Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
45. Kucing Yang Bikin Deg Degan


__ADS_3

Ami berusaha tenang tidak tegang saat memulai makan dengan keluarganya Akbar. Mana posisi duduk berdampingan dengan Panda nya di sisi kiri. Untung ada Padma di samping kanan sehingga jantung yang dag dig dug masih aman terkendali.


"Mi, tolong dong ambilin itu tuh yang ada jagung manisnya." Akbar menunjuk piring saji berisi tumisan yang ada di tengah meja.


Ami menyimpan lagi sendok yang siap disuapkan ke mulut. Tangannya terulur mengambil apa yang diminta Akbar. "Segini cukup, Kak?" Ia menuangkan dua sendok tumisan jagung manis pakcoy campur sosis ke dalam piring Akbar. Spontan melakukannya.


"Cukup. Makasih ya, Mi." Akbar tersenyum semringah. Tindakan Ami melebihi ekspektasi. Padahal awalnya hanya minta didekatkan saja tumisan itu.


Ami tersenyum dan mengangguk. Ia urung lagi menyentuh sendoknya begitu melihat tatapan Mama Mila mengarah ke piring tumisan. "Tante, mau jagung manis juga?"


Ami beranjak dari kursinya usai mendapat anggukkan Mama Mila sambil membawa piring tumisan. Ia menuangkan ke dalam piring makan mamanya Akbar itu.


"Aduh, pake dilayanin segala, Mi. Kan tante bisa ambil sendiri." Mama Mila terkejut sekaligus kagum dengan sikap Ami. "Makasih ya, sayang."


"Sama-sama, Tante. Kebiasaan di rumah suka begini juga sama Ibu." Ami terkekeh. "Om mau juga?" Ia menawarkan pada Papa Darwis yang duduk paling sisi, berhadapan dengan Akbar.


"Boleh-boleh. Dua sendok aja, Mi." Papa Darwis mendekatkan piringnya. Ia pun berterima kasih dengan tulus.


"Mbak Mila, Ami calon mantu idaman berikutnya nih. Sisa stok satu gadis di keluarga Ibu Sekar." Bunda Ratih menoleh pada Mama Mila yang duduk di sampingnya diiringi senyum simpul.


"Iya, bener. Aku malah udah bilang sama Ami waktu di acara siraman kemarin. Bu Sekar juga denger. Kirain Ami sekarang nih udah kuliah, tak jadiin mantu." Mama Mila terkekeh sambil melirik Akbar yang nampak tak terpengaruh. Makan dengan tenang.


"Aku tuh bukan calon mantu idaman, Tante, Bunda. Tapi calon mantu BNI." Sahut Ami yang sudah duduk di kursinya.


Akbar menahan senyum. Sudah pasti Ami mulai melemparkan guyonan khasnya. Sementara Padma sudah lebih dulu cekikikan ditahan meski belum tahu singkatannya apa. Namun sudah merasa geli lebih dulu.


"Maksudnya Ami udah ditandain sama anak pegawai BNI, gitu?" Mama Mila menerka.


"Bukan, Tante. Aku tuh calon mantu BNI. Baik, narsis, imut. Ehehe...." Ami menyenggol pelan bahu Padma yang kembali cekikikan. Lalu terkejut dan menoleh ke kiri saat merasakan ada tangan yang menggelitik punggungnya. Tatapannya menangkap wajah Akbar yang sedang mengunyah sambil senyum-senyum dengan pandangan lurus ke depan. Ia balas dengan menyepak kaki Panda nya itu.


Papa Darwis dan Mama Mila terkekeh begitu juga Bunda Ratih dan Ayah Anjar.


"Hahaha. Mam, Ami jadi adik Iko aja. Setelah nikah, Iko kan bakal ninggalin Mama. Jadi Mama ada teman di rumah, anak cewek yang seru kayak Ami. Tau sendiri Mas Akbar kan jarang di rumah." Iko sudah merasa jatuh hati sama kepribadian Ami yang kocak.


"Gak bisa, Kak. Aku harus nemenin Ibu. Kan Teh Aul bakal dibawa pindah sama Kak Panji. Terus A Zaky bakal ke Singapura lagi. Jadi di rumah tinggal aku dan Ibu." Ami lebih dulu menanggapi. Membuat Iko manggut-manggut mengerti.


Sarapan pagi bersama yang diselingi obrolan ringan itu sudah berakhir. Leo dan Tasya baru datang memasuki restoran dan menghampiri meja family itu. Sekadar menyapa.


"Kalian dari mana dulu? Kita udahan makannya nih." Tanya Mama Mila.


