Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
90. Hari Ini Hari Yang Kau Tunggu


__ADS_3

Ami baru saja membuka mukena usai menjalankan sholat subuh saat melirik ponsel yang tiba-tiba berdering. Ternyata panggilan video dari Panda. Ia tersenyum lebar. Bergegas memakai lagi atasan mukena dan menyempatkan berkaca. Takutnya masih ada belek di mata atau upil di hidung. Sudah dipastikan aman, barulah menggeser ikon video dan berucap salam.


"Wa'alaikum salam. Good morning, Cutie. Barakallah fii umrik, my love. Semoga harimu ke depan makin bahagia, makin berkah, makin dewasa, makin banyak yang sayang, dan makin sayang sama aku." Akbar sending flying kiss diiringi senyum manis.


Ami mengulum senyum dengan kedua pipi merona merah jambu. "Aamiin, my Panda. Thank you for everything. Hmm, banyak banget kata-kata yang pengen aku ucapin buat gambarin gimana perasaanku sekarang ini. Tapi takutnya jadi kayak sambutan. Aku rangkum jadi tiga kata aja deh. I love you." Ami mengangkat tangan kanan membentuk simbol finger love.


Akbar tertawa renyah. Tidak mungkin bisa 100% larut dalam suasana baper romantis. Pasti ada bumbu candaan khas Ami. "Jadi hang out sama teman sekelas, Cutie?"


"Jadi, Kak. Mau ngumpul di ayam geprek Mr Duck nanti siang. Marga udah laporan ada 28 orang yang akan ikut. Aku berangkatnya bareng Padma."


"Have fun, Cutie. Kado dari aku nanti sekalian ya sabtu depan."


"Gak usah lah, Kak. Kan udah transfer buat traktir. Itu juga udah lebihan. Aku aja gak ngasih kado ke Kak Akbar."


"Kado kan gak harus barang. Kedatanganmu ke kantor bawain makanan buatanmu itu kado spesial yang gak bisa dinilai dengan uang."


"Aihh, jangan berkata manis gitu deh. Kaaan aku jadi pengen ke Bengkulu sabtu besok." Ami memeletkan lidah diiringi cengengesan.


Akbar menggelengkan kepala. "Aku gak mau ikut ke Bengkulu. Punya planning sendiri mau ke Mesir."


"Me sir. Hmmm, apa ya artinya?" Ami mengetuk-ngetuk pelipis dengan telunjuknya.


"Mencintaimu Sampai Akhir." Akbar mengedipkan sebelah mata lalu tersenyum manis.


"Hiyaaaa, pingsan dulu ah." Ami menghilang dari layar. Beralih berguling-guling di lantai dengan kedua bahu mereog.

__ADS_1


"Sayang, udahan dong pingsannya." Akbar masih tertawa-tawa sambil menatap layar yang menampilkan sofa yang kosong karena keabsurd-an tingkah Ami. Untung jauh. Kalau dekat....entahlah rasanya gak bisa nahan diri lagi ingin menguyel-nguyel kedua pipi si Cutie dan memeluknya karena kelakuan yang menggemaskan itu.


Canda tawa masih milik mereka berdua hingga berakhir di jam enam karena Akbar harus bersiap. Ia akan pergi ke Bogor bersama orang tuanya. Ada undangan pernikahan dari pihak keluarga Papa Darwis yang dimulai dengan akad nikah jam 10 pagi ini.


Ami menuruni tangga dengan langkah ringan dan riang. Bergegas menuju meja makan karena biasanya Ibu sudah menyiapkan nasi tumpeng hias untuk setiap anak-anaknya yang berulang tahun. Dalam arti anak-anak yang ada di rumah. Karena tahun berganti, anak-anak satu persatu mulai meninggalkan rumah karena mempunyai kehidupannya sendiri.


Tak sesuai ekspektasi. Di meja makan tak ada apa-apa. Bersih dan kosong. Ami menuju dapur dan tak nampak ada bekas memasak tumpeng. Bahkan aromanya pun tak tercium sama sekali. Dan juga tak ada orang. Ia kembali ke dalam. Menatap pintu kamar Ibu yang tertutup rapat. Mungkinkah setelah subuh Ibu dan Papa tidur lagi? Karena kalau pergi keluar pasti bilang dulu.


Bosan di dalam rumah yang sepi, Ami mengambil kunci motor Ninja milik Zaky yang disimpan di kamarnya. Hendak mengelap dan memanaskan. Rencananya kalau Ibu sudah keluar dari kamar, ia akan pamit pergi ke rumah Padma menggunakan motor sport itu. Pintu utama yang masih terkunci itu pun dibuka perlahan. Dan...ia terjengit.


