
Ini adalah Kamis minggu ketiga di bulan Juli. Ucapan Akbar saat tadi pulang membuat Ami menahan ngantuk, memaksa berpikir. Padahal Gina dan Zaky sudah tepar lebih dulu di kamar masing-masing usai perjalanan total hampir 24 jam. Memang perjalanan yang sangat melelahkan.
Hari dimana Akbar datang ke Jerman seharusnya adalah jadwal untuk fitting baju pengantin di butik Sundari. Sudah janji temu dengan desainernya langsung . Namun sejak Ami memutuskan pergi ke Jerman, semua persiapan pernikahan yang dihandle oleh Aul dan sudah berjalan sekitar 40% tidak dilanjutkan. Dibatalkan sesuai permintaan Ami. Bahkan selama Akbar di Jerman, sama sekali tak membahas lagi soal pernikahan. Katanya, biar masa tenang dulu. Tanggal nikah akan didiskusikan ulang nanti kalau sudah pulang ke Ciamis.
Semua perencanaan sudah ada dalam daftar yang sudah tersusun rapi. Termasuk tanggal pernikahan yang akan dilaksanakan tanggal 3 Agustus. Dimana genap usia Ami 19 tahun. Namun sebaik-baik rencana manusia, Allah SWT memiliki rencana yang terbaik.
"Berarti Minggu ada surprise apa ya? Kak Akbar bilang harus sabar ketemuannya hari Minggu. Bebas melepas kangen. Bebas kayak gimana sih. Kalau bebas kan harus halal. Apa hari Minggu nikah? Masa sih. Nggak mungkin deh. Kan aku harus dikasih tahu dulu. Masa iya dimajuin nikah." Ami bergerak gelisah seiring suara hati yang bermonolog menduga-duga. Rasa lelah dan mengantuk memang membuat otak sulit untuk diajak berpikir jernih. Lebih dominan ingin tidur daripada berpikir terus. Akhirnya Ami pun mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.
Guncangan di bahu yang terasa intens, lambat laun menggiring dari lena mimpi, menjadi tersadar ke alam nyata. Mata yang masih berat oleh rasa kantuk perlahan dibuka. Samar-samar terlihat Ibu Sekar yang duduk di tepi ranjang sedang mengulas senyum.
"Mi, duhur dulu. Udah jam setengah dua." Ibu Sekar kembali mengguncang bahu Ami yang memejamkan mata lagi.
"Hah, udah jam setengah dua? Aku kan baru aja tidur jam sepuluh." ucap Ami dengan suara serak dan mata masih berat untuk dibuka. Ia beralih posisi memindahkan kepala dari bantal, berpindah ke pangkuan Ibu Sekar.
"Berarti udah 3,5 jam. Udah kenyang tidurnya. Ayo bangun! Shalat dulu, terus makan. Papa sama Gina, Zaky, nungguin makan bareng." Ibu Sekar beralih menepuk-nepuk pipi kiri Ami.
Ami memaksakan bangun. Menutup mulut yang menguap panjang. "Ibu kapan datang?"
"Tadi jam satu. Semuanya belum ada yang bangun. Ibu bangunin keliling kamar. Ami yang terakhir. Cepetan shalat dulu. Ibu tunggu di bawah ya."
Ami menyeret langkah beratnya menuju kamar mandi. Sebenarnya masih ingin melanjutkan tidur tapi kewajiban tidak boleh ditinggalkan. Dan juga perut mulai berbunyi keroncongan. Usai shalat, bergegas keluar dari kamar dengan membawa ponsel yang barusan dicek sama sekali tidak ada chat dari Akbar.
Kursi makan diisi oleh lima orang. Menu yang ada di meja menambah rasa lapar kian menyeruak. Wajar saja subuh tadi perut baru diisi bubur. Ami maupun Zaky dan juga Gina makan dengan lahap.
"Ibu mau pulang ke sana jam berapa? Aku ikut ya." Ami membuka percakapan usai semuanya makan dalam hening.
"Pulangnya besok. Ibu dan Papa akan menginap di sini nemenin kalian. Jadi kita semua akan ke rumah sananya besok." sahut Ibu Sekar.