"Ini Tasya pengen joging sekalian cuci mata mumpung di Tasik. Kita sekalian mampir ke tempat bubur ayam yang terkenal itu. Emang rasanya maknyus." Jelas Leo. Ia mengambil dua kursi dari meja yang paling dekat untuk bergabung duduk sambil memesan kopi.


***

__ADS_1


Siang ini selepas Duhur, keluarga Akbar meninggalkan hotel untuk pulang ke Jakarta. Sopir melajukan mobil ke arah Ciamis. Mengantar yang akan makan siang di Dapoer Ibu.


"Mam, sekalian nanti undang Bu Sekar ke wedding Iko. Lisan aja dulu. Nanti kalau udah dekat, Akbar yang akan kirim kartu undangannya." Akbar memecah kebisuan di dalam mobil di saat masing-masing orang sibuk dengan gadgetnya. Mind Mapping step kedua sudah berhasil. Lanjut memasuki step ketiga.


"Iya, Bar. Mama juga ada rencana mau bilang gitu sekalian pamitan." Mama Mila memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Mama kalau tetanggaan sama Bu Sekar bakal betah deh. Orangnya baik, santun, sederhana. Padahal ekonomi mampu. Lah tetangga kita tuh yang glamour dari ujung rambut sampai ujung kaki. Flexing di medsos dengan caption 'Alhamdulillah, semalam mimpi ke Paris. Hari ini suami beneran ngajak terbang dengan bisnis class'. Pret ah. Eh sekarang lakinya dipecat dari instansi. Gak masuk akal sih antara gaya hidup sama gaji suami yang ASN." Ia merepet tanpa jeda seolah dalam satu tarikan nafas.


"Ma, JANGAN GIBAH!" Tegur Papa Darwis yang duduk di samping sopir. Tanpa menoleh ke belakang.


"Mama gak nyebut nama lho, Pah." Mama Mila berkilah.


"Tanggung, Ma. Jangan berharap jadi tetangga. Cita-cita tuh harus lebih dari itu." Akbar meredam percikan keributan Mama dan Papanya dengan meluruskan pembahasan tentang Bu Sekar.


"Maksudnya gimana, Bar?" Mama Mila menatap Akbar dengan kening mengkerut. Merasa ambigu. Sayangnya, obrolan berhenti karena mobil sudah tiba di depan rumah Ibu Sekar. Mobil Leo pun turut berhenti di belakang.


***


[Cutie, aku udah sampai]


Ami membaca pesan kiriman Akbar. Sedari tadi sudah dua kali berkaca ulang menilik penampilannya. Ia yang pulang lebih dulu jam sepuluh bersama Bunda Ratih, sudah memberi tahu kepada Ibu jika keluarga Akbar akan mampir makan siang sebelum pulang ke Jakarta.


"Bu, itu...keluarga Kak Akbar udah di depan." Ucap Ami usai mengintip dari jendela ruang tamu. Baru melihat bagian samping wajah Akbar saja, saat sliding door terbuka, sudah membuat jantung berdetak cepat.


"Ibu cuma menyapa di depan aja ya. Nanti Ami yang anterin ke gazebo. Mereka tamu spesial. Harus dihormati." Ibu berjalan lebih dulu menuju pintu utama usai mendengar jawaban Ami yang nurut.


Rombongan Akbar sedang berjalan menuju pintu masuk rumah makan. Ibu Sekar dan Ami menghampiri lewat jalan samping.


"Iya, gak apa-apa, Bu Sekar. Ah, iya tapi takut keburu lupa. Iko insyaallah mau nikah sebulan lagi di Jakarta. Aku mengundang Bu Sekar dan keluarga untuk hadir. Nanti kartu undangannya menyusul kalau udah dekat hari. Sekarang lisan aja dulu." Mama Mila menambahkan harapan agar Bu Sekar bisa datang.


"Iya, Tante. Iko tunggu lho kehadiran semua keluarga yang ada di Ciamis." Iko menguatkan dengan sorot mata penuh permohonan.


Ibu Sekar tersenyum dan mengangguk. "InsyaAllah, semoga tidak ada halangan."


Ada dua gazebo saling berdampingan yang sudah disiapkan Ami sesuai permintaan Akbar. Yang satu untuk Leo dan Tasya yang ingin memisahkan diri. Karena bumil ingin duduk santai dan leluasa sambil selonjoran kaki. Kini, sudah terisi. Dan tak lama hidangan pun diantarkan pelayan karena sudah reservasi lebih dulu.


"Mi, gabung bareng aku aja. Disini masih luas." Tasya melambaikan tangan. Lalu menahan senyum saat Akbar yang sudah duduk sila sampai memutar badan dan menatap tajam.


"Iya, Mi. Biar jadi empat lawan tiga." Leo turut memprovokasi. Ia balas melawan tatapan tajam Akbar.


