
Di asrama, Ami bergabung dengan tim dari Kabupaten Ciamis lainnya karena ia berangkat terpisah membawa kendaraan pribadi yang dikendarai Zaky. Ada tiga orang perwakilan Ciamis untuk tanding di kategori remaja atau SMA sederajat, ada juga peserta kategori usia dini atau sederajat SD dan kategori pra remaja atau SMP sederajat dengan pembina yang berbeda.
Kamis pagi, gelanggang olahraga sudah dipenuhi ratusan peserta dari berbagai kota dan kabupaten dengan pakaian serba hitam khas seragam pencak silat. Untuk pertama kalinya, Ami mengikuti pertandingan pencak silat PORPROV JABAR. Atmosfer gelanggang olahraga itu mulai terasa menegangkan saat mula masuk. Waktunya ilmu mental training yang diajarkan Coach Akbar dipraktekkan.
"Mi, relax and fokus. Itu kunci utama." Puput berdiri di samping Kang Aris yang menjadi pembina Ami. Kang Aris akan jadi penonton. Ia yang sudah berpakaian serba hitam, turun tangan akan menjadi pendamping sang adik. Ia sendiri terlihat tenang sekaligus merasakan dejavu akan masa dulu pernah memegang medali juara pertama kejuaraan Propov.
"Siap, Teh." Ami melakukan peregangan disaat pertandingan tingkat SD dan SMP sedang berlangsung. Gelanggang untuk tingkat SMA masih sedang disterilkan.
"Mi, jangan tegang, harus pede! Ciri khasnya Marimar. " Zaky mengusap-usap puncak kepala Ami usai sang adik melakukan olah pernafasan. Ia bersiap dengan kamera vlog untuk mengabadikan aksi sang adik.
"Tenang, Ferguso. Tadi emang tegang sekarang udah enggak. Lawan aku tuh manusia biasa bukan anak buah Thanos. Jadi B aja." Ami menyahut santai karena sudah berhasil self talk sesuai ajaran Panda nya.
Membuat Puput dan Kang Aris terkekeh sambil mengacungkan jempol melihat sang atlet sangat percaya diri.
Sebentar lagi babak penyisihan akan dimulai. Ami menghampiri dulu Ibu yang duduk bertiga di kursi penonton bersama Aul dan Panji. Ia mencium tangan sang Ibu dengan takzim dan meminta do'a.
Ibu mengangguk. "Ami juga jangan lupa berdoa sebelum mulai. Do'a Ibu menyertai Ami." Ia pun mencium kening anak bungsunya itu penuh sayang. Panji dan Aul pun tak kalah menyemangati usai Ami mencium tangannya.
.
.
Akbar memasuki gedung pertandingan dengan memakai masker dan menenggelamkan topi. Ia edarkan pandangan ke arena dimana pertandingan silat sedang berlangsung. Sempat bingung karena melihat pertandingan ada beberapa arena dan berlangsung bersamaan. Sehingga penonton pun terpecah.
Ami dimana ya?
Ini pengalaman pertama Akbar menonton pertandingan pencak silat. Tidak paham dengan sistem penjurian. Ada rasa kagum melihat para atlet dengan pakaian serba hitam layaknya jawara. Sambil berjalan, sapuan pandangannya akhirnya menangkap pada keberadaan Zaky yang sedang berbincang dengan Puput.
Itu dia!" Akbar tersenyum lega di balik maskernya. Berjalan dengan hati-hati untuk mendekat dan mencari tempat strategis untuk menonton.
Deg.
Hampir saja ia melewati kursi Ibu Sekar yang duduk dengan Aul dan Panji. Untung saja tiga orang itu sedang lengah mengobrol. Ia pun mundur dan berbalik badan mencari lagi posisi sudut pandang yang strategis.
Waktunya Ami tampil di babak penyisihan kelas putri kategori tanding. Melihat Ami yang membungkukkan badan memberi hormat sebelum pertandingan, malah Akbar yang mulai tegang.
Cutie, kenapa sambil senyum segala. Kan jadinya penonton cowok heboh.
__ADS_1
Akbar mengeluh dalam hati melihat reaksi penonton yang berada di sekitarnya pada merekam dan zoom in ke arah arena. Betapa tidak, senyum manis berlesung pipi dan wajah cantik Ami langsung mencuri perhatian. Membuatnya ingin sekali unjuk gigi jadi suporter yang duduk paling depan agar orang-orang tahu siapa pemilik atlet perwakilan Ciamis itu. "Oke, sabar....sabar," ucap batinnya yang harus menenangkan diri sendiri.
