
Usai dijamu makan, Akbar dan kedua orang tuanya kembali pulang ke Hotel Seruni. Malam mingguannya untuk sementara diisi dengan teleponan setelah tadi siang tidak leluasa waktu untuk mengobrol berdua dengan Ami. Merayakan status baru dengan obrolan seperti biasanya penuh canda tawa. Bedanya kali ini suasana hati lebih ringan dan dada meluber penuh kebahagiaan. Tanpa merasa lagi ada yang menggantung. Mungkin bulan depan bisa memulai apel malam minggu.
Minggu datang menyapa. Ami dan keluarga datang lebih awal ke rumah Aul yang akan mengadakan syukuran aqiqah baby Pasha. Di saat keluarganya masuk ke dalam rumah, Ami melipir ke samping kiri karena melihat ada Padma di sana sedang duduk santai di kursi ayun sambil memainkan ponsel.
"Munaroh!"
"Eciee Marimar. Uhuy yang udah dapat golden tiket. Congrats, Bestie." Padma tersenyum meledek lalu menggelitik pinggang Ami.
Ami terkikik. "Aku traktir kamu jajan buku mau gak?"
"Jajan buku tambah makan-makan dong."
"Why not."
"Asyik. Kapan, Marimar?"
"Besok aja. Padma berangkat sekolahnya bareng aku ya. Nanti aku mau minta izin bawa mobil. Jadi pulang sekolah kita langsung ke mall."
"Deal." Padma berdiri dan menyambut high five Ami lalu beradu pinggul. Sama-sama oleng lalu pecah tawa kompak karena kelakuan absurd yang masih menempel sejak masa SMP itu.
Akbar begitu datang di jam acara segera menghampiri Enin yang sedang duduk di single sofa. Karena Enin sudah tidak bisa duduk lesehan bergabung dengan Mama Mila dan tamu lainnya. Ia bersimpuh dan mencium punggung tangan sepuh yang siapapun akan merasa takzim padanya.
"Enin, makasih ya. Berkat dukungan Enin, Akbar sekarang udah diterima oleh orang tuanya Ami."
Enin tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Akbar. "Bisa dibilang Akbar beruntung dapat stok terakhir anak gadisnya Bu Sekar. Jangan sia-siain ya. Jaga yang baik. Kalau Ami masih kekanak-kanakan, kamu yang harus banyak sabar dan maklum dia masih muda. Akbar tau sendiri gimana kelakuannya Ami."
Akbar tersenyum simpul. "Iya, Enin. InsyaAllah Akbar yang akan ngemong Ami. Memang dia orangnya rame dan receh. Jadi hiburan buat kita semua."
Usai acara Aqiqah dan para tamu sudah pulang, menyisakan kumpul keluarga yang duduk santai sambil berbincang dihiasi gelak tawa. Mama Mila berada dengan kumpulan Bunda Ratih dan Enin serta Ibu Sekar, begitu lepas mengekspresikan kebanggaannya bisa satu besan nantinya.
"Ini, Kak." Ami membawa dua piring. Sepiring nasi dan lauk diserahkan pada Akbar yang berpindah duduk di kursi teras depan.
"Makasih, Cutie." Akbar menerima diiringi senyum manis.
"Ck ck, baru juga sehari dikasih restu udah cosplay kayak suami istri." celetuk Rama yang baru muncul. Kemudian duduk di kursi kosong yang tersedia. Secangkir kopi hitam masih dipegangnya untuk diseruput.
"Ish, Kak Rama apaan sih cuma ngambilin nasi doang ini mah." Ami mencebik dengan wajah tersipu malu.
__ADS_1
Akbar hanya nyengir menanggapi keisengan Rama. Ia tetap makan dengan santai dan begitu menikmati.
"Traktirannya, Bro. Jangan lupa!" seru Panji yang tiba-tiba muncul dari dalam dengan sebotol soft drink di tangan. Kemudian bergabung duduk di samping Rama.
"Oke. Mau ngebakso di mana?" sahut Akbar tetap santai.
"Standar banget traktirannya. Kayak anak SMA aja. Kita nggak mau ditraktir bakso. Tapi harus tiket liburan. Masa CEO Pulangpergi traktirannya bakso." Ledek Rama.
"Setuju." Sahut Panji.
"Ami dengar sendiri kan kelakuan sebenarnya kakak-kakak iparmu ini? Aku baru dapat restu aja sudah kena premanisme. Belum nanti kalau jadi lamaran bakal dipalak lagi. Tambah nanti kalau kita nikah, beuh makin gede lagi ya dipalaknya." Akbar memasang wajah nelangsa.
Ami hanya cekikikan melihat Akbar menjadi bulan-bulanan Rama dan Panji.
"Ditambah harus ngasih pelangkah untuk Zaky. Udah dilangkahin jadi wali nikah pula. Hayo pikirkan mau ngasih apa nanti." Panji mengompori.
"Kalau nggak sanggup udah mundur aja dari sekarang. Lambaikan tangan ke kamera." Ledek Rama lagi.
"Nope. Seorang Akbar Pahlevi Bachtiar maju tak gentar. Soal pelangkah itu mah cincai." Akbar meladeni gertakan Rama dan Panji.
