
Rama belum keluar dari mobilnya meski sudah berada di dalam garasi rumah. Ia pulang dari rumah Akbar jam sepuluh karena sempat bertemu dulu Tante Mila dan Om Darwis yang kemudian bergabung ngobrol bersama. Diantaranya membahas tentang hubungan Akbar dan Ami. Membuat dirinya sejenak harus merenung, berpikir cara berbicara dengan Puput.
"Aa, Mas Akbar udah punya pacar belum?"
Rama mengernyit begitu ingat pertanyaan Puput waktu di rumah Ibu di Ciamis. Ia sempat melihat sang istri terdiam seperti sedang berpikir saat ia menjawab tidak tahu. "Apa Puput udah punya feeling ya," ucap batinnya pun ragu menduga. Udah hampir jam sebelas malam. Semoga saja istrinya itu sudah tidur. Harapnya demikian.
Masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan, Rama bergegas menaiki tangga. Lebih dulu melihat ke kamar Rasya yang ternyata tidak berpenghuni. Sudut bibirnya tertarik begitu melihat pemandangan di kamar utama. Springbed king size nya terisi tiga orang kesayangan yang sedang tertidur lelap. Tak ada ruang yang tersisa untuknya. Karena kedua jagoannya tidur dengan berputar. Daripada membangunkan yang sedang lelap, ia mengalah tidur di kamar Rasya usai membersihkan diri.
Rama membuka matanya yang masih lengket usai merasakan ada yang menimpa tubuh atasnya. Sekilas mata yang masih mengantuk itu menangkap sosok Puput yang memeluknya dan meyusupkan kepala di ketiaknya.
"Aa, bangun! Udah subuh." Tangan Puput menggelitik leher Rama yang kembali memejamkan mata.
"Hmm. Lima menit lagi." Rama menangkap tangan Puput yang membuatnya geli. Ia memiringkan badan ke arah Puput dan beralih memeluk istrinya itu yang tercium kesegaran serta keharuman sabun mandi. Sudah tahu kebiasaan sang istri yang selalu mandi sebelum subuh.
"Udah hampir jam lima, Papa. Semalam pulang jam berapa sih? Kok aku gak tau."
"Jam sebelas, sayang. Aku gak tega bangunin kamu. Mana gak kebagian lapak lagi." Rama mengeratkan pelukan karena udara subuh terasa dingin. Menggoda untuk bergelung dan bertempur di balik selimut.
Puput terkekeh. Sudah tidak aneh jika Rama akan mengalah tidur di kamar Rasya saat ranjang dikuasai duo R. "Ada apa katanya Mas Akbar manggil Aa ke rumahnya teh?"
Pertanyaan yang mampu membuat mata Rama terbuka sempurna dan hilang rasa kantuk. Ia sangat tahu betapa pekanya sang jawara silat dalam membaca situasi dan gestur orang. "Akbar curhat soal pacarnya. Akbar minta pendapat aku karena mau melamar dalam waktu dekat. Duh mules. Aku sholat dulu, sayang." Ia mengurai pelukan dan mencium kening Puput. Harus segera beranjak biar tidak berlanjut tanya.
Puput sebenarnya masih ingin bertanya orang mana pacarnya Akbar. Namun Rama sudah melesat masuk ke kamar mandi. Ditambah sayup-sayup mendengar rengekan Rayyan yang membuatnya bergegas pergi ke kamar utama yang memang pintunya terbuka lebar.
Sudah sepuluh hari berlalu sejak hari itu. Tak terasa sudah tanggal dua Agustus dimana besok Ami akan berulang tahun. Birthday reminder itu berbunyi di ponselnya Rama yang menyimpan semua data ulang tahun keluarga serta orang-orang penting lainnya. Kesibukan kerja sudah melupakan sejenak tentang hasil percakapan dengan Akbar. Namun jam sembilan pagi ini saat notifikasi reminder itu berbunyi, ia merasa diingatkan.
[Mi, jam berapa bisa vc an? Kak Rama mau bicara penting dengan Ami. Ngobrol empat mata ya]
Sebuah pesan sudah terkirim. Hari ini jum'at, pastinya Ami sedang berada di kelas. Ia akan sabar menunggu waktu luang Ami untuk meyakinkan sesuatu.