Pertandingan babak kesatu dimulai. Lawan Ami adalah perwakilan dari kota Bogor. Keduanya mulai memasang kuda-kuda untuk saling menyerang agar mendapatkan poin. Akbar tak sadar merekam sambil menahan nafas sebelum lambat laun bisa rileks.
Jeda istirahat menuju babak kedua hanya satu menit. Fokus Akbar tak teralihkan. Tetap tertuju pada performa Cutie nya yang nampak tenang dan percaya diri hingga babak ketiga berakhir. Ia turut bertepuk tangan dan tersenyum lebar di balik masker, saat dewan juri melaporkan nilai dan wasit mengangkat tangan Ami yang dinyatakan sebagai pemenang. Lolos ke tahap selanjutnya.
Satu jam berlalu.
Akbar hanya bisa menatap dari jauh saat Ami sedang diberi pengarahan oleh Puput. Ia tak meragukan keahlian Puput yang turun langsung menjadi pendamping sang atlet. Pernah menjadi saksi bagaimana heroiknya dulu saat Rama diculik. Hanya bisa mendukung dengan do'a meski sebenarnya raga ingin mendekat untuk bilang, "Aku hadir disini untukmu."
Babak perempat final dimulai.
***
Sampai berada di titik puncak yaitu final, sungguh menjadi waktu yang sangat tak terasa untuk Akbar menjadi penonton. Seru dan menegangkan. Ia menyaksikan dengan sangat antusias dari sejak penyisihan hingga semi final, bagaimana apik dan epiknya permainan Ami yang mampu menyerang lawan dengan gerak lincah tangan dan kaki, sampai menjatuhkannya. Kini, lawan tandingnya di final tidak bisa dianggap remeh. Sama-sama tangguh.
Ami sudah bisa membaca ketangguhan lawan di final yang sama-sama membabat lawan sejak penyisihan dengan hasil poin tinggi. Merupakan perwakilan dari kota Bandung, tuan rumah. Gelar runner up sudah di tangan andaikata kalah. Namun ia akan berjuang semaksimal mungkin di akhir laga ini.
Sugesti diri dengan kata-kata positif.
Ami mengingat betul mental training dari Akbar. Sangat terasa serangan mental dari calon lawan yang memasang wajah dingin dengan postur badan lebih besar darinya.
"Iya, Teh." Ami duduk tenang sambil mensugesti diri. Sekilas bayangan wajah Akbar hadir di pelupuk mata. Membakar semangat dan percaya diri. Bertekad akan memberikan kabar baik di akhir pertandingan nanti.
Terdengar suara pembawa acara memanggil kedua atlet untuk bersiap memasuki arena. Ami dan lawannya berjalan memasuki tengah arena dari sudut berlawanan. Gemuruh tepuk tangan pun terdengar lebih meriah. Semua penonton berdebar-debar menanti siapakah juara pertama pertandingan 3 X 2 menit itu.
Gong pembuka babak kesatu dipukul.
Dari kursi penonton, Akbar merekatkan kedua tangan di dada sambil menjalin jemari. Ia sama halnya dengan penonton lain yang harap-harap cemas menunggu siapa yang akan jadi pemenang. Dalam hati menjeritkan do'a penuh harap agar Cutie nya selamat tidak cedera, itu yang pertama. Kemudian berharap menjadi pemenang.
"Mi, taktiknya udah bagus. Tapi atur tenaga jangan dipol habis sekarang. Nanti di babak ketiga boleh full power. Semangat anak Ayah Ramdan!" Puput memegang kedua bahu Ami saat istirahat satu menit menuju babak kedua. Motivasi di menit-menit krusial sangat penting untuk menyemangati sang adik yang baru pertama bertanding di level provinsi.
Ami menjawab dengan anggukkan. Ia sedang menormalkan nafas yang masih terengah-engah. "Teh Puput aja bisa. Masa aku tidak. Aku juga ingin jadi kebanggaan Ayah," ucapnya dalam hati yang kembali menyulut semangat. Waktunya masuk ke tengah arena. Memulai babak kedua.
Sementara Aul yang menyiarkan live di akun media sosialnya pun meminta do'a pada teman-temannya juga teman-teman Ami yang memberi live komentar.
Break babak kedua. Saat yang mendebarkan menanti babak ketiga. Karena baik Ami maupun lawannya, secara kasat mata masih terlihat imbang. Entah menurut dewan juri yang sudah memberi nilai. Penentuan akhir nanti usai babak ketiga.