"Cutie, udah tau jadwal PAS kapan?" Akbar menatap Ami yang sedang mencolek es krim.
"Belum tau tanggalnya, Kak. Yang pasti Desember."
"Coba cek di kalender akademik."
Ami menurut. Membuka ponselnya dan mulai berselancar. "Di sini mulai PAS tanggal 5 sampai 9 Desember. 16 Desember pembagian raport. Libur mulai tanggal 17 sampai tanggal 1 Januari."
"Oke. Ami setuju nggak sama usulannya mama kemarin. kita tunangan aja dulu pas hari libur. Tinggal kita pilih tanggalnya. Gimana?" Akbar menatap serius.
"Hmmm, mau. Dua bulan lagi ya waktunya." Ami mengangguk dan tersenyum dengan ekspresi wajah yang malu-malu.
"Oke nanti kita bicarakan lagi bagaimana konsepnya ya. Yang penting sekarang udah pasti kita akan bertunangan bulan Desember. Bismillah ya, Cutie." Akbar menatap hangat sambil mengambil alih cup es krim yang dipegang oleh Ami.
"Eh itu bekas aku, Kak." Ami terkaget karena Akbar memakan es krimnya dengan sendok yang sama. "Aku ambilin yang baru ya." Ia hendak meminta lagi es krimnya namun Akbar menggelengkan kepala.
"Mau yang ini aja. Bekas Ayang itu lebih enak rasanya. Manisnya alami." Akbar mengedipkan sebelah mata.
__ADS_1
"Hais, jangan sampai aku pingsan di sini." Ami memerosotkan badannya dari kursi sampai terduduk di lantai dengan leher terkulai.
Akbar tertawa renyah. spontan mengunyal-nguyel puncak kepala Ami yang berbalut hijab warna soft pink .
***
Video call telah tersambung dengan Zaky. Ami duduk berdua dengan ibu menghadap layar ponsel yang sudah tersimpan di tripod. Malam ini sengaja menyempatkan waktu untuk menghubungi Zaky dengan bertempat di kamarnya Ami.
Sore tadi saat masih di rumah Panji, Akbar bersama orang tuanya sekalian berpamitan karena akan langsung pulang ke Jakarta. Menyusul satu jam ĵkemudian Rama dan Puput juga pamit pulang ke Jakarta
Sapaan pembuka berlangsung santai oleh Ibu Sekar membahas kabar masing-masing juga menanyakan kabar kegiatan Zaki di kampusnya. Untuk kegiatan acara Aqiqah tentunya Zaky sudah melihat video dan fotonya yang sudah di posting di grup keluarga.
"Zaky, Ada yang ingin Ibu sampaikan. Soal penting di keluarga kita."
"Soal apa, Bu? Ada masalah?" Zaky yang awalnya penuh senyum mendadak menautkan kedua alisnya dengan ekspresi serius.
Ami masih dalam mode sebagai pendengar Iya menyimak dalam diam.
"Nggak ada masalah, Aa. Tapi ada kabar penting soal Ami. Adik kamu ada yang melamar dan mengajak nikah setelah lulus SMA. Dan Ami siap untuk nikah muda."
"APA? Yang benar aja Bu. Ami mau pernikahan dini apa yang udah terjadi?" Zaky beralih menatap Ami yang duduk di samping kiri ibu.
"Hus. Nggak terjadi apa-apa. Aku ini anak baik." Ami segera mengklarifikasi prasangka buruk Zaky.
"Zaky dengerin dulu cerita ibu ya jangan menyela. Tunggu Ibu bercerita sampai selesai."
"Iya, Bu."
Ibu merunut cerita dari mulai kedatangan Akbar ke rumah hingga jawaban kesiapan Ami dengan alasan yang menyertainya. Serta pertimbangan keluarga dimana ada masukan dari Enin. Kemudian sudah berbicara dan diskusi dengan Puput dan Aul. Dengan kesimpulan keluarga memberi restu akan hubungan Akbar dan Ami.
Zaky nampak menyugar rambutnya usai mendengar penjelasan detail dari ibunya itu. Kalau Ibu sudah berbicara, mana berani iya mendebat sosok yang disayanginya itu. Apalagi ibunya itu sudah memberikan restu. Namun tentu saja ia masih syok mendengar kabar ini. Merasa tak percaya adik lawan berantem itu akan menikah secepat ini.
"Ami kemarin bilang mau nikah itu jadi bener ya?" Zaky memusatkan tatapan tajam terhadap Ami.
"Iya, Aa. Kemarin tuh aku bicaranya keceplosan terlalu to the point. Makanya diralat sama Teh Puput dibilang halu. Biar bisa begini bicaranya dijelaskan dengan detail. Aa, aku perlu restu dari Aa juga." Ami menatap Zaky dengan sorot mata penuh permohonan.
Zaki menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar. "Aa belum bisa jawab sekarang, Mi. Gini aja, kalau memang Mas Akbar serius, sungguh-sungguh. Aa ingin bicara dengan Mas Akbar langsung. Aa tunggu kedatangan dia di Singapura."
__ADS_1