Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
81. Sekuntum Mawar Merah


__ADS_3

"Aku udah di rumah Teh Puput sejak sabtu sore. Maaf ya Kak, gak jawab telepon sama vc karena Rasya nempel terus. Nanti surprise nya bisa gagal dong. Ketauan aku ada di Jakarta. Kan gak seru." Ami memeletkan lidah lalu cengengesan.


Akbar menyugar rambutnya. Terjawab sudah rasa heran dari alasan yang menurutnya tidak masuk akal. Andainya sekarang Ami tidak datang, sudah bulat tekadnya untuk berangkat ke Ciamis sore ini. Ia masih terus menebar senyum dan tak putus menatap Ami. Karena sungguh sangat tidak menyangka. Baginya, kedatangan Cutie nya itu kado teristimewa.


"Ami, karena Akbar tadi bilang gak mau makan menu spesial yang udah aku order. Tadi nyuruh buat aku aja atau bagiin lagi, jadi ini masakan Ami mau aku bawa keluar ya." Leo bersiap melangkah mengambil goodie bag berisi lunch box yang tersimpan di meja sofa.


"Hei...gak boleh!" Akbar dengan sigap menarik tangan Leo karena sedari tadi semua orang masih berdiri. "Kalau tadi lo bilang menunya dari Ami, gue gak akan ngomong gitu. Kirain order dari restoran."


"Kak Leo, kita makan bersama aja. Ini cukup kok untuk 4 porsi." Ami menahan Leo yang pamit akan makan di ruang kerjanya.


"Aku udah punya nasi bento. Makannya mau sambil vc dengan Baby Embun. Biar buat Akbar aja pasti dia kelaparan soalnya dari pagi uring-uringan gara-gara dicuekin Ami tuh."


"Hei....lo punya mulut jangan bocor!" Hardik Akbar dengan mata melotot. Namun Leo tertawa puas sambil melangkah menuju pintu.


"Jadi ini semua Ami yang masak?" Akbar menatap dengan berbinar tiga rantang lauk pauk yang disusun Ami di meja. Juga rantang besar berisi nasi. Semuanya serba hangat. Baru saja OB mengantarkan piring dan sendok. Sehingga acara makan pun bisa dimulai.


"Iya, kecuali nasi. Soalnya aku bingung mau ngado apa. Jadi aku usul ke Mama Mila mau masak buat makan siang Kak Akbar dan Mama setuju." Ami mulai menuangkan nasi ke piring Akbar, lalu ke piring Mama Mila, terakhir ke piringnya.


"Dan masaknya juga di rumah kita, Bar. Mama jemput Ami jam setengah sembilan tadi. Kita nyantai dulu di rumah. Malahan Ami main dulu sama si John dan Lucy. Mama dilarang Ami bantuin masak, cuma bantuin ngiris-ngiris bawang dan icip rasa aja. Ugh, gak nyangka cara masaknya sat set kayak chef profesional. Dah ah, ngobrolnya nanti. Ini cacing di perut udah orkes. Dari tadi udah tergoda sama aroma masakan. Tapi kan Mama harus nahan diri biar kita makan sama-sama."


Akbar semakin tersenyum lebar. Merasa senang tahu Ami sudah main ke rumahnya. Tersentuh hati mendapat pelayanan dari Cutie nya itu yang menuangkan nasi dan lauk ke piringnya. Hal sederhana namun efek bahagianya sampai ke relung hati. Sudah tidak sabar untuk mulai mencicipi.


"Maaf ya Kak, kalau nggak enak. Aku masih belajar." Ami memperhatikan ekspresi Akbar yang sedang mengunyah suapan pertama.


Akbar menambah kecepatan mengunyah untuk kemudian melahap lagi suapan kedua tanpa sendok. Lebih enak makan dengan tangan langsung agar bisa menyesap bumbu sapi lada hitam yang menempel di tangan. Ditambah capcay seafood yang rasanya juga sangat menggoda lidah. "Enak banget, sayang. Kamu bener-bener hebat. Aku suka." Ia menilai apa adanya dan memuji dengan tulus sambil mengacungkan jempol.