***
"Kak Rama ada apa ya? Tumben." Ami menduga-duga di dalam hatinya. Ia baru membuka pesan di jam istirahat. Salah satunya pesan dari kakak iparnya itu. Bergegas mengetikkan pesan balasan.
[Paling nanti pulang skul ya, Kak. Jam pastinya nanti aku info lagi]
__ADS_1
"Mi, besok ultah mau ngadain acara gak?" Pertanyaan Almond membuat seisi meja di dalam kantin itu terkejut. Merasa diingatkan.
"Ah iyaa, besok kan tanggal tiga. Biasanya kan traktir bakso, Mi. Kok diem-diem bae sih." Marga menaik turunkan alisnya menatap Ami yang sedang santai memakan siomay.
"Aku sih yes Mi, mau ditraktir apapun juga." Sonya mencolek lengan Ami yang duduk di sampingnya sambil cengengesan. Ucapannya disetujui Yuma. Hanya Kia yang diam menjadi pendengar. Memang orangnya tak pernah usul. Sediajaknya saja.
"Baru mau bahas, udah keduluan Almond." Ami menatap Almond yang duduk di hadapannya yang merespon dengan tersenyum menyeringai. "Kalian pada suka ayam geprek gak? Jangan bakso melulu, bosen.
"Suka, suka." Tiga orang mewakili menjawab dengan kompak. Yaitu Marga, Sonya, dan Yuma.
"Kia, Almond, gimana?" Tanya Ami.
"Aku juga suka." Sahut Almond. "Makan apapun suka asal ada kamu, Mi," sambungnya yang hanya menjadi suara hati.
"Aku sih terserah yang ngajak." Jawaban Kia penuh kepasrahan diiringi tersenyum mesem.
"Oke, fix kali makan-makannya ayam geprek ya. Kan di Tasik ada cabang Mr. Duck baru buka bulan lalu. Sekalian coba rasanya. Marga, kamu jadi koordinator ya. Siapa aja yang mau ikutan. Waktunya jam satu aja. Kita ketemu di parkiran lokasi."
"Asiap, Boss." Marga menyahut antusias.
"Bi, Ibu dan Papa belum pulang?" Ami membawa segelas air dari dapur untuk dibawa duduk di kursi makan.
"Belum, Neng. Mungkin sebentar lagi. Neng Ami mau makan sekarang? Ada sop buntut. Mau bibi panasin dulu.
"Nanti aja, Bi. Aku mau mandi dulu gerah." Ami bergegas menuju tangga. Ia sudah tahu jika Ibu dan Papa sedang pergi ke Bandung tadi pagi untuk menengok teman sesama purnawirawan yang dirawat di rumah sakit. Usai mandi, ia pun mengirim pesan kepada Rama bahwa sudah siap untuk panggilan video.
"Mi, kabar Ibu dan Papa gimana?" Kalimat pembuka Rama usai menjawab salam Ami.
"Alhamdulillah baik. Ibu dan Papa lagi ke Bandung, Kak. Nengok temannya Papa ke rumah sakit."
Rama manggut-manggut. Kemudian berdehem. "Mi, Kak Rama mau tanya. Apa benar Ami pacaran sama Akbar? Kak Rama bertanya sebagai kakaknya Ami. Bukan sebagai kakaknya Akbar. Jadi Kak Rama harap Ami bicara terbuka."
Ami tentu sudah tahu jika Rama orang pertama di keluarganya yang tahu hubungannya dengan Akbar. "Iya benar, Kak."
"Ami suka sama Akbar karena apa?"
__ADS_1
"Karena Kak Akbar baik, perhatian, ngemong, ganteng tentunya." Ami tersenyum malu di akhir ucapan.
"Oke. Tapi Ami tau kan usia Ami dan Akbar terpaut jauh?"
"Tau, Kak. Justru aku nyaman dengan Kak Akbar karena dewasa. Aku gak bisa jelasin kenapa bisa seperti itu. Mungkin aja karena aku paling sebentar merasakan kasih sayang Ayah."
Rama memberi kesempatan pada Ami yang nampak mengatur nafas dan memalingkan muka. Sekilas tertangkap pandangan ada kaca-kaca di mata bungsunya Bu Sekar itu.
