Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
118. Dua Orang Yang Pergi


__ADS_3

Bukan tanpa alasan Akbar memilih waktu kunjung pacar di akhir bulan. Alasannya yaitu perhatiannya terhadap Zaky. Di saat akan kembali ke Jakarta, ia juga mengajak Zaky berangkat bersama semobil. Kakak laki-laki Ami itu akan kembali melanjutkan kuliah di Singapura setelah libur satu bulan lamanya.


Sejak jam tujuh pagi, Akbar sudah berada di rumah Ami. Memang semalam sudah janjian akan lari pagi bersama, bertiga dengan Zaky keliling jalan desa. Usai olahraga, berakhir dengan makan serabi langganan keluarga Ami. Makan langsung di tempatnya.


Akbar juga menumpang mandi di rumah Ami usai berolahraga. Tadinya mau kembali dulu ke hotel untuk mandi. Namun ternyata mendapat tawaran dari ibu Sekar. Secara implisit, ia merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Ami. Menikmati sarapan bersama seluruh keluarga yang hadir. Termasuk Panji dan Aul yang baru datang bersama baby Pasha. Sengaja datang karena mau ikut melepas keberangkatan Zaky.


Dan sekarang pukul sepuluh waktunya bersiap berangkat ke Jakarta. Sebenarnya Akbar pribadi bisa saja pulangnya nanti sore. Namun berhubung Zaky jadwal penerbangannya jam sembilan malam, maka harus berangkat dari Ciamis sekarang agar tidak terburu-buru. Sekaligus antisipasi Jika saja di perjalanan terjadi hambatan macet dan lain sebagainya.


"Papi, maaf aku aku gak bisa singgah dulu ke rumah Papi."


"Sekarang mau berangkat numpang mobilnya Mas Akbar."


"Iya, Papi. Aamiin. Salamnya untuk Mami. Assalamualaikum." Zaky mengakhiri sambungan telepon setelah berbincang cukup lama dengan Papi Krisna. Setiap kali pulang dan akan berangkat lagi, ia selalu mengabari. Terkadang mampir dulu ke rumah atau ke kantor beliau. Orang yang sangat berjasa membiayai kuliahnya yang dulu menyarankan kuliah antara di Singapura atau di Swiss.


Zaki memanggil Ami yang sedang bersama Akbar dan juga Aul serta Panji.


"Ada apa? Mau ngasih pulus? Alhamdulillah." Ami membuka telapak tangannya diiringi seringai jahil.


Zaky menoyor kening Ami. Namun lebih dulu adiknya itu berkelit ke samping hingga tangannya menggantung di udara.


"Barusan Aa kan nelepon Papi buat pamitan. Terus Papi bilang tahun ini katanya Adyatama Group mau mengeluarkan beasiswa untuk calon mahasiswa yang tidak mampu dan lolos jalur prestasi. Kuotanya hanya 10 orang. Kia kan sama dengan Ami mau daftar jalur prestasi. Nanti kalau lolos, kamu daftarin Kia ya Mi. Kita harus bantu orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan kita."


"Alhamdulillah, ini kabar baik. Kia udah curhat kalau dia lolos mau daftar beasiswa pemerintah atau swasta. Karena Kia merasa tidak mampu kalau kuliah biaya dari orangtua. Ada dua adiknya yang perlu biaya sekolah juga."


"Makanya harus kita bantu. Nih, ambil sendiri pengen berapa." Zaki mengeluarkan dompet dari waist bagnya. Mengulurkan dompetnya ke tangan Ami.


"Wuiih, kakakku emang baik hati dan tidak sombong. Ganteng lagi. Aku minta selembar deh buat jajan dimsum." Ami mencabut selembar uang bergambar Soekarno Hatta.


"Ambil lima aja, Mi. Buat jajan."


"Nggak deh. Buat bekal Aa aja di sana. Alhamdulillah aku punya uang jajan dari Kak Akbar. Aa di sana jangan ngirit ngirit amat ya. Beli makanan harus bernutrisi jangan sampai kurus karena cape." Ami tidak aji mumpung melihat isi dompet Zaky tebal. Ia tahu tadi Aul memberikan uang cash kepada Zaky. Ia peduli dengan kakaknya yang sendirian di negeri orang.

__ADS_1


"Gak ngirit juga tapi hemat sesuai kebutuhan." Zaki memasukkan lagi dompetnya ke dalam tas. Waktunya berangkat.


Ami dan Akbar keluar dari dalam rumah paling akhir. Karena Akbar baru selesai mendapat telepon dari Leo.


"Awas ada yang ketinggalan, Kak." Ami memperhatikan Akbar yang memasukkan ponsel dan benda lainnya ke dalam tas.


"Ah iya ada. Untung diingetin." Akbar meraba dada lalu turun meraba saku celananya.


"Nyari apa, Kak?" kening Ami berkerut melihat Akbar yang seperti kebingungan. Sampai jongkok melongok ke kolong kursi lalu berdiri lagi.


"Nyari sepotong hati yang tertinggal di sini." Akbar mengulurkan tangan dengan simbol finger heart diiringi senyum simpul.


"Hihihi. Receh banget sih." Ami memukul lengan Akbar yang membalas dengan terkekeh. Lalu berjalan sama-sama menuju pintu keluar.


Pintu pagar rumah terbuka lebar. Semua orang berdiri di sana mengantarkan Zaky dan Akbar yang akan masuk ke dalam mobil usai menata bagasi koper dan oleh-oleh.


