ami memutar badan untuk kembali menuju lift. Namun sayup-sayup indera pendengarannya menangkap suara yang familiar.
Kayak suara Kak Akbar. Oh iya, emang tadi kan pamit mau ke atas karena ada teman datang katanya.
Ami mengingat ucapan Akbar tadi, yang tampil memukau mengenakannya setelan jas hitam. Ia tidak jadi berjalan menuju lift. Tapi mengendap-ngendap menyusuri koridor menuju sumber suara karena penasaran. Ia berhenti di depan pintu kaca yang tembus pemandangan ke dalam ruangan. Dapat melihat jelas Panda nya sedang duduk bersama seorang perempuan berambut pirang yang memunggungi pintu.
Ami terkesiap menatap pemandangan yang tersaji di depan mata. Spontan memegang dada dengan tangan bergetar. Rasanya ada yang perih bagai teriris pisau saat melihat Akbar tiba-tiba memeluk mesra dan mencium rambut pirang perempuan itu. Ia memutar badan dan berjalan cepat menuju lift.
Pikiran Ami mendadak kalut. Ia menekan tombol lift paling atas karena tidak ingin kembali ke pesta dengan suasana hati kacau. Memutuskan menuju rooftop untuk menenangkan diri dulu.
Ami membuka high heels nya. Berjalan lunglai ke tepi pagar pembatas. Membiarkan angin yang bertiup kencang mengibarkan gaunnya. Tak peduli lagi jilbab yang selalu dirapihkannya itu berubah berantakan karena terpaan angin kencang di puncak gedung hotel.
"Ibu benar. Harusnya aku fokus belajar. Jangan dulu jatuh cinta. Aku terlalu percaya diri. Ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan. Rasanya sakit banget Ya Allah. Harusnya aku sadar diri. Dia cuma nganggap aku adik. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Hiks." Ami berbicara sendiri dengan kepala mendongak menatap langit malam yang cerah berhias bintang. Ia menangis terisak meluapkan rasa sakit hatinya. Merasa kacau. Dada terasa sesak. Suasana hatinya sangat kacau.
Menangis membuat dada yang sesak menjadi sedikit plong. Berganti kedua tangannya memeluk dada karena mulai merasa kedinginan. Ami berucap istighfar berkali-kali dengan mata memejam. Pikirannya yang sempat blank membuat ia lupa cara mengelola emosi. Dan kini baru tersadar.
Ami hendak memutar badan saat instingnya menangkap akan hadirnya orang lain. Hendak memutar badan, namun kedua bahunya lebih dulu ditahan bersamaan dengan sebuah jas tersampir di bahunya.
"Kata siapa cintamu bertepuk sebelah tangan? Kata siapa jatuh cinta pada orang yang salah, hm?"
Ami mendadak mematung dan menelan ludah dengan susah payah. "Itu suara...." Ucap batinnya merasa kaget dan tidak percaya. Suara itu begitu dekat di belakang kepalanya.
__ADS_1