Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
49. Menuju Pertandingan Silat


__ADS_3

Acara buka kado di karpet ruang tengah berlangsung riang dan heboh. Kado dari ukuran besar sampai ukuran kecil berjumlah sekitar 30 an mulai dibuka satu persatu oleh Aul, Ami, dan Zaky. Ibu dan Panji menjadi penonton saja. Mulai tas, parfum, kerudung, alat masak set modern, dikumpulkan di tempat yang kosong. Semuanya ada nama kartu ucapan happy wedding berikut nama pemberinya.


"Ini apaan ya ringan banget seringan kapas." Ami menimang-nimang kado bersampul kertas kado warna biru muda.


"Buruan buka, Mi!" Zaky tak kalah penasaran dengan kado berbentuk kotak tipis yang dipegang Ami. Aul hanya melirik sebentar lalu melanjutkan membuka kado yang paling panjang dan lumayan berisi.


Dengan hati-hati, Ami merobek kertas kado. Menyisakan kotak warna krem seukuran 20x20x7 cm. Dan tutup kotak itu dibukanya perlahan. Mata Ami melebar dengan mulut menganga. "Hwuaaa!"


"Apaan sih, Marimar. Drama banget." Zaky melempar bulatan kertas kado hingga masuk ke mulut Ami yang menganga. Sontak, adiknya itu mendelik.


"Teteh, Kak Panji, dengerin nih." Ami bersiap membacakan kartu yang baru dicomotnya dari dalam kotak. "Happy wedding Panji dan Aul. May the love you share today grow stronger as you grow old together. Barakallah. From your brother, Akbar Pahlevi Bachtiar." Ia tersipu sendiri usai membacakan kartu ucapan dari Akbar. Hanya membaca namanya saja, dada berdesir.


"Dan ini kadonya. TARAAA!" Ami mengeluarkan lagi amplop dengan logo aplikasi pulangpergi. "Tiket dan akomodasi liburan ke Lombok tiga hari tiga malam dari pulangpergi dot com." Ia menyerahkan amplop voucher itu kepada Aul diiringi senyum-senyum.


Wuih, Ayang Panda ngasih kadonya gak kaleng-kaleng.


"Alhamdulillah, tiket holiday." Aul menoleh kepada Panji yang duduk di samping kirinya. Mengangkat amplop kado dari Akbar. Dibalas Panji dengan senyum lebar dan anggukkan.


Aul juga baru selesai membuka kado besar dan panjang yang ternyata isinya smart tv 50 Inc, dilihat dari kemasannya. "Ayang, ini dari manager dan staf butik Sundari Jakarta." Ia serahkan kartu ucapan kepada Panji.


"Alhamdulillah, bisa dipasang di kamar kita." Panji tersenyum semringah. Rumah baru yang akan ditempati sudah komplit dengan furnitur. Namun kado tv masih bisa ditempatkan di kamar utama.


"Wow...wow...wowww! Ada benalu di atas wayang, di Semarang ada kemangi dan penggorengan. Dulu Teh Aul malu bilang Ayang, sekarang berani di depan semua orang. Ahiww." Suara Ami lantang seperti membacakan puisi.


Panji dan Zaky tertawa lepas. Ibu terkekeh. Sementara wajah Aul sangat merah seperti kepiting rebus. Ia remas-remas sobekan kertas kado sampai sebesar bola kasti. Namun lemparannya ditangkap Ami dengan gesit.


"Ami...Ami. Kok bisa sih bikin pantun spontan gitu. Hebat deh." Ucap Panji di akhir tawanya yang tersisa kekehan kecil.


"Ami si selimut kan udah imut dan smart dari orok. Every body knew." Ami menaik turunkan alisnya dengan mata mengerjap-ngerjap.


"Lah Kak Panji harusnya jangan muji. Keluar kan narsisnya si Marimar." Zaky menutupi wajah Ami dengan sobekan kertas kado yang masih lebar. Gregetan.


Panji pun tergelak lagi melihat Ami mengejar Zaky yang berlari sambil tertawa-tawa dan akhirnya adu jurus di ruang tamu.


"Aul, ini bagus sekali." Ibu yang akhirnya penasaran, ikut membuka salah satu kado. Ia menyerahkan kartu ucapan kepada anak keduanya itu.


...Didesain dan dijahit dengan tangan sendiri. Dengan sepenuh kasih sayang dan...


...dukungan keluarga kecilku....

__ADS_1


...Untuk dua insan yang akan memulai New Journey. Semoga Sakinah, Mawaddah, Warahmah Till Jannah....


...From...


...(Tirta, Tika, Tara, Trisha)...


Aul membuka lebar-lebar gaun dari dalam kotak kado coklat itu. Kado dari desainer butik Sundari. Ternyata di bawahnya ada lagi pakaian yang ternyata couple. Ia tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Masyaa Allah, cantik banget ini."


Kado terakhir yang dibuka Aul membuatnya kaget. Buru-buru ditutupnya lagi, malu ada Ibu. Untung Ami dan Zaky belum kembali. Karena isi kado dari genk bridesmaid yang merupakan teman kuliahnya, adalah tiga buah lingerie warna warni. Ia segera menyimpannya ke kamar. Lalu kembali duduk di samping Panji.


"Bu, cuti Panji hanya sampai jum'at. Jadi besok mau nginap semalam di rumah Enin. Jum'atnya, Panji mau bawa Aul pindah ke rumah baru." Dengan duduk sila, Panji menyampaikan niatnya dengan serius.


Ibu mengangguk. "Aul sekarang sudah tanggung jawab Panji. Ibu gak akan larang. Hanya nitip satu hal. Jika Aul melakukan kesalahan yang bikin Panji marah, jangan pernah melakukan tindakan ringan tangan. Ibu tidak ridho dan tidak akan segan menjemput Aul pulang. Ibu dulu amanat seperti ini juga kepada Rama."


