Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
110. Deep Talk Singapura


__ADS_3

Pesawat yang membawa Akbar dari Kuala Lumpur sudah mendarat di Changi Airport. Langkahnya cepat sambil menarik sebuah koper menuju tempat penjemputan di mana sopirnya Aiko sudah menunggunya. Duduk manis di jok penumpang, mobil pun melaju menuju kediaman sang adik. Masih Ada waktu santai 4 jam lagi menuju apartemennya Zaky. Karena janji bertemunya sore hari.


Iko dan suaminya menyambut kedatangan Akbar di rumah dengan sukacita. Lama tidak bersua secara fisik. Kalau secara virtual tentu sering karena kadang sharing urusan pekerjaan. Usai berbincang sejenak, Akbar memutuskan untuk istirahat siang. Dengan mudah tertidur lelap. Karena merasakan lelah usai banyak pekerjaan di Kuala Lumpur.


Satu jam menjelang pukul lima sore, Akbar melajukan mobil milik Iko dalam keadaan badan fit usai tidur siang. Mobil membelah jalan raya menuju apartemen Zaky.


Singapura merupakan contoh konkret bagaimana lalu lintas dijadikan sebagai suatu sarana membentuk karakter masyarakat dan memajukan peradaban. Bagaimana tidak, para pengendara di Singapura begitu tertib dan disiplin dalam berkendara di jalan raya dan mentalitas semacam itu menjadikan masyarakat Singapura menjadi pribadi yang tertib dan disiplin dalam berbagai hal. Hal yang wajib dicontoh oleh warga negara Indonesia yang masih kurang disiplinnya.


Akbar tiba di depan pintu apartemen Zaky tepat waktu. Malah enam menit lebih awal. Ia bukan seorang yang perfeksionis tapi berupaya menjadi orang yang menegakkan disiplin waktu. " Assalamu'alaikum, Zaky," sapanya begitu pintu terbuka. Wajah tenang dan senyum manis terkembang di bibirnya.


Zaky menjawab salam dan lalu bersalaman, berpelukan ala laki. Saling bertanya kabar lalu mempersilakan Akbar masuk ke dalam apartemennya.


"Maaf, Mas. Nggak banyak perabotan di dalamnya. Cuma gelaran karpet sama satu sofa buat rebahan." Zaky lebih dulu menjelaskan ketika melihat Akbar mengedarkan pandangan.


"Karena butuh ruang lega untuk menyimpan maket ya, Zaky?"


"Benar, Mas. Awalnya aku tinggal di mes kampus tapi ya ruangannya kurang lega. Jadi aku sewa apartemen ini karena butuh leluasa buat merangkai maket."


Akbar manggut-manggut. Ia membiarkan Zaky yang berlalu meninggalkannya. Ruang yang tak ada sekat sehingga meja makan minimalis dan pantry terlihat jelas dari posisinya berdiri. Ruangan bersih dan tertata rapi.


"Mas Akbar dari Jakarta langsung ke sini atau transit dulu?"


Pandangan Akbar yang menatap lukisan di dinding beralih menatap kedatangan Zaky yang datang dengan membawa dua botol minuman ringan. "Bukan dari Jakarta tapi dari KL. Karena pas Zaky kirim email itu aku lagi di KL. Makanya tadi pagi langsung take off ke Changi. Sampai di bandara jam 11-an lah. Terus tidur siang dulu di rumah Iko adikku."


Zaki mangut-manggut. Dia sudah tahu dari cerita Ami bahwa keluarga Akbar memiliki perusahaan di Ibu Kota Singapura yang di handle oleh adiknya.


"Zaky, boleh nggak aku lihat-lihat maketnya?"Akbar penasaran ingin melihat lebih dekat karya mahasiswa arsitek itu.


Zaky mempersilakan sekaligus mendampingi Akbar yang berdiri mendekati dua maketnya yang tergeletak di kerpet ruang tengah merangkap ruang tamu. Ia menjelaskan jika dua maket bangunan rumah itu salah satunya untuk tugas menghadapi semester 6. Satu lagi adalah untuk di ikut sertakan pada lomba.

__ADS_1


"Aku punya teman arsitek di Bandung. Temannya Rama juga. Kita pernah satu komunitas di club otomotif."


"Mas Mizyan, bukan?" Tebak Zaky.


"Zaky kenal?" Akbar mengikuti langkah Zaky yang duduk di sofa leter L.


"Dulu waktu aku masih SMK, mobil Mas Mizyan pernah mogok di depan rumah. Terus aku bantuin ganti ban. Kita sempat ngobrol-ngobrol sambil duduk istirahat di teras. Dia nanya-nanya soal sekolah. Dia support aku kuliah arsitek pas tahu aku jurusan SMK Teknik Gambar Bangunan. Nggak tahu sekarang Mas Mizyan masih ingat sama aku apa udah lupa." Zaky terkekeh pelan.


"Kalau dia lupa, gampang. Nanti bisa aku ingatkan. Nomer kontaknya ada kok. Zaky kalau berniat cari pengalaman kerja di kantor arsitek Mizyan, nanti aku bisa bantu."