"Hari ini hari yang kau tunggu. Bertambah satu tahun usiamu bahagia lah kamu. Yang kuberi bukan jam dan cincin. Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati. Maaf, bukannya pelit. Atau nggak mau ngemodal dikit. Yang ingin aku beri padamu doa s'tulus hati....🎶"


Ami spontan menangkup bibirnya karena tak menyangka mendapat kejutan dari keluarganya. Ada Aul yang memegang kue black forest dengan lilin angka 18 sambil bernyanyi bersama Panji, Ibu Sekar, Papa Bagja, serta Padma.


"Hais, Munaroh mah bikin haru aku ambyar." Ami mendelik sebal. "Ibu kirain tidur lagi abis subuh. Soalnya gak ada tumpeng di meja," ujarnya beralih menatap Ibu dan Papa yang sedang terkekeh.


"Kata siapa gak ada tumpeng. Ibu udah siapin di sana." Ibu Sekar menunjuk ke arah rumah makan Dapoer Ibu yang pintunya masih tutup.


"Mi, Teteh pegel. Tiup lilin dulu nih." Tegur Aul dengan ekspresi meringis.


"Ah si teteh mah lebay. Cake mini juga. Berat setengah kilo juga nggak ada." Jawaban Ami membuat Padma cekikikan. "Kali ini doanya spesial untuk bumil aja. Semoga Teh Aul dan debay sehat-sehat. Lahiran dengan lancar dan selamat." Ia tulus mendoakan kakak keduanya itu yang diaminkan semua orang yang ada di teras. Lilin angka 18 pun ditiup.


Ibu memeluk Ami diiringi ucapan mengandung do'a. Semua orang bergiliran memberi ucapan selamat dan memberi do'a terbaik. Kemudian sama-sama menuju Dapoer Ibu untuk mulai makan-makan nasi tumpeng. Sederhana namun bahagia.


***

__ADS_1


Di sebuah ruangan hotel Seruni yang merupakan ruang kerja general manager, Tommy baru saja menjawab telepon dari CEO sekaligus direktur utama hotel Seruni, Akbar Pahlevi Bachtiar.


"Tommy, ada tugas urgent untukmu sekarang!" Suara Akbar di ujung telepon begitu tegas.


"Siap, Pak. Tugasnya apa, Pak?" Tommy menjawab dengan semangat dengan suara seramah mungkin. Ia mulai mendengarkan penjelasan dengan penuh atensi. Senyum yang awalnya lebar berubah mengerut mengerucut dan berujung melongo dengan mata melotot.


Waktu telah berganti siang. Padma yang selesai ikut makan tumpeng itu memang tak lantas pulang. Beda dengan Aul dan Panji yang pamit di jam sembilan karena akan lanjut berkunjung ke rumah Bunda Ratih. Ia akan ikut Ami merayakan ulang tahun dengan acara makan-makan bersama teman-teman sekelasnya Ami.


"Mi, kalau Ibu tahu Kak Akbar ngasih duit buat traktir teman sekelas, gimana reaksinya ya?" Padma menoleh pada Ami yang fokus menyetir menuju perbatasan Ciamis Tasik. Ia mendengar pamit Ami yang hanya bilang mau traktir teman dekat di Ayam Geprek Mr Duck Tasik. Tidak bilang mentraktir semua teman sekelas.


"Gak mau berandai-andai ah. Nanti aja kalau Kak Akbar resmi diterima Ibu, aku akan mulai terbuka. Gak akan ada lagi yang ditutup-tutupi biar Ibu tahu kalau calon mantunya itu super baik." Sahut Ami dengan tetap fokus memperhatikan jalan di depannya.


Tiba di parkiran gerai ayam geprek, Ami dan Padma menghampiri Marga dan kawan-kawan yang berkumpul di sisi kiri dengan berpakaian bebas.


"Guys, langsung aja ke lantai dua. Aku udah reservasi." Ucap Ami usai melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu sudah sesuai dengan jam reservasi.


"Oke. Tapi makannya nunggu tiga orang lagi ya, Mi. Almond, Sonya, dan Ifa. Lagi otewe." Sahut Marga yang menjadi ketua koordinator.


"Oke." Ami memimpin di depan bersama Padma. Masuk lebih dulu ke dalam gerai. Banyaknya orang yang membuntuti dengan kegaduhan karena canda tawa, menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam gerai.


...****************...


Tbc


follow ig @authormenia dan intip selalu instastory biar gak ketinggalan info karya dan tau visual tokoh.

__ADS_1


__ADS_2