__ADS_1
"Teh, aku udah tau kelemahan dia. Aku bisa jatuhkan dia dengan kaki." Ami berbisik usai minum di jeda istirahat menuju babak ketiga
"Bagus. Sempurnakan kuda-kuda. Kalau perlu teriak yang lepas saat jurus kaki karna itu bisa membantu menambah power. Bismillah, Mi. Rasya bilang Ate bakal juala." Puput mengusap puncak kepala Ami sambil menyampaikan pesan Rasya saat tadi pagi mengantar sampai pekarangan. Si sulung tidak merajuk karena dirayu Papa Rama akan diajak ke kantor.
Gong babak ketiga terdengar.
"BERSEDIA!" Wasit memberi aba-aba.
Ami dan lawannya memasang kuda-kuda dengan mata saling menatap tajam penuh konsentrasi.
"MULAI!"
Serangan cepat jurus tangan dari lawan membuat Ami meliukkan badan sehingga hanya mengenai udara. Bergegas menangkis tangan lawan yang mengarah ke rusuk kiri. Ia balas dengan jurus tangan memakai tiga teknik yang akan menjadi poin karena menyerang balik dengan variasi serangan. Serangan balasannya berhasil mengenai perut. Melihat lawan limbung dan hendak melawan lagi, ia masukkan serangan beruntun kaki dengan berteriak keras. Tendangan pertama berhasil mengenai rusuk kanan, lalu disusul teknik tendangan kedua yang berhasil ditangkis tangan lawan. Tanpa jeda, tendangan berikutnya dengan teknik berputar serta berteriak keras, mampu mengenai belakang paha. Saking kerasnya tendangan, membuat lawan terjungkal ke belakang dan terjatuh dengan punggung mengenai matras hijau.
"BERHENTI!" Teriak wasit bersamaan dengan durasi dua menit berakhir.
Gemuruh tepuk tangan terdengar meriah karena pertandingan final berakhir. Semakin bergemuruh saat nama Rahmi Ramadhania dinyatakan sebagai pemenang.
Akbar memberi standing apllause sambil membuka maskernya. Menghembuskan nafas lega diiringi senyum lebar melihat Ami sujud syukur yang kemudian dihampiri oleh Puput dan Zaky dan saling berpelukan. Ia pun menatap haru. Bergegas menghampiri tempat duduk Ibu Sekar.
"Bu?!" Akbar menyapa Bu Sekar yang berpelukan dengan Aul. Nampak mata yang berkaca-kaca diiringi senyum.
"Hei, Mas. Kok bisa ada disini?!" Panji lebih dulu menyapa dengan raut kaget. Begitu pun Ibu dan Aul yang mengurai pelukan dan sama-sama memasang wajah heran.
"Aku lagi ada meeting di daerah sini. Pas iseng buka igeh, di beranda liat Aul lagi live. Ya aku nyusul ke sini kayaknya seru. Eh beneran seru. Tadi nonton di sebelah sana. Baru keliatan ada Bu Sekar, Aul, dan Panji sekarang." Akbar beralasan. Dalam hati meminta maaf karena sudah berbohong.
"Iya seru dan tegang banget. Tangan Ibu sampe berkeringat dingin. Alhamdulilah akhirnya juara. Akbar, makasih ya udah mau nonton pertandingan Ami." Ibu Sekar tersenyum semringah dan tulus berterima kasih.
Akbar tersenyum dan mengangguk. "Bu, aku sengaja dari Jakarta ke Bandung ninggalin meeting. Soalnya meeting pun gak akan konsen. Aku gak mau ketinggalan nonton live Ami, Bu. Aku sayang sama anak Ibu." Kalimat panjang yang hanya disuarakan dalam hati.
Aul mengingatkan untuk kembali melihat ke arena karena waktunya tiga orang juara naik podium untuk mendapatkan penghargaan. Dan Ami berdiri di podium tertinggi dengan mengukir senyum lebar.
Juara ketiga mulai dikalungkan medali dan mendapat piala serta simbolis hadiah uang dalam bentuk papan. Ami mengarahkan pandangan pada kursi duduk ibunya sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
Deg. Serrr.
Ami mengerjap-ngerjapkan mata. Takutnya salah lihat pada sosok pria yang duduk di samping kanan Ibu dan tengah melengkungkan senyum ke arahnya. Sebelah kiri Ibu ada Aul dan Panji. Itu memang formasi awal duduk seperti itu. Tapi yang di kanan?
__ADS_1
"Aku halusinasi kali ya?" Ami menggelengkan kepala perlahan dengan mata memejam sesaat. Buka mata lagi. Tetap sama. Malah kini sosok Coach Akbar, si Ayang Panda memberi kecupan jauh.
Fokusnya teralihkan saat nama Rahmi Ramadhania asal dari Kabupaten Ciamis diumumkan sebagai juara pertama. Ia pun mendapat kalungan medali,.piala, serta hadiah uang simbolis dalam bentuk papan.