
Akbar tersenyum mendengar ucap salam dari sebrang sana. Suara yang merdu dan riang ciri khas Ami. "Tebak aku ada dimana, Cutie?" Tanyanya usai menjawab salam.
"Udah pulang ya, Kak? Udah di Jakarta, kan?" Sahut Ami terdengar girang.
"Kata siapa?" Akbar mengulum senyum meski tidak terlihat oleh Ami. Sejak hari ulang tahun Ami, ia tidak lagi berkomunikasi. Sisa waktu dua hari di London difokuskan pada urusan meeting dengan CEO perusahaan startup travel di sana yang mengajak kerjasama.
"Ya kan nomernya udah nomer Indo. Aku save nama Kak Akbar tuh 'Panda'. Biar aman kalau terciduk orang lain." Ami terkikik.
"Bisa aja." Akbar terkekeh. "Aku baru sampe rumah tadi jam 1 malam. Jadi masih muka bantal. Pengennya vc tapi gak pede. Padahal MU." Ia berdiri sambil melakukan peregangan.
"Hihi, padahal pede aja lagi. Muka Kak Akbar kan seperti iklan sprite."
"Maksudnya?" Akbar menahan senyum. Sudah yakin Ami mulai menggombal.
"Nyatanya nyegerin. Hehehe."
"Hahaha." Akbar tertawa lepas dengan hidung kembang kempis. Untung berada di balkon kamar. Bebas berekspresi. "Amiiiii.....jadi pengen nyulik deh." Ia menggeram gemas usai puas tertawa.
"Culik aja Kang. Eneng ikhlas asal Akang yang nyulik. Selama ini Eneng SMP." Ami semakin sengaja menggoda Akbar.
Akbar geleng-geleng kepala sambil terkekeh mendengar ucapan merajuk Ami. Jika orang lain melihatnya, mungkin akan dikira stres. Karena tertawa dan berbicara sendiri tanpa terlihat menempelkan ponsel di telinga. "Singkatan apa tuh, Cutie?" Tanyanya dengan level gemas yang semakin naik.
"Sendiri Memendam Perasaan. Hihihi." Ami terkikik ditahan di sebrang sana.
"Don't worry, Mi. Ami gak SMP tapi BRI." Akbar berucap dengan nada serius.
"BRI apa tuh, Kak?"
"Berdua Rasakan Itu." Akbar tersenyum simpul.
"Cie, Kak Akbar udah pinter bales." Terdengar Ami tertawa sambil bertepuk tangan.
Akbar terkekeh. Ia sudah menduga kalau Ami akan mengira candaan. "Efek terAmi-Ami jadinya spontan bisa bales." Ia pun bisa beralasan.
"Hihihi, Kak Akbar bisa aja. Oh ya Kak, ngobrolnya harus udahan dulu. Waktunya berangkat ke Padepokan sama A Zaky. Mau latihan buat persiapan tanding."
"Oke. Semangat latihannya ya, sayang. Banyak orang yang support kamu. Include me." Akbar menyesap kopinya sambil menunggu jawaban dari sebrang sana yang mendadak senyap.
__ADS_1
"Iy-iya. Makasih, Kak. Assalamu'alaikum."
Akbar tersenyum tipis mendengar jawaban Ami yang gugup. Ia menjawab salam dan sambungan pun berakhir.
Hari berganti senin. Leo dan Gita berdiri di lobi bersama seorang sekuriti untuk menyambut kedatangan mobil Akbar yang perlahan berhenti di depan lobi gedung kantor. Sigap sekuriti mengangguk sopan saat pintu supercar terbuka ke atas dan sang CEO keluar dari pintu kemudi lalu menyerahkan kunci padanya.
Leo mensejajari langkah Akbar yang berjalan cepat menuju lift khusus petinggi. Gita berjalan anggun di belakang. Tatapan sang sekretaris selalu galak jika melihat ada karyawati yang berpapasan dan menatap Akbar dengan tatapan memuja. Tidak ada yang bersuara sampai tiga orang itu keluar dari lift.
