
Ami masuk ke dalam sambil menenteng buah tangan yang lumayan berat karna minuman es kuwut. Sudah menyiapkan alasan jika Ibu bertanya tentang barang yang dibawanya itu. Nampak semua temannya sudah duduk lesehan di karpet ruang tengah, sedang berbincang dengan Ibu.
"Apa itu, Mi?"
Pertanyaan Ibu membuat semua temannya pun menatap pada kantong kresek yang diturunkan di karpet.
"Aku jajan donat madu sama es kuwut, Bu. Buat dessert biar Marga tambah kenyang." Ami mengerling pada orang yang dijadikan kambing hitam.
"Ami mah suka gitu. Tapi gak akan nolak lah biar gak mubazir." Marga yang awalnya memasang wajah protes, beralih cengengesan saat Vino menjitak kepalanya yang menganggap sok jaim.
"Makannya ngambil di meja. Lalu dimakannya disini biar leluasa." Ucap Ibu Sekar yang akan beranjak mengecek ulang menu di meja makan. Yang dijawab 'Siap, Bu' oleh teman-teman Ami dengan kompak.
Adzan magrib pun berkumandang. Disambut sukacita oleh semuanya. Kurma menjadi makanan pembuka usai meneguk air minum. Keriaan dan canda tawa acara buka bersama menghangatkan suasana rumah yang biasanya sepi. Mengabadikan dengan berfoto sepertinya menjadi sesuatu yang wajib di setiap momen.
"Kia, biar aja nanti sama Bi Ela." Ibu Sekar menegur Kia yang membereskan piring kotor ke bak cucian dapur dan hendak mencucinya.
"Gak apa-apa, Bu. Sama aku aja. Sambil nunggu antri sholat." Kia keukeuh melanjutkan mencuci piring kotor.
Ibu Sekar tersenyum samar melihat dan menilai Kia sebagai anak yang rajin. "Kabar Bapak sama Mama gimana sehat?" Ia memilih menemani temannya Ami itu yang paling sering datang ke rumah dibanding yang lainnya.
"Alhamdulillah sehat, Bu." Kia menoleh sekilas sambil tersenyum dan mengangguk. Melanjutkan lagi membilas piring yang sudah disabuni.
"Kia, dicari-cari kemana, kirain hilang ternyata di dapur. MasyaAllah, calon mantu idaman ini sih." Ami yang muncul di pintu dapur, kemudian mendekati Kia.
"Dasar!" Kia mencipratkan air ke muka Ami yang tanpa beban menggodanya. Yang kemudian dibalas Ami sambil berlalu diiringi tawa.
Ibu Sekar sudah tidak aneh dengan kelakuan iseng Ami terhadap siapapun. Ia hanya menonton sambil mengecek isi kulkas.
Sebelum isya, semua teman-teman Ami pun pamit pulang agar sempat melaksanakan tarawih di masjid. Ami juga menitipkan donat madu yang tersisa untuk adiknya Kia.
***
Melewati hari keduapuluh ramadhan, menjadi waktu yang tidak terasa menuju lebaran. Zaky mengabarkan akan pulang H-4. Sementara Puput mengabarkan akan mudik H-2. Rumah Ibu Sekar pun sudah bersih dengan aroma cat yang baru. Untuk baju lebaran? Tidak dipusingkan karena ada Panji yang menjadi sponsor seragam keluarga busana hari raya.
[Lagi apa, Cutie?]
Akbar tidak pernah absen berkomunikasi dengan Ami setiap harinya. Minimal lewat chat seperti yang dilakukannya sore ini. Seperti halnya Ami yang tidak pernah absen membangunkan sahur.
__ADS_1
Ami sigap membuka pesan karena posisinya sedang scroll media sosial.
[Lagi mikirin mobil, Kak?]
[Mobilnya kenapa gitu?]
[Mobilang cintaku padamu seperti kuku]
[Kenapa seperti kuku? 🤔]
[Karna meskipun dipotong, tetap tumbuh terus 🙃]
[Haha. Nambah lagi isi kamus cinta dari si sayang. Cutie, aku juga sama mikirin mobil]
[Mobil apa, Panda?]
[Mobilang bulan Syawal pengen ngajak ke penghulu tapi kamunya masih unyu]
[Haisss bisa ae babang tamvanku 😁]
[MU always 😘 ]
Ami membaca dua balasan dari Akbar dengan senyum yang merekah lebar. Komunikasi tiap hari tidak pernah ada bosannya. Tidak pernah ada matinya.
"Amiiiii!"
Teriakan Aul yang tahu-tahu muncul, membuat Ami terperanjat dari posisinya rebahan di sofabed ruang tengah. Ia terduduk sambil tak lupa mengunci ponselnya.