"Kak, aku gak menafikan kasih sayang Ibu dan semua kakak aku. Tapi saat aku rindu sosok ayah, aku bisa merajuk pada Kak Akbar." Ami mengerjapkan mata sehingga buliran bening luruh membasahi kedua pipinya. Segera disekanya dengan punggung tangan. Dan kembali mengatur nafas.
"Aku cinta sama Kak Akbar karena dia tuh multi peran. Bisa jadi ayah, kakak, coach, best friend, boy friend. Biar Kak Rama tau. Belajar aku lebih santai tapi nilai naik itu tuh karena metode darinya. Kita udah pacaran LDR-an setaun. Dan sama sekali gak ganggu belajarku. Malah selalu termotivasi. Dia juga support aku ngambil job MC buat melatih self confident saat public speaking, katanya."
"Jadi please jangan masalahin perbedaan usia yang jauh ini, Kak. Aku butuh bantuan Kak Rama buat ngeyakinin Teh Puput kalau aku emang siap mental buat nikah muda." Pungkas Ami yang kini sudah tenang lagi. Ia tak menduga ada rasa emosional kesedihan saat membahas tentang ayah tadi.
"Oke, oke. Kak Rama udah dapat poinnya. Kak Rama emang butuh mendengar penjelasan dari Ami. Tidak cukup dari Akbar aja. By the way, udah ada kabar belum kapan Akbar mau datang nemuin Ibu?"
Ami mengangguk. "Sabtu depan Kak Akbar mau datang."
Giliran Rama yang manggut-manggut. "Oke, Ami. Kak Rama udah cukup dengar curhat Ami. InsyaAllah, Kak Rama akan support hubungan Ami dan Akbar. Akan bantu ngeyakinin bukan hanya ke Puput tapi juga ke Ibu."
"Alhamdulillah. Makasih, Kak." Ami mengangguk dan tersenyum dengan mata berbinar.
"Kak Rama nitip satu hal ya, Mi. Mungkin Ibu dan semua kakak Ami akan syok mendengar ucapan Akbar nanti. Andaikata ada penolakan dari Ibu atau siapa pun, Ami jangan pernah kabur dari rumah sebagai bentuk protes. Jangan ya! Justru Ami harus perlihatkan kedewasaan menghadapi masalah. Terutama ambil hati dulu Ibu. Buat Ibu percaya jika Ami memang sudah dewasa dalam sikap dan mental untuk nikah muda."
"Oke, Kak. Padahal aku udah mikirin bakal kabur ke rumah Enin kalau Ibu gak ngasih restu. Mau sekamar bareng Padma." Ami tersenyum meringis.
"Untung udah Kak Rama warning duluan ya." Rama tersenyum simpul. "Oke, Mi. Kak Rama mau pulang. Mau ngeduluin Akbar ah ngasih ucapannya. Happy bornday tomorrow. Berkah usia dan semoga segera terwujud semua mimpi Ami."
"Aamiin, Kak. Makasih untuk doanya. Makasih juga buat kadonya yang belum di spill. Ups, bukan canda, Kak." Ami menangkup bibirnya seolah keceplosan bicara.
Rama tergelak. "Kado mah urusannya Ibu negara. Kemarin sih dengar Teh Puput ngobrol sama Rasya. Kata Rasya pengen dia yang milih kado buat Ate Kunti"
"Ish, si Ucul masih aja rese bilang Ate Kunti." Ami mendecak kesal. "Nanti malam aku mau vc an sama Rasya."
Obrolan dalam sambungan video itu diakhiri Ami dengan berucap salam. Ia beranjak dari sofa. Beralih menjatuhkan tubuh di kasur empuknya. Tidur terlentang dengan pandangan menerawang. Semalam memang Akbar sudah memberi kabar jika seminggu lagi alias malam sabtu, akan ke Seruni Tasik. Sabtu paginya akan berkunjung ke rumah.
__ADS_1
"Huft, dag dig dug kalau dibayangin mah," keluh Ami di dalam hati. Mending beralih memikirkan hari esok akan bersuka cita dengan teman-teman sekelas. Tentu saja ada donatur yang sudah transfer untuk acara mentraktir itu. Siapa lagi kalau bukan dari Ayang.