"Leo, ke ruangan saya dulu!" Ucap Akbar memecah kebisuan saat Leo akan berpisah arah jalan di koridor lantai atas.
"Siap, Pak." Leo menjawab formal dan mengekori langkah Akbar hingga masuk ke dalam ruangan yang luas, bersih, rapih, dan wangi.
Bugh.
"Aduuuh." Leo memegangi perutnya. Sebuah tinju mendarat di perutnya secara mendadak dan mengagetkan. "Hei, salah gue apa?" Ia mendelik menatap Akbar yang berkacak pinggang di hadapannya.
"Lo kenapa ngirim link ke Mama gak confirm dulu? Gue tuh udah punya Mind Mapping about love of my life. Dan ada step-stepnya. Sekarang lagi masuk di step dua, dan lo loncat ke step empat." Gerutu Akbar melampiaskan kekesalannya.
"Alah kebanyakan teori. Jangan disamain dengan mapping bisnis. Soal cinta, lambat bergerak alamat ditikung orang lain." Kali ini Leo bisa menghindar saat Akbar akan menoyor bahunya.
"Masalahnya ini Ami. Yang Mama komen 'cantik sih tapi kinyis'. Dan ini jadi PR gue buat ngelobi banyak pihak. Paham lo!" Akbar sudah mengepalkan tinjunya lagi melihat Loe yang kini cengengesan.
Akbar mendengkus lalu berjalan menuju kursi kebesarannya. "Lo mau hadir ke wedding Panji gak?" Ia mengalihkan pembahasan sambil menyalakan laptopnya.
"Hadir dong. Soalnya Tasya nagih pengen makan di Dapoer Ibu. Meskipun mitos, gue jadi takut anak gue lahir ileran." Leo menarik kursi yang berada di hadapan sang boss. Duduk disana.
"Bagus. Nanti ada tugas penting buat lo disana. Minta bantuan Tasya juga. Misi step 2 harus sukses." Akbar mulai bisa tersenyum membayangkan minggu depan waktunya ke Tasik.
"Dah gue bilang, gue suporter terdepan. Dari jaman si Ami SMP malah udah gue comblangin. Lo nya aja lempeng kayak penggaris." Leo memutar-mutar kursi kerja sambil duduk santai.
"SMP. Hahaha...." Akbar mendadak teringat ucapan Ami saat bertelepon kemarin. SMP, Sendiri Memendam Perasaan.
"An jirrrr. Pagi-pagi udah kesurpan." Leo bergidik dan bangkit dari duduknya. Mata yang berbicara jika sang boss sedang terpanah asmara. "Stop, woy! Tuh si Gita datang." Ia mengingatkan Akbar usai mendengar pintu diketuk. Waktunya sekretaris menyampaikan agenda kerja hari ini.
***
Hari berganti serasa melompat. Waktu bergulir begitu cepat. Itu disebabkan hari-hari terisi dengan kesibukan yang bermanfaat. Tidak ada celah untuk bermalas-malasan dalam hal apapun bagi insan yang menghargai waktu.
__ADS_1
"Bar, inget! Abis magrib kita berangkat ke Tasik. Kamu jangan pulang telat. Soalnya Mama pengen liat acara siraman Panji. Besok kan mulainya jam sembilan. Pengen tau bedanya siraman adat Sunda dan Jawa. Kalau Akbar sama Iko kan siraman nya pakai adat Jawa. Oh iya, Tante Ratna juga ngajakin Mama entar hadir di acara siraman Aulia. Waktunya jam dua siang. Jadi....wajah Mama tuh harus fresh. Harus cukup istirahat. Makanya nanti di jalan Mama harus tidur. Jangan sampai mata panda deh." Cerocos Mama Mila memusatkan atensi kepada Akbar yang sedang mengaduk kopi. Acara sarapan menjadi momen kebersamaan dengan suami dan dua anaknya. Karena usai sarapan, baru bisa berkumpul lagi malam harinya.