"Aa, stay healthy ya. Pak arsitek mau magang nih ye." Usai Ami mencium tangan Zaky, keduanya berpelukan penuh sayang seorang kakak beradik.


"Kamu juga belajar jangan kendor. Udah mau lulus." Zaky mengacak-acak cakep puncak kepala Ami hingga jilbabnya kusut. Hingga mendapat delikan mata sang adik.


"Gak ada. Emang kantong kresek buat apa?" Akbar menautkan kedua alisnya.


"A Zaky kan suka mabuk perjalanan. Jadi harus sedia kantong kresek." Ami memaletkan lidah ke arah Zaky yang balas menatap dengan mata melotot tajam.


"Sembarang. Mana pernah Aa mabuk perjalanan." Zaky hendak mencubit hidung Ami. Namun Ami lebih dulu menghindari dan bersembunyi di belakang punggung Ibu Sekar.


Tawa renyah semua orang tercipta karena kelakuan adik kakak seperti Tom and Jerry itu. Dan lambaian tangan pun mengiringi mobil yang mulai melaju perlahan. Doa tulus berharap keselamatan dan kelancaran dari seorang ibu mengiringi kepergian Zaky dan Akbar.


Tanpa seorangpun ada yang mengetahui jika di seberang jalan berjarak sekitar 50 meter, di bawah pohon mahoni yang rindang, ada pengguna motor yang menggunakan helm full face sedari tadi memperhatikan perpisahan keluarga itu. Dia adalah Kia yang duduk di jok motor metik, armada keluarga satu-satunya. Yang sengaja datang dari Tasik ke Ciamis karena ingin menyaksikan keberangkatan Zaky. Datang mengikuti kata hati tanpa berani menunjukkan jati diri. Malu.


***

__ADS_1


Akbar semakin mengenal karakter Zaky. Karena sepanjang perjalanan jauh menuju Jakarta diisi dengan percakapan santai. Sharing and caring. Ia pun memberi motivasi yang diterima kakaknya Ami itu dengan antusias.


Dengan dua kali istirahat di waktu dzuhur dan ashar, mobil yang dikemudikan sopir pun tiba di kediaman keluarga Akbar. Akbar mengajak Zaky untuk istirahat sejenak mumpung masih ada waktu sebelum bertolak ke bandara Soekarno Hatta. Mama Mila menyambut dengan sukacita.


"Zaky, nanti di sana harus main ya ke rumah Iko. Jangan malu jangan sungkan. Apalagi kalau butuh bantuan apa-apa bilang aja. Mama juga udah bilang lebih dulu sama Iko soal ini. Nomer Zaky juga udah di share ke Iko. Kali aja kamu tuh malu buat menghubungi Iko lebih dulu. Makanya Mama yang bijak ini, udah inisiatif ngasih nomor kamu biar Iko nanti yang duluan hubungin kamu ya." Meski waktu sebentar lagi magrib, namun cerocosan Mama Mila tetap berenergi.


"Iya, Mama Mila." Zaky tersenyum mesem sambil mengangguk. Sepertinya karakter mertua seperti mamanya Akbar ini memang cocok disandingkan dengan Ami. Begitu monolog hatinya sambil tertawa geli dalam hati.


"Mama aja nggak usah dipanjangin dengan nama. Kamu tuh kelihatannya masih canggung aja ya. Jangan canggung dong. Kita ini sebentar lagi resmi jadi keluarga." protes Mama Mila.


"Iya, Mama. Maaf." Zaky terkekeh. Ia hanya menjawab dengan kalimat pendek. Bingung mau menjawab dengan kalimat panjang seperti apa. Sudah lebih dulu dihabiskan kosa katanya oleh mamanya Akbar itu.


Akbar mengajak Zaky makan dulu usai salat magrib berjamaah di mushola rumah. Waktu yang singkat membuat acara makan pun cepat. Karena pukul setengah tujuh Zaky harus sudah berangkat ke bandara.


"Zaky, aku ngasih sedikit uang jajan mudah-mudahan bermanfaat ya. Udah aku transfer barusan." ucap Akbar begitu mengantar Zaky sampai teras.


Zaky menoleh dengan raut terkejut. "Aku udah makasih banget diajak bareng di mobil Mas Akbar. Malah ditambah uang jajan." ujarnya dengan tatapan sungkan.


"Santai aja." Akbar merangkum Bau Zaky dan menepuk-nepuknya diiringi senyum tulus.


"Hm, Mas Akbar tahu nomor rekeningku dari mana?" Zaky menyampaikan rasa penasarannya usai mengecek mobile banking.


"Dari Ami. Tadi aku sempat minta dulu sama Ami."


Zaky mengangguk. "Makasih ya Mas Akbar Sukses dan berkah selalu untuk semua bisnisnya."


"Aamiin. Kamu juga sukses dan semangat ya untuk magangnya."


Zaky pun mengaminkan. Sekaligus ia berpamitan dan saling berpelukan ala laki. Berpamitan kepada Mama Mila sudah lebih dulu dilakukan di dalam rumah.


Usai menjawab salam Zaky yang pamit, Akbar menatap dulu laju mobil yang dikemudikan oleh sopir. Mengantar Zaky bandara. Barulah memutar badan dan masuk ke dalam rumah setelah mobil tak terjangkau lagi pandangan mata.

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


Yang ingin tahu PoV Kia, ada Untold Story yang sudah di post di IG @authormenia. Awas mata perih karena sedikit mengandung bawang.


__ADS_2