Ami mengunyah sambil menunduk untuk menyembunyikan rona di pipi. Akbar sudah dua kali dengan santainya memanggil mesra di depan Mama Mila.


"Mama udah muji dari sejak icip-icip tadi. Dah ah Mama gak mau ngomong dulu. Mau konsentrasi makan." Mama Mila menambah lagi capcay yang warna sayurannya tetap berwarna segar tidak layu. Ia jadi tahu teknik memasaknya dari Ami.


***


Acara makan sudah selesai. Meja sudah rapih kembali usai semua wadah kotor dibereskan. Mama Mila ditemani Leo jalan-jalan keliling divisi sekadar ingin menyapa. Juga memberi kesempatan Akbar dan Ami berduaan.


"Cutie, masih lama kan di Jakarta nya?" Akbar berdiri di samping Ami yang menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari kaca jendela.


"Pulang besok, Kak. Mungkin siang apa sore. Soalnya mau main dulu ke rumah Kak Tasya. Tadi waktu di perjalanan mau kesini, Kak Tasya ngancam-ngancam harus singgah ke rumahnya soalnya kangen pengen ketemu." Ami terkikik mengingat bagaimana hebohnya Tasya saat dikabari dirinya ada di Jakarta.


"Yaahhh kok cepet? Diundur sehari bisa gak? Kita jalan-jalan dulu ya mumpung ketemuan. Kapan lagi coba." Akbar merayu dengan raut wajah masih kaget mengetahui Ami akan segera pulang.


"Kasian Ibu ditinggal lama-lama. Terus juga aku belum ngemas souvenir pernikahan. Pokoknya di rumah lagi repot persiapan acara. Aku nyempetin waktu datang ke Jakarta demi ngasih surprise Ayang." Ami menutup wajah malunya dengan telapak tangan yang direnggangkan.


Akbar terkekeh. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Ami. "Makasih ya, sayang. Surprise yang tidak akan terlupakan. Makin cinta deh." Tatapannya hangat dan lembut diiringi seulas senyum manis.


Ami bergeser selangkah hingga sentuhan tangan Akbar lepas dari puncak kepalanya. Karena efeknya tidak baik untuk kesehatan jantung. Terasa ada sengatan arus listrik yang membuat jantung berdetak lebih kencang.

__ADS_1


"Sama-sama, Kak. Maaf ya gak ngasih kado."


"Kamu datang kesini, itu kado spesial dan sangat mahal. Pokoknya bahagiaku gak bisa dilukiskan dengan kata-kata."


Ami tersenyum lebar. Ia bisa melihat fakta dari ucapan Akbar itu. Wajah tampan dengan brewok tipis itu begitu cerah berseri.


"Oh ya, rencana sama Mama mau lanjut kemana, Cutie?"


"Gak ada. Pulang dari sini ya aku pulang ke rumah Teh Puput. Soalnya nanti malam Kak Rama mau ngajak semuanya dinner di luar bareng Papi dan Mami."


Akbar terdiam dengan kening mengkerut karena sedang berpikir. Ia harus memaklumi waktu yang memang serba terbatas. Terbatas oleh hubungan backstreet. "Gini deh. Cutie sama Mama jalan-jalan dulu ke mall sebelum pulang. Belanja apa saja yang Ami mau. Pengennya sih aku nemenin. Tapi ada meeting sore yang gak bisa dicancel. Mau ya, sayang?"


"Tapi....."


"Gak ada penolakan!" Akbar menggelengkan kepala.


Ami mengangguk pasrah karena melihat sorot ketegasan Akbar. Dan ternyata saat Mama Mila masuk, ia bercerita memang berencana mau mampir dulu ke mall sebelum mengantar pulang.