"Panji janji, Bu. Panji tidak akan pernah ringan tangan. Panji cinta dan sayang sama Aul." Panji merangkum bahu Aul. Keduanya saling tatap diiringi senyuman.


Ibu Sekar tersenyum simpul. Ia dapat melihat sorot mata anak dan menantunya itu. Refleksi hati yang mencerminkan kejujuran dan ketulusan.


***


Semakin dekat hari menuju pertandingan. Ami semakin giat berlatih. Sabtu dan minggu ini, ia berada di Padepokan berlatih langsung dengan Kang Aris. Zaky bertindak sebagai asisten yang sangat mendukung dan terus menyemangati.


Malam ini, video call dengan Ami sudah tersambung.


"Cutie, kita lanjut mental training nya ya." Akbar terlihat masih berada di kantor untuk lembur di malam selasa ini. Namun demi Ami, ia sempatkan waktu di tengah kesibukannya itu.


"I'm ready, Kak." Ami memasang duduk tegak untuk mendengarkan pelatihan serius.


"Ini pertandingan tingkat provinsi yang Ami bilang arenanya lebih besar dan penontonnya lebih banyak. So, apa ada yang Ami takutkan, hm?"


"Iya ada. Lawanku sekarang pasti lebih berat daripada waktu di tingkat Priangan Timur. Jadi takut kalah. Hehe." Ami mengatakan sejujurnya mengingat waktu pertandingan empat hari lagi.


"Lakukan Self Talk, Cutie. Bangun kepercayaan internal kamu, pola fikir negatif harus diubah. Ami kan udah punya basic percaya diri, jangan dipadamkan tapi harus dinaikkan. Lawan pikiran negatif dengan bilang, misal 'Lawanku juga manusia biasa. Aku tidak takut.' Saat tegang datang, terus sugesti diri dengan kata-kata positif. Aku yakin Cutie ini bisa tenang dan fokus." Akbar pun tak luput memasang wajah penuh keyakinan.


"Ok, Kak. Self Talk nya boleh bicara sambil ngaca juga ya. Soalnya aku tipe orang yang suka mengekspresikan diri."


"Sesuai kebiasanmu aja, Cutie. Yang membuatmu confidence biar berhasil membangun diri. Sudah siap berapa persen untuk tanding kami besok, Cutie?" Akbar menatap Ami yang mempraktekan mental training kemarin. Yaitu mengatur pernafasan."


"InsyaAllah udah 85%, Kak. 5% tinggal latihan fisik lari. 10% nya lagi sedang membangun mental."

__ADS_1


"Good. Menuju perfect." Akbar mengacungkan satu jempol diiringi kedipan mata.


Gubrak.


"Ih, no!" Ami menjatuhkan punggungnya ke sofa seolah pohon tumbang. Tapi dalam hitungan detik kembali duduk.


"Kenapa, Cutie?" Akbar terkekeh melihat kelakuan Ami itu.


"Nggak, hehehe." Ami merapihkan lagi duduknya. "Kak, boleh aku request tapi jangan tersinggung."


"Bilang aja, Cutie. Kenapa, pengen apa?"


"Keluargaku semua akan hadir jadi suporter. Sementara kita kan lagi backstreet. Kalau Kak Akbar hadir di arena, aku merasa akan terganggu fokus. Jadi....Kakak jangan hadir ya. Cukup support di belakang. Seperti begini aja udah sangat bermanfaat trainingnya. Kak Akbar harap maklum ya." Ami mengungkapkan ganjalan di hati usai memikirkannya dari kemarin.


"Oh, begitu. Oke deh aku ngalah." Akbar mengangguk maklum meski dalam hati merasa kecewa. Tapi alasan Ami memang masuk akal.


***


Selasa ini hari terakhir Ami ke sekolah karena rabu sudah mulai dispensasi dan berangkat ke Bandung. Ia meminta doa dari teman-teman khususnya yang satu kelas.


"Mi, kalau tandingnya sabtu, kita bisa ikut ke Bandung jadi suportermu." Ada raut penyesalan di wajah Marga yang dibenarkan oleh Ozi dan Sonya.


Ami tersenyum. "Nanti liat aja live nya di igeh Teh Aul ya. Yang belum follow nih akunnya." Ami mengirimkannya ke grup chat.


Rabu siang waktunya berangkat ke asrama atlet Bandung bersama Zaky dan Kang Aris. Sementara Ibu, Aul, dan Panji akan berangkat kamis subuh. Begitu juga Puput akan berangkat dari Jakarta bersama sopir.


Di Jakarta, Akbar duduk di sofa kamarnya usai pulang kerja. Garis halus tergurat di kening. Pertanda sedang berpikir keras. Dua jam yang lalu Ami mengabari sudah berada di Bandung.


Akbar meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Menghubungi Leo.


"Ada apa, Bro?"


"Gue besok gak bisa ke kantor. Lo dan Gita wakilin meeting dengan Pak Beny. Gue ada urusan ke Bandung."


"Hais, kenapa mendadak? Boss Akbar gak ada schedule ke luar kota besok. Mana gue ada tugas lain besok." Suara Leo terdengar protes.


"Ada acara pribadi dadakan. Sudahlah jangan protes, Lea. Lo harus wakilin meeting sama Gita." Akbar mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban asistennya itu.


Pagi menjelang. Kaos putih bergambar logo merk olahraga dikenakan Akbar berikut topi. Ia melajukan sendiri supercar kuningnya menuju Bandung.

__ADS_1


__ADS_2