"Oh, kirain pulang nanti sore. Aku kangen kamarku. Tapi itu boneka panda nggak kabur kan, Bu? Soalnya hampir tiga minggu ditinggalin."
"Ya nggak atuh, Mi. Bi Ela selalu bersihin kamar Ami. Semua pajangan boneka juga selalu dibersihin biar nggak kena debu. Itu si panda tetap ada di kasur." Ibu Sekar tersenyum samar. Akhirnya bisa melihat lagi kembalinya karakter Ami Selimut.
"Alhamdulillah. Kali aja si Panda kesayanganku buka jendela terus lompat kabur." Ami tertawa cengengesan.
"Mi, emangnya kalau si panda itu bisa lari, yakin masih mau nyimpen boneka itu di kamar? Kayak boneka Annabelle dong. Hiiii." Gina sontak merindingkan bahu.
"Oh tentu tidak. Jangan sampai itu terjadi." Ami menggoyang-goyangkan telunjuknya. Ia melanjutkan makan puding mangga yang dingin segar baru keluar dari kulkas. Rasa sudah dipastikan kalau puding ini buatan Ibu tercinta. "Semuanya, aku mau ke kamar lagi ya. Mau teleponan sama Padma, kangen."
Semuanya menyetujui Ami meninggalkan meja makan. Zaky memperhatikan punggung Ami hingga terlihat menaiki tangga dan hilang dari pandangan.
"Oke, mumpung gak ada Ami. Kita bahas rencana untuk besok." Ucap pak Bagja dengan suara sepelan mungkin.
***
Panggilan video sudah tersambung dengan Padma. Ami tersenyum lebar melihat Padma berteriak kegirangan karena bisa bertatap muka lagi.
"Alhamdulillah akhirnya Marimar come back ke Ciamis. Kapan datang, Marimar?"
"Tadi jam setengah delapan, Munaroh. Pulang sama Teh Gina, Zaky, dan Ayang. Pulangnya bukan ke rumah Ibu malah dibawa ke rumah Papa. Baru besok pulang ke rumah putih."
"Bisa jadi karena ada Teh Gina. Mungkin biar giliran nginepnya. Mi, berarti Kak Akbar jemput ke Jerman gitu?"
__ADS_1
"Iya sih bisa jadi. Kak Akbar iya sengaja jemput. Datangnya bareng A Zaky."
"Uluh-uluh, so sweet deh punya Ayang rela berkorban ongkos pesawat pulang pergi puluhan juta buat jemput Marimar. Apa nggak makin cinta tuh Mi sama Kak Akbar?" Padma memainkan kedua alisnya sengaja menggoda Ami.
"Makin cinta lah. Apalagi Kak Akbar udah jelasin kesalahpahaman selama kemarin itu. Tapi sekarang agak kecewa soalnya Kak Akbar disuruh mau main ke rumah besok bilangnya nggak bisa. Padahal kan ada di Seruni. Katanya bisanya nanti hari Minggu." Ami mulai curhat kepada Padma dengan menunjukkan wajah lesu.
"Positif thinking aja, Mi. Mungkin Kak Akbar masih capek. Jadi butuh waktu istirahat dulu biar fresh. Hari Minggu kan tinggal dua hari lagi. Sabar."
"Iya deh iya, mau sabar. Anyway, Padma main kesini dong. Temenin aku rebahan. Ada oleh-oleh nih buat my bestie Munaroh."
"Aseek dapat oleh-oleh. Tapi Padma nggak bisa nemenin Ami hari ini. Soalnya mau jalan-jalan sama ayah, Bunda dan Enin. Besok aja ketemu di rumah Ibu. Gimana?"
"Oke, nggak apa-apa. Have fun, Munaroh. Udah dulu ya aku mau cek email kabar ospek kampus."
"Okay, Marimar. See you tomorrow."