"Yuk ah, Mi. Kita ke mall sekarang. Soalnya waktu Ami terbatas sih." Ajak Mama Mila. Bukan hanya terbatasnya waktu Ami, tetapi juga info dari Leo yang memperkirakan Gita akan tiba lagi di kantor jam tiga. Untuk sementara memang siapa pacarnya Akbar, masih dirahasiakan.


"Aku pulang ya, Kak." Ami melambaikan tangan sebagai perpisahan.


"Gak salim dulu?" Akbar menaikkan satu alisnya.


"Gak usah. Nanti kesetrum." Mama Mila yang sigap menjawab dengan intonasi galak. Membuat Ami cekikikan. "Kerja yang semangat, Bar. Nabung buat biaya nikah nanti."


"Hais, anak Mama udah gak tahan nih. Bahaya-bahaya. Mi ayo kita kabur!" Mama Mila menggandeng lengan Ami dan berjalan menuju pintu.


Ami menyempatkan menoleh dan memberi senyum perpisahan serta lambaian tangan lagi. Dibalas Akbar dengan flying kiss dan kedipan mata.


Senyum Akbar masih terukir di bibir menatap pintu yang sudah tertutup. Wujud Ami sudah menghilang di balik pintu. Namun rasa masih tertinggal di ruangan. Meski hari ini tanpa ada gombalan khas Ami, namun kehadiran kekasih hatinya itu menjadi mood booster yang menaikan imunitas.


***


Ami pulang ke rumah Puput sore hari dengan membawa banyak tentengan. Meski berkali-kali menolak membeli banyak baju dan barang lain, namun Mama Mila keukeuh memaksa. Bahkan Mama Mila ikut membantu memilihkan tanpa mengintip harga. Selain mentraktirnya, ibunya Akbar itu juga membelikan oleh-oleh untuk Ibu Sekar.


"Nanti Mama diomeli Akbar kalau belanja Ami cuma sedikit. Nih kartunya juga dari Akbar. Ami jangan takut Puput atau ibumu curiga. Kan Mama yang ngajak Ami shopping."


Ami mengingat alasan Mama Mila yang tadi di kasir mengacungkan sebuah kartu. Jadinya tahu jika semuanya dari Akbar. Ia pun sempat kirim pesan pada Akbar.


[Kak, Mama maksa aku belanja banyak]


Ami merasa harus klarifikasi karena takut dianggap matre. Namun balasan Akbar enteng sekali dan membuat pipinya merona.


[Turuti aja maunya Mama, Cutie. Itu hadiahmu sebagai juara umum dan juara di hatiku 😘]

__ADS_1


"Puput, nih Mama kembalikan Ami dengan utuh. Kita seharian ini seru-seruan masak, makan, belanja. Ah pokoknya hari yang menyenangkan. Tadinya pengen ngajak Ami tidur di rumah Mama juga mumpung lagi di Jakarta, tapi Ami nya gak mau. Yowes tak apa, bisa seharian bareng si bungsu aja Mama udah luar biasa senang. Maklum di rumah kalau siang kan sepi ditinggal si Papa dan Akbar kerja. Ada Ami, suntuk Mama pun hilang." Padahal sudah sore, tapi Mama Mila masih bertahan nyerocos dengan menggebu. Energinya masih sama seperti pagi.


"Iya Mama Mila. Makasih juga udah belanjain Ami. Ami jadi ngerepotin Mama sampai belanja banyak gini." Ucap Puput yang menemani di ruang tamu.


"Ah, gak seberapa ini. Kapan lagi coba ada kesempatan bertemu lagi di Jakarta. Ami kan gak lama lagi masuk sekolah."


Mama Mila tak lama duduk. Segera pamit karena Papa Darwis sebentar lagi waktunya pulang kerja.


"Teh, Rasya kemana?" Ami tidak mendengar teriakan keponakannya itu yang biasanya akan heboh menyambut kedatangannya.