"Iya deh aku pindah." Ami bergegas turun dan berpindah posisi tak lagi duduk berdekatan dengan Akbar. Karena duduk sila hampir bersentuhan lutut, rasanya membuat sulit bernafas.


[Ape lo melotot? salah sendiri bonus belum ditransfer. Jadinya gadis lo gue sandera. Hahaha]


Leo mengetik cepat dan mengirimkan lewat chat. Ia menunjuk ponselnya sebagai kode agar Akbar membuka chat darinya.

__ADS_1


Akbar mengecek chat dari Leo. Hanya mampu menggeram dalam hati. Ia pun mengetikkan balasan.


[Gak sabaran banget. Iya ini gue transfer sekarang. Balikin Ami kesini!]


"Mas, jangan main hape terus. Cepet makan!" Tasya menegur Leo yang nampak tersenyum semringah. Tidak tahu saja jika suaminya itu sedang membaca bukti transfer. Barulah ia terkikik usai diperlihatkan isi chat.


"Bar, ini ada email dari Mr. Hito. Kayaknya urgent. Pindah sini dulu, liat nih!" Leo memainkan aktingnya senatural mungkin. Karena tidak mungkin menyuruh Ami pindah lagi tempat.


"Oke, bentar." Akbar menyahut semangat. Mengambil dulu nasi liwet dalam kastrol. Ditambah memotong gurame bakar bumbu kecombrang yang masih hangat. Untuk lalab sambalnya akan minta di meja Leo.


"Makan dulu yang bener, Bar. Biar kerasa nikmatnya. Urusan kerjaan nanti aja." Tegur Papa Darwis yang bersemangat mengupas pete yang dikukus. Dicoel pada sambal terasi.


"Iya, Pa. Cuma ngecek doang kok." Sahut Akbar yang sudah berada di samping Ami. Ia pun melanjutkan aktingnya Leo dengan pura-pura membaca email di ponsel sang asisten.


"Mi, kenapa gak makan?" Akbar beralih menoleh pada Ami usai pura-pura membaca email.


"Udah makan duluan tadi bareng Ibu. Aku minum aja." Ami mengangkat jus miliknya yang baru saja diantar pelayan.


"Jus apa tuh?" Akbar merasa senang karena bebas berinteraksi dengan Ami. Tak canggung karena teman makan di hadapannya adalah suporter garis depan.


"Ini just be babe. Ups!" Ami menangkup mulutnya karena merasa malu dengan Leo dan Tasya yang mendengarkan dan nampak menahan tawa.


Akbar tersenyum lebar. "Sure. Im your babe." Ujarnya setengah berbisik dan melihat Ami dengan tatapan lembut. Posisi duduk membelakangi orang tuanya, membuat ia bebas mengekspresikan diri.


"Sya, bawa headset gak? Telingaku gak kuat dengernya." Leo memasang ekspresi nelangsa. Membuat Tasya terkekeh.


"Ish, Kak Leo. Aku cuma canda doang." Ami berkilah sambil menyeruput jus sirsaknya.


Makan pun berlanjut dengan tenang. Masing-masing menikmati menu khas sunda nasi liwet dan gurame bakar ditambah beberapa pelengkap seperti pencok kacang dan mendoan.


"Wah, kucingnya gemuk-gemuk. Baru liat ada kucing. Dulu kayaknya gak ada ya." Akbar teralihkan fokus saat ada dua kucing mendekat dan menatap dari bawah gazebo.


"Ceritanya pulang sekolah aku adopsi kucing-kucing itu dari jalanan. Waktu itu kakinya pincang seperti abis ketabrak. Aku bawa ke dokter hewan dulu terus dipelihara disini minta bantuan pegawai buat ngurusnya. Suka dimandiin biar nyaman diliat pengunjung. Sisa makanan daging dan ikan dikumpulin buat pakannya. Makanya gemuk-gemuk." Jelas Ami.


"Bagus. Kucing aja disayang. Apalagi aku ya!" Akbar tersenyum mesem.


"Duh, giung." Celetuk Leo. Yang kemudian mendapat cubitan dari Tasya agar diam.


Ami terkikik melihat pasangan suami istri itu.


"Tapi ada satu lagi kucing yang bikin deg degan, Kak." Ami menatap Akbar yang lahan sekali memakan gurame bakar.


"Yang mana?!" Akbar menoleh dengan satu alis terangkat.

__ADS_1


"The cat the cat kamu." Sahut Ami sambil mengedipkan mata dan mengulum senyum.


"Sya, pindah planet yuk!" Leo menggigit kerupuk dengan kuat. Sementara Tasya tak mampu menahan tawanya melihat Akbar yang tersedak dan terbatuk-batuk.


__ADS_2