***
Jumat pagi yang ditunggu-tunggu Ami, kini datang menyapa. Keinginan untuk menengok kamarnya siap terpenuhi karena usai sarapan, semua orang bersiap meninggalkan rumah biru. Sapaan mesra dari Akbar yang mengirim chat subuh tadi, membuat tubuh Ami serasa semakin bugar. Mood booster yang sangat bermanfaat untuk mengawali hari dalam kondisi cerah ceria.
Ada yang mengejutkan Ami saat perjalanan pulang tinggal separuh jalan. Itu karena permintaan Gina yang membuatnya terheran dan tertawa sumbang. "Emang ada apa pakai ditutup mata segala?" Ia menahan syal yang akan ditutupkan ke matanya.
"Ada surprise untuk Ami. Udah diam ya jangan protes lagi keburu sampai rumah dong!" Tegas Gina yang kemudian mulai menutup mata Ami dengan syal yang sudah disiapkan.
Akhirnya kami berpasrah dengan apa yang dilakukan Gina dan didukung Zaky. Kini ia merasa mobil sudah berhenti dan mendengar suara pintu mobil yang dibuka. Rasa deg-degan mulai menghinggapi dada tatkala Gina menuntunnya keluar dari mobil.
"Aduh, aku mau diapain sih. Deg-degan banget ini." Ami meringiskan wajah begitu kaki mulai menginjak teras rumah.
"Aku hitung mundur ya baru Ami boleh buka syalnya." Ucap Gina yang mendapat anggukan dari Ami.
Ami membuka penutup mata dengan menarik perlahan. Dan....dorrrr!
"SURPRISE!" Teriak Padma dan kawan-kawan seiring kembang api kertas meletus dan berhamburan di udara. Ada teman perempuan sekelas Ami yang bertepuk tangan dengan wajah semringah. Ada Kia, Sonya, Ifa, dan Yuma.
Ami melongo antara senang dan bingung sambil pandangan mengedar ke sekeliling. Di dalam rumah sudah penuh dekorasi indah berhias penuh bunga di setiap sudut.
"Ini...ini mau ada acara apa?" Ami menatap kedatangan Aul dan Panji yang baru muncul dari ruang tengah. Kemudian ia beralih pandangan ke Ibu dan lainnya. Nampak semuanya senyum-senyum.
Ibu Sekar mendekat dan merangkum bahu Ami yang wajahnya masih tampak kebingungan. "Ami, ini adalah kejutan untuk Ami. Bismillah, Ami akan menikah hari Ahad besok dengan Mas Akbar."
"Ah, Ibu jangan ngeprank." Ami menggelengkan kepala karena tidak percaya.
"Gini, Neng. Sebelum Mas Akbar ngejemput Ami, dia itu datang bersama orang tuanya ke rumah Teh Puput. Kan ibu sama papa waktu pulang dari Jerman, tinggal di rumah Teh Puput dulu. Mas Akbar minta acara nikahnya dimajuin. Ibu udah nanya semua kakak-kakak Ami. Terutama yang akan jadi wali tuh A Zaky. Semuanya Alhamdulillah setuju."
Ami menangkup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan benar-benar kejutan yang di luar ekspektasi.
"Mi, Padma dan teman-teman udah bantu prepare semuanya. Undangan untuk teman untuk guru, udah kita sebar. Pokoknya calon manten terima beres." Sahut Padma.
"Apa? Udah sebar undangan? Gimana kalau aku nolak dan kabur?" tanya Ami dengan ekspresi syok.
"Yakin mau kabur? Okay. Aa juga mau balik lagi ke Singapura. Dan tidak ada kesempatan kedua minta Aa jadi wali kalau acara harus diundur. Paling bisa ngewaliin nanti kalau Ami udah lulus kuliah." Zaky melipat kedua tangan di dada dengan tatapan menyipit ke arah adiknya itu.
__ADS_1
"Mau-mau. Aku mau nikah besok Minggu. Tapi kan aku belum fitting baju. Teteh gimana?" Ami menatap Aul dengan sorot mata membelas.