"Iya, Mam." Akbar menjawab dengan intonasi sabar. Ini siaran ulang ketiga kalinya selama tiga hari berturut-turut. Siapa yang mau nikah, siapa pula yang heboh sendiri. Itulah Mama Mila.
"Mama gak akan ada yang naksir. Gak usah heboh mikirin penampilan." Sahut Papa Darwis dengan santai sambil mengaduk kopi hitam buatan Mama Mila.
Mama Mila mendelik dengan memasang wajah galak. "Papa awas ya. Nanti disana kita jangan gandengan ya. Pura-pura gak kenal aja. Mama mau ketemuan sama Pras. Masih ingat sama Pras? Dia udah jadi duda. Katanya diundang sama Anjar. Udah booking kamar di Seruni buat dua malam, katanya. Uh, seru bakal ketemu mantan."
Papa Darwis terkaget. Reaksi Mama Mila di luar ekspektasi. Ia segera merangkum bahu sang istri dan memasang wajah manis. "Mama jangan salah paham. Maksud Papa, Mama gak akan ada yang naksir karena Papa bakal posesif. Papa akan menggandeng Mama terus. Mana boleh wanita cantik ini dideketin mantan." Ia pun memberi kecupan mesra di pipi istrinya itu.
Mama Mila berubah tersipu malu. Ia menatap Papa Darwis dan mencium tangan suaminya itu. "Biar Papa udah tua, cinta Mama tak lekang oleh waktu. Just for you."
"Hm, kalau Papa tua, Mama juga ikut tua dong. Kan kita semuda setua bersama." Papa Darwis berucap hati-hati dan waspada. Takut sang istri tersinggung dibilang tua. Istrinya itu suka sensitif jika melihat ada garis halus muncul kening.
"Hihi iya sih. Tapi Mama kan masih kenceng, awet muda. Iya kan, Pa?" Mama Mila menepuk-nepuk kedua pipinya. Dan dijawab senyum serta anggukkan oleh sang suami.
Akbar dan Iko saling pandang dan kompak geleng-geleng kepala. Sudah biasa melihat Mama yang merajuk dan berakhir Papa yang jadi penyejuk. Di satu sisi merasakan bahagia melihat keharmonisan orang tuanya itu.
Akbar berangkat ke kantor diantar sopir dengan menggunakan mobil MPV premium. Karena agenda hari ini ada dua meeting di luar kantor sekalian jumatan di masjid Istiqlal. Notif pesan terdengar saat mobil sudah melewati pos keamanan komplek perumahan.
[Kak, bisa vc? 🤭]
Akbar mengulum senyum. Sejenak berpikir dan melirik sang sopir yang sedang fokus menatap jalanan di depan. Gak masalah, pikirnya. Ia memasang ponsel di phone holder yang ada di depan kursinya.
...****************...
Fyi, Bestie
Story KARTIKA di rumah Fz sudah tamat. Yang belum baca, kuy mampir karena akan ada sekuel.
🎶 Hijrah cintaku menguatkan alasanku
Untuk menjadi manusia lebih baik
Namun saat sinar-Nya datang menjemputku
Mana mungkin aku berlari
__ADS_1
Sepenggal lirik itu cocok untuk menggambarkan kisah hidup Citra dan Banyu . Masa lalunya membuat readers sampai menghujat dan mencaci maki 😁 Tapi itu dulu. Readers sekarang berbalik sayang dan mendemo Author untuk dibuatkan kisahnya.🙈
Baeklah....dua insan akan memulai kisah cinta masing-masing. Akankah bersatu? Tidak tahu. Nantikan saja.....waiting list yang masih lama rilisnya. So, biar dapat feel nya, bagi yang belum baca KARTIKA dianjurkan baca dulu. Biar tahu siapa itu Citra, siapa itu Banyu. Sekian dan terima gaji. 🏃