"Insya Allah aku mau lanjutin kuliah S2 dulu, Mas. Belum akan rencana kerja secara resmi. Paling ngambil job freelance."


"Mau lanjut S2 di mana, Zaky?"


"Insya Allah pengennya di Zurich, Swiss."


"Keren." Akbar mengacungkan jempol. Tulus memuji. "Wish your dreams come true."


Sesaat keduanya sama-sama diam. Berbarengan mengambil botol minuman dan meneguknya. Belum ada lagi yang mulai bicara. Hingga kemudian Akbar memecah kebisuan.


"Zaky, sesuai tujuan utamaku ke sini. Pasti Zaky sudah dengar kabar dari keluarga di Ciamis. Aku Akbar. Mau meminta restu dari kamu sebagai walinya Ami. Insya Allah, aku ingin melamar Ami di bulan Desember. Tanggalnya di hari Ami libur semester dan juga menunggu kedatangan Zaky di Ciamis."


Zaky yang awalnya mendengarkan sambil menunduk dan memutar-mutar botol minuman, berubah mendongak dan menatap tajam Akbar yang di ujung sofa.


"Kenapa memilih Ami, Mas?" Ami belum pengalaman urusan cinta. Dia itu teman berantem aku. Aku ragu melepas Ami nikah muda."


"Cinta sama Ami hadir tanpa rencana. Tumbuh begitu saja. Hati yang memilih dan istikharah yang menguatkan pilihan hati, Zaky." Jawaban Akbar begitu tenang dan lugas.


L

__ADS_1


Zaky menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Sudah masuk waktu maghrib, Mas. Mas Akbar jadi imam ya!"


"Oke." Akbar menjawab tanpa ragu tantangan dari calon kakak iparnya itu.


Zaky lebih dulu mengambil wudhu di kamar mandi yang terletak di samping kamarnya. Ia sudah menggelar dua sajadah beda posisi di karpet begitu Akbar selesai wudhu. Dua orang pria tampan itu melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Suara sang imam terdengar syahdu di suasana ruang apartemen yang hening. Menunjang kekhusyuan.


"Mas Akbar serius udah istikharah?" Usai salat, Zaky menatap Akbar yang masih sama-sama duduk di gelaran sajadah dalam posisi saling berhadapan.


"Zaky, aku tidak main-main dalam membuat keputusan. Apalagi ini soal sakral. Ibadah terpanjang yang niatnya harus lillahi ta'ala." Akbar memasang wajah serius.


Zaky memejamkan mata lalu menghembuskan nafas panjang. Beralih tatapan menerawang. "Aku anak laki-laki satu-satunya. Dulu aku mendapat amanah dari ayah untuk menjaga semua wanita di keluarga. Ibu, Teh Puput, Teh Aul, dan Ami."


Akbar diam dengan menyimak penuh atensi. Ia memberi kesempatan Zaky mengungkapkan segala yang membuat hati resah.


"Aku tenang menuntut ilmu di sini, jauh secara fisik dari keluarga, karna Teh Puput, Teh Aul, dan Ibu sudah punya pasangan yang baik. Yang menurut penilaianku mereka para pria yang sangat melindungi marwah wanitanya."


"Sekarang tanggung jawab terakhirku membimbing dan melindungi Ami. Kami kalau berdekatan sering berantem tapi itu adalah cara aku dan Ami saling sayang. Tak pernah berantem memakai emosi."


Zaky menghembuskan nafas kasa"Huft, berat untuk melepas adikku secepat ini. Tapi karna Mas Akbar sudah mendapat jawaban doa dari Allah, tentu saja aku gak boleh egois dan sombong menolak kehendak Allah. Jadi....aku restuin Mas Akbar."


Akbar beringsut maju dan memegang kedua bahu Zaky. "Aku tidak mengambil Ami darimu, hanya tanggung jawab melindungi Ami berpindah padaku. Kelak kalau kami menikah, kamu juga semua keluarga, bisa menemui Ami kapanpun. Pintu rumah akan selalu terbuka untuk keluarga."


"Aku gak akan minta pelangkah. Aku hanya nitip bahagiakan Ami. Kalau Mas Akbar sampai selingkuh atau menyakiti lahir batinnya, aku sendiri yang akan patahin tangan Mas Akbar!" Ucap Zaky dengan tatapan tajam menghunus dan serius.


Akbar tersenyum meringis. "Seandainya itu terjadi, bukan hanya dapat hukuman dari Zaky aja. Tapi Rama dan Panji juga akan menguliti aku. Belum lagi Om Krisna."


"Zaky bisa pegang ucapan aku. Aku akan bahagiakan Ami dengan caraku, semampuku."


"Oke. Aku pegang kata-katamu, Mas." Zaky mengulurkan tangan. Jabat tangan pun terjalin erat.

__ADS_1


"Zaky, setelah isya kita dinner di luar ya. Besok aku harus balik ke Jakarta. Jadi malam minggu ini kita jalan-jalan."


"Oke, Mas."


__ADS_2