"Dari semua orang yang dibuat repot oleh Ami, Teteh dan Kak Panji lah yang paling super sibuk menyiapkan ini semua dalam waktu singkat. Wardrobe pengantin dan keluarga juga bridesmaid dan groomsmen, WO, catering, musik, semua sudah siap. Dan Venue-nya tetap sesuai konsep awal. Di ballroom hotel Seruni."
"Teteh, I love you full." Ami menghambur memeluk aul dengan penuh sukacita dan rasa haru. Iya lalu melepas pelukan dan beralih menatap panci sambil mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Yang dibalas Panji dengan senyum dan anggukan.
"Teman-teman, sebentar ya aku tinggal dulu. Ada vc dari Kak Akbar." Ami bergegas berlari menuju tangga untuk naik ke kamarnya usai melihat ponsel yang berdering dengan menampilkan nomor baru Akbar.
"Kenapa ngos-ngosan gitu, Cutie. Habis olahraga ya?" Akbar terkekeh karena melihat wajah Ami di layar ponsel yang memerah dengan nafas ngos-ngosan.
"Habis lari naik tangganya. Soalnya takut keburu mati hp-nya. Dan aku butuh penjelasan dari Kak Akbar." Ami menatap seruat wajah tampan yang memenuhi layar. Tersenyum manis dan nampak tenang.
"Iya, sayang. Seperti yang udah dijelasin oleh ibu, kita akan menikah hari Minggu besok. Sengaja nggak dikasih tahu biar jadi surprise. Jadi, Rahmi Ramadhania bersediakah menjadi istriku mulai hari Minggu besok?"
Ami menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang berubah merona merah jambu. Meski tidak dilakukan dalam momen khusus di tempat romantis, namun dadanya serasa kembang kempis oleh keriaan dan debaran jantung yang bertalu kencang. Ia menjawab dengan anggukan.
"Nggak mau jawaban anggukan. Pengen mendengar suara kamu langsung, Cutie."
"Iya, Kak. Aku bersedia jadi istrimu." Kalimat yang terucap Ami diiringi kedua pipi yang semakin memerah seperti tomat matang.
"Alhamdulillah. Nggak sabar nunggu dua hari. Pengen bisa peluk kamu tanpa takut dosa." ucap Akbar diiringi kedipan mata.
"Ish, jangan bikin aku pingsan deh, Kak." Ami memasang wajah layu sambil memegang dadanya.
Akbar tertawa renyah. "Nanti boleh pingsan pas kita lagi berduaan. Biar aku tangkap dan bawa kamu terbang."
"Ish-ish. Aku mauuuu eh maluu." Ami menutup wajahnya dengan telapak tangan yang direnggangkan. Hingga Akbar pun di seberang sana tertawa lepas lagi.
"Cutie, kita tuh ceritanya lagi dipingit. Besok kamu akan siraman dengan adat sunda, aku juga sama akan siraman dengan adat jawa."
"Aku malah belum dikasih tahu. Barusan belum ngobrol banyak soalnya keburu dapat vc dari Ayang."
"Nah sekarang Ami bisa ngobrol banyak dengan ibu dengan teh Aul, Teh Puput dan semua keluarga Ami pokoknya. Kita udahan dulu ya vc-nya. Aku juga di hotel lagi prepare. Sampai ketemu nanti si meja akad, sayang."
"Eh, sebentar dulu Kak. Keluarga Kak Akbar udah datang juga di Tasik?"
"Udah tadi malam. Keluarga besar di Jakarta dan Surabaya semuanya udah datang. Termasuk Iko dari Singapura, Leo dan Tasya juga. Udah lengkap pokoknya."
Ami tersenyum dan mengangguk sambil mengucapkan Alhamdulillah dengan wajah penuh kelegaan. Iya menjawab salam Akbar yang mengakhiri sambungan video.
***
.
.
.
.
Belum...belum sampai akad. Kepanjangan kalau disatukan disini.
__ADS_1
Jadi begini....aku dapat amanah dari keluarga Ami. Mengundang bestie semua untuk hadir di pernikahan Akbar dan Ami. jangan lupa kado terbaik ya.
Ini 2 bab menuju end. Smoga tidak dulu bosan menunggu. Tetap sabar ya....