"Teh, datang tuh ucapin salam dulu. Bukannya malah tiba-tiba teriak. Untung aku gak jantungan." Ami menatap ibu hamil yang akan menginjak usia 4 bulan kehamilan di tanggal dua Syawal.
"Teteh udah ucapin salam tapi Ami malah anteng senyam-senyum. Hayoh, chatingan sama siapa itu? Pasti cowok ya?" todong Aul yang lalu duduk di samping Ami.
"Temen, Teh. Lagi becanda main tebak-tebakan receh sambil nunggu magrib. Teteh datang sama Kak Panji?" Ami segera beralih pembahasan agar terhindar dari introgasi lanjutan.
"Iya. Masih di luar lagi nelpon Mas Akbar."
"HAH?!" Ami tidak sadar memekik keras karena kaget. Belum lima menit yang lalu lagi berbalas pesan dengan Akbar, kini ayangnya itu beralih komunikasi dengan Panji sang kakak ipar.
__ADS_1
"Biasa aja. Kenapa harus kaget gitu. Ibu dimana, Mi?" Aul beranjak bangun sambil berjalan mengarah ke kamarnya. Ada rasa rindu dengan isi suasana kamarnya itu. Makanya sampai merajuk kepada sang suami jika malam ini ingin menginap. Entah itu bagian dari ngidam atau bukan.
"Tadi Ibu lagi sidak dapur umum." Ami menyahut sambil mengecek lagi aplikasi chat. Ia belum sempat membalas lagi pesan dari Akbar karena ada iklan lewat. Panda nya itu tidak lagi online. Bisa jadi sekarang sedang bertelepon dengan Panji.
Meja makan sore ini diisi empat orang yang saling berhadapan. Ami duduk bersisian dengan Ibu, Aul dengan Panji. Ada waktu sepuluh menit lagi menuju magrib. Ini menjadi kali ketiga pasangan pengantin baru itu buka puasa bersama di rumah Ibu.
"Barusan Panji udah teleponan dengan Mas Akbar, Bu."
Ami pasang telinga lebar-lebar karena ingin tahu tema obrolan yang dibahas.
"Mas Akbar dan keluarganya kan mau datang ke Tasik tanggal 3 Syawal. Terus waktu lalu ada wacana pengen ngadain halal bihalal keluarga. Intinya kita mau kolaborasi. Panji kan pengen ngadain syukuran empat bulanan. Barusan udah deal tanggal 4 Syawal akan halal bihalal juga syukuran empat bulanan Aul di hotel Seruni. Mumpung momen kumpul seluruh keluarga, Bu." Jelas Panji.
Ami bersorak girang di dalam hati. Ia sudah tahu dengan rencana kedatangan Akbar. Namun tambahan kolaborasi acara dengan Panji baru didengarnya sekarang.
"Ibu mah ngikut aja. Gimana dengan cateringnya, Panji?"
"Lokasinya kan di restoran Seruni. Jadi sekalian saja catering dari sana biar praktis. Gak apa-apa kan, Bu?" Panji menatap sungkan karena tidak memakai catering Dapoer Ibu.
"Ya gak apa-apa. Seperti yang dikatakan Pak Krisna. Kita harus saling mendukung usaha keluarga."
"Yes, Bu. Itu kan usaha calon mantu Ibu. Gak akan rugi lah." Ami ikut menyahut dengan suara hati.
Inti obrolan sudah terbahas dan disepakati semuanya. Waktunya buka puasa dengan segelas air putih hangat dan tiga butir kurma.
"Kalau bilang dari siang mau nginap disini, aku bisa ajak Padma nginap juga." Ami mengisi piring makan milik Ibu terlebih dahulu. Baru kemudian piringnya.
"Bumilnya dadakan ngidam tadi sepulang Kak Panji dari kantor. Sampe mau nangis segala saking pengen nginap disini." Panji mengerling pada Aul yang bersiap memulai makan.
"Abisnya kamu malah bujuk diundur besok aja. Kan aku pengennya sekarang. Beneran gak bisa ditawar. Ngeluarin senjata pamungkas dengan ngambek baru deh berhasil." Aul mencolek pinggang Panji yang mentertawakannya.
Ibu Sekar tersenyum. Sebagai orang tua, tak ada yang lebih menenangkan hati selain melihat anak-anaknya bahagia dengan kehidupannya masing-masing.
Sepulang tarawih dari masjid, Ami tidak ikut bergabung dengan Ibu dan Aul serta Panji yang bersantai di ruang tengah. Memilih berdiam di kamar dengan tidak lupa mengunci pintu. Itu karena Akbar mengirim pesan sebelum tarawih tadi katanya akan menelpon sebelum jam tidur.
...***...
Bestie, terima kasih masih sabar menanti. Terima kasih juga masih setia mendukung karya ini. Maaf pendek dulu abis anu cape. Insyaa Allah, mulai stabil lagi up nya di 1 mei.
__ADS_1