"Ditahan sama Oma nya. Nanti aja katanya pulangnya pas dinner." Puput beralih meneliti kantong-kantong belanjaan Ami. "Mi, Mama Mila royal banget. Ini gak murah lho." Ia beralih menatap sang adik dengan satu alis terangkat.


"Tadi aku udah nolak, Teh. Aku cuma milih satu baju sama sama satu sepatu. Eh, Mama Mila malah nambahin dan maksa. Mama Mila juga ngasih oleh-oleh buat Ibu." Ami bernafas lega karena Puput tidak memperpanjang pembahasan. Malah menyuruhnya mandi karena selepas magrib akan dinner di luar.


***


Padat sekali jadwal Ami selama di Jakarta. Bukan padat jadwal kerja tapi jadwal main. Usai semalam dinner menyenangkan di hotel bintang lima bersama keluarga Papi Krisna, besok paginya sudah diteror Tasya agar segera datang ke rumah mamanya Embun itu.


Dengan diantar Mang Kirman, Ami dan Rasya tiba di alamat sesuai shareloc yang dikirimkan Tasya. Keponakannya itu ingin ikut apalagi setelah diperlihatkan video Baby Embun yang sedang belajar duduk. Jadi antusias ingin mengajak bermain.


"Welcome di rumah aku, Ami." Tasya menyambut dengan girang. Berpelukan penuh kerinduan. "Hai, Aa ganteng. Duh yang selalu lengket sama Ate nya." Ia menjawil dagu Rasya dengan gemas. Padahal tidak ada yang menyuruh, tapi Rasya mengambil tangan Mama Embun dan menciumnya.


"Aih anak pintar. Jadi pengen ngejodohin sama Embun deh." Tasya memuji sikap Rasya yang begitu santun.


"Kuy atuh kita buat perjodohan." Sahut Ami diiringi tawa.


"Onty, Aa boleh main sama dedek Embun?" Rasya memainkan tangan Embun yang sedang duduk di kursi makan bayi.


"Boleh, sayang. Sebentar lagi ya. Embun selesaikan makan dulu." Tasya melanjutkan menyuapi sang anak yang baru mulai MP ASI.


Ami dan Tasya asyik berbincang santai di sofa ruang tengah sambil mengawasi Rasya dan Embun yang bermain di karpet. Sesekali pecah tawa saat pembahasan random beralih membicarakan Mama Mila. Bukan membicarakan keburukan, tetapi membicarakan keunikannya.


Tasya membuka pesan masuk diiringi senyum penuh arti. "Ami, di depan ada kurir datang. Boleh minta tolong gak terima paket. Kaki aku kesemutan nih." Ia menunjuk kakinya yang sedari tadi duduk sila.


"Oke, Kak." Ami beranjak bangun dari duduknya. Berjalan melintasi ruang tamu, barulah ia memutar gagang pintu yang terkunci. Dan matanya membelalak melihat siapa yang berdiri dengan membawa setangkai bunga mawar merah.


"Permisi. Ada paket untuk si cinta."


"Ish, Kak Akbar!" Kali ini Ami yang kaget karena tidak menyangka akan bertemu lagi Akbar di hari kepulangannya itu. Semalam saat chatingan, Akbar sudah mengucapkan selamat pulang kampung.


"Memangnya cuma Cutie aja yang bisa ngasih surprise. Aku juga harus balas dong." Akbar tersenyum melihat Ami menerima sekuntum mawar merah dan menghirup aromanya.


"Dapat bunga mawar, aku jadi pengen nyanyi deh." Ami beralih bergeser berdiri dengan bersandar di tembok samping pintu.


"Nyanyi aja. Aku siap dengerin." Akbar ikut bergeser berdiri sejajar, dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Lihat kebunku penuh dengan bunga. Lihat dirimu hatiku berbunga-bunga. Hehe lagu maksa." Ami terkikik sambil menutupi pandangan Akbar yang kini tertawa renyah, dengan menggoyang-goyangkan sekuntum mawar merah di depan matanya.


__ADS_2